config

BERSAMA. Gubernur NTT Viktor Laiskodat saat berbicara dalam talkshow yang digelar Bank NTT, Sabtu (2/2). Adapun nara sumber lainnya (dari kiri), Pimpinan Umum Victory News Chris Mboeik, Dicky Senda dari Lakoat Kujawas, Kepala OJK NTT Robert Sianipar, Kepala BI NTT Tigor Sinaga, Plt. Dirut Bank NTT Absalom Sine, Direktur Pemasaran Dana Harry A. Riwu Kaho, Direktur Kepatuhan Hilarius Minggu, dan Yuli Wijihartomo dari Bukalapak.

KUPANG, Lapangan kerja yang masih terbuka luas ada pada dunia usaha. Apalagi teknologi yang serbah cangggih sudah tersedia dan memungkinkan pelaku usaha untuk memperkenalkan produk-produknya. Sayangnya, belum banyak kaum milenial yang terjun menjadi wirausahawan. Dan kalaupun ada generasi muda yang sudah memulai, itu hanya segelintir orang saja.

Hal ini disampaikan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dalam talkshow yang digelar Bank NTT pada Sabtu (2/2) dengan tema ‘Generasi Muda NTT Bangkit Menuju Sejahtera’.

Menurut Viktor, dalam menjalankan usaha, masalah yang paling serius bukan pada tools-nya, tetapi pada manusianya. Sebab modal yang paling mahal, utama dan terutama dalam menjalankan usaha adalah trust (kepercayaan). Dengan demikian, ketika kepercayaan tidak dijaga, maka sebaik apapun produknya, orang tidak akan pernah tertarik. Dan kalau orang sudah tidak percaya, maka butuh waktu yang sangat lama untuk mengembalikan trust dari publik.

“Seluruh produk itu cuma alat untuk tukar-menukar dalam hubungan interaksi social dan ekonomi. Yang paling penting adalah trust, maka itu harus dijaga,” ujarnya.

Dalam membangun dunia usaha, menurut Viktor harus juga punya ‘jantung ganda’ dalam artian punya keyakinan yang kuat, mampu menerima kritikan serta mampu bersosialisasi dengan banyak orang. Jika jantungnya hanya satu, maka ketika ada badai, pasti langsung mati. Sebab berhadapan dengan kemajuan teknologi yang pesat, ada kondisi dimana orang berada dalam posisi sulit.

“Untuk terjun ke dunia usaha, kaum milenial harus menyiapkan diri secara baik. Seluruh karya-karya hebat di dunia hanya bisa dibuat oleh mereka yang menyiapkan diri secara baik, punya kepercayaan diri yang luar biasa, mampu menerima kritikan dan bersosialisasi dengan siapa saja,” kata mantan anggota DPR RI itu.

Viktor menyebutkan, NTT punya kekayaan alam yang luar biasa. Bahkan ada sesuatu yang sangat klasik dan tidak ada di tempat lain. Dari seluruh kekayaan alam yang ada, ‘mutiara’ yang paling banyak justru berada di kampung. Sayangnya, kaum milenial di NTT lebih memilih mencari kerja di kota. Seharusnya dengan pemikiran ala kota, mereka mampu mempengaruhi dan membangun kampung.

“Mimpi besar inilah yang sekarang didorong pemerintah agar anak-anak muda banyak yang terjun menjadi entrepreneur, termasuk pada sektor pariwisata,” kata politisi Partai Nasdem itu.

Jika ada 500 ribu kaum milenial yang bergerak dan terjun menjadi wirausahawan, menurut Viktor, mimpi besar pemerintah menjadikan NTT bangkit menuju sejahtera pasti dapat terwujud. Dan untuk bisa bergerak, kaum milenial harus terlebih dahulu mengenal daerahnya, serta mengenal kekayaan alam dan potensi yang ada di daerahnya.

“Kalau kaum milenial mau buat sesuatu tanpa kenal daerah, tanpa kenal kekayaan alam dan potensi daerahnya, maka dia tidak akan bisa bergerak maju,” ungkap Viktor. (tom)

Sumber : Timor Express, Senin, 4