72

72

Berita Online

Berita Online (7)

KUPANG - Penantian panjang Tonny Stefanus Bengu menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTT, menggantikan Antonius Soares yang terlibat kasus narkoba akhirnya terealisir.

Tonny Bengu sapaan karibnya dilantik dan diambil sumpah oleh Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno dalam paripurna istimewa Pergantian Antar Waktu (PAW) di ruang rapat utama DPRD NTT, Selasa (5/9).

Tonny Stefanus Bengu merupakan anggota DPRD NTT dari Dapil II meliputi Kota Kupang, Kabupaten Sabu Raijua dan Kabupaten Rote Ndao.

Politisi Gerindra itu menjadi DPRD NTT pengganti antar waktu periode 2014-2019.

Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno dalam pidatonya usai melantik dan mengambil sumpah terhadap Tonny Bengu mengemukakan, sebagai anggota DPRD NTT, memiliki tugas dan peran yang strategis dalam upaya pembangunan masyarakat NTT, terlebih dapil yang diwakilinya.

Karena itu, bilangnya, segala upaya menyampaikan bahkan menggolkan kepentingan rakyat, harus dilandaskan pada kerja sama yang baik dengan pemerintah, termasuk dengan sesam anggota DPRD NTT. “Intinya kita harus bekerjasama untuk meloloskan apa yang menjadi kebutuhan rakyat NTT,” tuturnya.

Dikemukakan, beban kerja di DPRD NTT, terus meningkat, baik dalam bidang legislasi, bidang anggaran maupun bidang pengawasan. Hal ini menutut setiap anggota DPRD NTT, untuk kian aktif dalam semua persidangan, agar apa yang direncanakan dan dibahas, berjalan dengan baik. “Tuntunya semua bermuara pada kepentingan pembangunan masyarakat NTT,” bilang politisi muda Golkar itu.

Pada kesempatan itu, dia mengajak seluruh pimpinan dan anggota DPRD NTT, untuk membangun soliditas dan kebersamaan dengan pemerintah Provinsi NTT, untuk terus mewujudkan apa yang menjadi program prioritas pembangunan di NTT.

Sementara itu, Tonny Bengu kepada koran ini berterima kasih kepada DPP dan DPD Partai Gerindra NTT, yang telah mengupayakan proses PAW, hingga dirinya dilantik hari ini (Kemarin-red). ‘Kami sekeluarga berterima kasih, karena saya sudah dilantik dengan resmi,” paparnya.

Dikemukakan, hampir dua tahun dirinya menunggu finalisasi dirinya menggantikan rekan politik sebelumnya, Antonio Soares. “Memang prosesnya begitu panjang dan lama. Syukur karena hari ini resmi saya dilantik,” imbuhnya.

Dia berjanji akan menjalankan tugasnya dengan baik, terutama memperjuangkan berbagai kebutuhan masyarakat yang merupakan konstituennya. “Tanpa masyarakat saya bukanlah siapa-siapa. Saya komitmen untuk berupaya memperjuangkan apa yang dibutuhkan masyarakat,” timpalnya.

Pantauan media ini, saat dilantik, Tonny Benggu terlihat dalam kondisi yang tidak fit, karena sakit. Usai dilantik, Tonny Bengu terlihat dipapah menuruni tangga DPRD NTT, menuju kendaraannya. 

Sumber : Timor Express, Rabu 6 September 2017

 

KUPANG – KONI NTT telah mengajukan usulan untuk merenovasi Gedung KONI NTT, sehingga bisa dimanfaatkan untuk Kantor KONI dan juga untuk menggelar berbagai rapat/pertemuan KONI.

“Melihat kondisi Gedung KONI, kita merasa perlu untuk di renovasi, dan secara teknis sebagai Ketua Harian KONI, saya sudah usulkan ke Badan Aset untuk merenovasi gedung KONI,” kata Ketua Harian KONI NTT Andre Koreh, kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (1/9) lalu.

Dijelaskannya, jika telah di rehab, nantinya dalam gedung tersebut ada ruang pertemuan besar, dan juga kantor KONI NTT.

“Jika ada pertemuan atau Rapat-rapat KONI, tidak perlu digelar di Hotel lagi, tapi cukup di gedung KONI,” jelasnya.

“Kita sekali rapat di Hotel itu bisa habis anggaran Rp 100-200 juta, sehingga lebih baik jika punya kantor sendiri,” ujarnya.
“Disetujui atau tidak, dalam prosesnya usulan sudah kita naikkan untuk di renovasi senilai Rp 2 miliar,” terangnya.

Soal kapan renovasi ini akan dilakukan, Andre mengatakan kalau diakomodir di APBD perubahan, maka pengerjaanya akan dimulai tahun ini juga.

“Tapi menurut informasi kemungkinan besar akan diakomodir di anggaran murni 2018. Yang Pasti usulanya sudah Kami sampaikan, bersamaan dengan kekurangan anggaran Mengikuti kejuaraan Dunia Kempo di AS, menyangkut pengurusan jenasah Almarhum Simpai Barnabas nDjurumana,” ungkapnya.

Kenapa tidak dibangun baru saja? Andre mengatakan, secara prinsip
bangun baru bisa saja kalau anggarannya ada.

“Tapi kita lihat juga kondisi gelanggan remaja disamping GOR yang dibangun dengan biaya mahal, itu saja belum selesai di bangun. Lalu kita bangun baru lagi gedung KONI,” katanya.

“Kita renovasi dulu Gedung KONI dan selesaikan dulu gelaggang remaja yang lagi mengkrak itu, yang sekarang di bagian bawahnya sudah jadi tempat jualan,” ungkapnya.

Dengan melakukan renovasi senilai Rp 1-2 miliar, dirinya lanjut Andre percaya bahwa 5-10 tahun kedepan gedung ini masih tetap layak digunakan.

Disinggung apakah setelah renovasi, Gedung KONI tetap bisa di gunakan untuk latihan? Andre juga memastikan bahwa latihan tetap bisa dilakukan di gedung KONI tersebut.

“Latihan tetap bisa digunakan, karena nantinya ada ruang besar di tengah dan pinggirnya ada kantor KONI dan Kalau ada Rekerda KONI atau rapat besar bisa ruang tengah yang besar itu yang digunakan,” tutupnya.

Sumber : Timor Express, Senin, 4 Juli 2017

Kupang - Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT resmi memiliki Sekretaris Daerah (Sekda) defenitif setelah lowong sekira dua bulan. Benediktus Polo Maing yang sebelumnya menjabat sebagai Asisten Administrasi Umum Setda NTT dilantik menjadi Sekda NTT. Pelantikan itu dilakukan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya mewakili Presiden RI Djoko Widodo, di Aula Fernandes, Kantor Gubernur NTT, Rabu (30/8).

Polo Maing dilantik berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor: 89/PPA/2017 Tentang Pemberitahuan dan Pengangkatan dari dan dalam Jabatan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya (Sekda).

Mantan Kadis Kehutanan NTT itu diusul ke presiden bersama dua calon lainnya yakni Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Sisilian Sona dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tini Tadeus.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dalam sambutannya mengatakan, Sekda NTT yang baru dinanti sejumlah tugas yang berat seperti pembahasan Perubahan APBD tahun anggaran (TA) 2017 dan RAPBD TA 2018. Karena itu, pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) harus tepat waktu dan tepat sasaran.

Dia mengatakan, Ben Polo Maing harus menjalankan tugas dengan baik, bekerja keras, cerdas dan bekerja tuntas, serta menjaga martabat dan kepercayaan. “Mari kerja keras, cerdas dan tuntas. Jaga martabat dan kepercayaan yang sudah diberikan,” imbuh Lebu Raya.

Dikemukakan, Sekda diangkat berdasarkan keputusan presiden. Hal ini sudah terbukti dengan terbitnya Kepres. Tentunya presiden bersama jajarannya melihat apa yang menjadi track record dan prestasi. “Jadi ini harus dijaga,” pesan Lebu Raya.

Sekda harus membangun sinergitas dengan semua organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk dengan lembaga DPRD agar semua bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. “Bangun sinergitas dengan semua tingkatan pemerintahan sehingga tugas pemerintahan, pembinaan pegawai maupun koordinasi lembaga DPRD berlangsung baik. Membangun kemitraan menjadi utama,” pesannya kepada Ben Polo Maing.

Pada kesempatan yang sama, gubernur dua periode itu menyampaikan terima kasih kepada mantan Sekda NTT, Frans Salem atas segala pengabdian dan kerja sama serta kemitraan yang telah dibangun selama ini. “Terima kasih kepada Pak Frans Salem, terima kasih atas pengabdianmu membantu saya sebagai gubernur selama sekian tahun,” ungkapnya.

Pantauan media ini, saat pelantikan, Sekda NTT tersebut didampingi Pastor Paroki St. Maria Asumta Kupang, Rm. Ruddy Tjung Lake, Pr. Hadir pada kesempatan itu, istri Sekda Polomaing, Maria Goreti Sri Rahayu dan anak-anaknya. Turut hadir Forkopimda antara lain, Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno, Danrem 161/WS Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa, Danlantamal VII Kupang Brigjen TNI (Mar) Dedi Suhendar, Kajati NTT Sunarta dan undangan lainnya. Hadir juga mantan Sekda NTT, Frans Salem dan Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore.

Sumber : Timor Express, Kamis, 31 Agustus 2017

Kupang - Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus selalu terjamin dari aspek kuantitas maupun kualitas.

Hal ini yang menjadi acuan bagi Bengkel Appek untuk menggelar diskusi jejaring pangan dan gizi, bersama Bappeda Provinsi NTT, Dinas Pertanian Provinsi NTT, DPRD Provinsi, Cis Timor, dan lembaga lainnya, di Sotis Hotel, Selasa (30/5).

Koordinator Umum Bengkel Appek Vinsensius Bureni menjelaskan kondisi pangan di NTT menunjukan skor pola pangan harapan (PPH) yang masih rendah. Berada di peringkat 32 dari 33 provinsi di Indonesia pada tahun 2012.

Kegagalan ketahanan pangan disebabkan oleh ego sektoral, perencanaan tanpa data dan lokasi, pembangunan belum sesuai karakteristik wilayah, dan kurangnya sinergitas antara komponen utama.

Kondisi ini yang kemudian berkontribusi pada tingkat kemiskinan di NTT yang mencapai 19,82 persen. Dan data balita gizi kurang di NTT mencapai 33,6 persen pada tahun 2013 atau peringkat 33 dari 33 provinsi, sehingga berdampak pada pertumbuhan bayi dan balita.

Ia menambahkan, melihat kenyataan di atas, SNV bekerja sama dengan Bengkel Appek NTT, YPPS melakukan advokasi dalam menyikapi ketahanan pangan dan gizi yang terjadi di NTT dengan melibatkan pemangku kepentingan di Provinsi NTT.

Sementara itu, anggota DPRD Provinsi NTT, Winston Rondo menjelaskan, masalah utama yang dihadapi adalah masalah anggaran yang masih didominasi pembangunan infrastruktur jalan, jembatan dan lainnya.

Bappeda sangat kuat dalam mengawasi masalah pangan dan gizi, hanya masih kurang dalam kerja atau aksi-aksi nyata. Oleh karena itu, berbagai pihak harus duduk bersama dan membahas program yang benar-benar sampai kepada masyarakat menengah kebawah.

Selain itu, Dinas Kesehatan dan Pertanian harus terus bekerja sama dalam menerangi masalah gizi. Pasalnya, kasus yang terjadi banyak yang sudah terkena gizi buruk baru kemudian yang disalahkan adalah dinas kesehatan. Padahal seharusnya dilihat factor penyebabnya, seperti kesanggupan keluarga memberi asupan gizi pada anaknya, dan bagaimana cara orangtua mengolahkan makanan menjadi makanan bergizi.

Ia berharap dapat ditemukan konsep kolaborasi yang bersifat strategis dan teknis untuk mewujudkan kondisi pangan dan gizi dari aspek ketersediaan, akses pemanfaatan, dan berkelanjutan di NTT. 

Sumber : Timor Express, Senin 5 Juni 2017

 

KUPANG – Pemerintah Kota Kupang dan Dinas Pariwisata Kota Kupang menggelar rapat koordinasi antara pemerintah Kota Kupang dan sektor pendukung pariwisata se-Kota Kupang. Kegiatan ini mengangkat tema “Membangun Pariwisata Kota Kupang yang Memikat,” bertempat di Hotel Naka, Rabu (31/5).

Wakil Wali Kota Kupang, Herman Man dalam sambutannya mengatakan tempat wisata di Kota Kupang perlu dibenahi. Berbagagai fasilitas pendukung perlu diperbaiki. “Seperti Taman Nostalgia, dengan menata kembali atau ditambah dengan objek-objek baru yang bernuansa NTT, sehingga para turis datang ke Kota Kupang mereka benar-benar merasakan suasana NTT khususnya Kota Kupang,” katanya.

Sementara itu, Ketua PHRI NTT, Fredy Ongkosaputra mengatakan, hotel-hotel di Kota Kupang sudah memenuhi syarat dan sudah dikategorikan hotel berbintang. Ia menambahkan, PHRI telah membuat majalah berisi destinasi wisata yang dapat dikunjungi. Majalah yang dicetak ini sebanyak 10.000 eksemplar dan akan dicantumkan atau dipromosikan pula nama travel dan hotel yang ada. “Majalah-majalah ini akan dibagikan di seluruh bandara NTT, dan bekerja sama dengan pemerintah Jawa Timur,” jelas Fredy. Selain itu, Fredy menambahkan tempat-tempat pijat tradisional harus dikawal secara baik. Ia menyebutkan, saat ini banyak pitrat yang menyajikan plus plus, sehingga orang yang menggunakan jasa pitrad pasti akan dipandang negatif. “Penjagaan di tempat pitrad harus diperkuat, seperti dijaga oleh Pol PP. Sebab pitrad, karaoke dan hotel masih dipandang negatif oleh masyarakat,” kata Fredy.

Ketua Asita Indonesia wilayah NTT Abet Frans, mengatakan, dalam pariwisata even tanpa adanya pelaku bisnis maka akan sia sia. “Kita berharap apapun yang dibuat oleh Pemkot mempunyai konsep yang baik agar setelah even yang diadakan dapat membawa dampak bagi para turis. Setidaknya ketika para turis kembali ke tempatnya, mereka dapat bercerita tentang kekayaan pariwisata di daerah kita,” kata Abet.

Ia menambahkan, hambatan yang dihadapi Asita yaitu, kurangnya kesadaran masyarakat tentang potensi wisata yang dimiliki wilayahnya. Juga kurangnya kompetensi untuk mengolah bahan lokal menjadi barang bernilai jual.

Ia mengungkapkan, sarana destinasi yang ada belum memadai, seperti jalan, WC, kurangnya perawatan, dan keamanan di daerah destinasi. Masalah atau hambatan lainnya yaitu kemampuan berbahasa asing yang sangat minim. “Karena para turis itu datang dari berbagai negara dengan bahasanya masing-masing, seperti Belanda, Tiongkok, Korea dan negara lainnya,” ungkapnya.

Ia mengimbau agar pemerintah maupun pelaku usaha dapat sesering mungkin mengikuti even, karena dapat menambah ide-ide baru yang dapat diterapkan di NTT. 

Sumber : Timor Express, Senin 5 Juni 2017

 

KUPANG - Janji DPD REI NTT untuk menjangkau seluruh wilayah di Provinsi NTT perlahan dibuktikan. Setelah menjangkau Pulau Sumba di Kabupaten Sumba Tengah dan Manggarai Raya di ujung Barat Flores, kali ini masyarakat Kabupaten Sikka mendapat angin segar tersebut.

DPD REI NTT bekerjasama dengan sejumlah perusahaan dari Jakarta membentuk sebuah konsorsium dan membangun perumahan bersubsidi di Kabupaten Sikka, tepatnya di desa Hoder, Wairita. Pembangunan perumahan Sikka Rigency itu oleh PT.Flores Real Estate dan dimulai Jumat (2/6) ditandai dengan peletakan batu pertama yang dihadiri langsung Bupati Sikka, Ansar Rera, Ketua DPD REI NTT, Bobby Pitoby, Ketua BPO DPD REI NTT, Bobby Lianto, Ketua Kadin NTT, Abraham Paul Liyanto serta sejumlah pengusaha lainnya.

“Ini pembangunan perumahan subsidi di Sikka hasil konsorsium REI NTT dan pengusaha dari Jakarta untuk kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sikka,” kata Ketua DPD REI NTT, Boby Pitoby kepada Timor Express usai acara tersebut.

Dia jelaskan, rumah yang dibangun adalah type 36/104 yang bersubsidi dengan harga Rp 141 juta. Rumah type 45/130 seharga Rp 262 juta dan type 70/150 seharga 464 juta. “Lahan yang kita pakai 3,6 hektare dan rencananya kita akan bangun 194 unit rumah,” sambung Bobby.

Meski baru mulai dibangun, namun Bobby katakan, pihaknya menargetkan proses pembangunan sudah selesai pada akhir 2017 mendatang. “Jadi target kita Desember sudah bisa dihuni,” tutupnya.

Sumber : Timor Express, Senin 5 Juni 2017

 

KUPANG,- Anhartori dari Asosiasi Ekspor Provinsi Nusa Tenggara Barat (APEX NTB) mengakui, NTT memiliki potensi sumbder daya alam dan hasil kerajinan yang layak ekspor. Bahkan banyak produk asal NTT yang sudah dikenal di sejumlah negara.

Sayang, barang-barang yang diekspor ke luar negeri tidak atasnama NTT, namun daerah lain. Misalnya, Bali, Surabaya dan Jakarta. Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah melalui Surat Keterangan Asal (SKA) barang. Menurut Anhartori, banyak produk asal NTT yang diekspor namun menggunakan SKA dari daerah lain.

“Padahal produk NTT. Jadi kita jadi sapi perahan daerah lain. Misalnya barang dari NTT tapi minta SKA dari daerah lain seperti Bali dan Surabaya,” kata pengusaha yang beberapa tahun menetamp di luar negeri itu dalam Lokakarya Pengembangan Potensi Daerah untuk Peningkatan Ekspor NTT, yang digelar APINDO NTT dan KADIN NTT di IMA Hotel Kupang, Senin (29/5).

Lokakarya yang dibuka Kadis Perindustrian, Simon Tokan itu menghadirkan sejumlah pembicara, misalnya Perwakilan Kementerian Perindustrian, Ketua Bidang Perdagangan Luar Negeri DPN APINDO, Yos Ginting, Kadis Penaman Modal Perizinan Terpadu Satu (PMPTSP) NTT, Samuel Rebo, Kadis Perikanan dan Kelautan NTT, Wakil Ketua Kadin NTT, Christofel Liyanto, Ketua APIND NTT, Fredy Ongko Saputra dan puluhan pengusaha lainnya.

Anhartori pada kesempatan itu menguraikan, setelah kembali dari luar negeri, dirinya melihat begitu banyak peluang yang bisa dikembangkan di NTB. Meski berlatarbelakang keahlian mesin, namun dirinya kemudian menjadi pencipta lantai tempurung kelapa dan mendapat pengakuan dunia. “Dan saya melihat NTT ini punya potensi yang sama, luar biasa. Bahkan dalam kunjungan kami ke beberapa negara, ada produk-produk dari NTT yang sudah dijual di luar negeri, tetapi mungkin bukan atasnama NTT,” beber dia.

Salah satu alasan NTB memiliki nilai ekpor jauh di atas NTT adalah dukungan pemerintah daerah kepada para pengusaha. Menurut dia, hubungan kooordinasi dan kerjasama pengusaha dan asosiasi dengan pemerintah daerah NTB sangat baik, bahkan dia menyebutnya satu pintu. Sehingga investasi akan semakin cepat, mudah, aman dan nyaman di sana.

“Kami dibiayai pemprov NTB untuk berkeliling sejumlah negara selama dua minggu untuk mencari pembeli dan kami berhasil mendapat banyak pembeli produk kami. Kami bangun komunikasi dengan Atase-atase di setiap negara. Jadi pemda harus backup,” tandas dia.
Produk-produk dari NTT yang sudah mendunia, misalnya ikan dan rumput laut serta pertanian perkebunan dan juga hasil bumi lainnya.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Kadin NTT, Christofel Liyanto mengatakan, banyak produk dari NTT yang terpaksa diekspor melalui daerah lain karena proses pengolahan dan juga kuantitas yang terbatas di NTT. Sehingga untuk memenuhi standar ekspor, harus dititipkan ke daerah lain yang memenuhi syarat ekspor.

Menurut Chris, wilayah NTT memiliki potensi ekspor di beberapa sektor, namun selama ini belum dikelola secara baik karena minim investor dan juga minim dukungan pemerintah. “Jadi kalau mau supaya ekspor langsung dari NTT, kita harus punya pabrik pengolahan yang memadai dan kualitas produk kita harus memenuhi standar ekspor. Memang kita harus punya koneksi langsung dengan pembeli di luar negeri karena itu akan lebih memudahkan kita,” terang Komisaris Utama Bank Christa Jaya itu lagi.

Peran pemerintah, lanjut dia sangat penting untuk mendukung pengusaha. Pasalnya, jiak dilihat dari jumlah pengusaha menegangah besar di NTT, sangat tidak proporsional. Pasalnya, dari total penduduk 5 juta lebih, NTT baru memiliki sekira 3.000 pengusaha menengah besar.

“Padahal idealnya, sebuah daerah minimal meiliki pengusaha sebanyak 2 persen dari jumlah penduduk. Jadi misalnya kalau kita punya pengusaha menegangah besar 100.000 dengan rata-rata karyawannya 10 orang saja, itu dampaknya sangat besar untuk pertumbuhan ekonomi dan juga kesejahteraan rakyat kita,” papar Chris.

Dengan asalan tersebut, Chris tegaskan, pemerintah harus mendukung pengembangan dan penciptakan lebih banyak lagi dan juga pengusaha yang berkualitas. Misalnya pengusaha mikro didorong untuk menjadi pengusaha kecil dan seterusnya. “Makanya kita dorong untuk Kadin dan Apindo bikin workshop untuk merubah mindset pengusaha dan calon pengusaha kita,” tutup dia.

Sementara Samuel Rebo pada kesempatan itu memaparkan, saat ini banyak investor melirik NTT sebagai daerah tujuan investasi. Misalnya di sektor perikanan dan kelautan, ada rumput laut dan garam. Di bidang perkebunan, ada investasi besar perkebunan tebu dan rencana pabrik gula terbesar di Sumba Timur. Ada pula perkebuhan cengkih di wilayah Sumba. “Intinya kami siap menyambut ivestasi di NTT dengan berbagai potensi yang ada. Misalnya, kita daerah penghasil sapi, tapi investasi kecil, khusus pembibitan. Kalau penggemukan banyak. Padahal lahan tersedia,” tutup dia.

Sumber : Timor Express, Senin 5 Juni 2017

 

Polling

Bagaimana Tampilan Website Ini?

Statistik Pengunjung

Hari Ini338
Kemarin748
Minggu Ini338
Bulan Ini14231
Total249228
Powered by CoalaWeb
Go to top
DMC Firewall is a Joomla Security extension!
mersin escort
atasehir escort
kartal escort
bostanci escort
film izle
film izle,türkce film izle,dublaj izle,cakallarla dans 4 izle,4k film izle,hd izle
assasin's creed izle,cakallarla dans 4 izle,film izle,full hd film izle,panta film,hd film