72

72

Berita Terpopuler

Berita Terpopuler (28)

KUPANG -Lelang e-Auction menjadi layanan unggulan Kementerian Keuangan yang termasuk dalam Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2015 saat Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik yang diadakan oleh Kementerian PAN-RB. Karena itu, Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Kupang mulai menerapkan lelang tersebut.

Hal ini dikatakan Kepala KPKNL Kupang, I. Wayan Subadra melalui rilis kepada koran ini, Jumat pekan lalu di Kupang. “Lelang e-Auction memang lebih efektif sehingga kita sudah terapkan. Sudah ada yang kita lelang menggunakan e-Auction,” kata Subadra.

Dirinya mengatakan, lelang e-Auction membuat transformasi pelayanan lelang menjadi sederhana. Selain itu, pelayanan menjadi mudah dan orientasi mengurangi beban biaya dan waktu peserta lelang untuk hadir. “Ini karena lelang dilakukan secara online sehingga peserta bisa ikut dimana saja dia berada,” jelasnya.
Keuntungan lain, jelas Subadra, adil bagi peserta lelang, pemilik barang dan penjual. Juga meningkatkan kemitraan dengan perbankan dan partisipasi masyarakat luas. “Keuntungan lainnya adalah modernisasi pelayanan yang lebih transparan, akuntabel dan responsif berbasis IT dan peningkatan penerimaan negara,” kata Subadra lagi.Lelang e-Auction ini terdiri atas dua bentuk penawaran. Yaitu penawaran secara tertutup (close bidding) dan penawaran secara terbuka (open bidding). Penawaran tertutup dimana peserta lelang tidak saling mengetahui besaran penawaran yang diajukan. Sementara penawaran terbuka peserta lelang bisa saling mengetahui besaran penawaran masing-masing.

Karena itu, Subadra mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada instansi pemerintah, perbankan dan perusahan milik pemerintah dan daerah mengenai jenis lelang tersebut. “Harapan kita semua instansi dan perusahaan milik pemerintah maupun swasta memanfaatkan jenis lelang e-Auction ini,” kata Subadra. 

Sumber : Timor Express, Senin 5 Juni 2017

KUPANG-Gubernur NTT, Frans Lebu Raya meminta lembaga perbankan untuk menyebarluaskan informasi tentang manfaat uang elektronik (e-money). Pasalnya, untuk mencanangkan program tersebut adalah hal yang mudah, namun untuk menjalankan program tersebut, bukan hal yang mudah.

Demikian diungkapkan gubernur saat lounching kawasan non tunai atau layanan e-money di Bandara El Tari Kupang, Minggu, (9/4). Layanan e-money pertama di NTT itu terlaksana atas kerjasama Bank Mandiri, Bank Indonesia (BI) dan PT.Angkasa Pura I Bandara El Tari Kupang.

“Pekerjaannya tidak selesai kita launching hari ini (kemarin). Pekerjaan berikut adalah kita melakukan sosialisasi, edukasi kepada masyarakat supaya mereka mengerti dan mau menggunakan layanan seperti ini,” kata gubernur dalam acara yang dihadiri Kepala BI Perwakilan NTT Naek Tigor Sinaga, Kepala Bank Mandiri Cabang Kupang, Carel Alexander Kandou, General Manager (GM) Angkasa Pura I Bandara El Tari Wahyudi, Danlanud El Tari. Hadir pula Kabinda NTT, Daeng Raharja dan sejumlah pelajabat lainnya.

Orang nomor satu di NTT itu mengakui, layanan nontunai tersebut sangat bermanfaat. Pasalnya, lebih mudah dan efektif. Dia contohkan, saat berbelanja di mall atau supermarket, harga yang ditentukan sering menyisakan uang kembalian yang bilangannya tidak bisa dikembalikan dengan pecahan uang rupiah. Namun jika menggunakan e-money, semua bisa terpotong secara tepat sesuai harga yang ditentukan. “Harganya kadang-kadang Rp 1.990. Pasti tidak dapat kembalian, atau kalau ada kembalian, permen. Itu ilmu abunawas punya,” kata gubernur.

Pada kesempatan itu, gubernur juga diberitahukan oleh Kepala BI Perwakilan NTT, bahwa e-money di bandar udara baru dua di Indonesia, yakni El Tari Kupang dan Soekarno-Hatta Tangerang. Dengan sedikit kelakar, gubernur pun kembali memastikan, apakah Bandara Ngurahrai Bali belum memiliki layanan e-money. “Bali belum? Berarti kita lebih hebat. Hanya, digunakan atau tidak, itu persoalannya. Jadi, kerja kita ke depan adalah edukasi dan sosialisasi terus menerus,” sambung gubernur.

Sosialisasi tersebut menurut dia, tidak hanya tentang pemanfaatan layanan nontunai, namun juga tentang cara mengelola uang. Dia bahkan mengingatkan lembaga keuangan yang memberikan pinjaman kepada masyarakat agar ikut bertangungjawab dengan memberikan pendampingan kepada para kreditur. Lembaga keuangan juga di minta untuk hadir di masyarakat dengan tingkatan paling bawah.

Menurut dia, banyak masyarakat NTT yang masih enggan berhutang (kredit), meski cenderung berhutang untuk urusan adat dan keluarga dibanding untuk membangun ekonomi keluarga. Hal ini menurut gubernur menjadi tanggungjawab lembaga keuangan untuk memberikan pendampingan dan edukasi. “Supaya dia bisa kembalikan pinjangan dengan baik, supaya pimpinan dan karyawan bank tidak pusing denan kredit macet,” pesan gubernur.

Layanan non tunai tersebut dimulai pertama di pintu keluar bandara, yakni menggunakan kartu e-money bagi kendaraan yang masuk dan keluar dari bandara. Pengguna kartu tersebut hanya menempelkan kartu e-money pada mesin scan yang sudah tersedia tanpa menunggu petugas. Sehingga, proses pembayaran parkir bandara menjadi lebih singkat.

Kepala BI Perwakilan NTT, Naek Tigor Sinaga pada kesempatan itu mengatakan, penggunaan layanan uang elektronik di NTT masih di bawah 1 persen. Dengan kehadiran e-moneyperdana di NTT itu, Naek Tigor berharap semakin banyak lagi masyarakat yang menggunakan layanan nontunai. “Sekarang untuk parkiran di bandara. Ke depan kita berharap di lounge dan juga pelayanan lain di bandara juga menggunakan e-money,” kata Naek Tigor.

Masih menurut Naek Tigor, BI ingin agar seluruh kabupaten/kota di NTT menggunakan sistem non tunai untuk setiap transaksi keuangan pemerintahan. “Karena lebih efisien, transparan dan juga efektif,” sambungnya.

Sumber : Timor Express, Senin 10 April 2017

 

KUPANG - Curah hujan di tahun 2016 hingga 2017 membuat pemerintah yakin, hasil panen petani sangat maksimal. Namun hujan dengan insentitas menengah yang terus mengguyur NTT hingga saat ini memaksa sejumlah petani harus berhati-hati dalam melakukan panen hasil kebun atau sawah.

“Sebenarnya hujan ini bagus karena kebutuhan air petani terpenuhi, bahkan berlimpah. Namun para petani harus waspada, karena kelebihan pasokan air juga berbahaya untuk merusak tanaman yang sudah siap panen,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTT, Hadji Husen.

Untuk menjaga agar komoditi yang sudah siap panen tidak membusuk akibat terlalu banyak air, Hadji Husen berharap para petani memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk memanen hasil kebun dan sawah.

Dia pun menjamin, stok pangan di NTT masih aman hingga tiga atau empat bulan ke depan. Sehingga dia berharap, para petani dan masyarakat umumnya tidak perlu kuatir dengan kondisi saat ini. “Stok pangan aman sampai beberapa bulan ke depan,” sambung dia lagi.

Dia sebutkan, saat ini stok beras mencapai 130.000 ton, sementara kebutuhan secara nasional hanya 47.000 ton. Sementara komoditi jagung tersedia 58.000 ton, dengan kebutuhan mencapai hanya 8.000 ton, setiap hari.

Menariknnya, saat ini tersedia 20.000 ton umbi-umbian, sementara kebutuhan umbi-umbian hanya 3.000 ton per bulan. Selain itu, ada pula stok kedelai sebanyak 840 ton. “Stok ini untuk seluruh penduduk NTT yang berjumlah sekira 5 juta jiwa,” sambung Hadji lagi.

Masih menurut dia, stok pangan tersebut tersedia di gudang dan tempat-tempat penyimpanan pangan masing-masing. Khusus umbi-umbian, lanjut dia, dihitung berdasarkan luas lahan yang digarap. “Itu semua di luar dari Flores,” kata Ray di bandara Labuan Bajo, Senin (3/4).

Hadji Husen jelaskan, stok pangan tersebut di luar dari hak gubernur dan para kepala daerah dalam memanfaatkan bantuan tersebut. Gubernur misalnya, memiliki hak 200 ton beras untuk memberikan bantuan kepada warga yang mengalami musibah.

Sumber : Timor Express  Selasa, 4 April 2017

 

Investasi  ilegal merupakan isu yang dominan yang terjadi di Wilayah Nusa Tenggara Timur adalah skema yang sering terjadi seringkali dinamakan investasi bodong, tentunya kini sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat.

Investasi-investasi tidak berizin yang akhirnya memberikan dampak kerugian bagi masyarakat, modus operandi investasi ilegal tersebut masuk dalam kriteria Financial Crime (kejahatan keuangan) semakin mengkhawatirkan dan kini menjadi perhatian pemerintah di seluruh dunia. Kekhawatiran ini muncul karena dampak dari kejahatan keuangan khususnya kejahatan yang bermotif ekonomi sangat potensial mengancam perkembangan ekonomi dan bahkan stabilitas nasional suatu Negara.

Menanggapi isu tersebut maka Satuan Tugas Waspada Investasi Daerah Provinsi NTT yang telah dilantik oleh Gubernur NTT pada tanggal 22 Desember 2016 melaksanakan Rapat kerja Pembahasan program Kerja Satuan Tugas Waspada Investasi Daerah pada tanggal 30 Maret 2017 bertempat di Restauran Suba Suka, rapat tersebut  dalam rangka melakukan  tindakan pencegahan dan penanganan dugaan tindakan melawan hukum dibidang penghimpunan masyarakat dan pengelolaan investasi yang sangat bermanfaat bagi masyarakat khususnya dalam hal mewaspadai penawaran-penawaran dari lembaga yang terindikasi investasi illegal. (Kominfo Provinsi NTT Tahun 2017)

Alexander B. Koroh
Alumnus Victoria University of Wellington


Perpuseru (Perpustakaan Seru) merupakan program kolaboratif Pemerintah, Pemerintah Daerah dengan berbagai stakeholder, dan Coca Cola Foundation Indonesia dan Bill and Melinda  Gate Foundation sebagai pendukung utamanya. Coca Cola Foundation Indonesia dan Bill and Melinda Gate Foundation melalui pertanggungjawaban sosialnya hadir untuk memberdayakan masyarakat melalui perpustakaan. Implementasi program ini membantu menciptakan berbagai social values dalam rangka memecahkan berbagai permasalah yang dihadapi masyarakat, khususnya dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan perekonomian. Secara riil program ini hebat bukan saja karena dilakukan secara kolaboratif tetapi juga secara sengaja menghilangkan dependency syndrome. Operasionalisasi program ini berlangsung tidak dalam konsep memberi ikan atau roti, dan atau memberi kail dan jala, tetapi lebih tinggi dari itu, program ini mendorong warga untuk mampu mengetahui dan membuat kail dan jala secara mandiri dan selanjutnya mengembangkannya demi kesejahteraan bersama.

Transformatif
Merujuk pada penjelasan di atas, tampak jelas perpustakaan tidak lagi hadir secara biasa saja, yakni sebagai tempat di mana orang datang membaca dan meminjam buku. Kini, perpustakaan hadir untuk mencerdaskan dan memajukan seluruh anak bangsa hingga dapat memiliki berbagai kompetensi yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja, dan bahkan untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan income perkapita dan meningkatkan kualitas hidup. Pada poin ini terlihat jelas bahwa perpustakaan harus merubah dirinya terlebih dahulu, barulah kemudian dapat mentransformasikan para pemustaka untuk menjadi pemustaka yang kompetensinya terus meningkat.

Sejalan dengan ini, mungkin pembaca bertanya mengapa mentransformasi perpustakaan dan pemustaka adalah krusial. Sebab, intinya, melalui perpustakaan dan pemustaka yang telah tertransformasikan barulah bangsa ini dapat secara signifikan dapat meningkatkan derajat kompetensi orang dewasa Indonesia.

Upaya untuk mentransformasikan perpustakaan harus dilakukan sebab merupakan amanat UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. UU ini secara progresif khususnya mengatur bahwa, Perpustakaan adalah sarana pembelajaran masyarakat sepanjang hayat (pasal 2); Perpustakaan ada untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa (pasal 3); Perpustakaan perlu menyediakan layanan sesuai kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (pasal 14.3); Perlu kerjasama dari berbagai pihak untuk memajukan perpustakaan (pasal 40 dan 42); Pengembangan perpustakaan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (pasal 14); Pengembangan perpustakaan harus berkesinambungan (pasal 7, 8 dan 40).

Regulasi tentang perpustakaan di atas, menjadi rujukan regulative dan landasan formal bagi dalam pengembangan perpustakaan yang mutakhir. Dalam hal ini, kehadiran Perpuseru adalah relevan dengan amanat regulasi di atas, sebab dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi terkini, berbasis elektronik dan internet, didampingi oleh pustakawan yang kompeten, pemustaka akan didorong untuk menjadi warga negara yang mandiri, melalui pengembangan kompetensi kecakapan orang dewasa, secara bertahap, bertingkat, dan berkelanjutan. Karenanya, Perpuseru akan membantu para pemustaka untuk meningkatkan kemampuan literasi, numerasi dan kompetensi pemecahan masalah. Hal ini merupakan suatu keharusan. Hasil tes PIAAC (Programme for the International Assessment of Adult Competencies), survey terhadap kecakapan orang dewasa yang dilakukan oleh OECD pada tahun 2016 menunjukkan bahwa  kompetensi orang dewasa  Indonesia adalah yang paling rendah di antara 34 negara yang disurvey, jauh di bawah Singapura dan Negara-negara maju lainnya (kompas, 1 Sept/2016).

Oleh karena itu, upaya berkelanjutan peningkatan derajat kecakapan orang dewasa orang Indonesia merupakan suatu keniscayaan. Jika hal ini diabaikan maka dengan sendirinya, daya saing bangsa ini akan tetap berada pada posisi yang jauh lebih rendah dari Negara-negara ASEAN lainnya. Sebab kecakapan-kecakapan orang dewasa di atas sangat diperlukan dalam bekerja dan berkarya dalam berbagai bidang kehidupan. Negara-negara maju dapat meraih kualitas kehidupan yang tinggi karena warga negaranya memiliki tingkat kecakapan orang dewasa yang tinggi pula.

Kerja sama intensif
Merujuk pada eksplanasi di atas, tampak jelas bahwa Perpuseru merupakan suatu terobosan yang perlu disambut dan dijalankan dengan antusias. Kebermanfaatan program ini secara nyata akan membantu menaikkan derajat kemampuan para pemustaka dewasa. Dalam konteks ini, Perpuseru membantu para pemustaka untuk tidak saja mengetahui dan memahami sesuatu, tetapi lebih daripada itu, mendorong mereka untuk dapat menerapkannya untuk kebaikan hidup mereka dan sesamanya.

Beberapa testimony dari pustakawan dan pemustaka yang talah menjalankan program ini memberikan harapan yang besar bagi peningkatan kompetensi orang dewasa Indonesia. Contohnya, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan yang telah menjalankan program Perpuseru, berhasil melatih 700 pemuda putus sekolah untuk mengoperasikan komputer dan menggunakan internet. Selanjutnya masing-masing mereka mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang diserapnya melalui internet. Melalui pendampingan yang dilakukan oleh pustakawan, sebagian besar dari peserta program Perpuseru ini telah bekerja, mandiri, dan memiliki mata pencaharian sendiri, dalam berbagai bidang seperti, membatik, kerajinan tangan, desain grafis, kesehatan, pertanian, tata boga, dan lain-lain.

Dalam konteks NTT, Badan Perpustakaan Provinsi NTT sejak tahun lalu sudah memulai bekerja sama dengan stakeholders pada level nasional, beberapa pertemuan dan loka karya telah dan akan dilakukan. Landasan regulatif dalam bentuk Pergub sedang digodok untuk menjadi payung kerja sama antar pemangku kepentingan dalam program Perpuseru. Pada level kabupaten, empat kabupaten telah disepakati untuk menjadi pilot projek, dan telah memulai beberapa kegiatan persiapan. Kabupaten dimaksud adalah TTS, TTU, Sikka, dan Ende, yang nanti setelah berjalan dengan baik dan berhasil sebagaimana kabupaten-kabupaten lain di Indonesia, akan direplikasi untuk kabupaten lainnya di NTT.

Tambahan pula, pada level nasional, stakeholder yang terlibat dalam program Perpuseru adalah, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Koperasi dan UKM, Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Perpustakaan Nasional, BKKBN, PT Telkom Tbk, 19 Bupati/Walikota Mitra Perpuseru, 13 Kepala Perpustakaan Provinsi dan 19 Kepala Perpustakaan Mitra Perpuseru. Dan tentunya, Coca Cola Foundation Indonesia, dan Bill Gate and Melinda Foundation. Dengan demikian, pada level provinsi, kabupaten/kota, pemangku kepentingan yang terlibat dapat mengikuti pola pada level nasional, dengan variasi sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing. Perluasan cakupan stakeholder pada level daerah dapat melibatkan pihak gereja, mesjid, LSM, dan berbagai asosiasi masyarakat sipil lainnya. Dengan demikian sinergitas dan akselerasi pencapaian desired outcome dapat menjadi nyata.

Tampaknya Program Perpuseru menjanjikan, bila program ini dilaksanakan dengan baik, maka ia dapat membantu membuat ‘si buta dapat melihat dan si lumpuh dapat berdiri, berjalan, dan berlari di atas kakinya sendiri’, inilah ‘pemberdayaan’ dalam arti sesungguhnya. Mari kita dukung Perpuseru agar menjadi lebih seru lagi. 

A. Pendahuluan

Manusia adalah makluk rasional yang berbeda dengan makluk hidup lainnya secara eksistensial dan secara rasional. Yang membedakannya adalah kebudayaan. Kebudayaan merupakan ruang lingkup dimana manusia hidup dan berkatifitas sehingga tercermin berbagai fenomena dan realitas yang mengandung makna dan nilai. Di dalam kebudayaan itulah nampak ciri khas ekstensial dan esensial dari manusia itu saat dilahirkan, dibentuk dan dibesarkan dalam ruang dan waktu yang di atur menurut tata cara, pola dan norma tertentu.Rasionalitas manusia melebihi makluk hidup lainnya yang menunjukan ciri ekstensial dan esensial yang oleh Santo Agustinus (Dalam Hoebel, 1958 : 1) menunjukan keajaiban manusia. “Bahwa di dunia banyak keajaiban tetapi tidak ada yang lebih ajaib dari manusia. Keajaiban manusia melebihi gelombang laut, air yang sedang mengalir dan langit yang luar biasa”. Keajaibannya bukan terletak pada ketangkasan tubuh, kemolekan tubuh, tetapi pada cara berpikir, menemukan dan menciptakan cara-cara baru dalam hidupnya. Dari kemampuan itulah manusia menciptakan, memlihara dan mewariskan kebudayaan secara turun temurun. Di tulis oleh Yosef hati NinuRelasi antar manusia dan kebudayaan digambarkan seperti mata uang dengan kedua sisinya. Dimana terjalin satu kesatuan yang tak terpisahkan. Jadi manusia sebagai pendukung tumbuh dan berkembangnnya kebudayaan. Sebaliknya kebudayaan mencerminkan identitas dan integritas manusia sebagai suatu masyarakat, suku atau bangsa. Eksistensi manusia berbentuk wujud kebudayaan berupa tradisi yang merupakan suatu keberlangsungan proses dalam ruang dan waktu yang terjadi melalui dua mekanisme yang mempunyai hubungan sebab akibat. Ada mekanisme fisik dan ada mekanisme material, berupa benda-benda aterfak dan tatanan yang dihasilkan dan diwariskan oleh generasi terdahulu, ada pula mekanisme psikologi dan ada mekanisme ideal berupa warisan keyakinan, pengetahuan, simbol, norma dan nilai dari masa lampau itu. (Silab W, 2005 : 5).Kedua  mekanisme diatas menunjukan dunia kehidupan manusia sebagai suatu dunia kebudayaan atau dunia penuh simbol dan makna. Dunia yang di dalamnya manusia berpredikat sebagai animal simbolicum (Ernst Cassirer, dalam Poepowardojo, Bertens 1982 : 11) artinya dalam dunia itu kita dapat melihat dan menemukan gambaran tentang identitas manusia yang berwujud kebudayaan yang terjadi secara dinamis.Pulau Timor sebagai pulau terbesar di Propinsi Nusa Tenggara Timur sudah terkenal ke selur penjuru dunia karena kayu cendana putih (Santalum Album L)nya yang berkualitas tinggi. Salah satu komoditas dagang yang sangat bermanfaat dan khasiatnya mengundang minat para pedangang kuno dari berbagai bangsa untuk datang ke Nusantara ini terkecuali Pulau Timor. Berbarengan dengan kedatanga bangsa Portugis ada sekelompok pedangang yang menyebut dirinya topases (Portigis Hitam) dalam sebutan orang timor : Atoin Kaes Metan, yang merupakan suatu kelompok etnis keturunan campuran (mixed desent) yang datang ke Pulau Timor selain berdagang  kayu cendana dan komoditas lainnya, juga menyebarkan Agama Kristen Katolik dikalangan penduduk asli yang masih kafir dan animisme. (Silab W, 2005 : 7)Tradisi keagamaan yang diciptakan portugis hitam dengan dilandasi dengan iman Katolik selama beberapa ratus tahun telah menjadi pandangan hidup (way of life). Tradisi ini tidak hanya menciptakan dunia baru sebagai suatu realitas antologs tetapi juga suatu realitas kosmologis yang teratur dan bermakna di dalamnya terkandung nilai dan makna yang mengatur perilaku dari masyarakat Kaesmetan, Yang akhirnya menjadi suatu identitas budaya Atoin Kaemetan di Noemuti. Namun sebagaimana dikatakan di atas  bahwa kehidupan masyarakat tidaklah statis tetapi dinamis yang selalu mengalami gejolak perubahan. Masyarakat yang dinamis adalah masyarakat yang mengalami perubahan secara cepat. Namun perubahan disini bukan berarti perubahan yang cepat atau (progress) tetapi juga bisa berupa kemunduran pada beberapa bidang tertentu (Soekanto, 1998 : 335) Tulisan ini mencoba mengangkat budaya Atoin Kaes Metan dalam hal perkawinan (Ritus Hela Keta pada Suku Ninu pada Kefetoran Manikin dengan suku Nino yang berasal dari Kefetoran di Tumbaba) sebagai media komunikasi antar budaya.

B. Kisah atau CeritaAdat istiadat merupakan aturan-aturan yang mengatur berberapa segi kehidupan manusia yang tumbuh dari usaha-usaha orang-orang di dalam masyarakat itu sendiri untuk mengatur tentang tata tertib, tingkah laku, tutur kata anggota masyarakat, (Pringodigdo, 1797 ; 14). Tentang adat istiadat ini sebagai pedoman tertinggi dari hidup manusia, (Koendjaraningrat, 1990 ; 186-187)Adat istiadat menurut orang timor dipandang dari segi etimologis, pranata sosial dan kebiasaan masyarakat Noemuti yang lebih dikenal dengan sebutan Atoin Kaemetan.

  1. Adat Istiadat / NonoSecara etimologis Nono berarti tali hutan. Secara realis Nono direpresentasikan dengan sebuah batu ceper dililit dengan sebuah tali hutan yang diletakan di kaki tiang agung rumah adat atau lumbung suku atau marga (kanaf) ninu dan juga barang-barang lain yang disimpan bersama dengan dengan batu itu yang dianggap keramat/ memiliki kekuatan tertentu. Tanda ini merupakan simbol kesatua seluruh anggota suku marga (Kanaf) yang mengatur tentang pola dalam perilaku terutama tentang fase kelahiran, perkawinan, kematian. Hal inilah yang disebut dengan nono/norma, dan bila ada pelanggaran terhadapnya maka ada sanksi yang tergolong berat (opte ma’fena)
  2. Adat istiadat meliputi pranata kekerabatan dan pranata religiusSebagai norma adat (nono) ini tergolong kedalam norma yang lebih tinggi yaitu mores (norma moral) norma keagamaan (norma religius) kedua hal ini ditandai dengan upacara adat kelahiran dengan tahap-tahapnya. Upacara  perkawinan dengan tahap-tahapnyaBila terjadi pelanggaran harus segera dilakukan ritus pemulihan agar tidak terkena sanksi yang acap kali diluar kemampuan manusia yang harus ditaati setiap warga suku/marga pada saat memasuki tahap tertentu.
  3. Tata cara (folkways)Berupa kebiasaan-kebiasaan (habits) demi menjaga sopan santus, saling menghormati, dalam hidup bermasyarakat. Folkways adalah kelasiman-kelasiman yang meliputi adat istiadat yang telah mejadi kebiasaan.Atas dasar pemikiran diatas, pada masyarakat Atoin Kaesmetan khususnya dalam Kefetoran Manikin lebih khusus Suku Ninu memiliki tradisi Hela Keta pada perkawinan campuran antar suku.Hela Keta berasal dari bahasa dawan yang terdiri dari dua suku kata yaitu ‘Hela’ dan ‘Keta’ Hela atinya menarik dan keta artinya lidi jadi secra harafia Hela Keta berarti upacara menarik Lidi. Dalam hal ini lidi dipandang sebagai pembatas atau pemisah antara kedua suku. Dalam konteks perkawinan antara dua suku yang berbeda yakni antara suku Ninu dari Kefetoran Manikin dan suku Nino dari Kefetoran Tumbaba.Menurut informasi yang diperoleh  dari Bapak Fransiskus Ninu (salah seorang toko adat, usif pada kefetoran Manikin) yang mengatakan bahwa Hela Keta merupakan satu simbol atau bentuk pemulihan sumpah adat yang dilakukan oleh nenek moyang baik itu dari Suku Ninu Kefetoran Manikin maupun Suku Nino dari Kefetoran Tumbaba. Sumpah adat dalam bentuk apa yang terjadi pada pranata kekerabatan kedua suku, menurut beliau tidak ada kepastian. Hela Keta ini dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap kehidupan sosial dan budaya dimasa mendatang. Hal ini terdegar seperti mitos yang merupakan pemikiran intelektual dan bukan pula hasil logika, melainkan lebih merupakan orintasi sipritual dan mental untuk berhubungan dengan yang ilahi. Bagi masyarakat yang berasal dari Suku Ninu pada Kefetoran Manikin, mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita ini merupakan milik mereka yang berharga, karena merupakan sesuatu yang suci, bermakna, menjadi contoh model bagi mereka dalam bertindak, yang memberi makna dan nilai bagi kehidupan mereka.Jadi Hela Keta ini bagi Suku Ninu dan Suku Nino merupakan media yang diciptakan untuk perdamaian, keharmonisan diantara kedua mempelai yang akan berumah tangga. Kisah dan cerita yang digambarkan disini selain melalui hasil wawancara juga melalui pengamatan secara langsung pada upacara perkawinan hela keta yang dilakukan, antara salah seorang anggota Suku Ninu (Permempuan) Kefetoran Manikin dan salah seorang anggota Suku Nino (Laki-Laki) dari Kefetoran Tumbaba.

C. RitusRitus merupakan wujud konkret dari kehidupan beragama. Agar dunia menjadi tempat yang at home, Ritus perlu dilakukan. Melalui ritus manusia menghubungkan  diri dengan Ilahi. Dalam ritus manusia mengaktualisasikan kehadiran yang Ilahi. Dengan ritus manusia seakan-akan mendesak yang ilahi agar ia pun mau memperhatikan kehidupannya.Namun manusia tidak hanya tahu mendesakan keinginannya. Dia juga dapat berhenti berlutut sejenak juga diahdapan yang ilahi. Dalam hal ini manusia harus mengambil sikap tertentu demi keselarasan hubungannya dengan yang ilahi. Maka dari sini kita bisa membedakan ritus kedalam 2 macam yakni ritus penyucian (purification) dan ritus korban (sacrifice) (Hans J. Daeng, 2000 : 82).Motif utama dari tindakan penyucian atau purifikasi bukanlah pembebasan diri dari kotoran atau noda fisik, melainkan pelepasan diri dari yang jahat dan masuk kedalam dimensi yang baik. Kadang kala kekuatan hidup memang menyusut, hidup kadang memucat dan kehilangan kesegaran semuannya ini dikaui sebagai kekuatan jahat atas kehidupan manusia. Maka kelemahan ini jangan dibiarkan melainkan harus dicega dengan dindakan kebersihan atau penyucian agar menjadi baru.Ritus dan motif yang dilakukan pada uacara perkawinan antara suku ninu pada kefetoran maniki dan suku nino pada kefetoran manikin secara harafia dapat digambarkan sebagai berikut :

a. Kesepakatan Pada sistem perkawinan yang lazim dilakukan di Wilayah Timor terutama TTU, dilalui dari beberapa tahapan hingga sampai pada tahap hela keta. Pada tahap hela keta ini pun tahapan yang di lalui terlebih dahulu adalah kesepakatan. Kesepakan dimaksud adalah mengenai menyamakan persepsi tentang makna di balik hela keta, mencari tahu tentang sumpa adat dalam pranata apa yang dilakukan oleh nenek moyang kedua suku, hewan kurban apa yang pantas digunakan sebagai simbol, tempat Hela Keta, tata cara hela keta itu sendiri mulaib.     

TempatTempat Hela Keta ini sungai atau kali (nono) dengan air yang mengalir merupakan media atau tempat yang biasa digunakan. Menurut Bapak Fransiskus Ninu, sungai/kali dengan air yang mengalir mengandung makna bahwa sungai merupakan pembatas atau pemisah antara hubungan kekerabatan kedua suku selain itu sungai merupakan media penghubung dan ketika airnya mengalir, akan membawa sumpah adat yang telah ada sejak dahulu

b. Pihak yang terlibatPihak pihak yang terlibat dalam upacara adat hela keta ini adalah orang tua (aina ama) dari kedua pasangan suami istri sebagi pendamping. Paman (atoi amaf) dari kedua keluarga sebagai pelindung dan penasehat, dua orang juru bicara dari kedua suku, serta keluarga besar dari kedua suku tersebut.

c. PelaksanaanSetelah waktunya, kedua suku dari keluarga pasangan suami istri bertemu ditempat yang telah ditentukan yakni sungai/kali, maka kedua bela pihak berada pada sisi sungai dan pihak laki-laki tidak boleh menyentuh air sebelum upacara dilakukan. Untuk melangsungkan upacara tersebut maka media yang akan digunakan sudah dipersiakan. Media tersebut adalah tempat siri (kabi) isinya siri (manus), pinang (puah), kapur siri (ao),uang perak (loet fatu), sopi kampung (tua meto), babi/ayam (manu/fafi), lidi (keta)Makna dari pada simbol-simbol yang digunakan tersebut adalah

1.       Sungai Merupakan simbol pembatas dari kedua suku

2.       Lidi Merupakan simbol pembatas, parang dan tombak yang lasim digunakan untuk berperang.

3.       Sopi dan tempat siriMerupakan simbol perdamaian dan kebersamaan

4.       Hewan kurban Menurut keyakinan kedua suku hewan kurban merupakan sesuatu yang panas (darah dan daging) Setelah semua media itu disiapkan maka, dilanjutkan dengan preoses dari pada Hela Keta yakni :

1.       Tutur adat (natoni)Tutur adat dilakukan dengan cara :

a.       Pihak perempuan melalui juru bicara menayakan maksud dari pihak laki-laki dengan bahasa adat 

1.       Pelepasan lidi (nahoeb keta)Sebelum melakukan pelepasan lidi (keta) salah satu pihak menyampaikan kepada nenek moyang dan penguasa alam semesta bahwa pada hari itu pula telah di akhiri sumpah adat yang telah terjadi sejak dahulu sehingga kehidupan keluarga dari kedua pasangan suami istri kedepan berjalan dengan baik dan kedua lidi tersebut dilepaskan kedalam aliran sungai sebagai tanda bahwa air yang mengalir telah membawa masalah tersebut

2.       Jabat tangan (makan siri bersama)setelah dilakukan pelepasan kedua siri dilanjutkan dengan saling jabat tangan antara kedua bela pihak terutama laki-laki dan perempuan, dan saling melayani untuk memakan sirih yang digunakan dalam upacara tersebut.

3.       Penyembelian hewan kurbanPenyembelian hewan kurban merupakan proses terakhir dari rangkaian upacara adat tersebut. Akan tetapi sebelum melanjutkan perjalanan pulang maka, semua daging dari hasil penyembelian hewan tersebut harus dimakan samapi habis dan tidak boleh ada yang tersisa/ biasanyan disebut (tah tabua) makan bersama.

D. Makna Makna yang dipetik dari upacara hela keta pada perkawinan antara Suku Ninu (Kefetoran Maniki) dan Suku Nino (Kefetoran Tumbab) yang dilaksanakan sebagai bentuk penyucian pelepasan sumpah adat yang dilakukan sejak dahulu oleh nenek moyang kedua suku tersebut. Upacara ini merupakan sebuah simbol dan mitos yang oleh (J. Van Baal, dalam Daeng J. Hans 2000 : 81) “cerita didalam kerangka sistem suatu religi yang dimasa lalu atau kini telah atau sedang berlaku sebagai kebenaran keagamaan”. Melalui mitos dan simbol itulah manusia berusaha berorientasi dalam kehidupan ini; ia tahu ia datang dan kemana ia pergi; asal usul dan tujuan hidupnya dibeberkan dalam mitos dan simbol tersebut.  Motif utama dari tindakan penyucian atau purifikasi bukanlah pembebasan diri dari kotoran atau noda fisik, melainkan pelepasan diri dari yang jahat dan masuk kedalam dimensi yang baik. Kadang kala kekuatan hidup memang menyusut, hidup kadang memucat dan kehilangan kesegaran semuannya ini dikaui sebagai kekuatan jahat atas kehidupan manusia. Maka kelemahan ini jangan dibiarkan melainkan harus dicega dengan dindakan kebersihan atau penyucian agar menjadi baru. Dan menurut pandangan Syukur Dister, dalam Daeng J. Hans 2000 : 81) hal ini merupakan pedoman dan arah kepada sekelompok orang yang berintikan lambang,  yang mengantarkan manusia dan daya-daya kekuatan alam. 

Sumber : Timex Minggu 4 September 2016

Bupati Realisasi permintaan warga

TAMBOLAKA - warga kampung tano watu Desa Bondo bela kecamatan wewewa selatan yang terisolasi selama ini karna ketidakadaan jalan dan  sebagainya saat ini bole bersukur ,pasalnya  Bupati SBD Markus Dairo Talu telah siap merelisasaikan permintan warga dengan akan membangun jembatan  penyeberangan yang akan menghubungkan  kampung tersebut dengan 25 unit rumah transmigrasi.

Bupati SBD Markus DairoTalu kepada Timor express selasa (30/8)mengatakan untuk menghubungkan kampung  tano watu dengan akses jalan umum tahun ini telah di anggarkan untuk pembangunan jembatan penghubung.

“Tahun ini akan kita bangunjembatan penghubungkewilaya kampung tersebut setelah di bangun tahun depan  akan kita anggarkan pembukaan jalan  dikampung ini “kata Markus

Selain itu dalam kunjungan TP PKK SBD dikampung tersebut.dan tahun ini akan di bangun 25 unut rumah trasmigrasi di tempat yang telah di survey. “karna warga juga  minta pemerinta siapkan rumah transmigrasi agar mereka tidak berjauan”ujarnya

Sebelumnya dalam kunjungan TP PKK SBD Ratun Wulla kekampung itu waktu lalu  sala satu warga KORNELIS DARA JAMMA meminta perhatian  kepada pemerinta baik itu akess jalan keselamatan dan pendidikan .

Maklum kampung itu tidak memiliki  satupun akses pelayanan baik itu pendidikan serta PAUD maupun SD.Apalagi fasilitas penerangan dan dll. “Inilah kondisi kami di dusun IV dan perlu ibu bupati ketahui bahawa dusun II lrbih jau lagi dari sini ,sehingga kami meminta  kalu bias buatkan rumah transmigrasiagar kami berdekatan pinta Kornelis Dara Damma.

Terpisa kadis  PU SBD Samuel borro  mengaku pembangunan jembatan Bondo Bela yang menghubungkan kampung tano watu saat ini sementara dilakukan tender dengan alokasi anggran sebesar Rp 4,8 miliar dari dana alokasi khusus.

Sumber : Timor Express 31 Agustus 2016

Kadis: 90 Ribu Wisatawan Kunjungi NTT Setahun

KUPANG - Tekad Gubernur NTT Frans Lebu Raya untuk menjadikan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai New Tourism Territory (NTT) cukup beralasan. Sumbangan dari sektor pariwisata tahun 2015 saja, mencapai Rp 2 triliun.

“Ini jumlah yang sangat besar. Jadi tahun 2015 pemasukan dari sektor pariwisata untuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTT Rp 2 triliun. Target kita, setiap tahun naik 15-20 persen,” jelas Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Marius Ardu Jelamu kepada Timor Express, Selasa (30/8).
“Ini pemasukan dari hotel, restoran dan objek-objek wisata serta kerajinan-kerajinan lokal dan lainnya,” sambung Marius.

Mantan Penjabat Bupati Manggarai itu katakan, dengan potensi pemasukan yang begitu fantastis, pihaknya terus mengkampanyekan dunia pariwisata NTT ke dunia luar. Alhasil, kunjungan wisatawan ke NTT juga terus meningkat.

Secara umum, pihaknya menargetkan kunjungan sebanyak 90 ribu sampai 100 ribu wisatawan dari berbagai negara. Sementara target jangka panjang selama lima tahun sebanyak 500 ribu pengunjung.

Namun menurut dia, target tersebut harus dibahas dan dikaji kembali bersama Badan Pusat Statistik (BPR). Pasalnya, sumber informasi tertkait kunjungan wisatawan yang selama ini digunakan BPS belum tentu seluruhnya benar.

Dia contohkan, bulan Mei 2016, sebuah kapal pesiar berpenumpang 1.300 wisatawan menyinggahi Labuan Bajo Manggarai Barat. Dan, para wisatawan tersebut turun untuk menyaksikan keindahan alam Labuan Bajo yang terkenal juga dengan satwa langka Komodo.

“Ada juga kapal pesiar yang masuk dengan wisatawan 300 orang, 400 orang atau 500 orang. Di Labuan Bajo itu kan hampir setiap hari ada kapal pesiar,” beber Marius yang menduga wisatawan-wisatawan tersebut luput dari data BPS.

Salah satu jalur masuk wisatawan yang tergolong besar adalah dari Negara Timor Leste. Jumlahnya mencapai 36 ribu per tahun, dengan rincian, 3000 pengunjung per bulan dari Timor Leste.

Jika digabung dengan daerah lain, termasuk Kota Kupang, Marius yakin, jumlahnya jauh di atas 100 ribu wisatawan. Hal ini yang mendorong dirinya untuk meminta kepada Kemen terian Parekraf untuk didiskusikan kembali dengan BPS terkait metoda pengambilan data.

“Sangat mungkin untuk luput, karena BPS ambil data dari hotel-hotel. Sementara hotel juga bisa bohong. Misalnya per bulan 100 orang, dia bisa bilang 50 orang,” beber dia lagi.

Sumber : Timor Express 31 Agustus 2016

SURABAYA – Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Polisi Tito Karnavian memastikan, persoalan human trafficking yang terus membelenggu bumi Flobamora akan diusut hingga tuntas.

Pasalnya, kata Tito, Presiden RI, Joko Widodo memberi atensi khusus terhadap Polri agar masalah human trafficking di NTT tidak disepelekan. “Ketika saya dilantik menjadi

Kapolri, salah satu pesan Bapak Presiden (Joko Widodo, Red) adalah menuntaskan kasus human trafficking di NTT. Karena itu, setiap perkembangan proses penuntasan kasus ini selalu diikuti dan dicek Bapak Presiden. Jadi setiap tahapan proses hukum untuk persoalan human trafficking ini kami (Kapolri, Red) laporkan ke Bapak Presiden,”ungkap Tito Karnavian menjawab pertanyaan koran ini. Kapolri, seperti dilaporkan wartawan Timor Express, Marthen Bana dalam forum dialog Kapolri bersama para Pimpinan Redaksi (Pemred) Jawa Pos Group se Indonesia di Semanggi Room, Graha Pena Surabaya, Jumat (2/9), menekankan sejumlah poin tentang penanganan trafficking di NTT.

Kapolri yang saat itu didampingi Kepala Divisi (Kadiv) Humas Mabes Polri, Irjen Pol. Boy Rafli Amar, Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol. Anton Setiadji, dan sejumlah kepala divisi Mabes Polri mengatakan, sebagai bentuk dari keseriusan Polri dalam mengungkap dan mengusut tuntas masalah human trafficking di NTT, pihaknya membentuk tim khusus di Mabes Polri. mereka bertugas mencari, menyelidiki, dan mengungkap siapa saja yang terlibat dalam persoalan tindak pidana perdagangan orang di NTT ini.

Tito menyebutkan, dari hasil kerja keras tim ini, pihaknya telah menangkap dan menetapkan 14 orang sebagai tersangka. Mereka itu, kata Kapolri, ditangkap di sejumlah daerah yang menjadi jaringan mafia TKI dari NTT, yakni

Semarang (Jawa Tengah), Jawa Timur, Dumai (Riau), Tanjung Balai (Kepulauan Riau), dari dari NTT sendiri. “Jadi percayakan penanganan kasus ini ke tim dari Mabes Polri. Tim ini sedang bekerja keras karena saya cek setiap tahapan prosesnya. Kita akan usut hingga tuntas, termasuk menangkap semua jaringan-jaringan yang ada. Jadi saya (Tito Karnavian, Red) mohon doa dari seluruh masyarakat NTT agar proses ini bisa diusut hingga tuntas,”kata Tito.

“Oh ya…NTT itu selalu diplesetkan menjadi Nanti Tuhan Tolong atau Nasib Tak Tentu. Untuk urusan ini (Human Trafficking, Red) percayakan pada kami. Pokoknya untuk NTT, Nanti Tito Tolong,”tambah mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini.

Dalam kesempatan itu, Tito juga menjelaskan soal pemulangan jenazah TKI asal NTT yang selalu ditemukan jahitan di tubuhnya. Menurut Tito, jahitan terhadap jenazah TKI yang dikirim kembali ke keluarga di NTT bukan karena tubuhnya dibedah lalu diambil organnya. Melainkan itu merupakan prosedur otopsi yang dilakukan pihak kepolisian di Malaysia. “Jadi di Malaysia itu, kalau untuk mengungkap sebuah fakta, sesuai prosedur dalam otopsi mereka, tubuh jenazah itu dibedah secara keseluruhan. Bahkan terkadang kepala juga dibedah untuk memeriksa semua jaringan guna kepentingan penyidikan. Jadi ini kita hargai, bahwa aparat hukum di Malaysia juga serius mengusut persoalan human trafficking. Jadi saya mohon agar kita jangan berpikiri bahwa organ tubuh TKI diambil lalu dijual. Itu semata-mata hanya untuk kepentingan penyidikkan,”urai Tito.

Sumber : TIMOR EKSPRESS, Sabtu 3 September 2016

Kupang - Tim gugus tugas yang melibatkan beberapa sektor melakukan pengawasan secara rutin 1x24 jam pada dua titik utama yang rawan digunakan oknum pelaku human trafficking, yakni Bandara El Tari Kupang dan Pelabuhan Nusa Lontar, Tenau Kupang.

Proses pemantauan terutama calon tenaga kerja Indonesia (TKI) yang non prosedural dimana jika kedapatan maka akan diproses sesuai hukum yang berlaku. Kepala Dinas (Kadis) Tenaga kerja dan Transmigrasi Provinsi NTT, Drs. Bruno Kupok, menyampaikan hal ini melalui Kepala Bidang PHI dan Pengawasan Ketenagakerjaan, Thomas Suban Hoda, ketika ditemui di ruang kerjanya, Jumat (2/9/2016).

Thomas menjelaskan, keberadaan gugus tugas ini memang sudah lama ada tetapi proses kegiatan selama ini seperti apa, dirinya tidak terlalu ikuti karena dirinya baru saja tempati di bidang ini. Tim gugus tugas ini baru berjalan efektif kembali terhitung tanggal 1 Juli dimana seluruh instansi sudah berkoordinasi bersama untuk melakukan tugas bersama di lapangan.

Tugas gugus tugas antar instansi ini, jelas Thomas, fokus pada calon TKI non prosedural untuk memantau 1x24 jam di dua titik, yakni Bandara El Tari Kupang dan Pelabuhan Tenau Kupang.

"Kita bekerja maksimal untuk melakukan pengawasan. Sudah ada batasannya jika calon TKI yang non prosedural ditangkap di dua titik itu. Jika persoalan administrasi maka kita ambilalih penangannya. Jika ada unsur tindak pidana maka aparat kepolisian yang mengambil peran. Kita juga lakukan pengawasan terhadap PJTKI yang melakukan seleksi calon tenaga kerja. Kalau kedapatan mengirim TKI tidak resmi maka kita ajukan ke Kantor Satu Atap yang terbitkan surat ijin untuk bekukan surat ijin usahanya," tegas Thomas Tentang sosialisasi, Thomas mengatakan, berkoordinasi dengan dinas kabupaten terus dilakukan guna melakukan sosialisasi mengenai mekanisme perekrutan calon tenaga kerja.

Seluruh mekanisme harus berpedoman pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 14 tahun 2008 dimana dinas teknis di tingkat provinsi dan kabupaten agar terus melakukan sosialisasi dalam hal perekrutan tenaga kerja secara resmi.

Menurutnya, selama ini kesadaran warga untuk mengikuti prosedur mengurus dokumen secara resmi sebelum berangkat ke luar negeri membutuhkan proses. Untuk itu, pihak Nakertrans akan terus melakukan sosialisasi sehingga tidak ada lagi warga yang menjadi korban permainan oknum tertentu dalam merekrut calon tenaga kerja itu.

"Gugus tugas sudah ada batasan tugas mencegah yang non prosedural. Dalam hal pengawasan kita buka posko bersama. Kalau di Bandara ada TNI dibantu Polri juga petugas Angkasa Pura. Kita saling berkoordinasi. Kita ingatkan supaya para calon tenaga kerja harus menyertakan dokumen yang jelas, surat pengantar dari kabupaten yang legal. Kalau tidak resmi maka kita akan cegah dengan memberikan pembinaan agar mereka berangkat harus mengurus surat resmi," ujar Thomas.

Sumber : Pos kupang, Minggu 4 september 2016

  •  Start 
  •  Prev 
  •  Next 
  •  End 
Page 1 of 2

Polling

Bagaimana Tampilan Website Ini?

Statistik Pengunjung

Hari Ini852
Kemarin915
Minggu Ini1767
Bulan Ini15474
Total197472
Powered by CoalaWeb
Go to top
Our website is protected by DMC Firewall!
mersin escort
atasehir escort
kartal escort
bostanci escort
film izle
film izle,türkce film izle,dublaj izle,cakallarla dans 4 izle,4k film izle,hd izle
assasin's creed izle,cakallarla dans 4 izle,film izle,full hd film izle,panta film,hd film