config

Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat (kiri) bersama Wakil Gubernur Josef Nae Soi
(kanan) melakukan salam komando seusai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/9/2018).

Kupang - Seratus hari, waktu terlalu singkat untuk menilai. Masih ada 1.725 hari lagi. Dari sisi pengambilan kesimpulan, maka hal itu akan terlalu dini. Kesimpulannya menjadi tidak matang karena menggeneralisir sesuatu yang minim data.

Tetapi bagaimana membaca sinyal yang dikirim Gubenur dan Wakil Gubernur NusaTenggara Timur (NTT) selama 100 hari pemerintahannya? Bagaimana menafsir `pesan' (imbauan sampai peringatan) yang diucapkan? Tentu tidak semua ucapan itu dianalisis. Beberapa diangkat sebagai acuan diskusi.

Kepemimpinan dalam makna sederhana adalah kemampuan memengaruhi atau memberi contoh. Di sana seorang pemimpin hadir memberikan insprasi bagi pengikutnya dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

Menurut John Andair dalam Cara Menumbuhkan Pemimpin, 2007, cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah melakukannya dalam kerja. Di sinilah tugas pemimpin memberikan pengajaran atau instruksi berdasarkan apa yang telah dilakukan.

Dari judul tersebut dapat ditangkap pesan bahwa menjadi pemimpin butuh proses. Kepemimpinan harus terus ditumbuhkan. Hanya dalam waktu, seseorang dapat mencapai kesempurnaan. Ia pun perlu menunggu dalam proses sehingga orang yang dipimpin dapat mencapai kematangan yang baik.

Dengan mengatakan demikian, tentu kita tidak mengharapkan bahwa pemimpin adalah orang supernatural dengan kharisma yang luar biasa. Di sana sudah ada keyakinan bahwa pemimpin adalah orang tepilih. Yang terpenting adalah kemauan untuk menginspirasi agar baik diri sendiri maupun orang yang dipimpin dapat diantar mencapai tujuan.

Di sana masing-masing orang menyadari perannya dalam proyek bersama demi mencapai transformasi secara besama-sama pula, demikian tulis Dwi Suryanto dalam Transformational Leadership.

Ada empat hal. Pemimpin yang memegang teguh nilai yang tinggi yang dijadikan visi. Nilai atau ideologi ini yang memengaruhi orang lain. Sebagai `idealized influence'. ia sanggup memberikan arah kepada yang tersesat, kekuatan bagi yang lemah, kemauan bagi yang putus asah agar melihat melampaui keterbatasan fisik yang dialami.

Visi yang besar tidak diterapkan secara massal, tetapi terus memperhitungkan atau mempertimbangkan secara individual (individual consideration) orang yang dipimpin. Kesulitan dan permasalahan yang dihadapi dapat memberikan masukan penting.

 Sumber : Pos Kupang Jumat, 28 Desember 2018