Sejarah RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang

rsud-kupang

Kehadiran Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. W. Z. Johannes tak lepas dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Cikal bakal berdirinya rumah sakit ini berawal pada masa penjajahan Belanda. Kupang pada saat itu merupakan pusat pemerintahan dan juga ekonomi oleh Belanda memerlukan adanya sebuah fasilitas kesehatan untuk menunjang personil dalam melakukan agresi di Timor.

Pada tahun 1941 Pemerintah Belanda mendirikan sebuah Rumah Sakit Darurat Kecil di Bakunase atau tepatnya di SD Negeri I Bakunase saat ini. Selain memberi layanan kesehatan kepada prajurit Belanda, juga memberikan pelayanan kesehatan untuk warga Kupang. Dengan keterbatasan sumber daya, seperti kurangnya tenaga medis, peralatan medis namun Rumah Sakit Darurat Kecil, sangat membantu masyarakat dan pemerintah Belanda saat itu.

Untuk memperlancar proses pelayanan kesehatan, Pemerintah Belandang mendatangkan seorang dokter yakni Dokter Habel. Berkat pelayanannya yang sungguh-sungguh, ia memperoleh simpati yang tinggi dari warga Kupang.

Setelah setahun berjalan, tepatnya di Tahun 1942, terjadi peralihan kekuasan dari Pemerintahan Belanda ke Pemerintahan Jepang. Sejak saat itu, Jepang menguasai Pulau Timor termasuk pemerintahan diambilalih oleh Jepang, termasuk keberadaan Rumah Sakit. Kendati demikian, Jepang tetap memanfaatkan semua fasilitas dan tenaga medis dari pihak Belanda termasuk Dokter Habel. Pelayanan kesehatan tetap berjalan baik.

Dalam perjalanannya, Rumah Sakit darurat Kecil ini sempat di pindahkan ke Naikoten atau tepatnya di depan rumah Jabatan Kapolda NTT, karena dinilai sangat strategis dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Namun, hal itu tidak berlangsung lama dan dikembalikan lagi ke Bakunase.

Pada bulan Agustus 1945, peta politik dunia berubah. Amerika mengirim bom ke Kota Nagasaki dan Hirosima sehingga melulantak dua kota tersebut. Jepang menderita kekalahan. Indonesia akhirnya memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Secara de facto Indonesia mengatur pemerintahannya sendiri, sehingga Rumah Sakit Darurat kecil beralih ke pemerintah Indonesia. Selanjutnya pada tahun 1952 atas prakarsa Residen Mr. Amalo, Rumah Sakit Darurat Kecil di kawasan Bakunase di pindahkan ke bekas gedung Kesatuan Brigadir Mobil(BRIMOB) yang terletak dikawasan Oetete (Sekarang RSUD Prof. DR. W. Z. Yohannes Kupang) dengan nama Rumah Sakit Kuanino. Pertimbangan pemindahan lokasi ini agar mudah dijangkau masyarakat Kupang. Pada tahun 1952 Kepala Rumah Sakit Kuanino mengalami pergantian dari Dokter Habel kepada Dokter Oustrehesc yang juga seorang berkebangsaan Belanda. Pada tahun 1955 terjadi pergantian kepala Rumah Sakit dari Dr. Oustrehesc kepada Dokter De Yongen yang juga seorang berkebangsaan Belanda.

Pata tanggal 5 Juli 1959 Presiden RI Soekarno mengeluarkan dekrit, Negara Republik Indonesia bertekad kembali untuk melaksanakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen, sehingga pada saat itulah segala kegiatan Rumah Sakit Kuanino diambil alih Pemerintah Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur dengan mendapat bantuan dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Pada tahun 1960 terjadi pergantian Kepala Rumah Sakit Umum Kuanino dari Dr. De Yongen kepada Dr. Medle Cop yang juga berkebangsaan Belanda. Dia memimpin Rumah Sakit Umum Kuanino sampai tahun 1962. Perjalan Rumah Sakit ini terus berkembang berdasarkan tuntutan kebutuhan masyarakat dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Nama Rumah Sakit Kuanino ini kemudian atas kesepakatan DPRD Tingkat I NTT pada tanggal 12 November 1970 diganti dengan nama seorang pahlawan nasional bangsa Indonesia asal NTT yang berkecimpung di bidang kedokteran yaitu Prof. DR. W. Z. Yohannes. Kemudian nama Rumah Sakit Umum tersebut dikenal dengan nama “Rumah Sakit Umum Prof. DR. W. Z. Yohannes Kupang”.

  1. Nama-Nama yang pernah menjabat Direktur RSU Prof. Dr. W. Z. Yohannes Kupang :
  2. Dr. habel 1941 s/d 1952
  3. Dr. Ouster Heeg 1952 s/d 1955
  4. Dr. De Yongen 1955 s/d 1960
  5. Dr. Medle Cop 1960 s/d 1963
  6. Dr. Hadi Triyadi 1962 s/d 1971
  7. Dr. Ben Mboi, MPH 1971 s/d 1974
  8. Drg. Ny. B. Widya 1974 s/d 1978
  9. Dr. H. Fernandez 1978 s/d 1979
  10. Dr. Hamid Malewa 1979 s/d 1985
  11. Dr. Hendrik Roman Klaran 1985 s/d 1988
  12. Dr. Husein Pancratius R. 1988 s/d 2001
  13. Dr. E. H. J. Mooy 2001 s/d 2006
  14. Dr. Y. A. Mitak, MPH 2006 s/d 2008
  15. Dr. Alphonsius Anapaku, Sp.OG 2008 s/d sekarang

Sumber : Timor Express Kamis, 7 Mei 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *