config

Tenun ikat NTT merupakan suatu hasil karya cipta, rasa dan karsa kekayaan intelektual yang bernilai tinggi. Hasil kreasi kaum perempuan dipelosok-pelosok Flobamorata yang selalu menciptakan motif dan beraneka ragam corat serta sarat dengan pesan kearifan local yang unik. Karya tenunan motif NTT telah dikenal dan diapresiasi secara nasional maupun internasional.

Untuk semakin mempromosikan kain tenun NTT kepada masyarakat luas sekaligus membangkitkan rasa cinta generasi muda dan kalangan milenial , Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT menggelar kegiatan Festival Sarung Tenun NTT di Arena Car Free Day, Sabtu (2/3). Acara tersebut akan berlangsung selama empat jam dari pukul 06.00 sampai dengan 10.00 Wita. Tema yang diusung adalah Sarung Tenun NTT Identitas Budaya Pemersatu Bangsa.

Kegiaatan tersebut melibatkan 10.000 peserta dengan rincian Perangkat Daerah Lingkup Provinsi NTT 2.000 orang, Perangkat Daerah Kota Kupang 500 orang, TNI/Polri 500 orang, Instansi Vertikal 500 orang, organisasi wanita 500 orang, kelompok etnis 300 orang, BUMD/BUMN 700 orang serta pelajar/mahasiswa 5000 orang. Semua peserta diwajibkan mengenakan baju kaos putih dengan sarung tenun NTT.

Beberapa kegiatan dalam acara tersebut adalah NTT Menari 1.800 pelajar, Tarian Massal Fobamora seperti Gawi, Dolo-Dolo Jai dan Tebe, Bazar makanan aneka kelor dari UMKM, Instansi Tenun, paduan suara pelajar 2.000 orang, music tradisional dan olahraga bersarung, para peserta akan dibagi dalam 4 spot yakni pertama, didepan Gedung Sasando Kantor Gubernur dengan peserta 4.975 orang. Spot kedua didepan Kantor Pengadilan Tinggi dengan 1.685 peserta, spot ketiga depan Rumah Jabatan Gubernur dengan 2.100 peserta, dan spot keempat depan Rumah Kejati dengan 2.120 peserta.

Menurut Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, pada setiap spot akan diadakan berbagai rangkaian acara hiburan. Acara ntt menari akan dipusatkan di spot satu. Sementara di spot lainnya, ada acara tarian massal Flobamorata dan berbagai atraksi lainnya. Para peserta dan masyarakat yang hadir diharapkan dapat membeli kreasi tenun ikat di masing-masing spot dan produk makanan berbasis kelor.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat khususnya menennun. Juga untuk membangkitkan kebanggan di kalangan generasi muda dan kaum milenial terhadap kain sarung NTT. Kita terus mendorong dan mengupayakan agar tenun NTT diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO,” jelas Julie Laiskodat.
Lebih lanjut Julie berharap agar Festival Sarung Tenun tersebut dapat menjadi festival tahunan yang dapat menjadi agenda pariwisata daerah. Sehingga tenunan NTT semakin berkibar di kancah nasional maupun internasional.

“Kita juga terus mendorong penetapan Hari Sarung Nasional. Sarung yang merupakan warisan kekayaan leluhur yang mesti dilestarikan serta layak disejajarkan dengan batik sebagai busana nasional. Dengan itu, geliat perekonomian para penenun juga akan semakin meningkat,” pungkas Julie Laiskodat.

Sumber : Siaran Pers Biro Humas dan Protokoler Nomor : Hms.485/  /III/2019 tanggal 26 Februari 2019