Potensi Kehutanan

Perkembangan kehutanan mampu mendukung pembangunan ekonomi produktif melalui pengembangan secara proposional kawasan hutan produksi. Sebaran kewasan produksi mnurut jenisnyatersebar pada Kabupaten/Kota sebagai berikut: (i) Kawasan pruntukkan hutan produksi tetap dengan luas ± 258.845 Ha; (ii) Kawasan peruntukkan hutan produksi yang dapat dengan luas ± 206.747 Ha; (iii) Kawasan peruntukkan hutan produksi yang dapat dengan luas ± 103.889 Ha dan (iv) kawasan hutan rakyat tersebar di seluruh Kabupaten/Kota. Luas kawasan hutan Nusa Tenggara Timur sesuai surat keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 423/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juni 1999 sebesar 1.808.900 Ha, dengan rincian sebagaimana Tabel.

Potensi Khutanan di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Sumber : Nusa Tenggara Timur Dalam Angka 2013.

Kawasan hutan sebagaimana Tabel 1.19 diklasifikasikan menurut fungsi pokok sebagaimana dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tenatang kehutanan, adalah: (i) Hutan Konversi 101.830 Ha (5,63%), hutan lindung 731.220 Ha (40,42%), dan htan produksi 625.610 Ha (34,58%). Untuk pengelolaan yang lebih terpadu maka ditetapkan wilayah KPH. Sesuai SK Menteri Kehutanan No.591/Menhut-II/2010 tentang Penetapan Wilayah KPH di NTT telah ditetapkan 22 Unit KPH dengan total luas wilayah kawasan hutan pengelolaan 1.247.962 Ha.

Sampai dengan tahun 2013 telah dibentuk 3 (tiga) unit KPH yaitu KPHL model Mutis-Timau, KPHP Model Rote-Ndao dan KPHP model Alor. Kawasan Hutan Raya (TAHURA). Pengelolaan dan pelestarian Kawasan Hutan Raya (TAHURA) Prof. Ir.Herman Johanes di Kabupaten Kupang dilakukan melalui kegiatan rehabilitasi dengan melibatkan peran serta masyarakat sekitar TAHURA.

Untuk menjga kelestarian kawssan hutan telah dilaksanakan pembangunan kehutanan berupa kegiatan Penataan Batas Kawasan Hutan, Pengembangan Tanaman Cendana, Uji Coba Pembuatan Agroforestry, Rehabilitasi Kawasan Hutan Mangrove, Uji Coba Stek Pucuk Jati, Pembangunan Hutan Berbasis Gender, Pengembangan Tanaman Kayu Merah, Pembuatan Sarana Penyuluhan berupa persemaian tanaman kehutanan di Maupoly, Perencanaan Pengelolaan DAS dan peningkatan Produksi Hasil Hutan Non Kayu dan Hasil Hutan.

Hasil produksi kayu rimba campuran, jati, mahoni, kayu merah, kayu snagon, kemiri, gemelina dan kapuk yang berjumlah 31.942 m3 tahun 2009 meningkat menjadi 35,035 Tahun 2012, sedangkan produk non kayu yang mnonjol yaitu, asam, kemiri, cendana, kayu papi, dan madu.

Cendana sebagai salah satu potensila produksi kehutanan, pengembangannya terus dipacu sebagai bagian dari pelaksanaan tekad memulihkan keharuman cendana. Cendana merupakan tanaman endemic yang telah berkontribusi signifikan bagi daerah ini ejak jaman sebelum penjajahan sampai dengan era sebelum tahun 1990. Akibat kebijakan eksplotasi yang tidak terencana menyebabkan penurunan sebesar 85%. Untuk mewujudkan tekad tersebut telah diterbitkan Peraturan Daerah NTT Nomor 5 Tahun 2012 tentang pengelolaan cnedana.

Selanjutnya dari aspek perencanantelah disusun master plan dan rencana aksi pengembangan dan pelestarian cendana. Pengembangan cendana dilaksanakan dengan 2 cara yaitu pengembangan Hutan Tanaman Cendana (HTC) dalam kawasan hutan dan Gerakan Cendana Keluarga (GCK) pada lahan-lahan milik masyarakat. Penanaman cendana tahun 2009-2012 mencapai 536.645 bibit yang tersebar di Kota Kupang, Kupang, TTS, TTU, Flores Timur, Sumba Timur, Sikka, Alor,Lembata, Ngada, Nagekeo, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Manggarai, Sabu Raijua dan Belu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *