config

Kondisi Umum

A. PERTUMBUHAN EKONOMI

Perekonomian Nusa Tenggara Timur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku Triwulan III-2019 mencapai Rp.27,40 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp.17,74 triliun.

Ekonomi NTT Triwulan III-2019 tumbuh sebesar 3,87 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018 (y-on-y). Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 10,53 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) yang bertumbuh sebesar 5,63 persen.

Bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q), ekonomi NTT pada Triwulan III-2019 mengalami pertumbuhan sebesar 2,59 persen. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Jasa Keuangan sebesar 9,34 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen Konsumsi Pemerintah sebesar 32,22 persen.

Secara kumulatif, ekonomi NTT Triwulan I hingga Triwulan III 2019 (c-to-c) tumbuh sebesar 5,23 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 9,77 persen.

Struktur Ekonomi NTT pada Triwulan III-2019 masih didominasi oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dengan kontribusi sebesar 27,84 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran masih didominasi oleh Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga, yaitu sebesar 69,86 persen.

1. PDRB Menurut Lapangan Usaha

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2019 Terhadap Triwulan III-2018 (y-on-y), Ekonomi NTT triwulan III-2019 bila dibandingkan dengan triwulan III-2018 tumbuh positif sebesar 3,87 persen. Perkembangan ekonomi pada hampir seluruh kategori lapangan usaha tumbuh positif kecuali pada lapangan usaha Real Estate serta Pengadaan Listrik dan Gas. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 10,53 persen. Selanjutnya disusul oleh lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan sepeda Motor sebesar 8,79 persen serta Jasa Pendidikan sebesar 7,49 persen.

Secara umum, struktur perekonomian NTT pada Triwulan III-2019 belum mengalami perubahan yang signifikan. Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan masih mendominasi perekonomian NTT di triwulan ini dengan kontribusi sebesar 27,84 persen. Selanjutnya diikuti oleh lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib dengan kontribusi sebesar 13,62 persen dan lapangan usaha Perdagangan Besar-Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 11,71 persen.

Bila dilihat dari penciptaan pertumbuhan ekonomi NTT Triwulan III-2019, maka lapangan usaha Perdagangan Besar-Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda menyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar, yaitu sebesar 1,04 persen. Kemudian disusul oleh lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib dan lapangan usaha Jasa Pendidikan masing-masing sebesar 0,96 persen dan 0,63 persen.

2. PDRB menurut Pengeluaran

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2019 Terhadap Triwulan III-2018 (y-on-y), dari sisi Pengeluaran, komponen dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada Triwulan III-2019 dibandingkan dengan Triwulan III-2018 adalah komponen Konsumsi  Rumah Tangga (PKRT) sebesar 5,63 persen. Selanjutnya diikuti oleh  komponen Pengeluaran Lembaga Non Profit Yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) yaitu sebesar 2,60 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 1,42 persen, dan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) 1,08 persen.

Struktur PDRB NTT menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku Triwulan III-2019 tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Aktivitas permintaan akhir masih didominasi oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (69,86 persen) yang mencakup lebih dari separuh PDRB NTT. Komponen lainnya yang memiliki peranan besar terhadap PDRB NTT secara berturut-turut adalah PMTB (48,41 persen); Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (34,35 persen), dan Pengeluaran Konsumsi LNPRT (3,13 persen) relatif kecil.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi NTT Triwulan III-2019 (y-on-y), maka Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga merupakan komponen dengan sumber pertumbuhan tertinggi yakni sebesar 4,19 persen, diikuti Komponen PMTB sebesar 0,72 persen, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah dan Pengeluaran LNPRT masing-masing sebesar 0,36 persen dan 0,09 persen.

3. Pertumbuhan Ekonomi dari Triwulan I 2019 Sampai Triwulan III 2019 (c-to-c),Pertumbuhan ekonomi NTT dari Triwulan I sampai Triwulan III 2019 mencapai 5,23 persen (c-to-c),  yang mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode yang sama tahun 2018 yang mencapai 5,06 persen. Pertumbuhan tertinggi dari Triwulan I sampai Triwulan III 2019 dicapai oleh Komponen PK-PRT yaitu mencapai 5,69 persen, diikuti oleh Komponen PK-LNPRT sebesar 5,53 persen, dan Komponen PMTB sebesar 1,89 persen.

4. Laju Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi NTT Tahun 2019 (Triwulan I s.d. Triwulan IV Tahun 2019) sebesar 5,20 persen Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Tahun 2019 mencapai Rp.106.89 triliun. Atas Dasar Harga Kostan (ADHK) Tahun 2010 mencapai Rp.69,37 triliun. Bila dibandingkan dibandingkan dengan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2018 sebesar 5,13 %, maka Pertumbuhan Ekonomi di Tahun 2019 mengalami kenaikan tipis 0,7 % menjadi 5,2 %. Sumber Pertumbuhan Ekonomi NTT Tahun 2019 adalah dari Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertanian dan Jaminan Sosial Wajib adalah kategori dengan sumber pertumbuhan tertinggi yakni 1.05 %.

Pada Triwulan IV Tahun 2019 Ekonomi NTT tumbuh 5,32 % (Y-on-Y). Sumber Pertumbuhan Ekonomi NTT Triwulan IV Tahun 2019 adalah lapangan Usaha pertanian, Kehutanan dan Perikanan dengan sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 2,01 %.

5. Inflasi

Bulan November 2019 Kota-kota di Nusa Tenggara Timur mengalami Inflasi sebesar 0,32 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 134,51. Kota Kupang mengalami inflasi sebesar 0,27 persen sedangkan Kota Maumere mengalami inflasi sebesar 0,62 persen. Inflasi November 2019 di Nusa Tenggara Timur terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada lima kelompok pengeluaran, dimana kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga terbesar adalah Kelompok Bahan Makanan yang naik sebesar 1,46 persen diikuti oleh sebesar 0,11 persen. Kelompok Pendidikan dan Kelompok Transpor mengalami penurunan indeks harga sebesar 0,01 persen dan 0,35 persen.

Untuk Bulan Desember 2019 NTT mengalami Inflasi sebesar 0,80 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 135,59. Inflasi bulan Desember 2019 di NTT sebesar 0,80 persen dikarenakan adanya kenaikan indeks harga pada 6 dari 7 kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga terbesar terdapat pada kelompok bahan makanan sebesar 2,02 persen dan diikuti oleh kelompok transpor sebesar 1,36 persen. Secara keseluruhan selama tahun 2019 yakni dari Januari — Desember 2019, NTT mengalami Inflasi sebesar 0,67 persen , dan Kota Kupang mengalami inflasi 0,50 persen. Terjadinya inflasi tersebut karena dipicu oleh naiknya indeks harga pada 6 kelompok pengeluaran dan kenaikan paling tinggi terjadi pada kelompok sandang yakni sebesar 2,26 persen, kemudian diikuti pula kelompok pendidikan yang selama tahun 2019 mengalami kenaikan indeks harga sebesar 2,18 persen. Pemberi andil terbesar dalam pembentukan inflasi di NTT pada bulan Desember 2019 pada kelompok pengeluaran adalah kelompok bahan makanan, dengan andil sebesar 0,49 persen, dan hal ini merupakan kelompok penyumbang terbesar terhadap inflasi yakni sebesar 0,20 persen, disusul dengan kelompok makanan jadi sebesar 0,19 persen.Untuk perbandingan inflasi bulanan, inflasi tahun kalender dan inflasi year on year dalam lima tahun terakhir tercatat di bulan Desember, Nusa Tenggara Timur mengalami lima kali inflasi dan inflasi terbesar terjadi pada tahun 2015 yakni sebesar 2,46 persen dan pada Desember 2019 merupakan inflasi terendah dalam waktu 5 tahun terakhir, yaitu 0,80 persen.

Sumber Data : LKPJ Gubernur Nusa Tenggara Timur Tahun Anggaran 2019

 

Pertumbuhan Ekonomi

Laju Petumbuhan Ekonomi di NTT dan Nasional Tahun 2013-2018

Periode

Nusa Tenggara Timur

Nasional

2013

5,56

5,78

2014

5,04

5,02

2015

5,13

4,79

2016

5,18

5,02

2017

5,16

5,07

           2018                    5,13           5,17
 

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Berdasarkan  KEKR Provinsi NTT Bulan Februari 2019 yang dirilis oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur, total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Nusa Tenggara Timur pada tahun 2018 berdasarkan harga berlaku sebesar 99.087,3 milyard rupiah atau mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 90.757,6 milyard rupiah.

Sumbangan terbesar untuk ProdukDomestik Regional Bruto (PDRB) menurut Lapangan Usaha atas dasar harga berlaku (ADHB) NTT tahun 2018 adalah dari lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dengan 28,40 persen. Berikutnya adalah dari lapangan usaha Adminsitrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib dengan 13,34 persen, lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor dengan 11,06 persen, dan lapangan usaha Konstruksi memberi sumbangan 10,84 persen terhadap PDRB ADHB. Berdasarkan harga konstan 2010, perekonomian NTT pada tahun 2018 mengalami pertumbuhan sebesar 5,13 persen, sedikit mengalami percepatan dibandingkan dengan tahun 2017 yaitu sebesar 5,11 persen. Seluruh lapangan usaha pada tahun 2018 mencatat pertumbuhan yang positif. Pertumbuhan ekonomi tertinggi pada tahun 2018 dicapai oleh lapangan usaha Penyedia Akomodasidan Makan Minum sebesar 12,16 persen.

 

 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

PDRB NTTTahun 2013-2017

Uraian

2013

2014

2015

2016

2017

PDRB ADHB (milyard Rp.)

61.325,3

68.500,4

76.190,9

84.172,6

91.160

PDRB ADHK  Tahun 2010 (milyard Rp.)

51.505,2

54.108,0

56.831,9

59.775,7

62.788

PDRB Perkapita ADHB (Juta Rp.)

11,27

13,60

14,88

16,18

-

PDRB Perkapita ADHK (Juta Rp.)

12,40

13,60

14,88

16.18

-

Sumber : BPS Provinsi NTT, 2018

Inflasi

Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT (KEKR NTT, Februari 2018), Inflasi sepanjang tahun 2018 di Provinsi NTT mencapai 3,07% (yoy) walaupun mengalami peningkatan dari tahun 2017 sebesar 2,00% (yoy), namun pencapaian ini masih berada dalam rentang target inflasi nasional sebesar 3,5±1% (yoy). Terkendalinya harga sebagaian bahan  makanan pada komoditas ikan segar dan sayur-sayuran menjadi penyebab utama terkendalinya inflasi di tahun 2018. Jika dibandingkan dengan tahun 2017, tren inflasi masih mengalami pola musiman dengan deflasi di kisaran triwulan III diikuti dengan kenaikan yang cukup tinggi di dua bulan menjelang akhir tahun, namun begitu jika dibandingkan dengan tahun 2017, besaran deflasi yang terjadi di Bulan Oktober tidak terlalu signifikan, terlebih kelangkaan pangan di awal tahun 2018 masih memberi dampak pada tingkat harga secara keseluruhan, sehingga secara tahun inflasi di Provinsi NTT mengalami peningkatan yang berarti namum masih relatif terjaga. Adanya koordinasi dan pemantauan pasokan beberaap komoditas sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan berhasil menurunkan harganya. Operasi pasar yang rutin dilaksanakan bersama PT. BULOG dan Satgas Pangan juga mamapu menahan kenaikan komoditas beras yang sebelumnya mengalami lonjakan di awal tahun 2018.

Pada akhir tahun 2018, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami inflasi angkutan udara tertinggi (dalam 4 tahun terakhir) secara tahunan (yoy). Walaupun secara bulanan tetap mengalami pola inflasi pada bulan November dan Desember, namun inflasi angkutan udara pada tahun 2018 cukup besar dampaknya bagi provinsi NTT yang secara geografis berbentuk kepulauan.

 

ANGKA KEMISKINAN

Persentase Kemiskinan

Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT (KEKR NTT, Februari 2018), perkembangan positif dimana persentase penduduk miskin NTT cenderung berada pada trend menurun sejak tahun 2015, mengikuti trend secara nasional. Hal yang menarik adalah trend penurunan presentase kemiskinan ini terjadi baik di kota maupun pedesaan. Jika dibandingkan dengan tahun 2016, persentase kemiskinan di kota turun tipis dari 10,17 persen menjadi 10,11 persen pada 2017. Sedangkan di pedesaan terjadi penurunan sebesar 0,6 persen dari 25,19 persen di 2016 menjadi 24,49 persen pada 2017. Secara umum menurunnya jumlah penduduk miskin pada 2017 di Provinsi NTT ini antara lain disebabkan oleh penggunaan peralatan mekanisasi yang berpengaruh terhadap turunnya biaya dan meningkatnya pendapatan petani. Inflasi yang terkendali sepanjang tahun juga berdampak terhadap terkendalinya biaya operasional rumah tangga. Namun demikian, jika dilihat dari jumlah, penduduk miskin mayoritas berada di pedesaan dengan jumlah 1,05 juta jiwa (91,4 persen) dibandingkan perkotaan yang hanya 119 ribu jiwa (8,6 persen).

Sementara itu, dari sisi ketimpangan pengeluaran, gini ratio di NTT pada tahun 2017 tercatat sebesar 0,36 atau cenderung berada pada level ketimpangan menengah. Angka ini lebih baik dibandingkan dengan nasional yang sebesar 0,39. Hal ini mengindikasikan bahwa pengeluaran masyarakat di NTT cenderung lebih merata apabila dibandingkan dengan nasional. Namun demikian perlu perhatian dan upaya Pemerintah Daerah mengingat angka gini ratio ini sedikit meningkat jika dibanding 2016 sebesar 0,34.

Dari sisi garis kemiskinan, terdapat peningkatan pada bulan September 2017 sebesar 0,97 persen menjadi Rp 346.737 per kapita per bulan, dibandingkan Maret 2017 yang sebesar Rp 343.396 per kapita per bulan. Peningkatan garis kemiskinan yang diiringi oleh penurunan jumlah penduduk miskin mengindikasikan adanya perbaikan daya beli masyarakat di NTT Pada September 2017. Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan (GKM) terhadap GK sebesar 78,83 persen. sedikit menurun dibanding periode Maret 2017 yang sebesar 79,37 persen. Hal ini menunjukkan inflasi pedesaan yang juga relatif rendah. Secara nasional, Garis Kemiskinan (GK) Provinsi NTT berada di peringkat ke-28 setelah Provinsi NTB. Provinsi dengan garis kemiskinan tertinggi adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar Rp 607.927. Sedangkan Provinsi Sulawesi Selatan memiliki GK terendah sebesar Rp 294.358 yang mengindikasikan rendahnya tingkat harga di Provinsi tersebut.

Pada sisi indikator indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2) tercatat adanya kenaikan. Pada September 2017, P1 tercatat sebesar 4,16 atau turun dibandingkan Maret 2017 yang sebesar 4,34. Sementara itu, angka P2 relatif stagnan pada kisaran angka 1,17. Hal ini mengindikasikan bahwa pengeluaran penduduk miskin semakin menjauhi GK dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin tetap.

 

INFRASTRUKTUR JALAN DI NUSA TENGGARA TIMUR

 

Jdl infra1

infra1

 

jdl infra2

infra2

 

Sumber Data : BPS : Prov. NTT dalam angka 2020

 

 

 

Berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaaan Umum dan perumahan Rakyat Nomor : 248/KPTS/M/2015 tentang penetapan ruas jalan dalam jaringan jalan Primer menurut fungsinya, maka panjang ruas jalan di Provinsi Nusa tenggara Timur sampai dengan Tahun 2018 adalah sepanjang 1.857,91 KM terdiri dari Panjang ruas jalan Nasional 1.052,33 KM dan panjangvruas jalan Provinsi 805,58 KM

Daftar Tabel panjang ruas jalan / Kabupaten

No

Nama Kabupaten

Panjang Ruas (KM)

1

Kota Kupang

65,54

2

Kabupaten Kupang

68,82

3

TTS

103,61

4

TTU

91,45

5

Belu

75,64

6

Malaka

55,93

7

Rote Ndao

56,70

8

Sabu Raijua

45,27

9

Alor

145,33

10

Lembata

61,45

11

Flores Timur

52,06

12

Sikka

89,97

13

Nagekeo

41,46

14

Ende

227,63

15

Ngada

54,12

16

Manggarai Timur

113,00

17

Manggarai

211,95

18

Manggarai Barat

141,80

19

Sumba Barat Daya

83,07

20

Sumba Timur

191,70

21

Sumba Tengah

66,48

22

Sumba Barat

128,19

 Sumber : Dinas Perhubungan Prov. NTT

Konektivitas Transportasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Kebutuhan akan Transportasi di wilayah NTT dianggap sangat penting dalam mendukung kemajuan sosial ekonomi, mendukung poros maritim dunia dan mewujudkan nawa cita. konektivitas jaringan transportasi antarmoda, didasarkan pada aksesibilitas dan sarana prasarana yang ada pada Nusa Tenggara Timur.

Terminal Angkutan Jalan di Provinsi NTT Tahun 2018

No

Nama Terminal

Lokasi

Kelurahan/Desa

Type

Luas (M2)

Kabupaten

Kecamatan

1

Mota'ain

Kab. Belu

Kec. Tasim

Desa Silawan

A

33250

2

Naiola

Kab. TTU

-

Desa Naiola

A

10000

3

Oebobo

Kota Kupang

Kec. Oebobo

Kel. Fatululi

B

2268

4

Noelbaki

Kab. Kupang

Kec. Kupang Tengah

Desa Noelbaki

B

1800

5

Haumeni

Kab. Kupang

-

Desa Kesetnana

B

2613

6

Kefamenanu

Kab. TTS

-

Kel. Benpasi

B

1500

7

Lolowa

Kab. TTU

-

Kel. Fatubenao

B

4400

8

Lamawalang

Kab. Belu

Kec. Larantuka

Desa Lamawang

B

1800

9

Madawat

Kab. Flores Timur

Kec. Alok

Kel. Madawat

B

1350

10

Lokarya

Kab. Sikka

Kec. Kewapante

Kel. Waioti/Desa Habi

B

2000

11

Ndao

Kab. Sikka

Kec. Ende Utara

Kel. Kota Ratu

B

2129

12

Watujaji

Kab. Ende

Kec. Bajawa

Kel. Bajawa/Desa Bowejo

B

-

13

Mena

Kab. Ngada

Kec. Langke Rembong

Kel. Wali

B

3000

14

Nggorang

Kab. Manggarai

Kec. Nggorang

Desa Komodo

B

3200

15

Radamata

Kab. Manggarai Barat

-

-

B

2200

16

Waikabubak Lama

Kab. Sumba Barat Daya

Kec. Waikabubak

Kel. Wailiang

B

3200

17

Lambanapu

Kab. Sumba Barat

-

-

B

-

18

Waikabubak Baru

Kab. Sumba Timur

Kec. Loli

Kel. Weekarou

C

10000

19

Weri

Kab. Sumba Barat

-

Kel. Weri

C

-

20

Waiwerang

Kab. Flores Timur

-

Kel. Waiwerang

C

-

21

Waiwadan

Kab. Flores Timur

-

Kel. Waiwadan

C

-

22

Rewarangga

Kab. Flores Timur

-

-

C

4290

23

Kota

Kab. Ende

-

-

C

486

24

Detusoko

Kab. Ende

-

-

C

720

25

Wolowaru

Kab. Ende

-

-

C

300

26

Maukaro

Kab. Ende

-

-

C

3870

27

Kota Bajawa

Kab. Ende

Kec. Bajawa

Kec. Ngedukelu

C

1350

28

Aimere

Kab. Ngada

Kel. Ngedukelu

Kec. Bajawa

C

-

29

Naru

Kab. Ngada

Kel. Naru

Kec. Bajawa

C

-

30

Reo

Kab. Ngada

Kec. Reo

-

C

-

31

Lando

Kab. Manggarai

Kec. Wae Ri'i

Kec. Wae Ri'i

C

7457

32

Karot

Kab. Manggarai

-

-

C

-

33

Malawatar

Kab. Manggarai Barat

-

-

C

-

                                                                       

 

1. Angka Kematian Ibu dan Bayi (Tahun 2018-2019)

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur terus berupaya serius untuk menekan kasus kematian ibu dan bayi yang tercermin dari turunnya angka kematian ibu dan bayi. Angka kematian ibu di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2019 terdata sebanyak 98 kasus, mengalami penurunan sebanyak 44 kasus dari tahun sebelumnya sebesar 142 kasus. Begitupun dengan angka kematian bayi pada tahun 2019 terdata sebanyak 822 kasus, atau turun 90 kasus dibandingkan tahun sebelumnya sebesar  912 kasus.

Pada tahun 2019, dari 90.846 kelahiran, terdapat bayi lahir selamat sebanyak 90.023 bayi  (99,10%) sedangkan yang meninggal sebanyak 823 bayi (0,90%).

Angka kematian ibu dan bayi tahun 2018-2019 dan kondisi bayi lahir tahun 2019 di 22 Kabupaten/Kota se Nusa Tenggara Timur  dapat dilihat pada Tabel dibawah ini :

Angka Kematian Ibu dan Bayi Tahun 2018-2019 serta

Kondisi Bayi Lahir Tahun 2019 di Kabupaten/Kota

se Provinsi Nusa Tenggara Timur.

NO

KAB-KOTA

KEMATIAN IBU

KEMATIAN BAYI

KONDISI BAYI LAHIR 2019

2018

2019

2018

2019

HIDUP

MATI

1

Kota Kupang

8

5

35

18

8.274

40

2

Kabupaten Kupang

8

5

86

96

5.258

74

3

Timor Tengah Selatan

24

10

127

86

9.833

87

4

Timor Tengah Utara

5

3

54

53

5.153

95

5

Belu

10

5

56

80

4.546

72

6

Kabupaten Malaka

6

3

19

28

3.797

9

7

Kabupaten Alor

12

1

24

14

2.127

13

8

Kabupaten Lembata

1

1

16

26

2.234

19

9

Kabupaten Flores Timur

9

2

30

24

3.862

47

10

Kabupaten Sikka

5

9

31

33

3.367

18

11

Kabupaten Ende

4

4

32

22

2.120

16

12

Kabupaten Nagekeo

4

1

37

25

2.378

24

13

Kabupaten Ngada

2

1

29

15

4.114

44

14

Kabupaten Manggrai Timur

6

3

45

25

5.918

76

15

Kabupaten Manggarai

9

12

83

76

4.886

52

16

Kabupaten Manggarai Barat

7

5

40

41

5.773

21

17

Kabupaten Sumba Barat Daya

5

10

35

48

2.187

8

18

Kabupaten Sumba Barat

1

2

9

12

1.756

20

19

Kabupaten Sumba Tengah

3

-

26

21

4.881

33

20

Kabupaten Sumba Timur

7

10

43

37

2.249

37

21

Kabupaten Sabu Raijua

3

1

33

10

1.346

6

22

Kabupaten Rote Ndao

3

5

22

32

3.964

12

 TOTAL

142

98

912

822

90.023

823

Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi NTT, 2020

2. Stunting di NTT

Saat ini Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur berkomitmen untuk menjaga kualitas generasi penerus NTT melalui pengentasan masalah stunting. Di samping itu, sebagai tindaklanjut dari Strategi Nasional (StraNas) stunting, Pemerintah Provinsi telah menetapkan 8 (delapan) Aksi Konvergensi dengan 25 komposit indikator, di antaranya terdiri dari indikator gizi sensitif dan gizi spesifik yang digunakan untuk analisa penyebab stunting hingga tingkat desa, termasuk Perawatan anak-anak gizi buruk, imunisasi, air bersih dan sanitasi dan akses ke PAUD.

Pada tahun 2019 balita kurus di NTT sebanyak 21.464 balita, balita gizi kurang sebanyak 56.128 balita dari balita sebanyak 84.299 balita. Data status gizi balita per Kabupaten/Kota Tahun 2019 dapat dilihat pada Tabel dibawah ini :

 

                      Data Status Gizi Balita per Kabupaten/Kota Tahun 2019

NO

KABUPATEN/KOTA

WASTING 

(BALITA KURUS)

   UNDERWEIGHT

(BALITA GIZI KURANG)

STUNTING

1

Kota Kupang

1.436

2.730

3.929

2

Kabupaten Kupang

3.104

7.259

9.207

3

Kabupaten Timor Tengah Selatan

2.461

6.934

11.781

4

Kabupaten Timor Tengah Utara

884

4.672

7.456

5

Kabupaten Belu

867

3.052

3.661

6

Kabupaten Malaka

1.327

3.134

4.452

7

Kabupaten Alor

1.115

1.777

3.390

8

Kabupaten Lembata

458

959

1.588

9

Kabupaten Flores Timur

1.200

3.275

4.812

10

Kabupaten Sikka

955

2.915

4.096

11

Kabupaten Ende

541

1.827

3.070

12

Kabupaten Nagekeo

322

1.184

2.006

13

Kabupaten Ngada

102

762

1.207

14

Kabupaten Manggarai Timur

1.145

2.110

3.476

15

Kabupaten Manggarai

705

1.448

3.504

16

Kabupaten Manggarai Barat

975

3.008

3.008

17

Kabupaten Sumba Barat Daya

989

1.953

3.254

18

Kabupaten Sumba Barat

500

1.051

1.448

19

Kabupaten Sumba Tengah

186

850

1.854

20

Kabupaten Sumba Timur

721

1.779

3.019

21

Kabupaten Sabu Raijua

609

1.460

1.598

22

Kabupaten Rote Ndao

862

1.989

2.483

TOTAL

21.464

56.128

84.299

             Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi NTT, 2020

 

3. Penanganan Stunting di NTT

Masalah stunting menggambarkan adanya masalah gizi kronis, yang dipengaruhi oleh kondisi ibu/calon ibu, masa janin, dan masa bayi/balita, termasuk penyakit yang diderita selama masa balita. Seperti masalah gizi lainnya, tidak hanya terkait masalah kesehatan, namun juga dipengaruhi berbagai kondisi lain yang secara tidak langsung mempengaruhi kesehatan. Oleh karenanya, upaya perbaikan harus meliputi upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung (intervensi gizi spesifik) dan upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara tidak langsung (intervensi gizi sensitif). Intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan di sektor kesehatan, namun hanya berkontribusi 30%, sedangkan 70% merupakan kontribusi intervensi gizi sensitif yang melibatkan berbagai sektor seperti ketahanan pangan, ketersediaan air bersih dan sanitasi, penanggulangan kemiskinan, pendidikan, sosial, dan sebagainya.

Oleh karena itu, pada tahun 2019 Pemerintah Provinsi telah membentuk Kelompok Kerja Percepatan Penanganan dan Pencegahan Stunting, terdiri dari beberapa instansi terkait, akademisi, UNICEF dan LSM. Adapun lokasi khusus penanganan stunting dilaksanakan pada desa-desa di 1 (satu) kecamatan pada 6 Kabupaten yang teridentifikasi memiliki prevelensi stunting dan kemiskinan tertinggi,yaitu: 1) Kecamatan Kuatnana Kabupaten Timor Tengah Selatan;  2) Kecamatan Noemuti Kabupaten Timor Tengah Utara; 3) Kecamatan Tasifeto Timur Kabupaten Belu; 4) Kecamatan Alor Barat Laut Kabupaten Alor; 5). Kecamatan Kota Waikabubak Kabupaten Sumba Barat;  6). Kecamatan Kodi Utara Kabupaten Sumba Barat Daya.

Upaya lainnya yang saat ini gencar dilakukan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam mengatasi kekurangan gizi dan stunting, yaitu melalui pemberian makanan tambahan yang tinggi nilai gizi dan nutrisi yang berbahan kelor/marungga/moringa kepada ibu hamil dan balita di fasilitas-fasilitas kesehatan masyarakat sampai dengan posyandu.

Sesuai Tabel diatas Kasus Balita Gizi Buruk di NTT sebanyak 3.038 jiwa, terbanyak ada di Kabupaten Alor, yaitu mencapai 133 jiwa dan semuanya mendapatkan perawatan.

Jumlah Kasus Kematian Bayi Dari 2017-2018 Menurut Kabupaten/Kota

NO

KABUPATEN/KOTA

KEMATIAN BAYI (Jiwa/Tahun)

2017

2018 *)

1

Kota Kupang

37

35

2

Kabupaten Kupang

83

93

3

Kabupaten Timor Tengah Selatan

156

144

4

Kabupaten Timor Tengah Utara

80

74

5

Kabupaten Belu

39

62

6

Kabupaten Alor

11

43

7

Kabupaten Lembata

31

25

8

Kabupaten Flores Timur

47

66

9

Kabupaten Sikka

67

80

10

Kabupaten Ende

59

40

11

Kabupaten Nagekeo

39

41

12

Kabupaten Ngada

33

22

13

Kabupaten Manggarai Timur

53

45

14

Kabupaten Manggarai

70

83

15

Kabupaten Manggarai Barat

61

55

16

Kabupaten Sumba Barat Daya

-

34

17

Kabupaten Sumba Barat

3

30

18

Kabupaten Sumba Timur

54

45

19

Kabupaten Rote Ndao

36

32

20

Kabupaten Sabu Raijua

33

44

21

Kabupaten Malaka

16

16

Jumlah

1.044

1.131

                                                               Sumber Data : BPS Provinsi NTT                 *) : Angka Sementara


Kasus Kematian
Ibu (AKI)

Rincian Kasus Kematian Ibu Menurut Kabupaten/Kota di NTT

NO

KABUPATEN/KOTA

KEMATIAN IBU (Jiwa/Tahun)

2016

2017

1

Kota Kupang

4

4

2

Kabupaten Kupang

13

10

3

Kabupaten Timor Tengah Selatan

27

32

4

Kabupaten Timor Tengah Utara

7

2

5

Kabupaten Belu

5

6

6

Kabupaten Alor

14

10

7

Kabupaten Lembata

4

3

8

Kabupaten Flores Timur

6

4

9

Kabupaten Sikka

13

4

10

Kabupaten Ende

12

10

11

Kabupaten Nagekeo

4

5

12

Kabupaten Ngada

6

1

13

Kabupaten Manggarai Timur

10

10

14

Kabupaten Manggarai

7

5

15

Kabupaten Manggarai Barat

12

14

16

Kabupaten Sumba Barat Daya

7

16

17

Kabupaten Sumba Barat

0

1

18

Kabupaten Sumba Tengah

2

2

19

Kabupaten Sumba Timur

11

9

20

Kabupaten Rote Ndao

7

3

21

Kabupaten Sabu Raijua

7

7

22

Kabupaten Malaka

4

4

Jumlah

182

162


Angka Kelangsungan Hidup Bayi

Kondisi Bayi Lahir Hidup/Mati Kabupaten/Kota Tahun 2018

NO

Kab/Kota

Kelahiran

Lahir Hidup

Lahir Mati

Jumlah

1

Sumba Barat

1.479

-

1.479

2

Sumba Timur

5.129

93

5.222

3

Kupang

6.164

77

6.241

4

TTS

9.273

80

9.353

5

TTU

5.245

318

5.563

6

Belu

4.884

77

4.961

7

Alor

3.868

32

3.900

8

Lembata

2.110

13

2.123

9

Flores Timur

4.065

73

4.138

10

Sikka

5.200

79

5.279

11

Ende

4.378

60

4.438

12

Ngada

2.523

29

2.552

13

Manggarai

6.100

78

6.178

14

Rote Ndao

2.108

33

2.141

15

Manggarai Barat

4.968

61

5.029

16

Sumba Tengah

1.746

22

1.768

17

Sumba Barat Daya

5.893

22

5.915

18

Nagekeo

1.746

26

1.772

19

Manggarai Timur

4.691

295

4.986

20

Sabu Raijua

1.551

45

1.596

21

Kota Kupang

8.663

38

8.701

22

Malaka

3.742

18

3.760

 

Jumlah/Total

95.526

1.220

97.095

  Sumber: BPS Prov. NTT               

 

 
 
 

 

  jdl SD  
data SD dt SD1 dt SD2

          jdl MI                          
 MI 1 MI 2  MI 3

 

   JDL SMP
 SMP1 SMP2  SMP3 

 

  JDL SMA      
SMA1 SMA2 SMA3

 

 JDL SMK
SMK1

SMK2

SMK3 

 

 jdl PT

 

PT1 PT2  PT3 

 

 Jdl Melek

Melek huruf

 

jdl APK

APK APM

 

jdl RA

dt sekolahRA