71

71

Berita Online

Berita Online (12)

Kupang - Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus selalu terjamin dari aspek kuantitas maupun kualitas.

Hal ini yang menjadi acuan bagi Bengkel Appek untuk menggelar diskusi jejaring pangan dan gizi, bersama Bappeda Provinsi NTT, Dinas Pertanian Provinsi NTT, DPRD Provinsi, Cis Timor, dan lembaga lainnya, di Sotis Hotel, Selasa (30/5).

Koordinator Umum Bengkel Appek Vinsensius Bureni menjelaskan kondisi pangan di NTT menunjukan skor pola pangan harapan (PPH) yang masih rendah. Berada di peringkat 32 dari 33 provinsi di Indonesia pada tahun 2012.

Kegagalan ketahanan pangan disebabkan oleh ego sektoral, perencanaan tanpa data dan lokasi, pembangunan belum sesuai karakteristik wilayah, dan kurangnya sinergitas antara komponen utama.

Kondisi ini yang kemudian berkontribusi pada tingkat kemiskinan di NTT yang mencapai 19,82 persen. Dan data balita gizi kurang di NTT mencapai 33,6 persen pada tahun 2013 atau peringkat 33 dari 33 provinsi, sehingga berdampak pada pertumbuhan bayi dan balita.

Ia menambahkan, melihat kenyataan di atas, SNV bekerja sama dengan Bengkel Appek NTT, YPPS melakukan advokasi dalam menyikapi ketahanan pangan dan gizi yang terjadi di NTT dengan melibatkan pemangku kepentingan di Provinsi NTT.

Sementara itu, anggota DPRD Provinsi NTT, Winston Rondo menjelaskan, masalah utama yang dihadapi adalah masalah anggaran yang masih didominasi pembangunan infrastruktur jalan, jembatan dan lainnya.

Bappeda sangat kuat dalam mengawasi masalah pangan dan gizi, hanya masih kurang dalam kerja atau aksi-aksi nyata. Oleh karena itu, berbagai pihak harus duduk bersama dan membahas program yang benar-benar sampai kepada masyarakat menengah kebawah.

Selain itu, Dinas Kesehatan dan Pertanian harus terus bekerja sama dalam menerangi masalah gizi. Pasalnya, kasus yang terjadi banyak yang sudah terkena gizi buruk baru kemudian yang disalahkan adalah dinas kesehatan. Padahal seharusnya dilihat factor penyebabnya, seperti kesanggupan keluarga memberi asupan gizi pada anaknya, dan bagaimana cara orangtua mengolahkan makanan menjadi makanan bergizi.

Ia berharap dapat ditemukan konsep kolaborasi yang bersifat strategis dan teknis untuk mewujudkan kondisi pangan dan gizi dari aspek ketersediaan, akses pemanfaatan, dan berkelanjutan di NTT. 

Sumber : Timor Express, Senin 5 Juni 2017

 

KUPANG – Pemerintah Kota Kupang dan Dinas Pariwisata Kota Kupang menggelar rapat koordinasi antara pemerintah Kota Kupang dan sektor pendukung pariwisata se-Kota Kupang. Kegiatan ini mengangkat tema “Membangun Pariwisata Kota Kupang yang Memikat,” bertempat di Hotel Naka, Rabu (31/5).

Wakil Wali Kota Kupang, Herman Man dalam sambutannya mengatakan tempat wisata di Kota Kupang perlu dibenahi. Berbagagai fasilitas pendukung perlu diperbaiki. “Seperti Taman Nostalgia, dengan menata kembali atau ditambah dengan objek-objek baru yang bernuansa NTT, sehingga para turis datang ke Kota Kupang mereka benar-benar merasakan suasana NTT khususnya Kota Kupang,” katanya.

Sementara itu, Ketua PHRI NTT, Fredy Ongkosaputra mengatakan, hotel-hotel di Kota Kupang sudah memenuhi syarat dan sudah dikategorikan hotel berbintang. Ia menambahkan, PHRI telah membuat majalah berisi destinasi wisata yang dapat dikunjungi. Majalah yang dicetak ini sebanyak 10.000 eksemplar dan akan dicantumkan atau dipromosikan pula nama travel dan hotel yang ada. “Majalah-majalah ini akan dibagikan di seluruh bandara NTT, dan bekerja sama dengan pemerintah Jawa Timur,” jelas Fredy. Selain itu, Fredy menambahkan tempat-tempat pijat tradisional harus dikawal secara baik. Ia menyebutkan, saat ini banyak pitrat yang menyajikan plus plus, sehingga orang yang menggunakan jasa pitrad pasti akan dipandang negatif. “Penjagaan di tempat pitrad harus diperkuat, seperti dijaga oleh Pol PP. Sebab pitrad, karaoke dan hotel masih dipandang negatif oleh masyarakat,” kata Fredy.

Ketua Asita Indonesia wilayah NTT Abet Frans, mengatakan, dalam pariwisata even tanpa adanya pelaku bisnis maka akan sia sia. “Kita berharap apapun yang dibuat oleh Pemkot mempunyai konsep yang baik agar setelah even yang diadakan dapat membawa dampak bagi para turis. Setidaknya ketika para turis kembali ke tempatnya, mereka dapat bercerita tentang kekayaan pariwisata di daerah kita,” kata Abet.

Ia menambahkan, hambatan yang dihadapi Asita yaitu, kurangnya kesadaran masyarakat tentang potensi wisata yang dimiliki wilayahnya. Juga kurangnya kompetensi untuk mengolah bahan lokal menjadi barang bernilai jual.

Ia mengungkapkan, sarana destinasi yang ada belum memadai, seperti jalan, WC, kurangnya perawatan, dan keamanan di daerah destinasi. Masalah atau hambatan lainnya yaitu kemampuan berbahasa asing yang sangat minim. “Karena para turis itu datang dari berbagai negara dengan bahasanya masing-masing, seperti Belanda, Tiongkok, Korea dan negara lainnya,” ungkapnya.

Ia mengimbau agar pemerintah maupun pelaku usaha dapat sesering mungkin mengikuti even, karena dapat menambah ide-ide baru yang dapat diterapkan di NTT. 

Sumber : Timor Express, Senin 5 Juni 2017

 

KUPANG - Janji DPD REI NTT untuk menjangkau seluruh wilayah di Provinsi NTT perlahan dibuktikan. Setelah menjangkau Pulau Sumba di Kabupaten Sumba Tengah dan Manggarai Raya di ujung Barat Flores, kali ini masyarakat Kabupaten Sikka mendapat angin segar tersebut.

DPD REI NTT bekerjasama dengan sejumlah perusahaan dari Jakarta membentuk sebuah konsorsium dan membangun perumahan bersubsidi di Kabupaten Sikka, tepatnya di desa Hoder, Wairita. Pembangunan perumahan Sikka Rigency itu oleh PT.Flores Real Estate dan dimulai Jumat (2/6) ditandai dengan peletakan batu pertama yang dihadiri langsung Bupati Sikka, Ansar Rera, Ketua DPD REI NTT, Bobby Pitoby, Ketua BPO DPD REI NTT, Bobby Lianto, Ketua Kadin NTT, Abraham Paul Liyanto serta sejumlah pengusaha lainnya.

“Ini pembangunan perumahan subsidi di Sikka hasil konsorsium REI NTT dan pengusaha dari Jakarta untuk kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sikka,” kata Ketua DPD REI NTT, Boby Pitoby kepada Timor Express usai acara tersebut.

Dia jelaskan, rumah yang dibangun adalah type 36/104 yang bersubsidi dengan harga Rp 141 juta. Rumah type 45/130 seharga Rp 262 juta dan type 70/150 seharga 464 juta. “Lahan yang kita pakai 3,6 hektare dan rencananya kita akan bangun 194 unit rumah,” sambung Bobby.

Meski baru mulai dibangun, namun Bobby katakan, pihaknya menargetkan proses pembangunan sudah selesai pada akhir 2017 mendatang. “Jadi target kita Desember sudah bisa dihuni,” tutupnya.

Sumber : Timor Express, Senin 5 Juni 2017

 

KUPANG,- Anhartori dari Asosiasi Ekspor Provinsi Nusa Tenggara Barat (APEX NTB) mengakui, NTT memiliki potensi sumbder daya alam dan hasil kerajinan yang layak ekspor. Bahkan banyak produk asal NTT yang sudah dikenal di sejumlah negara.

Sayang, barang-barang yang diekspor ke luar negeri tidak atasnama NTT, namun daerah lain. Misalnya, Bali, Surabaya dan Jakarta. Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah melalui Surat Keterangan Asal (SKA) barang. Menurut Anhartori, banyak produk asal NTT yang diekspor namun menggunakan SKA dari daerah lain.

“Padahal produk NTT. Jadi kita jadi sapi perahan daerah lain. Misalnya barang dari NTT tapi minta SKA dari daerah lain seperti Bali dan Surabaya,” kata pengusaha yang beberapa tahun menetamp di luar negeri itu dalam Lokakarya Pengembangan Potensi Daerah untuk Peningkatan Ekspor NTT, yang digelar APINDO NTT dan KADIN NTT di IMA Hotel Kupang, Senin (29/5).

Lokakarya yang dibuka Kadis Perindustrian, Simon Tokan itu menghadirkan sejumlah pembicara, misalnya Perwakilan Kementerian Perindustrian, Ketua Bidang Perdagangan Luar Negeri DPN APINDO, Yos Ginting, Kadis Penaman Modal Perizinan Terpadu Satu (PMPTSP) NTT, Samuel Rebo, Kadis Perikanan dan Kelautan NTT, Wakil Ketua Kadin NTT, Christofel Liyanto, Ketua APIND NTT, Fredy Ongko Saputra dan puluhan pengusaha lainnya.

Anhartori pada kesempatan itu menguraikan, setelah kembali dari luar negeri, dirinya melihat begitu banyak peluang yang bisa dikembangkan di NTB. Meski berlatarbelakang keahlian mesin, namun dirinya kemudian menjadi pencipta lantai tempurung kelapa dan mendapat pengakuan dunia. “Dan saya melihat NTT ini punya potensi yang sama, luar biasa. Bahkan dalam kunjungan kami ke beberapa negara, ada produk-produk dari NTT yang sudah dijual di luar negeri, tetapi mungkin bukan atasnama NTT,” beber dia.

Salah satu alasan NTB memiliki nilai ekpor jauh di atas NTT adalah dukungan pemerintah daerah kepada para pengusaha. Menurut dia, hubungan kooordinasi dan kerjasama pengusaha dan asosiasi dengan pemerintah daerah NTB sangat baik, bahkan dia menyebutnya satu pintu. Sehingga investasi akan semakin cepat, mudah, aman dan nyaman di sana.

“Kami dibiayai pemprov NTB untuk berkeliling sejumlah negara selama dua minggu untuk mencari pembeli dan kami berhasil mendapat banyak pembeli produk kami. Kami bangun komunikasi dengan Atase-atase di setiap negara. Jadi pemda harus backup,” tandas dia.
Produk-produk dari NTT yang sudah mendunia, misalnya ikan dan rumput laut serta pertanian perkebunan dan juga hasil bumi lainnya.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Kadin NTT, Christofel Liyanto mengatakan, banyak produk dari NTT yang terpaksa diekspor melalui daerah lain karena proses pengolahan dan juga kuantitas yang terbatas di NTT. Sehingga untuk memenuhi standar ekspor, harus dititipkan ke daerah lain yang memenuhi syarat ekspor.

Menurut Chris, wilayah NTT memiliki potensi ekspor di beberapa sektor, namun selama ini belum dikelola secara baik karena minim investor dan juga minim dukungan pemerintah. “Jadi kalau mau supaya ekspor langsung dari NTT, kita harus punya pabrik pengolahan yang memadai dan kualitas produk kita harus memenuhi standar ekspor. Memang kita harus punya koneksi langsung dengan pembeli di luar negeri karena itu akan lebih memudahkan kita,” terang Komisaris Utama Bank Christa Jaya itu lagi.

Peran pemerintah, lanjut dia sangat penting untuk mendukung pengusaha. Pasalnya, jiak dilihat dari jumlah pengusaha menegangah besar di NTT, sangat tidak proporsional. Pasalnya, dari total penduduk 5 juta lebih, NTT baru memiliki sekira 3.000 pengusaha menengah besar.

“Padahal idealnya, sebuah daerah minimal meiliki pengusaha sebanyak 2 persen dari jumlah penduduk. Jadi misalnya kalau kita punya pengusaha menegangah besar 100.000 dengan rata-rata karyawannya 10 orang saja, itu dampaknya sangat besar untuk pertumbuhan ekonomi dan juga kesejahteraan rakyat kita,” papar Chris.

Dengan asalan tersebut, Chris tegaskan, pemerintah harus mendukung pengembangan dan penciptakan lebih banyak lagi dan juga pengusaha yang berkualitas. Misalnya pengusaha mikro didorong untuk menjadi pengusaha kecil dan seterusnya. “Makanya kita dorong untuk Kadin dan Apindo bikin workshop untuk merubah mindset pengusaha dan calon pengusaha kita,” tutup dia.

Sementara Samuel Rebo pada kesempatan itu memaparkan, saat ini banyak investor melirik NTT sebagai daerah tujuan investasi. Misalnya di sektor perikanan dan kelautan, ada rumput laut dan garam. Di bidang perkebunan, ada investasi besar perkebunan tebu dan rencana pabrik gula terbesar di Sumba Timur. Ada pula perkebuhan cengkih di wilayah Sumba. “Intinya kami siap menyambut ivestasi di NTT dengan berbagai potensi yang ada. Misalnya, kita daerah penghasil sapi, tapi investasi kecil, khusus pembibitan. Kalau penggemukan banyak. Padahal lahan tersedia,” tutup dia.

Sumber : Timor Express, Senin 5 Juni 2017

 

KUPANG -Lelang e-Auction menjadi layanan unggulan Kementerian Keuangan yang termasuk dalam Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2015 saat Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik yang diadakan oleh Kementerian PAN-RB. Karena itu, Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Kupang mulai menerapkan lelang tersebut.

Hal ini dikatakan Kepala KPKNL Kupang, I. Wayan Subadra melalui rilis kepada koran ini, Jumat pekan lalu di Kupang. “Lelang e-Auction memang lebih efektif sehingga kita sudah terapkan. Sudah ada yang kita lelang menggunakan e-Auction,” kata Subadra.

Dirinya mengatakan, lelang e-Auction membuat transformasi pelayanan lelang menjadi sederhana. Selain itu, pelayanan menjadi mudah dan orientasi mengurangi beban biaya dan waktu peserta lelang untuk hadir. “Ini karena lelang dilakukan secara online sehingga peserta bisa ikut dimana saja dia berada,” jelasnya.
Keuntungan lain, jelas Subadra, adil bagi peserta lelang, pemilik barang dan penjual. Juga meningkatkan kemitraan dengan perbankan dan partisipasi masyarakat luas. “Keuntungan lainnya adalah modernisasi pelayanan yang lebih transparan, akuntabel dan responsif berbasis IT dan peningkatan penerimaan negara,” kata Subadra lagi.Lelang e-Auction ini terdiri atas dua bentuk penawaran. Yaitu penawaran secara tertutup (close bidding) dan penawaran secara terbuka (open bidding). Penawaran tertutup dimana peserta lelang tidak saling mengetahui besaran penawaran yang diajukan. Sementara penawaran terbuka peserta lelang bisa saling mengetahui besaran penawaran masing-masing.

Karena itu, Subadra mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada instansi pemerintah, perbankan dan perusahan milik pemerintah dan daerah mengenai jenis lelang tersebut. “Harapan kita semua instansi dan perusahaan milik pemerintah maupun swasta memanfaatkan jenis lelang e-Auction ini,” kata Subadra. 

Sumber : Timor Express, Senin 5 Juni 2017

KUPANG-Gubernur NTT, Frans Lebu Raya meminta lembaga perbankan untuk menyebarluaskan informasi tentang manfaat uang elektronik (e-money). Pasalnya, untuk mencanangkan program tersebut adalah hal yang mudah, namun untuk menjalankan program tersebut, bukan hal yang mudah.

Demikian diungkapkan gubernur saat lounching kawasan non tunai atau layanan e-money di Bandara El Tari Kupang, Minggu, (9/4). Layanan e-money pertama di NTT itu terlaksana atas kerjasama Bank Mandiri, Bank Indonesia (BI) dan PT.Angkasa Pura I Bandara El Tari Kupang.

“Pekerjaannya tidak selesai kita launching hari ini (kemarin). Pekerjaan berikut adalah kita melakukan sosialisasi, edukasi kepada masyarakat supaya mereka mengerti dan mau menggunakan layanan seperti ini,” kata gubernur dalam acara yang dihadiri Kepala BI Perwakilan NTT Naek Tigor Sinaga, Kepala Bank Mandiri Cabang Kupang, Carel Alexander Kandou, General Manager (GM) Angkasa Pura I Bandara El Tari Wahyudi, Danlanud El Tari. Hadir pula Kabinda NTT, Daeng Raharja dan sejumlah pelajabat lainnya.

Orang nomor satu di NTT itu mengakui, layanan nontunai tersebut sangat bermanfaat. Pasalnya, lebih mudah dan efektif. Dia contohkan, saat berbelanja di mall atau supermarket, harga yang ditentukan sering menyisakan uang kembalian yang bilangannya tidak bisa dikembalikan dengan pecahan uang rupiah. Namun jika menggunakan e-money, semua bisa terpotong secara tepat sesuai harga yang ditentukan. “Harganya kadang-kadang Rp 1.990. Pasti tidak dapat kembalian, atau kalau ada kembalian, permen. Itu ilmu abunawas punya,” kata gubernur.

Pada kesempatan itu, gubernur juga diberitahukan oleh Kepala BI Perwakilan NTT, bahwa e-money di bandar udara baru dua di Indonesia, yakni El Tari Kupang dan Soekarno-Hatta Tangerang. Dengan sedikit kelakar, gubernur pun kembali memastikan, apakah Bandara Ngurahrai Bali belum memiliki layanan e-money. “Bali belum? Berarti kita lebih hebat. Hanya, digunakan atau tidak, itu persoalannya. Jadi, kerja kita ke depan adalah edukasi dan sosialisasi terus menerus,” sambung gubernur.

Sosialisasi tersebut menurut dia, tidak hanya tentang pemanfaatan layanan nontunai, namun juga tentang cara mengelola uang. Dia bahkan mengingatkan lembaga keuangan yang memberikan pinjaman kepada masyarakat agar ikut bertangungjawab dengan memberikan pendampingan kepada para kreditur. Lembaga keuangan juga di minta untuk hadir di masyarakat dengan tingkatan paling bawah.

Menurut dia, banyak masyarakat NTT yang masih enggan berhutang (kredit), meski cenderung berhutang untuk urusan adat dan keluarga dibanding untuk membangun ekonomi keluarga. Hal ini menurut gubernur menjadi tanggungjawab lembaga keuangan untuk memberikan pendampingan dan edukasi. “Supaya dia bisa kembalikan pinjangan dengan baik, supaya pimpinan dan karyawan bank tidak pusing denan kredit macet,” pesan gubernur.

Layanan non tunai tersebut dimulai pertama di pintu keluar bandara, yakni menggunakan kartu e-money bagi kendaraan yang masuk dan keluar dari bandara. Pengguna kartu tersebut hanya menempelkan kartu e-money pada mesin scan yang sudah tersedia tanpa menunggu petugas. Sehingga, proses pembayaran parkir bandara menjadi lebih singkat.

Kepala BI Perwakilan NTT, Naek Tigor Sinaga pada kesempatan itu mengatakan, penggunaan layanan uang elektronik di NTT masih di bawah 1 persen. Dengan kehadiran e-moneyperdana di NTT itu, Naek Tigor berharap semakin banyak lagi masyarakat yang menggunakan layanan nontunai. “Sekarang untuk parkiran di bandara. Ke depan kita berharap di lounge dan juga pelayanan lain di bandara juga menggunakan e-money,” kata Naek Tigor.

Masih menurut Naek Tigor, BI ingin agar seluruh kabupaten/kota di NTT menggunakan sistem non tunai untuk setiap transaksi keuangan pemerintahan. “Karena lebih efisien, transparan dan juga efektif,” sambungnya.

Sumber : Timor Express, Senin 10 April 2017

 

KUPANG - Curah hujan di tahun 2016 hingga 2017 membuat pemerintah yakin, hasil panen petani sangat maksimal. Namun hujan dengan insentitas menengah yang terus mengguyur NTT hingga saat ini memaksa sejumlah petani harus berhati-hati dalam melakukan panen hasil kebun atau sawah.

“Sebenarnya hujan ini bagus karena kebutuhan air petani terpenuhi, bahkan berlimpah. Namun para petani harus waspada, karena kelebihan pasokan air juga berbahaya untuk merusak tanaman yang sudah siap panen,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTT, Hadji Husen.

Untuk menjaga agar komoditi yang sudah siap panen tidak membusuk akibat terlalu banyak air, Hadji Husen berharap para petani memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk memanen hasil kebun dan sawah.

Dia pun menjamin, stok pangan di NTT masih aman hingga tiga atau empat bulan ke depan. Sehingga dia berharap, para petani dan masyarakat umumnya tidak perlu kuatir dengan kondisi saat ini. “Stok pangan aman sampai beberapa bulan ke depan,” sambung dia lagi.

Dia sebutkan, saat ini stok beras mencapai 130.000 ton, sementara kebutuhan secara nasional hanya 47.000 ton. Sementara komoditi jagung tersedia 58.000 ton, dengan kebutuhan mencapai hanya 8.000 ton, setiap hari.

Menariknnya, saat ini tersedia 20.000 ton umbi-umbian, sementara kebutuhan umbi-umbian hanya 3.000 ton per bulan. Selain itu, ada pula stok kedelai sebanyak 840 ton. “Stok ini untuk seluruh penduduk NTT yang berjumlah sekira 5 juta jiwa,” sambung Hadji lagi.

Masih menurut dia, stok pangan tersebut tersedia di gudang dan tempat-tempat penyimpanan pangan masing-masing. Khusus umbi-umbian, lanjut dia, dihitung berdasarkan luas lahan yang digarap. “Itu semua di luar dari Flores,” kata Ray di bandara Labuan Bajo, Senin (3/4).

Hadji Husen jelaskan, stok pangan tersebut di luar dari hak gubernur dan para kepala daerah dalam memanfaatkan bantuan tersebut. Gubernur misalnya, memiliki hak 200 ton beras untuk memberikan bantuan kepada warga yang mengalami musibah.

Sumber : Timor Express  Selasa, 4 April 2017

 

Investasi  ilegal merupakan isu yang dominan yang terjadi di Wilayah Nusa Tenggara Timur adalah skema yang sering terjadi seringkali dinamakan investasi bodong, tentunya kini sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat.

Investasi-investasi tidak berizin yang akhirnya memberikan dampak kerugian bagi masyarakat, modus operandi investasi ilegal tersebut masuk dalam kriteria Financial Crime (kejahatan keuangan) semakin mengkhawatirkan dan kini menjadi perhatian pemerintah di seluruh dunia. Kekhawatiran ini muncul karena dampak dari kejahatan keuangan khususnya kejahatan yang bermotif ekonomi sangat potensial mengancam perkembangan ekonomi dan bahkan stabilitas nasional suatu Negara.

Menanggapi isu tersebut maka Satuan Tugas Waspada Investasi Daerah Provinsi NTT yang telah dilantik oleh Gubernur NTT pada tanggal 22 Desember 2016 melaksanakan Rapat kerja Pembahasan program Kerja Satuan Tugas Waspada Investasi Daerah pada tanggal 30 Maret 2017 bertempat di Restauran Suba Suka, rapat tersebut  dalam rangka melakukan  tindakan pencegahan dan penanganan dugaan tindakan melawan hukum dibidang penghimpunan masyarakat dan pengelolaan investasi yang sangat bermanfaat bagi masyarakat khususnya dalam hal mewaspadai penawaran-penawaran dari lembaga yang terindikasi investasi illegal. (Kominfo Provinsi NTT Tahun 2017)

Alexander B. Koroh
Alumnus Victoria University of Wellington


Perpuseru (Perpustakaan Seru) merupakan program kolaboratif Pemerintah, Pemerintah Daerah dengan berbagai stakeholder, dan Coca Cola Foundation Indonesia dan Bill and Melinda  Gate Foundation sebagai pendukung utamanya. Coca Cola Foundation Indonesia dan Bill and Melinda Gate Foundation melalui pertanggungjawaban sosialnya hadir untuk memberdayakan masyarakat melalui perpustakaan. Implementasi program ini membantu menciptakan berbagai social values dalam rangka memecahkan berbagai permasalah yang dihadapi masyarakat, khususnya dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan perekonomian. Secara riil program ini hebat bukan saja karena dilakukan secara kolaboratif tetapi juga secara sengaja menghilangkan dependency syndrome. Operasionalisasi program ini berlangsung tidak dalam konsep memberi ikan atau roti, dan atau memberi kail dan jala, tetapi lebih tinggi dari itu, program ini mendorong warga untuk mampu mengetahui dan membuat kail dan jala secara mandiri dan selanjutnya mengembangkannya demi kesejahteraan bersama.

Transformatif
Merujuk pada penjelasan di atas, tampak jelas perpustakaan tidak lagi hadir secara biasa saja, yakni sebagai tempat di mana orang datang membaca dan meminjam buku. Kini, perpustakaan hadir untuk mencerdaskan dan memajukan seluruh anak bangsa hingga dapat memiliki berbagai kompetensi yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja, dan bahkan untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan income perkapita dan meningkatkan kualitas hidup. Pada poin ini terlihat jelas bahwa perpustakaan harus merubah dirinya terlebih dahulu, barulah kemudian dapat mentransformasikan para pemustaka untuk menjadi pemustaka yang kompetensinya terus meningkat.

Sejalan dengan ini, mungkin pembaca bertanya mengapa mentransformasi perpustakaan dan pemustaka adalah krusial. Sebab, intinya, melalui perpustakaan dan pemustaka yang telah tertransformasikan barulah bangsa ini dapat secara signifikan dapat meningkatkan derajat kompetensi orang dewasa Indonesia.

Upaya untuk mentransformasikan perpustakaan harus dilakukan sebab merupakan amanat UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. UU ini secara progresif khususnya mengatur bahwa, Perpustakaan adalah sarana pembelajaran masyarakat sepanjang hayat (pasal 2); Perpustakaan ada untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa (pasal 3); Perpustakaan perlu menyediakan layanan sesuai kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (pasal 14.3); Perlu kerjasama dari berbagai pihak untuk memajukan perpustakaan (pasal 40 dan 42); Pengembangan perpustakaan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (pasal 14); Pengembangan perpustakaan harus berkesinambungan (pasal 7, 8 dan 40).

Regulasi tentang perpustakaan di atas, menjadi rujukan regulative dan landasan formal bagi dalam pengembangan perpustakaan yang mutakhir. Dalam hal ini, kehadiran Perpuseru adalah relevan dengan amanat regulasi di atas, sebab dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi terkini, berbasis elektronik dan internet, didampingi oleh pustakawan yang kompeten, pemustaka akan didorong untuk menjadi warga negara yang mandiri, melalui pengembangan kompetensi kecakapan orang dewasa, secara bertahap, bertingkat, dan berkelanjutan. Karenanya, Perpuseru akan membantu para pemustaka untuk meningkatkan kemampuan literasi, numerasi dan kompetensi pemecahan masalah. Hal ini merupakan suatu keharusan. Hasil tes PIAAC (Programme for the International Assessment of Adult Competencies), survey terhadap kecakapan orang dewasa yang dilakukan oleh OECD pada tahun 2016 menunjukkan bahwa  kompetensi orang dewasa  Indonesia adalah yang paling rendah di antara 34 negara yang disurvey, jauh di bawah Singapura dan Negara-negara maju lainnya (kompas, 1 Sept/2016).

Oleh karena itu, upaya berkelanjutan peningkatan derajat kecakapan orang dewasa orang Indonesia merupakan suatu keniscayaan. Jika hal ini diabaikan maka dengan sendirinya, daya saing bangsa ini akan tetap berada pada posisi yang jauh lebih rendah dari Negara-negara ASEAN lainnya. Sebab kecakapan-kecakapan orang dewasa di atas sangat diperlukan dalam bekerja dan berkarya dalam berbagai bidang kehidupan. Negara-negara maju dapat meraih kualitas kehidupan yang tinggi karena warga negaranya memiliki tingkat kecakapan orang dewasa yang tinggi pula.

Kerja sama intensif
Merujuk pada eksplanasi di atas, tampak jelas bahwa Perpuseru merupakan suatu terobosan yang perlu disambut dan dijalankan dengan antusias. Kebermanfaatan program ini secara nyata akan membantu menaikkan derajat kemampuan para pemustaka dewasa. Dalam konteks ini, Perpuseru membantu para pemustaka untuk tidak saja mengetahui dan memahami sesuatu, tetapi lebih daripada itu, mendorong mereka untuk dapat menerapkannya untuk kebaikan hidup mereka dan sesamanya.

Beberapa testimony dari pustakawan dan pemustaka yang talah menjalankan program ini memberikan harapan yang besar bagi peningkatan kompetensi orang dewasa Indonesia. Contohnya, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan yang telah menjalankan program Perpuseru, berhasil melatih 700 pemuda putus sekolah untuk mengoperasikan komputer dan menggunakan internet. Selanjutnya masing-masing mereka mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang diserapnya melalui internet. Melalui pendampingan yang dilakukan oleh pustakawan, sebagian besar dari peserta program Perpuseru ini telah bekerja, mandiri, dan memiliki mata pencaharian sendiri, dalam berbagai bidang seperti, membatik, kerajinan tangan, desain grafis, kesehatan, pertanian, tata boga, dan lain-lain.

Dalam konteks NTT, Badan Perpustakaan Provinsi NTT sejak tahun lalu sudah memulai bekerja sama dengan stakeholders pada level nasional, beberapa pertemuan dan loka karya telah dan akan dilakukan. Landasan regulatif dalam bentuk Pergub sedang digodok untuk menjadi payung kerja sama antar pemangku kepentingan dalam program Perpuseru. Pada level kabupaten, empat kabupaten telah disepakati untuk menjadi pilot projek, dan telah memulai beberapa kegiatan persiapan. Kabupaten dimaksud adalah TTS, TTU, Sikka, dan Ende, yang nanti setelah berjalan dengan baik dan berhasil sebagaimana kabupaten-kabupaten lain di Indonesia, akan direplikasi untuk kabupaten lainnya di NTT.

Tambahan pula, pada level nasional, stakeholder yang terlibat dalam program Perpuseru adalah, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Koperasi dan UKM, Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Perpustakaan Nasional, BKKBN, PT Telkom Tbk, 19 Bupati/Walikota Mitra Perpuseru, 13 Kepala Perpustakaan Provinsi dan 19 Kepala Perpustakaan Mitra Perpuseru. Dan tentunya, Coca Cola Foundation Indonesia, dan Bill Gate and Melinda Foundation. Dengan demikian, pada level provinsi, kabupaten/kota, pemangku kepentingan yang terlibat dapat mengikuti pola pada level nasional, dengan variasi sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing. Perluasan cakupan stakeholder pada level daerah dapat melibatkan pihak gereja, mesjid, LSM, dan berbagai asosiasi masyarakat sipil lainnya. Dengan demikian sinergitas dan akselerasi pencapaian desired outcome dapat menjadi nyata.

Tampaknya Program Perpuseru menjanjikan, bila program ini dilaksanakan dengan baik, maka ia dapat membantu membuat ‘si buta dapat melihat dan si lumpuh dapat berdiri, berjalan, dan berlari di atas kakinya sendiri’, inilah ‘pemberdayaan’ dalam arti sesungguhnya. Mari kita dukung Perpuseru agar menjadi lebih seru lagi. 

A. Pendahuluan

Manusia adalah makluk rasional yang berbeda dengan makluk hidup lainnya secara eksistensial dan secara rasional. Yang membedakannya adalah kebudayaan. Kebudayaan merupakan ruang lingkup dimana manusia hidup dan berkatifitas sehingga tercermin berbagai fenomena dan realitas yang mengandung makna dan nilai. Di dalam kebudayaan itulah nampak ciri khas ekstensial dan esensial dari manusia itu saat dilahirkan, dibentuk dan dibesarkan dalam ruang dan waktu yang di atur menurut tata cara, pola dan norma tertentu.Rasionalitas manusia melebihi makluk hidup lainnya yang menunjukan ciri ekstensial dan esensial yang oleh Santo Agustinus (Dalam Hoebel, 1958 : 1) menunjukan keajaiban manusia. “Bahwa di dunia banyak keajaiban tetapi tidak ada yang lebih ajaib dari manusia. Keajaiban manusia melebihi gelombang laut, air yang sedang mengalir dan langit yang luar biasa”. Keajaibannya bukan terletak pada ketangkasan tubuh, kemolekan tubuh, tetapi pada cara berpikir, menemukan dan menciptakan cara-cara baru dalam hidupnya. Dari kemampuan itulah manusia menciptakan, memlihara dan mewariskan kebudayaan secara turun temurun. Di tulis oleh Yosef hati NinuRelasi antar manusia dan kebudayaan digambarkan seperti mata uang dengan kedua sisinya. Dimana terjalin satu kesatuan yang tak terpisahkan. Jadi manusia sebagai pendukung tumbuh dan berkembangnnya kebudayaan. Sebaliknya kebudayaan mencerminkan identitas dan integritas manusia sebagai suatu masyarakat, suku atau bangsa. Eksistensi manusia berbentuk wujud kebudayaan berupa tradisi yang merupakan suatu keberlangsungan proses dalam ruang dan waktu yang terjadi melalui dua mekanisme yang mempunyai hubungan sebab akibat. Ada mekanisme fisik dan ada mekanisme material, berupa benda-benda aterfak dan tatanan yang dihasilkan dan diwariskan oleh generasi terdahulu, ada pula mekanisme psikologi dan ada mekanisme ideal berupa warisan keyakinan, pengetahuan, simbol, norma dan nilai dari masa lampau itu. (Silab W, 2005 : 5).Kedua  mekanisme diatas menunjukan dunia kehidupan manusia sebagai suatu dunia kebudayaan atau dunia penuh simbol dan makna. Dunia yang di dalamnya manusia berpredikat sebagai animal simbolicum (Ernst Cassirer, dalam Poepowardojo, Bertens 1982 : 11) artinya dalam dunia itu kita dapat melihat dan menemukan gambaran tentang identitas manusia yang berwujud kebudayaan yang terjadi secara dinamis.Pulau Timor sebagai pulau terbesar di Propinsi Nusa Tenggara Timur sudah terkenal ke selur penjuru dunia karena kayu cendana putih (Santalum Album L)nya yang berkualitas tinggi. Salah satu komoditas dagang yang sangat bermanfaat dan khasiatnya mengundang minat para pedangang kuno dari berbagai bangsa untuk datang ke Nusantara ini terkecuali Pulau Timor. Berbarengan dengan kedatanga bangsa Portugis ada sekelompok pedangang yang menyebut dirinya topases (Portigis Hitam) dalam sebutan orang timor : Atoin Kaes Metan, yang merupakan suatu kelompok etnis keturunan campuran (mixed desent) yang datang ke Pulau Timor selain berdagang  kayu cendana dan komoditas lainnya, juga menyebarkan Agama Kristen Katolik dikalangan penduduk asli yang masih kafir dan animisme. (Silab W, 2005 : 7)Tradisi keagamaan yang diciptakan portugis hitam dengan dilandasi dengan iman Katolik selama beberapa ratus tahun telah menjadi pandangan hidup (way of life). Tradisi ini tidak hanya menciptakan dunia baru sebagai suatu realitas antologs tetapi juga suatu realitas kosmologis yang teratur dan bermakna di dalamnya terkandung nilai dan makna yang mengatur perilaku dari masyarakat Kaesmetan, Yang akhirnya menjadi suatu identitas budaya Atoin Kaemetan di Noemuti. Namun sebagaimana dikatakan di atas  bahwa kehidupan masyarakat tidaklah statis tetapi dinamis yang selalu mengalami gejolak perubahan. Masyarakat yang dinamis adalah masyarakat yang mengalami perubahan secara cepat. Namun perubahan disini bukan berarti perubahan yang cepat atau (progress) tetapi juga bisa berupa kemunduran pada beberapa bidang tertentu (Soekanto, 1998 : 335) Tulisan ini mencoba mengangkat budaya Atoin Kaes Metan dalam hal perkawinan (Ritus Hela Keta pada Suku Ninu pada Kefetoran Manikin dengan suku Nino yang berasal dari Kefetoran di Tumbaba) sebagai media komunikasi antar budaya.

B. Kisah atau CeritaAdat istiadat merupakan aturan-aturan yang mengatur berberapa segi kehidupan manusia yang tumbuh dari usaha-usaha orang-orang di dalam masyarakat itu sendiri untuk mengatur tentang tata tertib, tingkah laku, tutur kata anggota masyarakat, (Pringodigdo, 1797 ; 14). Tentang adat istiadat ini sebagai pedoman tertinggi dari hidup manusia, (Koendjaraningrat, 1990 ; 186-187)Adat istiadat menurut orang timor dipandang dari segi etimologis, pranata sosial dan kebiasaan masyarakat Noemuti yang lebih dikenal dengan sebutan Atoin Kaemetan.

  1. Adat Istiadat / NonoSecara etimologis Nono berarti tali hutan. Secara realis Nono direpresentasikan dengan sebuah batu ceper dililit dengan sebuah tali hutan yang diletakan di kaki tiang agung rumah adat atau lumbung suku atau marga (kanaf) ninu dan juga barang-barang lain yang disimpan bersama dengan dengan batu itu yang dianggap keramat/ memiliki kekuatan tertentu. Tanda ini merupakan simbol kesatua seluruh anggota suku marga (Kanaf) yang mengatur tentang pola dalam perilaku terutama tentang fase kelahiran, perkawinan, kematian. Hal inilah yang disebut dengan nono/norma, dan bila ada pelanggaran terhadapnya maka ada sanksi yang tergolong berat (opte ma’fena)
  2. Adat istiadat meliputi pranata kekerabatan dan pranata religiusSebagai norma adat (nono) ini tergolong kedalam norma yang lebih tinggi yaitu mores (norma moral) norma keagamaan (norma religius) kedua hal ini ditandai dengan upacara adat kelahiran dengan tahap-tahapnya. Upacara  perkawinan dengan tahap-tahapnyaBila terjadi pelanggaran harus segera dilakukan ritus pemulihan agar tidak terkena sanksi yang acap kali diluar kemampuan manusia yang harus ditaati setiap warga suku/marga pada saat memasuki tahap tertentu.
  3. Tata cara (folkways)Berupa kebiasaan-kebiasaan (habits) demi menjaga sopan santus, saling menghormati, dalam hidup bermasyarakat. Folkways adalah kelasiman-kelasiman yang meliputi adat istiadat yang telah mejadi kebiasaan.Atas dasar pemikiran diatas, pada masyarakat Atoin Kaesmetan khususnya dalam Kefetoran Manikin lebih khusus Suku Ninu memiliki tradisi Hela Keta pada perkawinan campuran antar suku.Hela Keta berasal dari bahasa dawan yang terdiri dari dua suku kata yaitu ‘Hela’ dan ‘Keta’ Hela atinya menarik dan keta artinya lidi jadi secra harafia Hela Keta berarti upacara menarik Lidi. Dalam hal ini lidi dipandang sebagai pembatas atau pemisah antara kedua suku. Dalam konteks perkawinan antara dua suku yang berbeda yakni antara suku Ninu dari Kefetoran Manikin dan suku Nino dari Kefetoran Tumbaba.Menurut informasi yang diperoleh  dari Bapak Fransiskus Ninu (salah seorang toko adat, usif pada kefetoran Manikin) yang mengatakan bahwa Hela Keta merupakan satu simbol atau bentuk pemulihan sumpah adat yang dilakukan oleh nenek moyang baik itu dari Suku Ninu Kefetoran Manikin maupun Suku Nino dari Kefetoran Tumbaba. Sumpah adat dalam bentuk apa yang terjadi pada pranata kekerabatan kedua suku, menurut beliau tidak ada kepastian. Hela Keta ini dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap kehidupan sosial dan budaya dimasa mendatang. Hal ini terdegar seperti mitos yang merupakan pemikiran intelektual dan bukan pula hasil logika, melainkan lebih merupakan orintasi sipritual dan mental untuk berhubungan dengan yang ilahi. Bagi masyarakat yang berasal dari Suku Ninu pada Kefetoran Manikin, mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita ini merupakan milik mereka yang berharga, karena merupakan sesuatu yang suci, bermakna, menjadi contoh model bagi mereka dalam bertindak, yang memberi makna dan nilai bagi kehidupan mereka.Jadi Hela Keta ini bagi Suku Ninu dan Suku Nino merupakan media yang diciptakan untuk perdamaian, keharmonisan diantara kedua mempelai yang akan berumah tangga. Kisah dan cerita yang digambarkan disini selain melalui hasil wawancara juga melalui pengamatan secara langsung pada upacara perkawinan hela keta yang dilakukan, antara salah seorang anggota Suku Ninu (Permempuan) Kefetoran Manikin dan salah seorang anggota Suku Nino (Laki-Laki) dari Kefetoran Tumbaba.

C. RitusRitus merupakan wujud konkret dari kehidupan beragama. Agar dunia menjadi tempat yang at home, Ritus perlu dilakukan. Melalui ritus manusia menghubungkan  diri dengan Ilahi. Dalam ritus manusia mengaktualisasikan kehadiran yang Ilahi. Dengan ritus manusia seakan-akan mendesak yang ilahi agar ia pun mau memperhatikan kehidupannya.Namun manusia tidak hanya tahu mendesakan keinginannya. Dia juga dapat berhenti berlutut sejenak juga diahdapan yang ilahi. Dalam hal ini manusia harus mengambil sikap tertentu demi keselarasan hubungannya dengan yang ilahi. Maka dari sini kita bisa membedakan ritus kedalam 2 macam yakni ritus penyucian (purification) dan ritus korban (sacrifice) (Hans J. Daeng, 2000 : 82).Motif utama dari tindakan penyucian atau purifikasi bukanlah pembebasan diri dari kotoran atau noda fisik, melainkan pelepasan diri dari yang jahat dan masuk kedalam dimensi yang baik. Kadang kala kekuatan hidup memang menyusut, hidup kadang memucat dan kehilangan kesegaran semuannya ini dikaui sebagai kekuatan jahat atas kehidupan manusia. Maka kelemahan ini jangan dibiarkan melainkan harus dicega dengan dindakan kebersihan atau penyucian agar menjadi baru.Ritus dan motif yang dilakukan pada uacara perkawinan antara suku ninu pada kefetoran maniki dan suku nino pada kefetoran manikin secara harafia dapat digambarkan sebagai berikut :

a. Kesepakatan Pada sistem perkawinan yang lazim dilakukan di Wilayah Timor terutama TTU, dilalui dari beberapa tahapan hingga sampai pada tahap hela keta. Pada tahap hela keta ini pun tahapan yang di lalui terlebih dahulu adalah kesepakatan. Kesepakan dimaksud adalah mengenai menyamakan persepsi tentang makna di balik hela keta, mencari tahu tentang sumpa adat dalam pranata apa yang dilakukan oleh nenek moyang kedua suku, hewan kurban apa yang pantas digunakan sebagai simbol, tempat Hela Keta, tata cara hela keta itu sendiri mulaib.     

TempatTempat Hela Keta ini sungai atau kali (nono) dengan air yang mengalir merupakan media atau tempat yang biasa digunakan. Menurut Bapak Fransiskus Ninu, sungai/kali dengan air yang mengalir mengandung makna bahwa sungai merupakan pembatas atau pemisah antara hubungan kekerabatan kedua suku selain itu sungai merupakan media penghubung dan ketika airnya mengalir, akan membawa sumpah adat yang telah ada sejak dahulu

b. Pihak yang terlibatPihak pihak yang terlibat dalam upacara adat hela keta ini adalah orang tua (aina ama) dari kedua pasangan suami istri sebagi pendamping. Paman (atoi amaf) dari kedua keluarga sebagai pelindung dan penasehat, dua orang juru bicara dari kedua suku, serta keluarga besar dari kedua suku tersebut.

c. PelaksanaanSetelah waktunya, kedua suku dari keluarga pasangan suami istri bertemu ditempat yang telah ditentukan yakni sungai/kali, maka kedua bela pihak berada pada sisi sungai dan pihak laki-laki tidak boleh menyentuh air sebelum upacara dilakukan. Untuk melangsungkan upacara tersebut maka media yang akan digunakan sudah dipersiakan. Media tersebut adalah tempat siri (kabi) isinya siri (manus), pinang (puah), kapur siri (ao),uang perak (loet fatu), sopi kampung (tua meto), babi/ayam (manu/fafi), lidi (keta)Makna dari pada simbol-simbol yang digunakan tersebut adalah

1.       Sungai Merupakan simbol pembatas dari kedua suku

2.       Lidi Merupakan simbol pembatas, parang dan tombak yang lasim digunakan untuk berperang.

3.       Sopi dan tempat siriMerupakan simbol perdamaian dan kebersamaan

4.       Hewan kurban Menurut keyakinan kedua suku hewan kurban merupakan sesuatu yang panas (darah dan daging) Setelah semua media itu disiapkan maka, dilanjutkan dengan preoses dari pada Hela Keta yakni :

1.       Tutur adat (natoni)Tutur adat dilakukan dengan cara :

a.       Pihak perempuan melalui juru bicara menayakan maksud dari pihak laki-laki dengan bahasa adat 

1.       Pelepasan lidi (nahoeb keta)Sebelum melakukan pelepasan lidi (keta) salah satu pihak menyampaikan kepada nenek moyang dan penguasa alam semesta bahwa pada hari itu pula telah di akhiri sumpah adat yang telah terjadi sejak dahulu sehingga kehidupan keluarga dari kedua pasangan suami istri kedepan berjalan dengan baik dan kedua lidi tersebut dilepaskan kedalam aliran sungai sebagai tanda bahwa air yang mengalir telah membawa masalah tersebut

2.       Jabat tangan (makan siri bersama)setelah dilakukan pelepasan kedua siri dilanjutkan dengan saling jabat tangan antara kedua bela pihak terutama laki-laki dan perempuan, dan saling melayani untuk memakan sirih yang digunakan dalam upacara tersebut.

3.       Penyembelian hewan kurbanPenyembelian hewan kurban merupakan proses terakhir dari rangkaian upacara adat tersebut. Akan tetapi sebelum melanjutkan perjalanan pulang maka, semua daging dari hasil penyembelian hewan tersebut harus dimakan samapi habis dan tidak boleh ada yang tersisa/ biasanyan disebut (tah tabua) makan bersama.

D. Makna Makna yang dipetik dari upacara hela keta pada perkawinan antara Suku Ninu (Kefetoran Maniki) dan Suku Nino (Kefetoran Tumbab) yang dilaksanakan sebagai bentuk penyucian pelepasan sumpah adat yang dilakukan sejak dahulu oleh nenek moyang kedua suku tersebut. Upacara ini merupakan sebuah simbol dan mitos yang oleh (J. Van Baal, dalam Daeng J. Hans 2000 : 81) “cerita didalam kerangka sistem suatu religi yang dimasa lalu atau kini telah atau sedang berlaku sebagai kebenaran keagamaan”. Melalui mitos dan simbol itulah manusia berusaha berorientasi dalam kehidupan ini; ia tahu ia datang dan kemana ia pergi; asal usul dan tujuan hidupnya dibeberkan dalam mitos dan simbol tersebut.  Motif utama dari tindakan penyucian atau purifikasi bukanlah pembebasan diri dari kotoran atau noda fisik, melainkan pelepasan diri dari yang jahat dan masuk kedalam dimensi yang baik. Kadang kala kekuatan hidup memang menyusut, hidup kadang memucat dan kehilangan kesegaran semuannya ini dikaui sebagai kekuatan jahat atas kehidupan manusia. Maka kelemahan ini jangan dibiarkan melainkan harus dicega dengan dindakan kebersihan atau penyucian agar menjadi baru. Dan menurut pandangan Syukur Dister, dalam Daeng J. Hans 2000 : 81) hal ini merupakan pedoman dan arah kepada sekelompok orang yang berintikan lambang,  yang mengantarkan manusia dan daya-daya kekuatan alam. 

Sumber : Timex Minggu 4 September 2016

Polling

Bagaimana Tampilan Website Ini?

Statistik Pengunjung

Hari Ini673
Kemarin651
Minggu Ini1324
Bulan Ini13136
Total159496
Powered by CoalaWeb
Go to top
DMC Firewall is developed by Dean Marshall Consultancy Ltd
mersin escort
atasehir escort
kartal escort
bostanci escort
film izle
film izle,türkce film izle,dublaj izle,cakallarla dans 4 izle,4k film izle,hd izle
assasin's creed izle,cakallarla dans 4 izle,film izle,full hd film izle,panta film,hd film