config

A. PERTUMBUHAN EKONOMI

Perekonomian Nusa Tenggara Timur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku Triwulan III-2019 mencapai Rp.27,40 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp.17,74 triliun.

Ekonomi NTT Triwulan III-2019 tumbuh sebesar 3,87 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018 (y-on-y). Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 10,53 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) yang bertumbuh sebesar 5,63 persen.

Bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q), ekonomi NTT pada Triwulan III-2019 mengalami pertumbuhan sebesar 2,59 persen. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Jasa Keuangan sebesar 9,34 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen Konsumsi Pemerintah sebesar 32,22 persen.

Secara kumulatif, ekonomi NTT Triwulan I hingga Triwulan III 2019 (c-to-c) tumbuh sebesar 5,23 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 9,77 persen.

Struktur Ekonomi NTT pada Triwulan III-2019 masih didominasi oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dengan kontribusi sebesar 27,84 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran masih didominasi oleh Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga, yaitu sebesar 69,86 persen.

1. PDRB Menurut Lapangan Usaha

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2019 Terhadap Triwulan III-2018 (y-on-y), Ekonomi NTT triwulan III-2019 bila dibandingkan dengan triwulan III-2018 tumbuh positif sebesar 3,87 persen. Perkembangan ekonomi pada hampir seluruh kategori lapangan usaha tumbuh positif kecuali pada lapangan usaha Real Estate serta Pengadaan Listrik dan Gas. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 10,53 persen. Selanjutnya disusul oleh lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan sepeda Motor sebesar 8,79 persen serta Jasa Pendidikan sebesar 7,49 persen.

Secara umum, struktur perekonomian NTT pada Triwulan III-2019 belum mengalami perubahan yang signifikan. Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan masih mendominasi perekonomian NTT di triwulan ini dengan kontribusi sebesar 27,84 persen. Selanjutnya diikuti oleh lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib dengan kontribusi sebesar 13,62 persen dan lapangan usaha Perdagangan Besar-Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 11,71 persen.

Bila dilihat dari penciptaan pertumbuhan ekonomi NTT Triwulan III-2019, maka lapangan usaha Perdagangan Besar-Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda menyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar, yaitu sebesar 1,04 persen. Kemudian disusul oleh lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib dan lapangan usaha Jasa Pendidikan masing-masing sebesar 0,96 persen dan 0,63 persen.

2. PDRB menurut Pengeluaran

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2019 Terhadap Triwulan III-2018 (y-on-y), dari sisi Pengeluaran, komponen dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada Triwulan III-2019 dibandingkan dengan Triwulan III-2018 adalah komponen Konsumsi  Rumah Tangga (PKRT) sebesar 5,63 persen. Selanjutnya diikuti oleh  komponen Pengeluaran Lembaga Non Profit Yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) yaitu sebesar 2,60 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 1,42 persen, dan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) 1,08 persen.

Struktur PDRB NTT menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku Triwulan III-2019 tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Aktivitas permintaan akhir masih didominasi oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (69,86 persen) yang mencakup lebih dari separuh PDRB NTT. Komponen lainnya yang memiliki peranan besar terhadap PDRB NTT secara berturut-turut adalah PMTB (48,41 persen); Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (34,35 persen), dan Pengeluaran Konsumsi LNPRT (3,13 persen) relatif kecil.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi NTT Triwulan III-2019 (y-on-y), maka Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga merupakan komponen dengan sumber pertumbuhan tertinggi yakni sebesar 4,19 persen, diikuti Komponen PMTB sebesar 0,72 persen, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah dan Pengeluaran LNPRT masing-masing sebesar 0,36 persen dan 0,09 persen.

3. Pertumbuhan Ekonomi dari Triwulan I 2019 Sampai Triwulan III 2019 (c-to-c),Pertumbuhan ekonomi NTT dari Triwulan I sampai Triwulan III 2019 mencapai 5,23 persen (c-to-c),  yang mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode yang sama tahun 2018 yang mencapai 5,06 persen. Pertumbuhan tertinggi dari Triwulan I sampai Triwulan III 2019 dicapai oleh Komponen PK-PRT yaitu mencapai 5,69 persen, diikuti oleh Komponen PK-LNPRT sebesar 5,53 persen, dan Komponen PMTB sebesar 1,89 persen.

4. Laju Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi NTT Tahun 2019 (Triwulan I s.d. Triwulan IV Tahun 2019) sebesar 5,20 persen Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Tahun 2019 mencapai Rp.106.89 triliun. Atas Dasar Harga Kostan (ADHK) Tahun 2010 mencapai Rp.69,37 triliun. Bila dibandingkan dibandingkan dengan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2018 sebesar 5,13 %, maka Pertumbuhan Ekonomi di Tahun 2019 mengalami kenaikan tipis 0,7 % menjadi 5,2 %. Sumber Pertumbuhan Ekonomi NTT Tahun 2019 adalah dari Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertanian dan Jaminan Sosial Wajib adalah kategori dengan sumber pertumbuhan tertinggi yakni 1.05 %.

Pada Triwulan IV Tahun 2019 Ekonomi NTT tumbuh 5,32 % (Y-on-Y). Sumber Pertumbuhan Ekonomi NTT Triwulan IV Tahun 2019 adalah lapangan Usaha pertanian, Kehutanan dan Perikanan dengan sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 2,01 %.

5. Inflasi

Bulan November 2019 Kota-kota di Nusa Tenggara Timur mengalami Inflasi sebesar 0,32 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 134,51. Kota Kupang mengalami inflasi sebesar 0,27 persen sedangkan Kota Maumere mengalami inflasi sebesar 0,62 persen. Inflasi November 2019 di Nusa Tenggara Timur terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada lima kelompok pengeluaran, dimana kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga terbesar adalah Kelompok Bahan Makanan yang naik sebesar 1,46 persen diikuti oleh sebesar 0,11 persen. Kelompok Pendidikan dan Kelompok Transpor mengalami penurunan indeks harga sebesar 0,01 persen dan 0,35 persen.

Untuk Bulan Desember 2019 NTT mengalami Inflasi sebesar 0,80 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 135,59. Inflasi bulan Desember 2019 di NTT sebesar 0,80 persen dikarenakan adanya kenaikan indeks harga pada 6 dari 7 kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga terbesar terdapat pada kelompok bahan makanan sebesar 2,02 persen dan diikuti oleh kelompok transpor sebesar 1,36 persen. Secara keseluruhan selama tahun 2019 yakni dari Januari — Desember 2019, NTT mengalami Inflasi sebesar 0,67 persen , dan Kota Kupang mengalami inflasi 0,50 persen. Terjadinya inflasi tersebut karena dipicu oleh naiknya indeks harga pada 6 kelompok pengeluaran dan kenaikan paling tinggi terjadi pada kelompok sandang yakni sebesar 2,26 persen, kemudian diikuti pula kelompok pendidikan yang selama tahun 2019 mengalami kenaikan indeks harga sebesar 2,18 persen. Pemberi andil terbesar dalam pembentukan inflasi di NTT pada bulan Desember 2019 pada kelompok pengeluaran adalah kelompok bahan makanan, dengan andil sebesar 0,49 persen, dan hal ini merupakan kelompok penyumbang terbesar terhadap inflasi yakni sebesar 0,20 persen, disusul dengan kelompok makanan jadi sebesar 0,19 persen.Untuk perbandingan inflasi bulanan, inflasi tahun kalender dan inflasi year on year dalam lima tahun terakhir tercatat di bulan Desember, Nusa Tenggara Timur mengalami lima kali inflasi dan inflasi terbesar terjadi pada tahun 2015 yakni sebesar 2,46 persen dan pada Desember 2019 merupakan inflasi terendah dalam waktu 5 tahun terakhir, yaitu 0,80 persen.

Sumber Data : LKPJ Gubernur Nusa Tenggara Timur Tahun Anggaran 2019

 

Pertumbuhan Ekonomi

Laju Petumbuhan Ekonomi di NTT dan Nasional Tahun 2013-2018

Periode

Nusa Tenggara Timur

Nasional

2013

5,56

5,78

2014

5,04

5,02

2015

5,13

4,79

2016

5,18

5,02

2017

5,16

5,07

           2018                    5,13           5,17
 

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Berdasarkan  KEKR Provinsi NTT Bulan Februari 2019 yang dirilis oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur, total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Nusa Tenggara Timur pada tahun 2018 berdasarkan harga berlaku sebesar 99.087,3 milyard rupiah atau mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 90.757,6 milyard rupiah.

Sumbangan terbesar untuk ProdukDomestik Regional Bruto (PDRB) menurut Lapangan Usaha atas dasar harga berlaku (ADHB) NTT tahun 2018 adalah dari lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dengan 28,40 persen. Berikutnya adalah dari lapangan usaha Adminsitrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib dengan 13,34 persen, lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor dengan 11,06 persen, dan lapangan usaha Konstruksi memberi sumbangan 10,84 persen terhadap PDRB ADHB. Berdasarkan harga konstan 2010, perekonomian NTT pada tahun 2018 mengalami pertumbuhan sebesar 5,13 persen, sedikit mengalami percepatan dibandingkan dengan tahun 2017 yaitu sebesar 5,11 persen. Seluruh lapangan usaha pada tahun 2018 mencatat pertumbuhan yang positif. Pertumbuhan ekonomi tertinggi pada tahun 2018 dicapai oleh lapangan usaha Penyedia Akomodasidan Makan Minum sebesar 12,16 persen.

 

 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

PDRB NTTTahun 2013-2017

Uraian

2013

2014

2015

2016

2017

PDRB ADHB (milyard Rp.)

61.325,3

68.500,4

76.190,9

84.172,6

91.160

PDRB ADHK  Tahun 2010 (milyard Rp.)

51.505,2

54.108,0

56.831,9

59.775,7

62.788

PDRB Perkapita ADHB (Juta Rp.)

11,27

13,60

14,88

16,18

-

PDRB Perkapita ADHK (Juta Rp.)

12,40

13,60

14,88

16.18

-

Sumber : BPS Provinsi NTT, 2018

Inflasi

Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT (KEKR NTT, Februari 2018), Inflasi sepanjang tahun 2018 di Provinsi NTT mencapai 3,07% (yoy) walaupun mengalami peningkatan dari tahun 2017 sebesar 2,00% (yoy), namun pencapaian ini masih berada dalam rentang target inflasi nasional sebesar 3,5±1% (yoy). Terkendalinya harga sebagaian bahan  makanan pada komoditas ikan segar dan sayur-sayuran menjadi penyebab utama terkendalinya inflasi di tahun 2018. Jika dibandingkan dengan tahun 2017, tren inflasi masih mengalami pola musiman dengan deflasi di kisaran triwulan III diikuti dengan kenaikan yang cukup tinggi di dua bulan menjelang akhir tahun, namun begitu jika dibandingkan dengan tahun 2017, besaran deflasi yang terjadi di Bulan Oktober tidak terlalu signifikan, terlebih kelangkaan pangan di awal tahun 2018 masih memberi dampak pada tingkat harga secara keseluruhan, sehingga secara tahun inflasi di Provinsi NTT mengalami peningkatan yang berarti namum masih relatif terjaga. Adanya koordinasi dan pemantauan pasokan beberaap komoditas sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan berhasil menurunkan harganya. Operasi pasar yang rutin dilaksanakan bersama PT. BULOG dan Satgas Pangan juga mamapu menahan kenaikan komoditas beras yang sebelumnya mengalami lonjakan di awal tahun 2018.

Pada akhir tahun 2018, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami inflasi angkutan udara tertinggi (dalam 4 tahun terakhir) secara tahunan (yoy). Walaupun secara bulanan tetap mengalami pola inflasi pada bulan November dan Desember, namun inflasi angkutan udara pada tahun 2018 cukup besar dampaknya bagi provinsi NTT yang secara geografis berbentuk kepulauan.

 

ANGKA KEMISKINAN

Persentase Kemiskinan

Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT (KEKR NTT, Februari 2018), perkembangan positif dimana persentase penduduk miskin NTT cenderung berada pada trend menurun sejak tahun 2015, mengikuti trend secara nasional. Hal yang menarik adalah trend penurunan presentase kemiskinan ini terjadi baik di kota maupun pedesaan. Jika dibandingkan dengan tahun 2016, persentase kemiskinan di kota turun tipis dari 10,17 persen menjadi 10,11 persen pada 2017. Sedangkan di pedesaan terjadi penurunan sebesar 0,6 persen dari 25,19 persen di 2016 menjadi 24,49 persen pada 2017. Secara umum menurunnya jumlah penduduk miskin pada 2017 di Provinsi NTT ini antara lain disebabkan oleh penggunaan peralatan mekanisasi yang berpengaruh terhadap turunnya biaya dan meningkatnya pendapatan petani. Inflasi yang terkendali sepanjang tahun juga berdampak terhadap terkendalinya biaya operasional rumah tangga. Namun demikian, jika dilihat dari jumlah, penduduk miskin mayoritas berada di pedesaan dengan jumlah 1,05 juta jiwa (91,4 persen) dibandingkan perkotaan yang hanya 119 ribu jiwa (8,6 persen).

Sementara itu, dari sisi ketimpangan pengeluaran, gini ratio di NTT pada tahun 2017 tercatat sebesar 0,36 atau cenderung berada pada level ketimpangan menengah. Angka ini lebih baik dibandingkan dengan nasional yang sebesar 0,39. Hal ini mengindikasikan bahwa pengeluaran masyarakat di NTT cenderung lebih merata apabila dibandingkan dengan nasional. Namun demikian perlu perhatian dan upaya Pemerintah Daerah mengingat angka gini ratio ini sedikit meningkat jika dibanding 2016 sebesar 0,34.

Dari sisi garis kemiskinan, terdapat peningkatan pada bulan September 2017 sebesar 0,97 persen menjadi Rp 346.737 per kapita per bulan, dibandingkan Maret 2017 yang sebesar Rp 343.396 per kapita per bulan. Peningkatan garis kemiskinan yang diiringi oleh penurunan jumlah penduduk miskin mengindikasikan adanya perbaikan daya beli masyarakat di NTT Pada September 2017. Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan (GKM) terhadap GK sebesar 78,83 persen. sedikit menurun dibanding periode Maret 2017 yang sebesar 79,37 persen. Hal ini menunjukkan inflasi pedesaan yang juga relatif rendah. Secara nasional, Garis Kemiskinan (GK) Provinsi NTT berada di peringkat ke-28 setelah Provinsi NTB. Provinsi dengan garis kemiskinan tertinggi adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar Rp 607.927. Sedangkan Provinsi Sulawesi Selatan memiliki GK terendah sebesar Rp 294.358 yang mengindikasikan rendahnya tingkat harga di Provinsi tersebut.

Pada sisi indikator indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2) tercatat adanya kenaikan. Pada September 2017, P1 tercatat sebesar 4,16 atau turun dibandingkan Maret 2017 yang sebesar 4,34. Sementara itu, angka P2 relatif stagnan pada kisaran angka 1,17. Hal ini mengindikasikan bahwa pengeluaran penduduk miskin semakin menjauhi GK dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin tetap.