config

Secara keseluruhan, Pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2018 tercatat tumbuh sebesar 5,13% sedikit meningkat  dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 5,11% meskipun lebih rendah dibandingkan Nasional sebesar 5,17%. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut yang menggambarkan perbandingan pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur dengan Nasional periode 2010-2018.

Laju Petumbuhan Ekonomi di NTT dan Nasional Tahun 2013-2017

Periode

Nusa Tenggara Timur

Nasional

2013

5,56

5,78

2014

5,04

5,02

2015

5,13

4,79

2016

5,18

5,02

2017

5,11

5,07

2018

5,13

5,17

           Sumber : BPS Prov. NTT dan KPw Bank Indonesia Prov. NTT, 2018

Berdasarkan  Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Nusa Tenggara Timur Bulan Februari 2019 yang dirilis oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur, akselerasi pertumbuhan terutama disebabkan oleh melambatnya impor atar daerah seperti barang-barang konsumsi maupun kebutuhan kosntruksi, sementara ekspor antar daerah menunjukkan peningkatan. Sementara itu, indikator PDRB lainnya dari sisi permintaan, seperti konsumsi rumah tangga, konsusmsi pemerintah maupun pembentukan modal tetap bruto/investasi menunjukkan perlambatan.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Berdasarkan  KEKR Provinsi NTT Bulan Februari 2019 yang dirilis oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur, total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Nusa Tenggara Timur pada tahun 2018 berdasarkan harga berlaku sebesar 99.087,3 milyard rupiah atau mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 90.757,6 milyard rupiah.

Inflasi

Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT (KEKR NTT, Februari 2018), Inflasi sepanjang tahun 2018 di Provinsi NTT mencapai 3,07% (yoy) walaupun mengalami peningkatan dari tahun 2017 sebesar 2,00% (yoy), namun pencapaian ini masih berada dalam rentang target inflasi nasional sebesar 3,5±1% (yoy). Terkendalinya harga sebagaian bahan  makanan pada komoditas ikan segar dan sayur-sayuran menjadi penyebab utama terkendalinya inflasi di tahun 2018. Jika dibandingkan dengan tahun 2017, tren inflasi masih mengalami pola musiman dengan deflasi di kisaran triwulan III diikuti dengan kenaikan yang cukup tinggi di dua bulan menjelang akhir tahun, namun begitu jika dibandingkan dengan tahun 2017, besaran deflasi yang terjadi di Bulan Oktober tidak terlalu signifikan, terlebih kelangkaan pangan di awal tahun 2018 masih memberi dampak pada tingkat harga secara keseluruhan, sehingga secara tahun inflasi di Provinsi NTT mengalami peningkatan yang berarti namum masih relatif terjaga. Adanya koordinasi dan pemantauan pasokan beberaap komoditas sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan berhasil menurunkan harganya. Operasi pasar yang rutin dilaksanakan bersama PT. BULOG dan Satgas Pangan juga mamapu menahan kenaikan komoditas beras yang sebelumnya mengalami lonjakan di awal tahun 2018.

Pada akhir tahun 2018, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami inflasi angkutan udara tertinggi (dalam 4 tahun terakhir) secara tahunan (yoy). Walaupun secara bulanan tetap mengalami pola inflasi pada bulan November dan Desember, namun inflasi angkutan udara pada tahun 2018 cukup besar dampaknya bagi provinsi NTT yang secara geografis berbentuk kepulauan.

Lembaga Keuangan

Lembaga keuangan daerah yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur diantaranya yakni lembaga perbankan dan koperasi. Eksistensi lembaga-lembaga keuangan ini memiliki peran yang sangat berarti untuk menunjang pengembangan usaha ekonomi produktif yang berbasis ekonomi kerakyatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Lembaga-lembaga keuangan tersebut secara garis besar dapat dijabarkan sebagai berikut :

Perbankan

    

Kinerja Bank Umum

Posisi asset perbankan di Provinsi NTT pada triwulan 2018 berfluktuasi dengan tren peningkatan. Di akhir tahun 2018, perbankan mencatat posisi asset Rp. 37,02 triliun, meningkat disbanding periode sebelumnya yaitu Rp. 36,85 triliun. Sejalan dengan hal tersebut, pertumbuhan asset tahunan pada periode kajian juga tumbuh positif mencapai 11,67% (yoy), lebih tinggi daripada periode dan tahun sebelumnya masing-masing yaitu 9,58% (yoy) dan 11,39 (yoy). Di sisi lain, posisi kredit tercatat meningkat ke angka Rp. 30,07 triliun dari sebelumnya Rp. 29,92 triliun dengan tingkat pertumbuhan menurun -0,02% (yoy). Tingkat pertumbuhan tersebut sangatlah rendah apabila dibandingkan triwulan III 2018 dan triwulan IV 2017 yaitu 15,44% (yoy) dan 31,68% (yoy). Perbankan NTT berhasil menunjukan dukungannya dalam mendukung kegiatan ekonomi dengan tetap menjaga kestabilan sistem keuangan yang tercermin dari stabilnya kredit bermasalah.

Selama tahun 2018, perbankan di NTT berhasil menahan BOPO (Belanja Operasional terhadap Pendapatan Operasional) dibawah 100% menunjukan bahwa bank umum di NTT berhasil menjaga beban operasional tidak melebihi pendapatan operasionalnya. Pda triwulan IV tahun 2018, rasio BOPO bank umum yaitu 66,40%. Dibandingkan dengan BOPO pada triwulan III tahun 2018 yaitu 66,66%, terdapat penurunan rasio BOPO yang diakibatkan pendapatan operasional yang lebih tinggi daripada beban operasional. Hal ini mengindikasikan semakin efisiennya bank umum di NTT dalam menjalankan aktivitasnya. Sejalan dengan hal tersebut, ROA (Return On Assets) juga mengalami peningkatan menjadi 1,39% dari sebelumnya 1,86%.

Kinerja Bank Perkreditan Rakyat

Selama tahun 2018, kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Provinsi NTT secara umum relative stabil sebagaimana tercermin dari kecilnya perubahan pada rasio ataupun indeks pengukuran yang digunakan. Meski masih dalam kategori tidak aman BPR berhasil memperbaiki kualitas kredit yang terlihat dari turunnya NPL di akhir menjadi 6,39% dari posisi awal tahun 6,8% dan posisi triwulan III tahun 2018 7,17%. CAR (Capital Adequacy Ratio) BPR sedikit turun menjadi ke 29,65% dari sebelumnya 29,78%. CAR menunjukan kecukupan modal BPR dalam memenuhi kewajibannya, besarnya CAR mengindikasikan kredibilitas BPR. BPR mencatat sedikit peningkatan efisiensi sebagaimana turunnya BOPO ke angka 81,30%.

Sumber Data : LKPJ Gubernur NTT Tahun 2018.