config

Ritual Adat Masyarakat Sumba Tengah

Kehidupan masyarakat Sumba Tengah yang masih tradisional masih kental dengan nilai-nilai budaya masyarakat lokal. Berbagai ritual dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan untuk mendekatkan diri dengan alam, tuhan dan leluhur yang masih dipercayai oleh sebagian besar masyarakat. Ritual-ritual ini kaya akan nilai historis dan budaya yang sangat kental.

Bagi anda yang ingin melihat dari dekat kehidupan tradisional masyarakat Sumba, sangat disayangkan jika tidak melihat dari dekat di Sumba Tengah secara langsung. Berikut beberapa upcara dan ritual adat di Sumba Tengah sebagai berikut:

Pawolung Manu: Ritual sebagai ungkapan syukur yang di perlambangkan dengan 2 ekor ayam jantan yang di adu sebagai pertanda hasil panen di darat maupun di laut berhasil atau gagal. Biasanya dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Wendewa Selatan, Kecamatan Mamboro.

Tauna Usu Manua: Ritual yang menunjukkan kekerabatan Manusia dan Hewan (Ayam Hutan ) lewat mantra / mistik untuk memanggil dan memberi makan di telapak tangan manusia di rumah adat khusus. Biasanya dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Wendewa Selatan, Kecamatan Mamboro.

Purung Ta Kadonga Ratu: Ritual sebagai ungkapan syukur untuk mengetahui musim tanam pada tahun berjalan, berhasil atau gagalnya panen di Kabupaten Sumba Tengah. Melalui tahapan adat yang di tandai simbol adat lewat peragaan Upacara adat Purung Takadonga Ratu dengan menggunakan tombak budaya yang di sebut Loda Pari dan Mehang Karaga. Biasanya dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Makata Keri, Kecamatan Katikutana.

Purung Ta Liangu Marapu: Ritual sebagai Ungkapan yang di perlambangkan dengan Batu atau Emas yang akan mendatangkan Murkah atau Berkah pada hasil – hasil panen yang akan datang. Biasanya dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Umbu Pabal, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat yang diadakan setiap tahunnya pada bulan Oktober.

Ritus Koke Bale di Flores Timur

ritus

Ritual Koke Bale. Merupakan pesta adat dilaksanakan oleh orang Lewokluok, Blepanawa dan Bama di wilayah Kecamatan Demon pagong untuk memberi makan para leluhur sebagai ungkapan syukur atas kehidupan yang telah diberikan serta untuk membersihkan diri dari pengaruh roh jahat dan hal-hal kotor lainnya.

Hari pertama, upacara “ Tuhuk Kelewon “ mengundang kehadiran para leluhur untuk diberi makan dan dilanjutkan dengan upacara “Eten Bine“ yakni penghantaran sesajian untuk Sang Dewi Penjaga Mata Air. Hari kedua, upacara “ Belo Wuli “ yakni pembantaian hewan-hewan kurban yang akan disiapkan sebagai santapan pada saat upacara keesokan harinya. Hari ketiga, upacara “ Gole “ yakni puncak dari ritual ditandai dengan kegiatan makan bersama di rumah.

Berbagai ritual Adat lainnya di Kabupaten Flores Timur, antara lain:

Upacara Toben Lewo

Upacara adat untuk membersihkan diri dari pengaruh roh jahat dan hal – hal kotor lainnya, sehingga tidak ada aral rintangan yang menghambat perkembangan di desa setempat. Dilaksanakan oleh orang Botung – Kecamatan Wotan Ulomado (Pulau Adonara). Upacara ini diawali dengan memberi makan para leluhur. Puncak dari upacara adalah Toben Lewo yang merupakan acara duduk makan bersama di malam hari dengan melingkari tikar – tikar yang telah disiapkan.

Ritus Tikus

Ritus unik untuk mengusir tikus yang dilaksanakan di desa Lamaole – Kecamatan Solor Barat. Dalam bahasa lokal disebut “ Ledu “ dilaksanakan setiap bulan Juni. Tikus adalah hama yang merusak tanaman milik masyarakat setempat sehingga mengakibatkan kerugian bagi para penduduk. Upacara diawali dengan perburuan dan pembantaian tikus secara besar – besaran oleh seluruh warga, kemudian hasil buruan dikumpulkan dan dihitung. Dilanjutkan dengan upacara pengusiran hama tikus dengan cara dihanyutkan ke laut lepas sambil mengucapkan seruan “ Silahkan pergi kembali ke Lamalera karena pemimpinmu berasal dari sana “. Upacara ini hanya dilakukan oleh suku Gapun di wilayah Lamaole.

Upacara Pau Horo Bubu

Upacara tradisional untuk memberi makan Horo Bubu (Leluhur orang Riangkoli) yang dilaksanakan pada saat bulan purnama di rumah adat Sebuang Desa Sinamalaka, Kecamatan Tanjung Bunga. Upacara ini merupakan ungkapan rasa syukur dan terima kasih atas kehidupan yang telah diberikan oleh leluhur Horo Bubu kepada orang Riangkoli dengan puncak kegiatannya adalah makan nasi tumpeng (Rengki) secara bersama–sama yang dilanjutkan dengan menari sepanjang malam.

Upacara Adat Wuun Lolon

Upacara syukuran atas panenan jagung muda berlimpah yang dirayakan oleh orang Wulublolong Kecamatan Solor Timur. Puncak dari upacara ini adalah pesta “ Kebarek Rekan Wuun “ yang dilaksanakan pada hari keempat setelah purnama oleh kesepuluh suku yang berada di wilayah tersebut yakni : Lamoren, Koten, Lamanepa, Lamadiken, Lemanu I, Lemanu II, Lewotan I, Lewotan II, Lewotan III dan Menepalolon yang secara khusus diwakili oleh gadis–gadis dari masing–masing suku tersebut.

Upacara Adat Lekot Tenoda

Upacara tradisional untuk memungut hasil panenan jagung dan buah pinang oleh petani di desa Bubuatagamu, Kecamatan Solor Timur yang berlangsung di siang hari. Hasil panenan jagung dan buah pinang kemudian dibawa ke rumah adat di malam hari yang dimeriahkan dengan tarian–tarian tradisional dan acara makan bersama oleh kelima suku di wilayah tersebut. Keesokan harinya (pagi hari) hasil panenan jagung dibagikan kepada seluruh warga untuk dijadikan bibit tanaman pada tahun berikutnya, sedangkan buah pinang akan dibagikan kepada kelima suku di desa Bubuatagamu.

Upacara Adat Ledu

Ritus unik untuk mengusir tikus yang dilaksanakan di desa Lamaole, Kecamatan Solor Barat. Dalam bahasa lokal disebut “ Ledu “ dilaksanakan setiap bulan Juni. Tikus adalah hama yang merusak tanaman milik masyarakat setempat sehingga mengakibatkan kerugian bagi para penduduk. Upacara diawali dengan perburuan dan pembantaian tikus secara besar–besaran oleh seluruh warga, kemudian hasil buruan dikumpulkan dan dihitung. Dilanjutkan dengan upacara pengusiran hama tikus dengan cara dihanyutkan ke laut lepas sambil mengucapkan seruan “ Silahkan pergi kembali ke Lamalera karena pemimpinmu berasal dari sana “. Upacara ini hanya dilakukan oleh suku Gapun di wilayah Lamaole.

Upacara Adat Wuun Nuran

Upacara tradisional untuk mengungkapkan rasa syukur atas panen yang dilaksanakan oleh orang–orang di desa Balaweling, Kecamatan Solor Barat. Upacara ini dilaksanakan setiap 5 (lima) tahun sekali tepatnya pada bulan Juni oleh 4 (empat) suku di wilayah tersebut yakni : Niron (Kepala), Keban, Werang dan Mudajen. Penyelenggaraannya selama 2 (dua) hari yang diawali dengan Bau–Baku (membawa hasil panen) oleh keempat suku tersebut ke rumah adat suku Niron, kemudian dilakukan pembantaian hewan korban. Puncak dari acara ini adalah makan bersama.

Pesta Tradisonal Brauk

Merupakan pesta tradisional atas panen “ Sorgum “ (sejenis jagung) dilakukan oleh suku–suku di wilayah desa Karawatung, Kecamatan Solor Barat tepatnya 10 (sepuluh) hari setelah purnama setiap bulan Juni. Perayaan diawali dengan upacara memberi makan para leluhur dan diakhiri dengan pesta bersama oleh semua suku di wilayah tersebut. Kegiatan ini dibuat di rumah adat tempat dimana mereka mengekspresikan rasa syukur dan terima kasih atas kebersamaan yang telah dialami sebelumnya.

Upacara Adat Polo Ma

Merupakan rangkaian upacara panen yang diawali dengan syukuran atas hasil panen yang berlimpah pemberian dari leluhur tertinggi Lera Wulan Tanah Ekan. Upacara ini dilaksanakan secara masal di desa Baluk Hering, Kecamatan Lewolema karena penduduk setempat menganut sistem Gemohing (gotong royong) ketika bekerja untuk membuka kebun, menanam dan sampai pada saat memanen. Keunikan dari upacara ini adalah semua proses pekerjaan tersebut di atas diekspresikan dalam bentuk tarian untuk membangkitkan semangat gemohing.

Atraksi Budaya di Kabupaten Sikka

parikarapau sikka

Patikarapau. Patikarapau atau potong kerbau adalah upacara kegembiraan masyarakat Palue yang memiliki makna relasi dengan Wujud Tertinggi, leluhur dan alam.Syukuran ini ditandai dengan penyembelian seekor kerbau di sekitar mesbah oleh Lakimosa. Pada saat itu masyarakat dengan wajah yang berseri menari dan memainkan musik tradisional Palue yang membuat acara ini semakin menarik. Upacara ini dilaksanakan lima tahun sekali.

Tua Reta Lou. Di arah Timur Kecamatan Hewokloang berjarak kurang lebih 6 Km kita akan menemukan sebuah kampung bernama Watublapi, di sinilah tepat proses tenun ikat dibuat sekaligus didemonstrasikan kepada wisatawan oleh sanggar Bliransina. Disini pula kita akan disuguhkan tarian-tarian diantaranya “Tua Reta Lou” yang menceritakan tentang pengintaian musuh pada saat perang.

Tarian Bebing. Kampung Hokor 12 Km arah Barat Bola terdapat sebuah kampung tua bernama Hokor yang terkenal dengan tarian bebing yakni sebuah tarian perang yang mengisahkan penyambutan para prajurit dari medan perang. Hokor juga terkenal dengan minuman khasnya yakni moke hokor yang banyak di minati masyarakat Sikka karena brandnya.

Gren Mahe. Gren Mahe berada di Kecamatan Waiblama. Gren Mahe adalah sebuah ritus tradisional masyarakat Tana Ai. Upacara ini merupakan simbol persaudaraan, perdamaian sekaligus keberanian masyarakat Tana Ai. Upacara ini merupakan pemujaan kepada Tuhan dan kepada leluhur mereka. Acara ini dilaksanakan 3 atau 5 tahun sekali tergantung kesiapan ekonomi masyarakat, karena acara ini membutuhkan biaya yang cukup besar.

Logu Senhor. Logu Senhor artinya berjalan jongkok di bawah salib Yesus. Sebuah ritus Katolik peninggalan Portugis yang biasa dilaksanakn pada Jumat Agung setiap tahun Di Gereja Tua Sikka- Kampung Sikka. Prosesi Logu Senhor juga diwarnai dengan drama penyalipan Yesus dari stasi ke stasai. Keseluruhan upacara ekaristi menggunakan bahasa Portugis dipadu dengan bahasa lokal dan indonesia, begitu pula dengan lagu-lagu. Sementara semua peziarah mengucapkan intensi pribadi sambil berjalan di bawah salib memohon berkat Tuhan dengan penuh khidmat.

Ule Nale. Berlokasi di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Proses penangkapan cacing laut oleh masyarakat setempat, biasanya dilaksanakan satu tahun sekali yaitu pada minggu ke-3 prapaskah.

Loka Poo. Berlokasi di Desa Wolowiro, Bu Utara, Renggarasi, Detebingu, Bu Selatan dan Wolowiro. Loka poo adalah suatu upacara persembahan sesajen kepada leluhur berupa nasi yang ditanak dalam bambu serta daging ayam/babi diselingi tarian Ai Nggaja. Upacara ini dilakukan sebelum musim tanam padi dengan tujuan agar hasil panen melimpah

Loka Mase. Berlokasi di Feondari Desa Wolodhesa. Loka Mase adalah suatu upacara persembahan sesajen kepada leluhur diselingi tarian adat. Upacara dilaksanakan untuk meminta turunnya hujan dan menolak bencana kekeringan dan hama tanaman, bias dilaksanakan pada bulan Oktober.

Gareng Lameng. Berlokasi di Desa Pruda, Werang, Tana Rawa, Darat Gunung, Natar Mage dan Ile Medo, Kecamatan Waiblama. Gareng Lameng adalah upacara penyunatan secara adat bagi pria yang dilakukan oleh pemangku adat, upacara dimaksudkan untuk pendewasaan bagi pria. Dilaksanakannya upacara ini disesuaikan dengan kondisi ekonomi.

Tu Teu. Berlokasi di Ngalu Desa Reruwairere, Tubu Kobe Desa Maluriwu. Tu Teu adalah suatu upacara adat ketika hama tikus terjadi. Tikus yang ditangkap dimasukkan dalam dua batang bambu yang memilki delapan ruas dirancang dalam bentuk perahu. Penghanyutan diiringi musik dan tarian tradisional.

Pire Tana. Berlokasi di Watugete (Mahe Natar Mage) Kecamatan Bola. Pire Tanah adalah suatu upacara sesajen / penyembelihan hewan kurban beruapa kambing/babi pada hari pembukaan dan dilanjutkan dengan tidak melakukan kegiatan kerja selama 5 (lima) hari. Pire Tana atau pantang bekerja meliputi wilayah desa Natkoli, Egon Gahar, Hebing dan Hale.

Tige Temu. Berlokasi di Nanga Desa Koja gete, Kecamatan Maumere. Upacara persembahan/sesajen kepada dua Loke leluhur yang empunya satwa liar seperti babi hutan dan rusa, agar binatang tersebut tidak merusak tanaman padi. Dua Loke adalah perempuan tua yang diusir dari Getang Desa Kokowahor Kecamatan Kewapante yang dituduh suanggi. Dua Lake bersama cucu perempuannya meninggalkan Getang menuju Nanga dan terus menetap disitu.

Tradisi Natoni di Kabupaten Kupang

natoni

Kelompok Natoni/bertutur atau berpantun bersahut-sahutan merupakan sebuah budaya masyarakat Kabupaten Kupang Khususnya di pedesaan dalam rangka mentambut perkunjungan tamu atau acara pesta dan acara-acara lain yang sifatnya merupakan upacara adat.

Atraksi Pati Ka Dua Bapu Ata Mata di Danau Kelimutu Ende

kuwuroe ende

Atraksi ini merupakan upacara memberi makan para leluhur yang dilaksanakan di Kawasan Danau tiga warna Kelimutu yang oleh masyarakat Ende - Lio diyakini sebagai tempat bersemayam para arwah yang telah meninggal.

Pemberian makan kepara arwah para leluhur dilakukan oleh tua adat (mosalaki) yang daerahnya berada disekitar kawasan Gunung Kelimutu. Masyarakat lokal meyakini Danau “Tiwu Ata Bupu” yang berwarna merah agak kehitaman merupakan tempat bersemayamnya arwah dari orang tua, Danau “Tiwu Ata Polo” berwarna hijau tua/pekat diyakini sebagai tempat bersemayamnya arwah orang yang selama hidupnya berbuat jahat, dan Danau “Tiwu Ko’o Fai Nuwa Muri” yang berwarna biru muda merupakan tempat bersemayamnya arwah para muda mudi. Upacara Pa’a Loka ini dilaksanakan setiap tanggal 14 Agustus.

Upacara Misa Leva di Desa Lamalera

misa leva

Upacara ini dilakukan pada tanggal 1 Mei setiap tahun yang bertempat di Lokasi Namang Bataona kemudian dilanjutkan di Kapela Santo Petrus yang terletak di Pantai Lamalera. Upacara dengan tradisi agama katolik ini bertujuan untuk membukla musim leva/musim melaut.

Pada upacara ini diadakan pemberkatan seluruh peralatan penangkapan mamalia paus dan seluruh nelayan Lamalera oleh pastor serta perdamaian diantara masyarakat Lamalera. Desa Lamalera B Kecamatan Wulandoni dengan jarak tempuh 47 KM dari Kota Lewoleba, Dapat ditempuh ke lokasi tersebut dengan angkutan darat umum namun melewati jalan yang sebagiannya beraspal dan jalan tanah dengan kondisi berlobang.

Upacara Reba di Ngada

reba

Upacara Reba di laksanakan oleh masyarakat di Kabupaten Ngada. Dalam pelaksanaannya, Upacara reba (tahun baru) dilaksanakan dalam beberapa tahap sebagai berikut:

Bui Loka

Upacara ini biasa dilakukan ole setiap woe di luar kampung/pada suatu tempat khusus yang biasa disebut Loka/Lanu. Pada acara ini biasanya orang/peserta Bui Loka akan melakukan pembersihan Loka/Lanu (kumpulan megalit/ batu yang dibangun khusus untuk memberikan sesajen kepada leluhur) dilluar kampung. Upacara ini biasa dilaksanakan satu minggu atau beberapa hari menjelang upacara reba dimulai.Pada acara ini biasanya dilakukan penyembelihan hewan kurban yang darahnya akan dipercik pada batu (loka) dan dagingnya akan dimakan bersama nasi bambu.

Kobe Dheke/Reba Bhaga

Acara yang dilaksanakan pada malam menjelang reba. Acara ini akan dihadiri semua ana woe dan ana sa’o pada salah satu rumah adat yang telah ditentukan/disepakati. Menjelang acara ini biasanya dilaksanakan reba bhaga yang bertujuan untuk memberi makan kepada ngadhu dan bhaga,kemudian dilanjutkan dengan Kobe Dheke Reba (acara untuk memberi sesaji kepada leluhur didalam rumah adat). Pada acara ini biasanya dilakukan penyembelihan hewan kurban berupa ayam atau babi.

Kobe Reba

Pada hari berikutnya akan dilaksanakan tarian Sedo uwi/ O...Uwi, dan pada malam harinya para tetangga saling mengundang untuk mengadakan perjamuan bersama. Hal ini sebagai pertanda ungkapan kegembiraan atas tahun adat yang abru serta rasa solidaritas dan kekerabatan.

Kobe Dhoro/Kobe Su’i

Pada malam terahir dari reba, para ana woe akan berkumpul pada salah satu rumah yang ditentukan untuk mengevaluasi semua kejadian dan kegiatan yang dilaksanakan oleh setiap anggota suku (ana woe). Hal ini biasanya para tetua dalam suku (Dela/Mosa One Woe) akan memberikan petuah dan nasihat kepada generasi muda mengenai berbagai hal yang harus diperhatikan dalam kehidupan berbudaya. Setelah mengevaluasi, maka akan dilaksanakan Su’i Uwi (memotong/mengiris ubi) sambil menceriterakan legenda perjalanan leluhur.

Upacara Ka Sa'o di Ngada

ka sao

Uapacara adat Ka Sa'o ini dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Ngada. Dalam pelaksanaannya, ada beberapa tahapan ritual dalam Upacara Adat Ka Sao, sebagai berikut:

Zepa

Tahapan awal untuk mengukur luas dan ukuran bahan.

Ka Kolo/basa mata taka

Upacara yang dilakukan sebagai awal dari proses pembuatan rumah adat. Acara ini dilakukan setelah Zepa ( mengukur ukuran rumah) yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan meminta dampingan kepada Tuhan dan leluhur bagi peralatan yang akan digunakan dalam bekerja di hutan selama pencarian material/ramuan pembuat rumah adat.

Dalam acara ini biasanya dilakukan acara penyembelihan hewan kurban (ayam/babi) dan dilihat hatinya sesuai dengan kebiasaan untuk melihat urat dari hati hewan kurban yang dikorbankan. Cara ini biasanya dipimpin oleh ketua suku atau orang yang di’tua’kan dalam suku. Dalam acara ini akan dihadiri oleh seluruh ana sa’o dan ana woe guna mendukung pencarian material rumah dan proses pembangunan rumah selanjutnya.

Gebhe Pu’u Kaju

Setelah semua bahan (material) rumah selesai didapat/terkumpul maka akan dilakukan acara pembasmian tunas-tunas kayu yang dimana kayunya telah diambil untuk material rumah adat baru. Hal ini bekaitan dengan kepercayaan orang Ngadha dimana apabila pohon yang telah diambil untuk material rumah tumbuh(bertunas) maka akan membawa sial bagi penghuni dan ana sa’o (anggota rumah/ suku)di masa yang akan datang. Dalam acara ini akan dilakukan penyembelihan hewan kurban berupa babi dan darahnya dibasuh pada pohon- pohon yang telah di tebang untuk menjadi Material Rumah.

Ghoro Leke/Kali Leke

Tahapan ini adalah merupakan tahapan yang paling awal dimana tiang- tiang rumah adat yang akan dibangun digotong kedalam kampung dan ketempat dimana rumah adat yang baru akan dibangun. Pada acara ini biasanya dilakukan penyembelihan hewan kurban berupa babi dan dihadiri oleh ana sa’o dan biasanya didalam acara ini akan diselingi tarian Soka Ghoro Leke

Bama Ngaru Kaju

Semua material yang telah dikumpulkan di hutan akan ditransportasikan ke kampung dimana rumah adat yang baru akan dibangun. Material-material tersebut akan disambut oleh seisi rumah dalam acara Bama ngaru kaju sebagai ungkapan syukur bahwa pencarian material telah dilakukan dengan selamat. Pada acara ini akan dilakukan penyembelihan hewan kurban dan darah dari hewan tersebut akan dibasuh pada material rumah dan orang-orang yang melakukan pencarian material.

Tore Ngani

Tahapan ini adalah sebagai lanjutan dari acara Bama ngaru kaju yang mana kayu yang telah dikumpulkan pada tempat yang yang telah disiapkan diluar kampung akan dibersihkan (disekap dll). Pada acara ini akan dilakukan penyembelihan hewan kurban yang darahnya dibasuh pada alat - alat yang digunakan untuk membersihkan kayu serta orang orang-orang yang melaksanakan pembersihan kayu atau material dimaksud.

Remi

Pada tahapan ini adalah melakukan pemasangan bahan/material seperti yang diuraikan terdahulu dan setelah itu akan dilakukan pendinginan pada bagian One (bagian dalam rumah inti). Pada acara ini akan dilakukan penyembelihan hewan kurban dan darahnya akan dibasuh pada bagian rumah yang sesuai dengan jenis pasangannya. Pada acara ini akan dihadiri oleh seluruh bagian ana sa’o.

Weti

Setelah pemasangan maka material yang telah terpasang akan dibongkar kembali dan akan diukir sesuai dengan motif yang dikehendaki dan sesuai dengan budaya pada masyarakat atau adat yang dianut. Ukiran ini biasanya menggambarkan status rumah didalam sebuah suku. Pada tahapan ini pemilik rumah biasanya menyedikan babi-babi kecil untuk diberikan kepada Lima Pade pada awal akan mengukir, telinga dari babi tersebut akan ditempelkan pada mata pahat dan kayu ayang akan diukir babi tersebut akan dihadiahkan kepada pengukir.

Kobo Ube

Setelah acara weti (ukir) selesai bahan dari rumah akan dipasang kembali sesuai pasangannya dan akan dilakukan penyembelihan hewan kurban berupa babi besar yang akan dihadiri oleh semua ana sao. Pada tahapan ini biasanya akan dilaksanakan pembicaraan untuk pembangunan selanjutnya di tempat rumah adat baru yang telah dientukan.

Pudha/Tere Pudha

Pada acara tere pudha bahan rumah yang telah disiapkan akan dibawa masuk kampung untuk dipasang mulai dari tiang dan bagian inti rumah. Pada acara ini semua isi kampung dan ana woe akan hadir dan berpartisipasi. Pada acara ini pula akan dilakukan tarian Jai Laba sebagai tanda ucapan syukur dari one sa’o dan one woe.

Wa’e Sa’o

Tahapan ini adalah pembuatan atap rumah adat yang merupakan tahapan lanjutan dari tahapan sebelumnya. Acara ini akan dihadiri oleh seluruh ana sa’o dan ana woe.

Tege Su’a Sa’o

Sesudah pengatapan akan dilanjutkan dengan acara Tege su’a sa’o. Su’a Sa’o adalah merupakan simbol bagian inti rumah yang harus diletakan pada mataraga (altar bagian dalam rumah) pada acara ini biasanya dilakukan penyembelihan hewan kurban untuk memasukan kembali Su’a Sa’o yang dikeluarkan pada saat pembangunan rumah adat.

Ka Sa’o

Acara puncak sebagai pentabisan rumah adat yang baru sebagai pertanda bahwa rumah adat ini dinyatakan sehat sesuai dengan ketentuan adat untuk dihuni oleh Ana sa’o. Pada acara ini biasanya dipentaskan tarian Ja’i Laba Go dan diikuti dengan penyembelihan kerbau dan babi. Tahapan puncak ini akan dihadiri oleh semua ana wo’e (anggota suku), ana sa’o (anggota rumah), one nua (isi kampung) wai laki, lobo tozo tara dhaga kerabat dan hubungan perkawinan.

Upacara Adat HUS Ndoe di Rote

hus ndoe

Upacara adat Hus Ndeo merupakan rasa syukur atas berkat yang diperoleh dari hasil panen sawah, ladang, dan hasil laut. Dari upacara adat ini juga dapat diketahui hujan dan hasil panen tahun berikutnya. Dilaksanakan di Desa Boni, Kec. Rote Barat Laut pada setiap akhir Juli hingga pertengahan bulan Agustus (tergantung letak bulan).

Desa Boni berjarak + 30 km dari kota Ba’a dan dapat ditempuh dalam 1 jam menggunakan kendaraan bermotor. Kegiatan upacara Hus atau dikenal dengan “Pawai Kuda Berhias” yang diiringi bunyi gong dan tambur, merupakan tradisi masyarakat Rote pada umumnya.

Acara ini dilakukan pada saat selesai panen pada bulan Juli sampai dengan Agustus setiap tahunnya. Menurut perhitungan orang Rote, mereka mengadakan selamatan sekaligus acara-acara “Tolak Bala” yang dilaksanakan 3 hari berturut-turut.

Dalam acara Hus, oleh masyarakat Aduoen di Kecamatan Rote Barat Laut dimana penunggang kuda Hus dengan sikap sebagai seorang pahlawan yang gagah perkasa mulai mengitari arena yang telah disediakan yang disebut Ndeo. Selesai Hus dilanjutkan dengan membelah kelapa muda menggunakan tangan dan tari-tarian. Setelah itu rangkaian acara ditutup dengan menyembelih hewan untuk makan bersama seluruh masyarakat.

Sagi: Tinju Tradisional di Ngada

tinju ngada

Tradisi tinju ini diwariskan oleh leluhur secara turun temurun sampai pada masa sekarang. Sagi dijalankan hampir di setiap wilayah Soa secara berurutan, mulai dari Desa Mengeruda, Piga, Tarawaja/Wulilade, Seso (Sagi Libu) Masu, dan Loa.

Pelaksanaan Sagi pada bulan Mei dan biasanya berakhir pada bulan Juli dan proses perhitungan bulan biasanya melalui perhitungan bulan secara tradisional atau kalender tradisional masyarakat setempat. Di daerah Soa tahapan-tahapan pelaksanaan Sagi hampir sama di setiap desa, perbedaan hanya pada saat penutupan Sagi seperti di Desa Piga dan Mengeruda diakhiri dengan upacara adat Sogo.

Berikut pelaksanaan Sagi di Desa Masu dan Piga :

Tahapan Persiapan Tinju

Di desa Masu, Sagi diawali dengan kesepakatan adat dari rumah pemangku Budaya Sagi ( Mori Raghu Sagi ). Pada tahapan ini akan dimulai acara penggantungan pinang ( Teo heu ), di sebuah tempat yang ditentukan yaitu menhir kayu ( Ngadhu ) untuk selanjutnya dibuat kesepakatan bersama yang ditandai dengan makan sirih pinang ( Weti ), makan bersama ( Nalo ), dan selanjutnya akan dibuat atau dilagukan syair-syair adat atau dalam bahasa setempat Tau Pata.

Pada malam hari setelah kesepakatan pelaksanaan Sagi, akan dilangsungkan Dero (nyanyian yang disertai tarian) yang dilakukan dengan membuat lingkaran pada api unggun.

Tempat pelaksanaan Dero biasanya disebut dengan Loka dan dilaksanakan pada halaman kampung. Setiap orang yang ada biasanya membentuk kelompoknya masing-masing, syair– syair Dero biasanya berupa pantun–pantun muda mudi, sindiran terhadap kekeliruan masyakat dalam kehidupan, nasehat, puja puji terhadap kekasih dan lain sebagainya.

Biasanya Dero berlangsung semalam suntuk. Pada masa lampau Dero berlangsung tiga malam berturut turut menjelang Sagi, pada masa sekarang Dero dilaksanakan satu malam saja. Pada saat menjelang Sagi masyarakat adat juga memanfaatkan moment ini untuk meminang gadis ( Idi Weti ).

Tahap Pelaksanaan

Sagi akan dilaksanakan di tengah kampung ( Kisanata ) dan pada areal ini akan dijadikan dua kelompok atau lokasi yaitu kelompok timur dan kelompok barat sesuai dengan penempatan posisi kampung ( Ulu–Eko ). Pada lokasi ini biasa disebut dengan lokasi melo atau ei ye, dimana para petinju akan keluar setelah mengenakan pakaian khusus dari pemangku tinju (pada masa lampau).

Untuk memberi spirit sebelum bertarung kelompok melo akan menyanyikan syair–syair berupa sindiran terhadap lawan serta tari-tarian yang sedikit mengejek/memanasi lawan. Orang yang melakukan Sagi atau Petinju, sebelum keluar bertinju harus duduk diatas lesung yang telah disiapkan. Pantangan bagi kaum perempuan adalah tidak boleh melewati tempat ini.

Pengumuman atau maklumat tentang siapa yang akan bertarung akan dilakukan, maklumat ini biasa disebut dengan Bheta. Hal ini dimaksudkan agar semua orang dapat mengetahui siapa yang akan bertarung. Dan apabila dua orang yang akan bertarung masih mempunyai hubungan darah maka pertarungan tidak boleh dilaksanakan dan diganti orang lain. Orang–orang yang akan bertinju atau sagi, tidak dibatasi jumlah atau pasangan sampai acara tinju selesai, ronde tinju pun berdasarkan kesepakatan petinju.

Tinju akan dihentikan apabila salah satu dari mereka mengalah atau luka berat. Begitu pula dengan perdamaian bisa terjadi pada saat itu juga atau kedua petinju tidak akan berdamai dan akan bertarung lagi pada kesempatan lain di kampung yang berbeda.

Personil

Petinju ( Ata Sagi ).

Sike / Zo, terdiri dari 2 orang, yaitu orang yang bertugas mendampingi masing–masing dua orang yang bertinju serta memberikan perlindungan bagi petinju. Seseorang yang dipilih atau dipercayakan sebagai sike harus orang yang berpengelaman dan lincah sehingga bisa mengimbang petinju, gerakan kaki seorang sike harus seirama atau paling tidak mengimbangi petinju, begitu pun kecepatan mata, tangan sike bisa dimanfaatkan untuk melindungi dada petinju serta menarik petinju apabila dalam keadaan bahaya. Kalah menang pertarungan juga tergantung pada pendamping atau sike.

Dheo woe ( wasit ) 1 orang, bertugas melerai para petinju apabila dalam keadaan bahaya atau posisi berpelukan.

Dheo haro, bertugas menjaga keamanan dengan berdiri membuat pagar betis agar orang yang menonton tidak masuk arena tinju. Pada masa lalu personil ini dilengkapi dengan ranting bambu kecil untuk menghalau penonton yang masuk area tinju.

Tahap Penutup

Tinju akan berakhir menjelang sore hari jika mori raghu sagi menutup acara tinju dengan maklumat dan ditandai dengan pembelahan kelapa ( Kela nio ). Maksud dari ritual ini adalah apabila kelapa yang dibelah keduanya posisi telungkup maka tahun berikutnya hasil panen gagal. Panen akan melimpah apabila kelapa dalam posisi terbuka.

Acara tinju adat ini juga merupakan ajang silaturahmi karena semua tamu atau kerabat yang diundang akan dijamu makanan.
Makna acara tunju adat selain menunjukan kejantanan seorang pria tetapi juga merupakan pesta syukur atas panen.

Tradisi Masyarakat Sumba Timur

karaki nyali

KARAKI NYALI merupakan ritual upacara adat menangkap ikan dan cacing laut di Desa Wahang Kecamatan Pinu Pahar pada awal bulan Maret yang ditandai pada saat bulan purnama tiba.

REPIT Merupakan upacara adat untuk mensyukuri hasil panen dan memohon kemakmuran di masa depan serta meramal kejadian penting yang akan terjadi. Upacara ini dapat anda saksikan di Desa Lailara Kecamatan Katala Hamu Lingu dan Desa Tarimbang Kecamatan Tabundung.

PACUAN KUDA-Perlombaan Pacuan Kuda Tradisional di Lapangan Rihi Eti Kelurahan Prailiu Kecamatan Kota Waingapu, anda dapat menyaksikan kepiawaian para bocah Sumba Timur dalam menunggang kuda tanpa menggunakan pelana.

Santa, Mbata, Danding dari Manggarai Timur

santa martim

anda, Mbata dan Danding merupakan seni olah vokal dan permainan kata-kata dalam bentuk lagu yang dinyanyikan oleh pria dan wanita yang berisi pantun kehidupan, syair tentang cinta, persahabatan, nasihat atau kisah kehidupan lainnya. Sanda dinyanyikan sambil berdiri membentuk lingkaran dengan gerak berputar dan sesekali disertai dengan hentakan kaki seirama.

Sanda dinyanyikan tanpa diiringi dengan alat musik. Mbata dinyanyikan sambil duduk dalam lingkaran atau membentuk barisan. Mbata dinyanyikan dengan diiringi pukulan gong dan gendang yang lembut.an Tradisional Danding juga dinyanyikan secara berkelompok sambil berdiri dan bergerak mengitari lingkaran.

Perempuan dan laki laki bias bergabung dalam satu lingkaran asalkan tetap menjaga sopan santun. Danding dipimpin oleh seorang yang disebut Nggejang. yang berdiri di tengah lingkaran untuk mengatur irama gerakan, hentakan kaki dan memulai sebuah syair dengan menggunakan gemerincing. Dibanding Sanda, Danding dinyanyikan dengan irama yang lebih cepat, lebih hidup dan bersemangat. Danding dinyanyikan tanpa diiringi alat musik seperti gong atau gendang.

Ritual Wulla Poddu di Sumba Barat

Wulla artinya bulan dan poddu berarti pahit. Disebut pahit karena sepanjang bulan ini semua warga harus memantangkan diri dari sejumlah hal. Banyak ritual digelar selama Wulla Poddu. Ada yang bertujuan memohon berkat dan sarana mengucap syukur. Ada pula yang bercerita tentang asal usul nenek moyang serta proses pembuatan dan kelahiran manusia pertama.

Wulla Poddu juga merupakan masa berburu babi hutan, dimana babi hutan yang pertama kali ditangkap biasanya dijadikan indikator hasil panen. Babi jantan, misalnya dianggap sebagai pertanda panen yang baik, sementara jika babinya menggigit orang berarti bakalan ada hama tikus.

Di bulan ini pula para pemuda yang telah akil balik menjalani proses sunatan dan selama beberapa hari diasingkan ke alam liar untuk hidup mandiri sebagai tanda kedewasaan. Puncak perayaan Wulla Poddu selalu merupakan ajang pulang kampung, semacam mudik lebaran atau natalan yang selalu ditunggu dan disambut meriah.

Ada beberapa lokasi pelaksanaan ritual Wulla Poddu di Sumba Barat diantaranya:

Kecamatan Loli: Kampung Tambera, Kampung Bodo Maroto, Kampung Tarung setiap bulan Oktober - November;

Kecamatan Wanokaka: Kampung Kadoku

Kecamatan Lamboya: Kampung Sodana setiap bulan Oktober

Kecamatan Tana Righu: Kampung Ombarade setiap bulan Desember

Ritual Adat Perkawinan Manggarai Timur

perkawinan martim

Perkawinan bagi masyarakat Manggarai bukan hanya membangun hubungan antara dua individu, melainkan persekutuan antara dua kelompok masyarakat yang lebih luas yaitu kerabat atau klan dari kedua pengantin. Perkawinan merupakan suatu upaya untuk melanjutkan kehidupan dan menghasilkan keturunan.

Oleh karena itu, dalam kosmologi masyarakat ManggaraI menggunakan berbagai symbol yang  melambangkan kesuburan seperti kebiasaan makan daun sirih dan pinang. Menurut masyarakat Manggarai daun sirih melambangkan kelamin wanita, sedangkan buah pinang adalah symbol kelamin pria. Makan sirih pinang dan dicampur kapur menghasilkan air ludah yang berwarna merah yang mana melambangkan reproduksi dan kesuburan. (Mariebeth Erb; The Manggaraians: A Guide to Traditional Livestyles; hal.44).

Masyarakat Manggarai menganut system patrilineal, dengan demikian kelahiran anak laki-laki disebut “ata one” (orang dalam) yang berarti bahwa sejak kelahiran, perkawinan hingga kematiannya, dia tetap menempati rumah/kampong tempat dia dilahirkan dan mewarisi harta benda milik orang tuanya .

Kelahiranan anak perempuan  dianggap sebagai “ata pe'ang” (orang luar) yaitu kebalikan dari “ata one”, dimana setelah menikah, seorang gadis akan menyatu dengan suaminya dan mewarisi harta benda milik suaminya. Sebagai kompensasi dari kehilangannya, kelurga pengantin laki - laki harus memberikan mas kawin atau Belis (Paca) kepada keluarga pengantin  perempuan. “Paca” yang diberikan secara tradisional berupa kerbau, kuda, babi, sarung tenunan, dan sejumlah uang. Apabila “paca” telah diberikan, maka pengantin perempuan bisa diarak menuju rumah pengantin laki-laki dalam acara “roko” (perarakan), dimana pengantin perempuan diarak dengan menunggang kuda.

Sesampai di gerbang kampong “pa'ang” dari pengantin pria, pengantin wanita akan dijemput oleh keluarga dari pengantin lakilaki. Selanjutnya ibu-ibu dari pihak laki-laki memberikan sirih pinang kepada pengantin wanita dan pengantarnya. Pengantin wanita juga diterima dengan seekor ayam dan sebotol tuak, yang diawali dengan ucapanucapan penyambutan. Hal ini menandakan bahwa pengantin perempuan pada saat itu disambut dan diperlakukan seperti tamu terhormat. Dari sana dia diarak menuju rumah pengantin laki-laki.

Di depan rumah pengantin laki-laki telah ditempatkan satu butir telur yang dililit dengan rerumputan, sebelum memasuki rumah suaminya dia menginjak telur tersebut hingga pecah. Ritual ini dinamai “wedi ruha” (injak telur) yang melambangkan kelahirannya kembali sebagai individu baru.Pada saat itu dia menanggalkan “ceki” (roh leluhur atau pelindung) sebelumnya dan menggunakan ceki dari keluraga suaminya.

Setelah acara tersebut dia diperkenankan untuk masuk ke rumah suaminya. Selanjutnya pada saat pemberian “paca” atau beberapa tahun setelah menikah kedua pengantin melaksanakan suatu ritual yang disebut “nempung” di  beberapa tempat ritual ini disebut “woe weki”. Nempung atau woe weki melambangkan penguatan atau pengukuhan perkawinan secara adat Manggarai.

Pada saat ini kedua pengantin didoakan agar memiliki keturunan, memperoleh hasil panen yang memuaskan, memperoleh rezeki dalam berumah tangga, serta dijauhkan dari segala macam bencana, kemalangan, sakit, dan segala bentuk kesialan dalam hidup.

Ritual Adat Penti Masyarakat Manggarai

adat penti

Penti merupakan upacara adat tahun baru orang Manggarai. Penti merupakan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan persembahan kepada para leluhur atas berkah dan rahmat pada tahun yang telah berlalu dan memohon berkah di tahun yang akan datang.

Penti juga merupakan upaya ritual untuk memurnikan kampung dan penghuninya dari pengaruh roh jahat sehingga mereka menjauhkan diri dari segala perbuatan dosa dan melakukan hal-hal yang baik dalam kehidupan selanjutnya. Ritual Penti dilakukan secara bersama oleh penghuni kampung berpusat di rumah gendang dengan mempersembahkan hewan kurban seperti babi atau kerbau tergantung pada skala kebutuhan dan jumlah tamu yang diundang.

Upacara Penti diawali dengan Torok Manuk atau doa dengan mengambil seekor ayam jantan yang disampaikan oleh tetua adat sebelum hewan kurban disembelihkan. Selanjutnya hati dari hewan kurban tersebut diambil untuk diperlihatkan bentuk garis urat dan volume isinya. Tetua adat mengetahui pesan yang disampaikan leluhur berdasarkan garis urat dan volume hati hewan kurban tersebut. Misalnya apabila pada tahun yang akan datang, penduduk kampung akan memperoleh hasil panen yang berlimpah maka hati hewan kurban tersebut terlihat sangat penuh dan berisi, ataupun sebaliknya.

Ritual Adat Kematian Masyarakat Manggarai Timur

kematian martim

Bagi masyarakat Manggarai, kematian merupakan resolusi alamiah dari kehidupan sekaligus sebagai awal dari kehidupan yang baru. Segera setelah kematian, arwah dari orang yang meninggal dianggap hanya berada di luar kampung atau “pa'ang be le”. Namun arwah dari orang meninggal tidak benar-benar beristirahat dan bisa saja kembali ke kampung.

Karena itu seringkali diberikan persembahan berupa makanan dan minuman yang disediakan pada tempat khusus yang biasa dipakai selama dia hidup. Persembahan ini diberikan hingga tiga hari setelah yang meninggal dimakamkan dimana diadakan upacara “wie saungta'a”.

Ritual ini melambangkan bahwa pada hari ketiga, orang yang meninggal tersebut akan dilahirkan kembali atau mengalami kehidupan baru di dunia lain, dunia para arwah, yang memisahkannya dari dunia orang hidup.

Menurut tradisi orang Manggarai, akhir dari semua ritual kematian, dimana orang yang meninggal benarbenar berpisah dari dunia orang hidup disebut ritual “Kelas” (kenduri). Dalam ritual ini dikurbankan hewan seperti babi atau kerbau bergantung pada besarnya keluarga dan status sosial dari orang yang meninggal. Ritual Kelas ini bisa diadakan segera setelah yang bersangkutan meninggal atau beberapa tahun berselang.

Prosesi Pasola Sumba Barat Daya

pasola

Pasola adalah salah satu atraksi budaya saling melempar kayu dari atas kuda. Atraksi ini dilakukan oleh para pria yang telah teruji keberanian dan ketangkasannya melempar kayu dari atas kuda yang di pacu kencang oleh kedua kubu yang berlawanan dalam suatu arena yang luas.

Dalam pengertian adat Marapu, pasola bukanlah sekedar tontonan melainkan sebuah ritual adat yang dipercaya bahwa darah hewan atau darah manusia yang bercucuran di arena pasola merupakan tanda kesuburan dan panen yang berlimpah yang merupakan berkah dari Sang Maha Dewa, sehingga apabila ada peserta pasola yang terluka atau meninggal dunia di arena, masyarakat menganggapnya sebagai hukuman karena pernah melanggar norma-norma adat yang telah disepakati bersama dan tidak diberikan sanksi hukum bagi yang melakukannya.

Hal yang juga menarik dari atraksi pasola ini adalah ritual-ritual adat yang dilakukan beberapa minggu sebelumnya untuk menentukan tanggal pelaksanaan pasola.

Upacara adat yang dilakukan antara lain upacara adat Kawoking atau upacara menyambut ‘Nyale” atau sebutan untuk salah satu jenis cacing laut (termasuk family eunicid) yang sering muncul di pantai-pantai laut dangkal pada bulan februari atau maret setiap tahun dan di percaya bahwa kemunculan Nyale dalam jumlah yang banyak akan menjadikan panen yang berlimpah.

Even Atraksi wisata budaya Pasola di kabupaten Sumba Barat Daya dilaksanakan pada bulan februari dan maret setiap tahun.

Festival Pasola Lamboya dan Wanokaka

pasola lamboya

Ritual perang adat antara dua kelompok berkuda yang gagah berani, saling berhadapan, kejar-mengejar seraya melempar lembing kayu kearah lawan. Walau pihak pemerintah kini mengharuskan ujung lembing ditumpulkan, tetap saja pasola merupakan ritual berbahaya, tak jarang ada yang terluka bahkan meninggal dunia.

Menurut keyakinan setempat, musibah terjadi karena jiwa si korban belum tersucikan atau ada pelanggran yang dilakukannya. Darah yang tumpah dianggap sebagai persembahan kepada dewa bumi agar tanah menjadi subur dan terhindar dari hama.

Pasola Lamboya_1Perayaan Pasola, khususnya di Wanokaka, selalu didahului dengan ritual Madidi Nyale (pemanggilan Nyale) sejenis cacing laut yang hanya muncul setahun sekali. Penduduk asli Sumba percaya banyaknya nyale yang muncul saat upacara berlangsung merupakan pertanda panen bakal melimpah. sementara jika nyale hanya sedikit maka sebaliknyalah yang akan terjadi. Atraksi Pasola sendiri berakar dari legenda cinta segi tiga yang nyaris menimbulkan perang antar kampung.

Ada beberapa lokasi pelaksanaan pasola di Sumba Barat diantaranya:

Hobba Kalla di Lamboya setiap bulan Februari;

Kamaradena di Kecamatan Wanokaka setiap bulan Maret;

Gaura di Lamboya Barat setiap bulan Maret.

Prosesi Kematian dan Penguburan di Sumba Timur

kematian sumtim

Kematian dilihat dari transisi antara hidup duniawi dan akhirat dan merupakan peristiwa penting dalam perjalanan seseorang menuju kebahagiaan sejati. Oleh karenanya penguburan harus dilaksanakan dengan upacara khusus agar arwah manusia layak masuk dalam Praimarapu (Surga).

Setelah mayat disimpan bahkan sampai bertahun-tahun, dilakukan penyembelihan ternak kerbau dan kuda dalam jumlah besar (tergantung status sosial) sebagai sesaji pengiring penguburan. Upacara ini terdiri dari dua tahap, pertama jenazah dibungkus dengan kain berlapis-lapis lalu diletakkan dalam peti kayu dengan diameter 1,50 cm (pada jaman dahulu tidak menggunakan peti berbahan kayu, melainkan menggunakan kulit kerbau yang telah dikeringkan).

Jenazah diletakkan dalam posisi jongkok (seperti posisi janin dalam rahim ibu, yang memiliki makna “Lahir Baru”) lalu ditempatkan dalam rumah adat sambil menantikan upacara berikutnya. Jenazah dijaga oleh Papanggang/Ata Ngandi (Hamba Bawaan) yang juga berperan sebagai mediator dengan sang arwah. Sehari sebelum berakhirnya tahap pertama diadakan upacara Pahadang yang dipimpin oleh Ratu (Pendeta Marapu).

Sebelum tahap kedua, batu kubur sudah disiapkan dengan ukuran tergantung status sosial. Batu tersebut harus ditarik dari luar kampung yang diawali dan diakhiri dengan upacara khusus. Jenazah diusung dan diarak dalam suatu prosesi sambil diiringi oleh arakan kuda berhias yang ditunggangi oleh hambanya (Ata Ngandi) sampai ketempat pemakaman jenazah ditempatkan dalam kubur batu megalit. Anda dapat melihatnya di Kampung Prailiu, Pau dan Praiyawang, serta kampung-kampung tradisional lainnya.

Kebudayaan Masyarakat Manggarai Barat

pola

Pola perkampungan dan Rumah Adat

Pola perkampungan. Kampung tradisional di Manggarai berbentuk bundar dengan pintu saling berhadapan. Bentuk bulat menyarankan makna keutuhan atau kebulatan. Bentuk kampung demikian diperkuat oleh tuturan ritual. Secara mistis kampung dibagi atas tiga, yaitu pa’ang (bagian depan), ngandu (pusat), dan ngaung atau musi (bagian belakang kampung).

Arsitektur tradisional. Arsitektur tradisional termanifestasikan dalam bentuk rumah gendang dan compang Rumah Gendang – Rumah tradisional Manggarai biasa disebut dengan nama Mbaru Gendang atau Mbaru Tembong. Bentuknya menyerupai seperti kerucut yang terbuat dari rerumputan kering. Struktur bangunan menerus dari atap sampai lantai.

Compang adalah tugu yang dibuat di tengah halaman rumah yang difungsikan sebagai altar dalam upacara adat. Altar tersebut terbuat dari tumpukan batu dan ditengahnya terdapat sebuah pohon. Altar tersebut dikelilingi halaman dan pemukiman penduduk. Lokasi compang biasanya merupakan pusat desa.Rumah adat dan kampung tradisional ini dapat ditemui di kampung Ru’I di Sano Nggoang, Kampung Balo di Kuwus dan Pacang Pu’u di Macang Pacar.

Bijalungu Hiu Paana di Sumba Barat

bajalungu

Ritual adat menyambut musim baru. Bijal artinya meletakan sedangkan Hiupaana adalah nama sebuah hutan kecil. Dinamakan demikian karena puncak seremoninya dilaksanakan dengan meletakan persembahan di hutan itu, tepatnya di sebuah gua kecil keramat.

Pada malam sebelum acara puncak, banyak benda-benda keramat yang dikeluarkan untuk disucikan. Para warga pun antri untuk mendapatkan berkat para Rato lalu bergantian menari sepanjang malam. Karena merupakan upacara menyambut musim baru, banyak ritual ramal meramalnya, antara lain ritual penyembelihan ayam oleh Rato (pendeta) Marapu dimana kondisi usus ayam mengindikasikan baik buruknya hasil panen mendatang.

Lalu ritual mengamati Manu Wulla Manu Laddu, sebuah batu bertuah yang menurut legenda merupakan pemberian penguasa langit kepada putrinya yang menikahi pria bumi. Jika posisi batu yang berada dalam gua di hutan Hiupaana itu rapat sempurna maka panen akan berlimpah, jika sebaliknya maka kemungkinan akan datang berbagai serangan penyakit.

Ada pula ritual Kabena Kebbo (lempar kerbau). Dalam ritual ini, seekor kerbau muda yang dipilih secara khusus sebagai hewan persembahan akan dihalau memasuki area upacara dan bersamaan dengan itu semua orang dipersilahkan melempar sang kerbau dengan buah pinang yang telah dibagikan. Jika mengenai dahi si kerbau, pelemparnya dipercaya bakal mendapat untung besar. Kena leher juga pertanda baik. Perut dan kaki dipercaya sebagai bagian yang kurang baik, dan masih banyak lagi.

Ritual ini dilaksanakan di kampung Wei Galli, hutan Hiu Paana, Kecamatan Wanokaka yang berjarak sekitar 22 km dari kota Waikabubak. Jadwal acara biasanya dilakukan di bulan Januari setiap tahunnya.

Kondisi jalan menuju lokasi berupa jalan aspal dengan kondisi baik dan tersedia jaa angkutan umum dan jasa rental mobil.

Atraksi Adat dari Nagekeo

etu

Atraksi Adat E’tu

Atraksi pertarungan tinju tradisional, yang biasanya dilakukan sehabis musim panen sawah hingga musim hujan berikutnya. Atraksi ini hanya diikuti oleh kaum pria dewasa menggunakan tanduk kerbau yang dililitkan pada kepalan tinju. Atraksi ini didahului dengan menyanyikan mantra-mantra yang berisi syair motivasi. Resiko atraksi ini adalah luka, dan memar pada wajah yang konon dapat sembuh secara alamiah melalui cara penyembuhan tradisi yang dipercaya masyarakat setempat.

Upacara Penanaman Awal

Biasa dilakukan oleh suku Lape dan Awe di Nagekeo. Upacar ini berupa menanam benih padi di sawah oleh beberapa kelompok masyarakat, dengan urutan berdasarkan tingkat strata sosial. Yang menanam pertama adalah kelompok dengan strata yang memberikan kesuburan dan keberhasilan panen, lalu diikuti kelompok penanam lainnya. Upacara ini berlangsung awal musim tanam, dan masih berlaku hingga kini.

Ritual Para-Tau-Nuwa

Ritual ‘akil-balik’, dimana seorang anak pria remaja di sahkan sebagai pria dewasa. Ritual ini biasanya dilakukan warga Rendu-Aesesa Selatan, dengan menyembelih kerbau sebagai kurban kepada pencipta alam.

Sumber: Exotic NTT, 200 Tempat Wisata Paling Menantang dan Eksotis di Provinsi NTT. Wisata Alam, Bahari, Budaya dan Tradisi. oleh Gagas Ulung