Museum di Provinsi NTT

UPTD Museum Daerah Nusa Tenggara Timur saat ini telah memiliki koleksi sejumlah 8999 buah yang dikumpulkan dari kelompok-kelompok etnis yang ada di Daerah Nusa Tenggara Timur. Musesum akan terus menggalakkan pengumpulan koleksi, pengkajian, perwatan dan pelayanan pengunjung sehingga museum ini dapat menjadi pusat studi dan pusat informasi budaya yang dapat dimanfaatkan oleh semua kalangan.

MISI

Menyelematkan, memelihara dan memanfaatkan benda-benda warisan sejarah alam dan budaya masyarakat Nusa Tenggara Timur untuk memperkuat identitas diri, mendorong kreativitas, memupuk toleransi, menunjang pendidikan dan pariwisata serta menampilkan kekayaan budaya Nusa Tenggara Timur.

Pameran – Pameran

Museum Daerah Nusa Tengggara Timur memiliki ruang Pameran Tetap serta ruang Pameran Temporer. Setiap tahun museum selalu menyelenggarakan pameran-pameran yang menggankat keunukan budaya dari kelompok etnis tertentu dari Daerah Nusa Tenggara Timur.

Pameran-pameran yang dilaksanakan tahun 2008 hingga 2009 adalah :

  1. Pameran Temporer Foto-foto Orang, Budaya dan Alam Wilayah Amfoang.
  2. Pameran Tenunan Alor hingga Lembata.
  3. Pameran Tikar Manggarai.
  4. Pameran Pemburu Paus dari Lamalera.
  5. Museum NTT juga mengambil bagian dalam:
  6. Pameran Patung Nusantara di Jayapura – Papua pada bulan Agustus 2008
  7. Pameran Tekstil Tradisional di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada Bulan Oktober 2008.
  8. Selain itu museum juga akan memfasilitasi pameran Foto dari Desa Boti Kabupaten Timor Tengah Selatan dan dari desa Lamalera,
  9. Kabupaten Lembata kerjasama dengan kelompok Photovoices, sebuah lembaga yang mendorong penguatan masyarakat desa melalui media fotografi.
  10. Pameran TA TEUK AMARASI, adalah pameran yang mengangkat Tenunan Amarasi serta cetakan motif dan cap dari daerah Amarasi.
  11. Pameran – Pameran Etnik UPT Museum Daerah Nusa Tenggara Timur 2010 – 2012. Sponsor The Ford Foundation

Latar Belakang

Nusa Tenggara Timur adalah sebuah provinsi kepulauan yang terdiri dari ratusan pulau yang didiami oleh 22 etnis dengan keanekaragaman cirri fisik, bahasa, latar belakang sejarah, adat istiadat, agama dan lingkungan fisik.

Sejak menjadi provinsi pada tahun 1958, sering dengan langkah pembangunan, Pemerintah daerah terus membina dan mengelola keragaman menjadi kekuatan dan kebanggaan. Pemerintah kolonial Belanda secara politis telah membagi daerah Nusa Tenggara Timur menjadi wilayah Katolik (pulau Flores, Solor, Lembata, Kabupatn Belu dan Kabupaten TTU) dan wilayah Protestan (Kabupaten Kupang, Pulau Rote, Pulau Sabu, dan Pulau Sumba). Pada akhir abad ke 19 para Pelaut Makassar mencari trepang hingga daerah Nusa Tenggara Timur dan menyebarkan Islam di pesisir utara Flores hingga Alor. Namun perjalan dari generasi ke generasi kerukunan bertumbuh subur karena pemeluk Kristen maupun Islam adalah saudara secara biologis. Semua memiliki rumah adapt, tradisi, bahasa, tenunan, mata pencaharian yang sama. Masyarakat Nusa Tenggara Timur juga termasuk warga keturunan Tionghoa yang sudah lama datang dan menetap serta kawin – mawin dengan suku – suku lain.

Pada dua decade terakhir ketika pendidikan dan sarana transportasi berkembang sehingga terbuka peluang bagi masyarakat untuk saling kontak dan berinteraksi, masyarakat (khususnya masyarakat kota) mulai bertumbuh menjadi masyarakat heterogen maka konflik-konflik internal mulai nampak. Kelompok – kelompok suku dan agama mulai dibawa dalam berbagai kepentingan seperti politik menimbulkan rasa curiga antara kelompok.

Museum sebagai institusi kebudayaan dapat memainkan peran penting untuk menjembatani keanekaragaman suku – suku dan agama mulai dibawa dalam berbagai kepentingan seperti politik menimbulkan rasa curiga antar kelompok.

Museum sebagai institusi kebudayaan dapat memainkan peran penting untuk menjembatani keanekaragaman suku-suku dan berbagai kelompok di daerah Nusa Tenggara Timur. Melalui benda-benda budaya yang dipamerkan, masyarakat dapat menyaksikan, memahami keanekaragaman, menerima dan menghargai perbedaan-perbedaan. Harapan kita agar museum orang dapat merasa bangga dan merayakan keanekaragaman.

Karena dasar pikiran inilah Ford Foundation hingga saat ini telah mendanai sejumlah Pameran Etnik yang mengangkat keunikan budaya beberapa kelompok etnik di Nusa Tenggara Timur termasuk etnis Tionghoa.

PAMERAN-PAMERAN ETNIK 2010-2012

Patung Timor

Pameran ini dimaksudkan untuk mengangkat dan memberi penghargaan pada seniman local yang telah mempertahankan identitas budaya daerah. Karya-karya mereka telah mengisi berbagai museum dan art gallery di berbagai tempat di dunia namun para pembuatnya tidak dikenal. Diharapkan melalui pameran museum seniman dikenal, dihargai dan mendapat menfaat ekonomis yang setimpal.

Pencari Madu dari Amfoang

Pulau Timor sejak zaman dahulu dikenal karena hasil cendana dan madu. Saat ini cendana hanya menjadi kebanggan masa lampau dan kalu tidak dilestarikan, hanya menjadi cerita bagi anak cucu. Hal ini yang sama terjadi pada pencari madu yang secara tradisional hidup dari madu. Pameran ini mengangkat pengetahuan dan kearifan masyarakat kawasan hutan dengan tantangan yang dialami. Isu-isu tentang kerusakan hutan dan alih fungsi hutan serta berbagai keluhan masyarakat tradisional akan terekam dalam pameran ini.

Jagung, Makanan, Ritual dan Seni

Masyarakat Nusa Tenggara Timur adalah masyarakat pemakan jagung. Sebelum padi dikenal, jagung merupakan makanan utama. Setelah diperkenalkan padi pada sekitar abad ke 18, perhatian terhadap jagung mulai perlahan berkurang karena padi dianggap sebagai makanan yang lebih bernilai tinggi dan pantas disajikan kepada para tamu dan raja. Namun kondisi alam Nusa Tenggara Timur yang curah hujannya rendah serta topografi yang berbukit-bukit lebih cocok untuk tanaman jagung.
Pameran ini mengangkat jagung dari makanan, ritual amapai aspek seni yang menunjukkan bahwa jagung tidak terpisahkan dari masyarakat NTT. Pameran ini diharapkan dapat mengembalikan cara pandang yang benar terhadap jagung sebagai makanan yang pantas dan apa bila diolah dengan baik akan menjadi kebanggan semua orang.

Perempuan Pulau Ternate

Pulau Ternate adalah sebuah pulau kecil yang merupakan bagian dari kabupaten Alor – NTT, berbeda dari pulau Ternate diwilayah Ternete bagian Maluku Utara. Kaum perempuan di pualu ini adalah penenun yang menghasilkan tenunan yang indah. Dapat dikatakan bahwa perempuan dipualau ini lebih bekerja keras dari kaum pria yang pekerjaan sehari-harinya adalah bertani dan mencari ikan. Setelah menenun kaum perempuan sendiri mendayung perahu menuju pasar-pasar mingguan di pulau Alor untuk menjual tenunan mereka. Uang hasil tenunan dibelanjakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga dan mereka pulang pada sore harinya. Pengunjung dapat melihat dan menghargai keringat kaum perempuan untuk kelangsungan hidup keluarga mereka.

SEBANYAK 80-90 persen dari 355 item yang dipajang dalam museum ini merupakan hasil koleksi seorang warga keturunan Cina di Kalabahi, Toby Retika. Ketika dia memutuskan untuk meninggalkan Kalabahi, seluruh hasil koleksinya itu diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Alor pada September 2003.

Misalnya, ada perahu naga, benda yang sangat penting dan sakral, yang menjadi representasi nenek moyang yang datang menggunakan perahu dan sekaligus tempat pelaksanaan upacara adat. Ada senjata busur dan panah, tenunan daerah, serta koleksi unggulannya, yakni moko.

Inilah museum, barangkali tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia, yang satu-satunya berambisi mengoleksi moko dalam jumlah banyak. Sudah ada satu moko paling besar dan 23 moko kecil. Berharap pada potensi budaya suku-suku di Alor, museum ini berambisi mengoleksi moko hingga 1.000 atau lebih. Orang Alor menyebut moko sebenarnya tidak lain untuk menamai nekara perunggu pada umumnya.
Di museum ini satu-satunya moko yang paling besar tadi malah disebut moko nekara, sedangkan moko-moko kecil lainnya diberi nama berdasarkan ornamen atau hiasannya. Moko nekara merupakan salah satu hasil kebudayaan perundagian (zaman perunggu) yang digunakan masyarakat sebagai alat upacara. Nekara bertipe Heger I ini ditemukan oleh Simon J Oil Balol di dalam tanah di Desa Kokar, Alor Barat Laut, berdasarkan petunjuk mimpi. Jeskiel Nanggi, Kepala Museum Seribu Moko, mengatakan, berdasarkan petunjuk mimpi itu, saat bangun keesokan harinya, tepatnya 20 Agustus 1972, Simon menggali di tempat yang telah dibayangkan dalam mimpi. “Ternyata mereka menemukan moko nekara ini, lalu diangkat dengan sebuah upacara adat,” katanya.
Berat nekara itu belum pernah ditimbang. Dari fisiknya, moko ini didesain menyerupai gendang atau tambur menurut sebutan masyarakat Alor. Bagian atasnya datar atau rata, di tengah-tengahnya gambar bintang, dan di tepi diberi pemanis berupa empat patung kodok (tetapi satu di antaranya telah hilang). Di bagian badan terdapat empat telinga, yakni dua di bagian kanan dan dua di kiri. Jeskiel tidak bisa menjelaskan makna moko dalam desain seperti itu. Moko nekara ini digunakan untuk pesta-pesta adat dan dijadikan semacam rebana atau induk gendang. Setelah penemuan di Kokar tadi, sekitar tahun 1976, nekara dibawa ke Kupang untuk dipajang di Museum Negeri Kupang. Akan tetapi, ketika Pemerintah Kabupaten Alor berniat membangun museum khusus menempatkan moko sebagai item unggulannya, nekara dibawa pulang ke Kalabahi per Februari 2004.

Selain moko nekara yang ditempatkan di tengah-tengah museum, di sekitarnya dipajang pula secara berderet 23 moko ukuran kecil, setinggi tiga atau empat jengkal orang dewasa. Misalnya, ada moko “pung lima anak panah” yang biasanya digunakan sebagai mas kawin dalam budaya Pantar.

Ada moko jawa telinga utuh cap bintang dan cap satu bunga, ada moko belektaha cap bengkarung, ada moko malayfana palili dari Alor Timur, moko makassar bunga kemiri tangan panjang, moko aimala kumis besar. Sisanya, antara lain, moko cap naga, bulan, paria, dan cap rupa-rupa simbol lainnya.

Hampir pasti tidak ada masyarakat adat di negeri ini yang mengoleksi moko dalam jumlah banyak seperti suku-suku di Alor. Dalam sejarah peradaban suku-suku di sini, moko digunakan sebagai belis, atau mahar, atau mas kawin. Hingga kini, adat menjadikan moko sebagai mahar masih terus berlangsung.

Dalam masyarakat adat Pantar Barat, misalnya, kata Jeskiel, kalau yang meminang adalah anak raja atau keturunan raja, darah biru, tokoh terhormat di masyarakat, dan gadis yang dipinang pun demikian, mas kawinnya berupa belasan moko. “Moko adalah simbol kehormatan dan kesetiaan cinta,” tutur Jeskiel.

seribu moko2Sampai saat ini masih banyak suku yang menyimpang moko itu untuk kepentingan adat perkawinan. Namun, karena sudah banyak juga yang dibawa ke luar dari Alor oleh para pemburu barang antik, terutama ke Denpasar dan luar negeri, diperkirakan hanya suku-suku tertentu yang memiliki.

Lima wilayah potensial yang menyimpan moko ialah Alor Timur, Alor Selatan, Alor Barat Daya, Alor Barat Laut, dan Pantar. Klan atau suku yang masih menetapkan mas kawin dengan moko misalnya Suku Darang (Raja), Tawaka, Kalondama, Kawali, dan Balomasali. Tinggi rendahnya status sosial dinilai oleh banyaknya moko yang disanggupi saat membayar mas kawin. Seorang anak keturunan raja ketika ditetapkan membayar, misalnya, 10 moko, tetapi kenyataannya menyanggupi lima buah dan selebihnya disubstitusikan dengan uang akan berbeda penilaiannya.

Kata Jeskiel, moko memang diwajibkan sebagai mas kawin. Namun, kini sudah ada keputusan para tetua adat di Alor, paling tinggi hanya dua moko yang diwajibkan untuk dipenuhi seorang pria sebagai mas kawin. Tidak boleh kurang, boleh lebih, tetapi tidak diwajibkan untuk lebih dari dua moko. Sebenarnya, keputusan itu dapat menguntungkan Museum Seribu Moko jika gesit memburunya ke berbagai wilayah. Hal itu agar warga yang menyimpan lebih dari dua atau tiga moko dapat menyerahkan kelebihannya itu kepada museum moko karena dikhawatirkan akan diselundupkan ke luar daerah. Moko penting karena merefleksikan jalinan asmara, ikatan cinta antara seorang pemuda dan gadis dari berbagai suku di Alor. Jika ingin mendalami adat perkawinan Alor, saksikan moko di museum.

Sajikan 22 Ribu Kekayaan Laut

Museum Bahari yang didirikan di Kabupaten Ende,sejak 14 Agustus 1996 lalu saat ini menyajikan 22 ribu kekayaan laut. kekayaan yang ada di museum ini diantaranya lebih dari 1.000 jenis Spesies kerang dan 150 jenis Spesies ikan. jumlah Spesies ini mengalami perkembangan karena sebelumnya hanya terdapat sekitar lima ribu koleksi kekeyaan laut Demikian disampaikan Pater Gabriel Goran,SVD,Penggagas,Pendiri dan penggelola museum Bahari Ende

Pastor kelahiran 14 April 1941 ini mengatakan,museum ini memiliki nilai edukatif yang tinggi karena dengan memperkenalkan kekayaan laut kepada generasi muda,khususnya pelajar,maka para pelajar dapat memahami berbagai jenis kandungan/habitat laut serta sumber gizi tinggi yang dimilikinya. Pater Gabriel mengatakan,dia mulai mengoleksi kekayaan laut sejak tahun 1981.Ia lalu mengajukan idenya pada awal tahun 1996 kepada Pemda Ende untuk mendirikam Museum Bahari. Idenya ini mendapat tanggapan baik,dan Pemda bersedia menyiapkan lahan di paru-paru Kota Ende untuk didirikan Museum tersebut.

Pater Gabriel menyampaikan filosofinya yang menjadi motifasi ia mencintai laut,”Semakin Anda menyelam di lautan, anda akan dapat menikmati kedalamam cinta Tuhan. Dan cinta Tuhan menyembuhkan”

Ia memberi contoh,ikan hiu jenis Centoporus yang bisa hidup pada kedalaman 600-1.000 meter di dasar laut dalam sebuah ruangan tanpa udara. Dalam hati ikan hiu tersebut terdapat kandungan minyak yang terbukti dapat menyembuhkan berbagai penyakit kronis.

Ruangan Museum itu tampak keindahan aneka koleksi.Tetapi ruangan kelihatan tidak cukup lagi karena semakin banyak koleksi yang kian berhimpitan. Hal ini di benarkan Pater Gabriel,karena jumlah koleksi terus bertambah.

Iapun mengaku sudah terpikirkan untuk mengubah setingan tempat di Museum itu menjadi lebih luas,termasuk rencana melengkapi tempat Museum ini dengan menyediakan taman baca, terutama buku pengetahuan Bahari yang semakin jarang di temui. Kemudian ia juga berpikir agar di pinggir Museum di kelilingi kolam dengan ikan laut di dalamnya sehingga Museum seakan-akan berada di tengah lautan. “Tapi ini hanya ide gila saya saja,karena hal itu membutuhkan biaya yang sangat besar.”Kata Pater Gabriel sambil tersenyum.

Koleksi Museum Antara lain:

  • Pisces (Ikan)
  • crustacea (Udang,Kepiting,Lobster)
  • Mollusca (Kerang Laut)
  • Enchinodermata (Teripang Bulu Babi)
  • Reptilia (Penyu laut)
  • Mamalia (Ikan Paus)
  • Algae (Rumput Laut yang sudah di olah)

Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur ternyata aslinya bernama Pulau Ular. Dalam bahasa Lio, Nusa Nipa. Nama Flores ternyata pemberian orang Portugal ketika pertama kali datang ratusan tahun silam. Toh dari pulau yang sayup dari Jakarta ini, keindonesiaan sempat dibina.

Makna sejarah Pulau Flores itu dituangkan dalam bentuk lukisan berjudul “Nusa Nipa” pada sebuah tripleks. Lukisan itu masih terpampang sebagai bagian dari jenis koleksi di Museum Bikon Blewut di Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lukisan karya Frater Goris Leki (1993) itu berwarna dasar biru muda. Bentuknya berupa gambar pulau yang dililit seekor ular mengusung sejumlah perhiasan emas, lalu diterangi cahaya matahari.

Almarhum Pater Piet Petu SVD yang meminta Frater Leki untuk melukisnya pada saat itu. Maksudnya agar secuil sejarah Pulau Flores dapat dengan mudah diketahui dan diingat terutama oleh generasi muda.

“Di daratan Flores, kalau orang Manggarai menyebut pulau ini dengan Nuca Nepa Lale (Pulau Ular yang Indah). Sementara orang Ngada dan Ende menyebut Nusa Nipa. Tapi, orang Larantuka (Kabupaten Flores Timur) menyebut dengan Nuha Ula Bungan (Pulau Ular yang Suci). Semua sebutan ini turut dituangkan dalam lukisan agar orang lebih mudah memahami dan mengingatnya,” ungkap Staf Harian Museum Bikon Blewut, Endy Paji (43). Warga Desa Nita, Kecamatan Nita, Sikka, ini secara lancar dapat menjelaskan tiap jenis koleksi kepada para pengunjung tanpa harus membaca teks atau dokumen museum.

Adapun nama Pulau Nusa Nipa yang artinya Pulau Ular diberikan karena beberapa alasan. Yang pertama, di Pulau ini banyak dijumpai ular. Kedua, nenek moyang pulau ini mempunyai keyakinan, jika seseorang bertemu ular atau didatangi ular, maka ia akan memperoleh rezeki.

Pertimbangan lainnya karena ular dianggap sebagai dewa atau titisan arwah leluhur oleh marga tertentu. Oleh karena itu, sampai sekarang masih dipegang kepercayaan jika ular memasuki rumah atau berhenti di ladang, maka oleh tuan rumah atau pemilik ladang tak akan diusir, dilukai, atau dibunuh. Sebaliknya, ular itu akan dibentangkan sarung serta dihidangkan makanan berupa telur dan beras mentah.

Jenis koleksi unik lainnya di museum ini adalah lukisan pahlawan revolusi Jenderal Achmad Yani yang meninggal akibat Gerakan PKI tanggal 30 September 1965. Lukisan itu selesai dibuat detik-detik menjelang kematian Achmad Yani. Lukisan bergambar Sang Jenderal dengan baju kedinasan hijau itu merupakan karya almarhum Frater Bosco Beding pada tanggal 30 September 1965. Bosco Beding membuat lukisan itu lewat foto Achmad Yani. Sementara gambar Achmad Yani diambil ketika dia memberikan ceramah di Seminari Tinggi St Paulus Ledalero tanggal 25 September 1965. Lukisan itu sendiri selesai dibuat tanggal 30 September malam. Namun, tak lama setelah itu, tanggal 1 Oktober dini hari, diberitakan lewat RRI bahwa jenderal itu telah dibunuh pada peristiwa 1965.

Ada pula jenis koleksi kuno yang lain berupa fosil fauna, yaitu fosil Stegodon, sejenis gajah raksasa yang ditemukan di Ola Bula, Kabupaten Ngada, Flores, pada bulan Desember 1956 oleh Tim Ekspedisi Verhoeven.

Fosil ini dinamakan Stegodon Trigonocephalus Florensis karena ditemukan di Flores. Diperkirakan hewan ini telah hidup di Flores pada periode 400.000 tahun—10.000 tahun Sebelum Masehi (SM). Selain di Ola Bula, fosil juga ditemukan di Mengeruda, Matamenge, dan Boaleza di Ngada. Lokasi penemuan itu dari satu titik ke titik yang lain diperkirakan seluas 10 kilometer.

Namun amat disayangkan, potongan atau pecahan fosil gajah raksasa ini seluruhnya tak dapat disaksikan umum. Karena keterbatasan ruang, potongan fosil gajah itu terpaksa sebagian besar ditaruh berjejalan di dalam peti atau kotak penyimpanan. Puluhan ribu jenis koleksi museum ini sampai sekarang hanya disimpan dalam satu ruangan berukuran sekitar 99 meter persegi.
Fosil manusia raksasa

Pada 11 Juli 1998, Tim Ekspedisi Museum Ledalero yang dipimpin Piet Petu SVD dan Ansel Doredae SVD menemukan fosil tengkorak manusia raksasa (a mythical gigantic skeleton) di Lia Natanio, Ngada, yang terletak 12 kilometer dari lokasi penemuan fosil Stegodon di Ola Bula. Fosil itu kini sedang dipelajari atas dasar hipotesis bahwa besar kemungkinan fosil tengkorak tersebut mempunyai kaitan historis dengan fosil gajah Stegodon.

Theodor Verhoeven SVD pada 1954 juga menemukan fosil manusia purba penghuni goa di Liang Toge, bagian utara Kabupaten Manggarai yang berbatasan dengan Riung, Ngada. Fosil yang ditemukan jenis manusia kerdil. Usia diperkirakan di atas 40 tahun dengan tinggi badan cuma 146 sentimeter. Usia fosil itu diperkirakan 300.000 tahun SM.

Penemuan ini dinilai penting bagi ilmu pengetahuan internasional karena merupakan satu-satunya fosil manusia terlengkap di dunia. Profesor Huizinga dari Universitas Utrecht Belanda dan Prof Koeningswald menyimpulkan bahwa fosil ini berasal dari jenis manusia ras Negrito yang pernah berdiam di Flores. Akan tetapi, karena jenisnya lebih tua, maka disebut Proto Negrito. Artinya manusia yang lebih tua dari Negrito.

Karena ditemukan di Flores, fosil itu kemudian disebut Proto Ngerito Florensis. Namun, fosil manusia Proto Negrito Florensis masih tersimpan di Universitas Utrecht. Dengan demikian, diduga kuat Flores telah dihuni manusia sejak 300.000 tahun SM.

Keunikan lainnya, di museum ini juga tersimpan alat-alat kebudayaan Dongson, berbahan perunggu. Peninggalan itu sebagiannya diperoleh dengan cara ganti rugi dan sebagian melalui penelitian. Alat perunggu yang paling istimewa adalah keris perunggu. Keris ini merupakan satu-satunya yang pernah ditemukan di Indonesia. Keris ini ditemukan tahun 1952 oleh Pater Mommersteeg SVD di daerah Naru, Ngada. Keris itu adalah milik suku Naru, yang tak lagi digunakan sebagai senjata, melainkan untuk upacara keagamaan.

Koleksi langka lainnya, temuan tahun 1954, berupa tiga buah kapak perunggu di Kampung Guru Lama oleh Pater Darius Nggawa SVD dan Pater Frans Nurak SVD. Sayang, kapak yang pernah dimiliki museum itu diketahui telah dijual arkeolog Verhoeven ke Museum Bassel, Swiss.

Nama museum Bikon Blewut diturunkan dari syair adat penciptaan semesta alam atau buana, versi Krowe-Sikka yang berbunyi Saing Gun Saing Nulun/ Saing Bikon Saing Blewut/ Saing Watu Wu’an Nurak/ Saing Tana Puhun Kleruk/ De’ot Reta Wulan Wutu/ Kela Bekong Nian Tana Lero Wulan. Maknanya, sejak zaman purbakala, ketika bumi masih rapuh, ketika batu masih merupakan buah muda, ketika tanah masih seperti kuntum yang baru muncul, Tuhan di angkasa mencipta bumi, matahari, dan bulan.

Dengan demikian, konsep nama Bikon Blewut menunjukkan kepurbaan atau ketuaan dari beberapa jenis koleksi yang dikumpulkan dalam museum ini. Pencetus nama Bikon Blewut adalah Pater Piet Petu SVD, kurator museum periode 1983-1998. Saat ini kuratornya dipegang Pater Ansel Doredae SVD. Oleh Seminari Tinggi St Paulus Ledalero, lembaga ini disebut juga sebagai Museum Misi dan Budaya karena mayoritas jenis koleksi yang dilestarikan merupakan hasil karya etnografis para misionaris SVD.

Keberadaan Museum Bikon Blewut yang menyimpan sejumlah kekayaan budaya Flores ini tak lepas dari peran para misionaris SVD pada awal abad ke-19. Umumnya imam SVD merupakan ahli di bidang sejarah, bahasa, serta kebudayaan (etnolog dan antropolog). Misionaris SVD yang turut mengambil bagian dalam penemuan dan pengumpulan kekayaan budaya Flores antara lain Paul Arndt SVD, Theodor Verhoeven SVD, Guisinde SVD, Jilis Verheijen SVD, dan Paul Schebesta SVD.

Sepintas orang mungkin tak menyangka bahwa di lembaga pendidikan tinggi ini terdapat museum yang kaya akan jenis koleksi dengan nilai sejarah tinggi. Belum lagi letak museum yang jauh di bagian timur, serta tak ada petunjuk yang dipasang di tempat-tempat strategis mengenai keberadaan museum.

“Sebenarnya banyak sekali jenis koleksi yang masih disimpan. Namun sayang, karena kekurangan tempat, tak semua jenis dapat dipamerkan. Seperti fosil gajah yang diperkirakan usianya sudah ribuan tahun hanya sebagian yang dipamerkan,” ungkap Bapak satu anak ini.

Dengan mencermati sekian banyak jenis koleksi yang khususnya merupakan kekayaan kebudayaan Flores, museum ini niscaya merupakan aset nasional yang amat berharga, terutama tentang pluralitas kita.

Lukisan Jenderal Achmad Yani yang sederhana tadi, salah satu bukti saja, bahasa sejarah nasional dan keindonesiaan kita ternyata ikut diolah dan dibina dari museum ini.

Lokasi Museum

  • Seminari Tinggi St. Paulus, Ledalero
  • Telp. : (0382) 21893 (0382) 21893 Faks. : (0382) 21892

Transportasi

  • Jarak tempuh dari : Bandara ke Museum : 12 Km
  • Pelabuhan ke Museum : 11 Meter
  • Terminal ke Museum : 10 Km

Koleksi

Koleksi Museum Bikon Blewut berupa : Benda-benda Budaya Masa Pre-Historis (Neolithicum), Benda-benda Porselin dan Mata Uang Zaman V.O.C, Alat-alat Musik dan Tarian Tradisional Flores dan NTT, Hasil-hasil Seni Tenun-Ikat (Flores-Sumba-Timor), Benda-benda Hasil Kerajinan Budaya, Benda-benda Koleksi Budaya Masyarakat di luar NTT, Benda-benda Budaya-Inkulturatif (Misi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *