config

1. CAGAR ALAM MUTIS

Sejarah, Status dan Letak Kawasan

Kawasan Cagar Alam Mutis Timau (Mutis Timau) merupakan bagian dari kelompok hutan Mutis Timau yang awalnya ditunjuk dan dikelola oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan Surat keputusan Mutis bebergte, zulfbestur nomor: 4/1 tanggal 31 Maret 1928, sebagai hutan tutupan.  Setelah kemerdekaan Gubernur Nusa Tenggara Timur mengeluarkan surat keputusan Nomor 1 Tahun 1974 tanggal 10 Januari 1974 yang kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 631/Kpts/Um/10/1974 tanggal 10 Oktober 1974 di bawah pengelolaan Dinas Kehutanan Provinsi NTT. 

Kelompok Hutan Mutis Timau ditata batas oleh Brigade VIII Planologi Kehutanan Nusa Tenggara Timur sesuai Berita Acara Tata Batas (BA) tanggal 23 Maret 1978 dengan  luasan 153.227,68 hektar.  Pada tahun 1983 Menteri Kehutanan Republik Indonesia menunjuk areal kawasan hutan di wilayah DATI I Nusa Tenggara Timur berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 89/Kpts-II/1983 seluas ± 1.667.962 hektar termasuk didalamnya kawasan Hutan Suaka Alam dan Hutan Wisata (HSA-W) Mutis Timau dengan luas 13.392,507 hektar (luas GIS), yang merupakan cikal bakal Cagar Alam Mutis. 

Pada tanggal 23 Juli 1996 Gubernur Kepala Daerah Tingkat I NTT menunjuk kembali kawasan hutan di wilayah NTT melalui hasil padu serasi RTRW Propinsi dan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor 64Tahun 1996 seluas ± 1.808.981,27 hektar, termasuk di dalamnya CA Mutis Timau seluas 17.211,85 hektar dengan rincian 15.155,19 hektar berada dalam wilayah Kabupaten TTS dan 2.056,76 hektar berada di wilayah Kabupaten TTU. 

Hasil Padu Serasi RTRW dan TGHK ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 423/Kpts-II/1999, tanggal 15 Juni 1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Provinsi DATI I NTT seluas 1.809.990 hektar termasuk di dalamnya terdapat CA Mutis Timau seluas 12.869,115 hektar (luasan GIS).  Keputusan yang paling akhir mengenai CA Mutis Timau adalah Keputusan Menteri Kehutanan yang menunjuk/ menetapkan kembali kawasan hutan di wilayah Provinsi NTT dengan Nomor: SK.3911/MENHUT-VII/KUH/2014 tanggal 14 Mei 2014 tentang Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Provinsi NTT seluas ± 1.784.751 hentar termasuk didalamnya luas Cagar Alam Mutis Timau mengalami perubahan dari 12.869,115 hektar menjadi 12.315,61 hektar yang berada di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) seluas 9.888,78 Ha (80,29 %) dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) seluas 2.426,83 Ha (19,71 %). Balai Konservasi  Sumber Daya Alam NTT I dan WWf pernah melakukan inisiasi untuk mengusulkan kelompok Hutan Mutis Timau seluas 153.227,68 hektar menjadi Taman Nasional namun saat itu tidak dapat dilanjutkan karena terkendala rekomendasi Bupati Kupang, Bupati yang memberikan rekomendasi saat itu adalah Bupati TTU dan TTS.

Secara administrasi Kawasan Cagar Alam Mutis Timau terletak di 2 (dua) wilayah pemerintahan yakni Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) seluas 9.888,78 Ha (80,29 %) dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) seluas 2.426,83 Ha (19,71 %), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kawasan hutan ini tepatnya berada di Kecamatan Fatumnasi dan Tobu di TTS; Kecamatan Miomaffo Barat dan Mutis TTU. Ada 10 desa yang berada di dalam dan sekitar kawasan ini, yaitu: Desa Kuannoel, Fatumnasi, Nenas dan Nuapin di Kecamatan Fatumnasi; Desa Tutem, Tune dan Bonleu di Kecamatan Tobu; Desa Noepesu dan Fatuneno di Kecamatan Miomaffo Barat; Desa Tasinifu di Kecamatan Mutis.

Secara geografi kawasan CA Mutis Timau terletak antara 124010’ – 124020’ Bujur Timur dan antara 9030’ – 9040’ Lintang Selatan.  Secara administrasi kehutanan kawasan CA Mutis Timau berada di bidang KSDA Wilayah I So’e dan Seksi Konservasi Wilayah I Belu.

Kondisi Ekosistem dan Fenomena Alam

Kawasan hutan Cagar Alam Gunung Mutis memiliki tipe vegetasi yang merupakan perwakilan hutan homogen dataran tinggi yang didominasi oleh jenis ampupu (Eucalyptus urophylla)yang tumbuh secara alami dalam luasan yang cukup besar. Kawasan ini dengan ketinggin sekitar 2.500 meter dari permukaan laut merupakan daerah resapan air bagi pulau Timor. Kondisi topografi dan fenomena alamnya yang sangat unik tersebut memiliki potensi sumber daya alam yang sangat tinggi terutama potensi jasa lingkungannya.

Potensi Flora

Sesuai dengan kondisi ekosistem, jenis flora  yang terdapat di Cagar Alam Gunung Mutis  didominasi oleh jenis Ampupu/Hue (Eucalyptus alba), disamping itu flora lain yang terdapat di Cagar Alam Gunung Mutis seperti : Bijama (Elacocarpus petiolata), Haubesi (Olea paniculata), Kakau/Cemara Gunung (Casuarina equisetifolia), Manuk Moto (Decaspermum fruticosuni)Oben (Eugenia littorale), Salalu (Podocarpus rumphii), Natwon (Decaspermum glaucescens), Natbona (Pittospermum timorensis), Kunbone (Asophylla glaucescens), Tune (Podocarpus imbricata), Natom (Daphniphylum glaucesceus), Kunkai-kote (Veecinium ef. varingifolium), Tastasi (Vitex negundo), Manmana (Croton caudatus), Mismoto (Maesa latifolia), Kismoto(Toddalia asiatica), Pipsau (Harissonia perforata), Matoi (Omalanthus popuhlneu) dan aneka jenis paku-pakuan serta rumput-rumputan.

Potensi Fauna

Potensi fauna yang terdapat di Cagar Alam Gunung Mutis secara umum merupakan fauna daratan seperti Mamalia, Reptilia, dan Aves, beberapa jenis fauna tersebut antara lain : Rusa Timor (Cervus timorensis), Kuskus (Phalanges orientalis), babi hutan (sus vitatus), Biawak Timor (Varanus salvator), Ular Sanca Timor (Phyton timorensis), Ayam Hutan (Gallus galus),Punai timor (Treron psittacea),Betet Timor (ApromictusJonguilaccus), Pergam Timor (Ducula cineracea), dan Perkici Dada Kuning (Tricho­gioses haematodus').

Potensi Jasa Lingkungan

Potensi Jasa Lingkungan yang terdapat di kawasan Cagar Alam Gunung Mutis antara lain pemanfaatan sumber air dari kawasan untuk pembangkit listrik tenaga mikrohydro yang melayani masyarakat di desa Nenas; Pemanfaatan minuman dalam kemasan (Mutis Qua); Pemanfaatan air oleh Perusahaan Daerah Air Minum yang melayani jaringan per-pipaan sampai ke kota Soe, Pemanfaatan madu alam mutis oleh kelompok masyarakat binaan Balai Besar KSDA NTT dan mitra WWF.   

Topografi, Geologi dan Iklim

Pada umumnya keadaan topografi kelompok hutan Mutis adalah berat dengan relief berbukit sampai bergunung, keadaan lereng miring sampai curam bergelombang sampai bergunung dan sebagian besar wilayahnya mempunyai kemiringan 60% ke atas.  Puncak tertinggi adalah Gunung Mutis dengan ketinggian 2.427 m dpl.

Secara geologis CA Mutis Timau pada umumnya memiliki formasi geologi yang hampir sama dengan wilayah lainnya di Pulau Timor, sebagian tersusun dari deret Sonebait dan sebagian kecil dari deret Kekneno. Sekis hablur, batuan basah menengah, batuan basah, batuan endapan meogen dan paleogen.  Jenis tanah yang terdapat di wilayah CA Mutis Timau terdiri atas tanah-tanah kompleks dengan bentuk pegunungan kompleks dan jenis tanah mediterium dengan bentuk pegunungan lipatan.

Gunung Mutis dan sekitarnya ermerupakan daerah terbasah di Pulau Timor, yang memiliki curah hujan tahunan cukup tinggi yakni rata-rata 2000 – 3000 mm jika dibandingkan di wilayah lainnya di Pulau Timor hanya berkisar 800 – 1000 mm/tahun.  Lamanya bulan basah 7 bulan dengan frekuensi hujan terjadi pada bulan November sampai Juli dengan suhu berkisar 140C – 290C, dan pada kondisi ekstrim dapat turun sampai 90C.  Angin kencang berkecapatan tinggi terjadi pada bulan Novenber sampai Maret. Keadaan hujan yang turun hampir setiap bulan sepanjang tahun, memungkinkan kawasan CA Mutis Timau menjadi sumber air utama bagi 3 daerah aliran sungai (DAS) besar di Pulau Timor, yaitu Noelmina dan Noel Benanain di bagian selatan dan Noen Fail di bagian utara.  Drainase aliran sungainya berpola dendritis (Noel Mina dan Noel Benain) sebagai akibat kompleksitas permukaan di bagian selatan dan pola paralel (Noel Fail) akibat kelerengan yang relatif seragam di bagian utara.

Aksesibilitas

Untuk mencapai kawasan CA MUTIS TIMAU dapat ditempuh melalui tiga jalur yakni dari arah selatan, timur dan utara. Dari arah selatan dan timur melewati Kabupaten TTS, lokasinya setelah tiba di Kapan, Kota Kecamatan Molo Utara pada jalur menuju lokasi CA MUTIS TIMAU terbagi atas 2 arah, yaitu arah selatan menuju Desa Fatumnasi (49 km dari So’e kota Kabupaten TTS) dan arah timur melalui Desa Bonleu (30 km dari So’e) sedangkan dari arah utara melalui Kabupaten Timor Tengah Utara.   

Demografi

Secara demografi, jumlah penduduk yang tinggal  di sekitar CA Mutis Timau sebanyak 38.137 jiwa yang tersebar di 4 Kecamatan, yaitu  Kecamatan Fatumnasi dan Tobu Kabupaten TTS dan Kecamatan Miomaffo Barat dan Mutis Kabupaten TTU. 

  1. Kecamatan Fatumnasi

Jumlah penduduk kecamatan Fatumnasi sampai akhir 2016 sebanyak ± 6.834 jiwa dari 1570 rumah tangga dengan luas wilayah sebesar 198,65 km2.  Data selengkapnya seperti pada Tabel 1.  Dari 5 desa tersebut, sebanyak 3 desa berada di sekitar kawasan CA Mutis Timau, yaitu Fatumnasi, Nenas, Kuannoel dan Nuapin.  Jumlah penduduk pada keempat desa tersebut adalah ± 4.030 jiwa. (BPS, 2017) 

  1. Kecamatan Tobu

Jumlah Penduduk Kecamatan Tobu sampai akhir 2016 sebanyak 9.649 jiwa dengan luas wilayah sebesar 98,89 km2, tingkat kepadatan penduduk 98 jiwa/km2. Dari 8 desa yang berada di Kecamatan Nobu, terdapat 3 desa yang berbatasan dengan CA Mutis Timau, yaitu Desa Tutem, Tune dan Bonleu. Jumlah penduduk pada kedua desa tersebut adalah 3.218 jiwa. (BPS, 2017)

  1. Kecamatan Mutis

Jumlah penduduk Kecamatan Mutis sampai akhir tahun 2016 adalah ± 7.216 jiwa dengan luas wilayah 90,5 km2, tingkat kepadatan penduduk 80 jiwa/km2 dengan jumlah rumag tangga sebanyak 1.765 rumah tangga.  Data selengkapnya seperti pada Tabel 3. Desa yang berbatasan dengan kawasan CA Mutis Timau adalah Desa Tasinifu. (BPS 2017)

  1. Kecamatan Miomaffo Barat

Jumlah penduduk Kecamatan Mutis sampai dengan akhir 2016 sebanyak ± 15.927 jiwa dengan luas wilayah sebesar 199,63 km2. Tingkat kepadatan penduduk 80 jiwa/km2, dengan jumlah rumah tangga 3.989 rumah tangga. Data selengkapnya seperti pada Tabel 4.  Desa yang berbatasan dengan kawasan CA Mutis Timau adalah Desa Noepesu dan Fatuneno. Jumlah penduduk pada kedua desa tersebut adalah 3046 jiwa. (BPS 2017)

Kunjungan dan Fasilitas Wisata

Kunjungan wisatawan yang menuju ke wilayah Cagar Alam Mutis Timau masuk melalui wilayah Kota So’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan.  Pengunjung mengunjungi berbagai potensi wisata yang ada di Cagar Alam Mutis yang secara administrasi, wilayah desa yang dikunjungi berada di dalam di wilayah Kabupaten TTS.  Menurut pengamatan petugas lapangan, jumlah pengunjung yang mengunjungi wilayah ini diperkirakan sebesar ± 1.500 orang setiap tahunnya.  Jumlah kunjungan ke Mutis cukup besar besar atau sekitar ± 15% dari jumlah kunjungan wisatawan ke daerah wisata di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Sumber Data : Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur

 

2. CAGAR ALAM WAE WUUL.

Lokasi

Kawasan Cagar Alam (CA) Wae Wuul secara geografis terletak pada posisi  119° 48' 12.01" - 119° 51' 19.30" BT dan  8° 32' 29.55" – 8° 36' 4.14" LS.  CA Wae Wuul merupakan salah satu kawasan suaka alam dengan tipe tutupan lahan sebagian besar berupa savana dan semak belukar (75%) sedangkan sisanya berupa hutan lahan kering sekunder.

Secara administrasi Cagar Alam Wae Wuul terdapat di Desa Macang Tanggar, dan Desa Warloka; Kecamatan Komodo; Kabupaten Manggarai Barat, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara          :        Desa Macang Tanggar

Sebelah Timur          :        Desa Macang Tanggar, dan Desa Warloka

Sebelah Selatan       :        Desa Warloka

Sebelah Barat           :        Desa Macang Tanggar, dan Desa Warloka

  

Sejarah dan Dasar Hukum Kawasan

Penunjukan Kawasan CA. Wae Wuul pertama kali berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur Nomor: 32 tahun 1969 tanggal 24 Juni 1969 yaitu menetapkan Komplek Hutan Wae Wuul/Mburak seluas ± 3.000 Hektar sebagai Kawasan Suaka Alam. Selanjutnya pada tahun 1984 ditindaklanjuti dengan Surat Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Nomor: 591/VI-Sek/Prog/1984 tanggal 11 April 1984 untuk menguatkan status hukum kawasan CA Wae Wuul melalui keputusan Menteri Kehutanan. Penunjukan kawasan CA. Wae Wuul dilakukan pada saat oleh Menteri Kehutanan dijabat oleh Soedjarwo melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 176/Kpts-II/1985 tanggal 7 Juli 1985. Pada tahun 1984, CA. Wae Wuul dilakukan penataan batas oleh Sub Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan Kupang dengan hasil berdasarkan Berita Acara Tata Batas tanggal 2 Februari 1994 seluas 1.484,84 Hektar. Sebagai akhir dari progres pengukuhan kawasan yaitu ditetapkannya suatu kawasan hutan, demikian halnya dengan CA. Wae Wuul telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 427/Kpts-II/1996 tanggal 9 Agustus 1996 dengan luasan 1.484,84 Hektar.

Adapun pertimbangan dalam penunjukan dan pengukuhan kawasan CA. Wae Wuul yaitu:

  1. Merupakan habitat satwa liar seperti Biawak Komodo dan satwa lain seperti  Rusa, Babi Hutan, Kuda Liar, dan sebagainya yang merupakan mangsa Biawak Komodo;
  2.    Keberadaan satwa dan habitatnya perlu dibina kelestariannya untuk dimanfaatkan bagi kepentingan Ilmu Pengetahuan, Pendidikan, dan Kebudayaan.

Potensi Flora

Berdasarkan hasil inventarisasi ekologi di CA Wae Wuul yang dilakukan oleh BBKSDA NTT pada tahun 2017 diketahui bahwa spesies tumbuhan pada tingkat pohon yang ditemukan hanya sebanyak 9 spesies. Dari jumlah tersebut, spesies yang paling dominan adalah kesambi (Schleicera oleosa) INP 99,68% dan kodominan adalah kukung (Scoutenia ovata) INP 52,61%. Dominasi kesambi (Schleicera oleosa) mungkin disebabkan oleh penyebaran biji kesambi yang lebih luas karena bantuan satwa liar seperti burung dan kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Beberapa spesies pohon seperti asam hutan  (Tamarindus indica), sita (Alstonia scholaris) dan reket (Ficus trichocarpa) tidak ditemukan pada tingkat tiang, pancang dan anakan.  Tidak adanya regenerasi akan menyebabkan spesies tersebut akan mengalami kelangkaan di dalam kawasan CA Wae Wuul.

Pada tingkat tiang hanya ditemukan 4 spesies dan yang paling dominan adalah bidara (Zyziphus rotundifolia) INP 114,95%, kodominan lembur (Cassia fistula).  Tingkat dominasi yang berbeda antara tingkat pohon dan pancang menunjukkan bahwa pada masa mendatang struktur pohon yang ada di hutan tropika kering CA Wae Wuul akan berubah. Pohon kesambi (Schleicera oleosa) dan kukung (Scoutenia ovata) yang dominan akan digantikan oleh bidara  (Zyziphus rotundifolia) dan lembur (Cassia fistula).

Pada tingkat pancang tumbuhan yang mendominasi adalah kukung (Scoutenia ovata)  INP 129,94% dan kodominan puser (Mallotus phillippinensis) INP 90,61%.  Dominasi pada tingkat pancang ini berbeda dengan dominasi pada tingkat tiang namun memiliki kemiripan dengan tingkat pohon, yaitu dominasi kukung pada tingkat pancang sama dengan kodominan pada tingkat pohon (Scoutenia ovata).  Hal ini menunjukkan bahwa komposisi vegetasi pada generasi ketiga yang akan datang akan mirip dengan komposisi vegetasi saat ini karena adanya kesamaan spesies yang mendominasi. Jumlah spesies yang ditemukan pada tingkat semai/tumbuhan bawah adalah sebanyak 18 spesies. Jumlah spesies tumbuhan bawah tersebut adalah yang ditemukan di dalam hutan tropika kering pada saat pengambilan data menggunakan jalur untuk analisis vegetasi. Cukup banyaknya jumlah spesies tumbuhan bawah dibandingkan dengan jumlah spesies pada tingkat pohon, tiang dan pancang menunjukkan bahwa penutupan tajuk kurang rapat sehingga masih memungkinkan pertumbuhan anakan/tumbuhan bawah dengan baik. Spesies yang mendominasi pada tingkat semai/tumbuhan bawah adalah kukung (Scoutenia ovata) INP 49,904 dan kodominan puser (Mallotus philippinensis) INP 28,11.  Dominasi pada tingkat tumbuhan bawah ini memiliki kemiripan dengan dominasi pada tingkat pancang dan tingkat pohon yang membuktikan struktur populasi tidak banyak berubah untuk beberapa generasi. Tidak adanya pemanfaatan spesies tumbuhan di dalam hutan oleh masyarakat sekitar menyebabkan perubahan struktur dan komposisi vegetasi di CA Wae Wuul terjadi secara alami.

Komodo

Sebagaimana mandat penunjukan kawasan bahwa CA Wae Wuul merupakan kawasan konservasi yang berfungsi sebagai habitat satwa liar seperti Biawak Komodo dan satwa lain seperti  Rusa, Babi Hutan, Kuda Liar, dan sebagainya yang merupakan mangsa Biawak Komodo. Keberadaan satwa dan habitatnya perlu dibina kelestariannya untuk dimanfaatkan bagi kepentingan Ilmu Pengetahuan, Pendidikan, dan Kebudayaan.

Monitoring satwa biawak komodo (Varanus komodoensis) mulai intensif dilaksanakan sejak tahun 2011 dimana BBKSDA NTT bersama KSP (Komodo Survival Program) melalui Perjanjian Kerjasama Penguatan Fungsi KSA dan KPA Serta Konservasi Keanekaragaman Hayati Biawak Komodo (Varanus komodoensis). Berikut data hasil monitoring komodo menggunakan metode pengambilan data CMRR (Capture Mark Release Recapture) di CA Wae Wuul sebagaimana tabel berikut.

Tabel 5. Monitoring Komodo Menggunakan Metode Pengambilan Data CMRR

No

Jenis Satwa

Luas (Ha)

Baseline Sumber Data

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1

Komodo (Varanus komodoensis)

1.484,84

-

14

8

5

9

11

7

Rusa Timor

Luas total CA Wae Wuul adalah 1484,84 ha sedangkan wilayah unit contoh yang diinventarisasi adalah seluas 20 ha, maka intensitas sampling (f) sebesar 1,35%.  Dalam kegiatan inventarisasi ini wilayah unit contoh hanya pada wilayah savana dan jumlah rusa yang ditemukan secara langsung pada unit contoh adalah sebanyak 9 ekor.

Berdasarkan hasil perhitungan, kisaran ukuran populasi pada seluruh areal yang diteliti adalah 668,178 ± 53,9 ekor. Kecilnya jumlah populasi rusa timor (Rusa timorensis) di wilayah CA Wae Wuul kemungkinan disebabkan oleh adanya perburuan menggunakan senjata api di dalam kawasan.  Menurut petugas resort aktivitas perburuan acap kali terjadi pada malam hari dan dilakukan dengan cepat menggunakan kendaraan dan peralatan yang lengkap sehingga sulit untuk dilakukan penangkapan oleh petugas.

Burung

Jumlah spesies burung yang ditemukan selama kegiatan adalah sebanyak 22 spesies dalam 16 famili.  Spesies burung yang umum ditemukan di CA Wae Wuul adalah tekukur biasa (Streptopelia chinensis) yang ditemukan pada 17 titik pengamatan dengan kepadatan sebesar 42,1 ekor per hektar.  Burung ini dapat dengan mudah ditemukan bertengger di pohon asam dan johar.  Spesies kedua yang memiliki kepadatan tertinggi adalah kancilan emas  (Pachycephala pectoralis) dengan kepadatan sebesar 28,95 ekor per hektar. Spesies burung yang memiliki kepadatan rendah namun mudah untuk diketahui keberadaannya kancilan flores (Pachycephala nudigula) dengan kepadatan hanya sebesar 2,63 ekor per hektar.

Satwa Lainnya

Selain melakukan pengamatan pada satwa Komodo, Rusa Timor dan Burung, terdapat pula satwa yang terpantau selama melakukan kegiatan inventarisasi. Babi hutan (Sus Vitatus) yang merupakan satwa mangsa komodo hanya ditemukan beberapa jejak di dalam kawasan.  Mangsa komodo lainnya adalah kerbau air (Bubalus bubalis) ditemukan secara langsung dalam kegiatan pengamatan rusa sebanyak 5 ekor.  Kerbau tersebut adalah milik masyarakat yang digembalakan secara liar di dalam kawasan.  Menurut masyarakat terkadang kerbau milik mereka ditemukan mati menjadi mangsa komodo (Varanus komodoensis).  Satwa mamalia yang ditemukan langsung di dalam kawasan adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang umum ditemukan diatas pohon di dalam hutan tropika kering.

Potensi Air

Pengukuran debit air dilakukan pada mata air dan sungai di dalam kawasan CA Wae Wuul.  Pengukuran pada mata air dilakukan pada 3 mata air di dalam kawasan, yaitu Wae Mata, Wae Wuul dan Wae Cerek (Tabel 8).  Debit air di mata air sangat kecil hanya berkisar 0,03 s/d 0,05 liter per detik.  Kecilnya debit air ini disebabkan oleh rendahnya curah hujan dan sempitnya luasan hutan tropika kering yang ada di CA Wae Wuul.

Pengukuran debit air pada wilayah sungai dilakukan pada 4 sungai yang ada di dalam kawasan CA Wae Wuul, yaitu Wae Mata, Wae Wuul, Wae Cerek dan Wae Wangka.  Keempat sungai tersebut merupakan sungai musiman yang hanya berair pada musim hujan.  Kegiatan pengukuran yang dilakukan pada bulan Mei 2017 menunjukkan debit sungai yang tidak terlalu besar berkisar antara 7,62 s/d 135,73 liter per detik.  Masih adanya debit air karena masih adanya hujan pada bulan Mei. 

Tipe Ekosistem

Cagar Alam Wae Wuul merupakan kawasan konservasi di bagian paling barat Pulau Flores yang sebagian besar (±75%) kawasannya berupa savana dan semak belukar (75%) sedangkan sisanya berupa hutan lahan kering sekunder. Menurut A.G. Tansley (1935) pengertian ekosistem yaitu suatu unit ekologi (an ecological unit) yang didalamnya terdapat struktur dan fungsi. Struktur yang dimaksudkan dalam definisi ekosistem tersebut adalah berhubungan dengan keanekaragaman spesies (species diversity). Sedangkan Woodbury (1954) mendefinisikan Ekosistem adalah tatanan kesatuan secara kompleks di dalamnya terdapat habitat, tumbuhan dan binatang yang dipertimbangkan sebagai unit kesatuan secara utuh, sehingga semuanya akan menjadi bagian mata rantai siklus materi dan aliran energi. Pengertian lebih ringkas dikemukakan oleh Odum (1993), Ekosistem adalah unit fungsional dasar dalam ekologi yang di dalamnya tercakup organisme dan lingkungannya (lingkungan biotik dan abiotik) dan di antara keduanya saling memengaruhi. Adapun berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.

Tipe ekosistem yang ada di CA Wae Wuul merupakan tipe ekosistem padang rumput dengan ciri-ciri:

  • ·Berada di daerah tropis
  • ·Curah hujan rendah antara 90-150 cm/th
  • ·Penguapan tinggi
  • ·Sering terjadi kekeringan parah
  • ·Didominasi hewan herbivora dan carnivora
  • ·Tanah tidak mampu menyimpan air dengan baik

Berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut, ekosistem hutan tropis dibedakan menjadi tiga zona atau wilayah sebagai berikut :

  • ·Zona 1 dinamakan hutan hujan bawah, Hal ini dikarenakan terletak pada daerah dengan ketinggian 0-1000 m dari permukaan laut;
  • ·Zona 2 dinamakan hutan hujan tengah, Hal ini dikarenakan terletak pada daerah dengan ketinggian 1000-3300 m dari permukaan laut;
  • ·Zona 3 dinamakan hutan hujan atas, Hal ini dikarenakan terletak pada daerah dengan ketinggian 3300-4100 m dari permukaan laut.

Dikarenakan ketinggian kawasan SM Ale Aisio yang kurang dari 1000 mdpl, maka kawasan tersebut masuk dalam zona hutan hujan bawah.

Aksesibilitas Kawasan

Cagar Alam Wae Wuul terletak di bagian barat Pulau Flores, yaitu di Kabupaten Manggarai Barat. Berada di sebelah Barat Daya Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat, Labuan Bajo kurang lebih 14 Km. Kota Labuan Bajo merupakan kota yang sudah sangat terkenal sebagai lokasi wisata berskala internasional yaitu Taman Nasional Komodo yang terkenal dengan satwa Biawak Komodo-nya.

Demikian halnya dengan Cagar Alam Wae Wuul juga salah satu habitat Komodo yang ada di Pulau Flores, untuk menuju kawasan CA Wae Wuul dapat ditempuh melalui jalur laut maupun jalur darat. Apabila menggunakan jalur laut dapat menggunakan perahu penumpang maupun sewa dari Labuan Bajo ke Desa Warloka dengan waktu tempuh antara 90-120 menit. Sedangkan apabila menggunakan jalur darat dapat kendaraan pribadi maupun penumpang dari Labuan Bajo ke Desa Warloka dengan waktu tempuh 2-2,5 jam karena kondisi jalan yang buruk.

Iklim

Iklim merupakan gabungan dari berbagai kondisi cuaca sehari-hari, atau dapat juga dikatakan bahwa iklim merupakan rata-rata cuaca dalam waktu yang lama. Unsur iklim yang berpengaruh terhadap karakteristik suatu wilayah adalah curah hujan, temperatur udara, kelembaban udara, kecepatan angin, penyinaran matahari dan evaporasi. Berdasarkan klasifikasi iklim dari Schmidt dan Ferguson (1954), khususnya Kecamatan Komodo memiliki tipe F dengan curah hujan tertinggi pada bulan Januari – April, sedangkan curah hujan terkecil pada bulan Mei – Desember, bahkan pada periode ini terjadi kemarau panjang.

Temperatur udara pada bulan Januari 2015 s/d Desember 2016, yaitu temperatur udara maksimum pada bulan November sebesar 35,40C dan minimum pada bulan Juni. 

Topografi dan Geologi

Pada umumnya keadaan topografi Cagar Alam Wae Wuul didominasi oleh bukit-bukit yang landai hingga curam diatas batuan karang dengan ketinggian 100 - 1500 mdpl. Gunung tertinggi yakni gunung Kemu (1500 mdpl) dan terletak dibagian utara kawasan, Golo Banggang (1100 mdpl), Ta’al Balo (1000 mdpl), Golo Kimang (1000 mdpl) dan Golo Gotar 500 mdpl). Berdasarkan peta Geologi Indonesia skala 1:2.000.000, formasi geologi di kawasan CA Wae Wuul berupa Formasi Batuan Gunung Api.

Tanah

Berdasarkan peta tanah bagan Indonesia skala 1: 1.250.000 (Lembaga Penelitian Tanah Bogor, 1968), Jenis tanah yang berada di sekitar CA Wae Wuul adalah Kambisol Distrik, Kambisol Ustik, dan Regosol Distrik.

Hidrologi

Terdapat 4 (empat) sungai yang ada di dalam kawasan CA Wae Wuul, yaitu Mata Wae, Wae Wuul, Wae Cerek dan Wae Bangka. Keempat sungai tersebut merupakan sungai musiman yang hanya berair pada musim hujan. Sungai-sungai di bagian utara dan timur laut mengalir ke sungai Nanga Nae sebelah selatan Labuan Bajo dan di bagian timur ke Laut Flores. Sungai-sungai kecil terpengaruh musim dan hanya berair bila terjadi hujan.

Pemanfaatan Tumbuhan Obat

Pemanfaatan tumbuhan obat sebanyak 63 spesies (data terlampir) terutama diambil dari dalam kebun karena hutan jaraknya relatif lebih jauh dari pemukiman.  Untuk mengobati penyakit yang sudah umum diderita seperti malaria, masyarakat menggunakan sambiloto yang tumbuh di sekitar  tempat tinggalnya. Pengobatan dengan cara merebus kulit pohon sebesar ibu jari orang yang sakit dengan air sebanyak 3 gelas sampai menjadi 1 gelas.

Penggembalaan Ternak

Kegiatan di dalam kawasan yang memiliki dampak negatif paling besar adalah penggembalaan kerbau di dalam kawasan. Kepemilikan kerbau dengan cara penandaan memotong telinga saat kerbau masih berumur di bawah satu bulan.  Penghasilan paling banyak didapatkan dari sawah.  Kerbau dijual pada pedagang pengepul yang datang ke desa seharga 10 juta rupiah per ekor yang umumnya dibawa ke Sulawesi.

Masyarakat umumnya belum mengerti atau menyadari fungsi hutan bagi kehidupan sehari-hari.  Masyarakat baru menyadari fungsi hutan secara langsung ketika diingatkan pada kepemilikan kerbau yang digembalakan secara liar di dalam hutan CA Wae Wuul. Menurut masyarakat petugas tidak melarang penggembalaan kerbau dengan syarat apabila masuk hutan tidak membawa  anjing dan membuat api dan apabila kerbau dimakan dimakan komodo maka merupakan resiko pemilik kerbau. Menurut masyarakat aturan ini berlaku sejak Wae Wuul masih bergabung dengan taman nasional.

Sumber Data : Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur

 

3. Cagar Alam Kemang Boleng

4. Cagar Alam Ndeta Kelikima

5. Cagar Alam Riung

6. Cagar Alam Wae Wuul

7. Cagar Alam Watu Ata

8. Cagar Alam Wolo Tado

9. Cagar Alam Hutan Bakau Maubesi