config

 

Sebanyak 25 orang pemuda asal NTT yang ikut dalam program pelatihan pariwisata di Griffith University Australia kini melakukan pengembangan pariwisata di daerah wisata lokal pada kabupaten/kota asal masing-masing.

Melania Rambu Day, salah satu peserta yang mengikuti program ini menyatakan hasil studi di Australia tersebut akan digunakan untuk mengembangkan Kampung Adat Deri Kambajawa di Kabupaten Sumba Tengah.

Melania kepada VN Rabu ini (11/12) mengatakan masing-masing peserta yang mengikuti program studi luar negeri dari Pemerintah Provinsi NTT ini telah membuat proposal pengembangan pariwisata.

Proposal pengembangan pariwisata ini memuat upaya untuk memajukan potensi wisata lokal masing-masing peserta dengan target waktu yang variatif oleh ajuan para peserta.

“Setelah dari Australia kami masing-masing buat proposal. Jadi kami bertiga yang di Sumba targetnya satu tahun pengembangannya. Target waktu regionalnya beda,” ungkapnya.

Ia sendiri menyebut manajemen pariwisata di Australia sudah begitu maju dan tidak bisa dibandingkan dengan NTT. Untuk itu, NTT harus mempunyai lompatan yang begitu besar baik dari masyarakat dan pemerintah.

Ia optimistis terhadap estetika pariwisata NTT yang memiliki nilai-nilai khas yang kaya dan tidak dimiliki dimana pun. Hal ini yang akan membantu pariwisata NTT diketahui oleh dunia dan menurutnya pendekatan kepada masyarakat lokal perlu dilakukan dalam mendukung upaya tersebut.

“Kalau misalnya di Sumba Tengah dilakukan pendekatan kepada masyarakat terlebih dahulu supaya masyarakatnya punya tourism awareness,” ungkapnya.

Ia menilai pemerintah juga perlu gencar memperhatikan regulasi, data, aksesibilitas, akomodasi, kenyamanan bagi turis dan masyarakat lokal dan ragam kebutuhan lainnya di suatu lokasi pariwisata.

“Dinas terkait perlu punya data yang spesifik mengenai pariwisata misalnya kunjungan wisatawan dan punya pergerakan yang lebih cepat terkait aksesibilitas, akomodasi,” ungkapnya.

Ia mencontohkan kawasan wisata di wilayah Manggarai perlu dipertegas regulasinya yang mengatur turis asing maupun legalitas tour agent dari luar serta mempermudah jenis-jenis layanan bagi wisatawan bukan sebaliknya.

“Di Manggarai, kami sempat ke sana, ada regulasi-regulasi yang perlu dibuat lebih tegas yang mengatur turis asing. Loket-loket tiket masuk juga tidak perlu terlalu banyak ini bisa buat tidak nyaman wisatawan,” ungkapnya.

25 orang ini juga telah membentuk sebuah asosiasi bernama Asosiasi KITA (Kaum Muda-Mudi Flobamorata) Pariwisata. Melania merupakan salah satu pengurus dalam asosiasi ini sebagai koordinator bidang pendidikan.

Selain program regional, sebutnya, 25 pemuda ini nantinya akan berpartisipasi dalam mengembangkan potensi pariwisata yang ada di Semau.

Kepala Dinas Pariwisata NTT, I Wayan Darmawa, ketika dimintai keterangan soal korelasi pengembangan 7 destinasi wisata baru dengan 25 pemuda ini, ia menyebut para pemuda ini nantinya berpartisipasi dimulai dari pengembangan wisata Liman di Pulau Semau.

“Sesuai hasil pertemuan Bapak Gubernur di Otan, Semau, mereka bisa berpartisipsi dalam mendukung, dalam pembinaan SDM, manajemen, promosi, pemasaran dan pengembangan destinasi mulai dari Liman lanjut destinasi yang lain,” ungkapnya.

Sumber Berita : Victorynews.id