Pengelolaan Pariwisata Berbasis Masyarakat, upaya pulihkan ekonomi NTT
Di penghujung tahun 2021, 3 tahun 3 bulan sudah
kepemimpinan pasangan gubernur dan wakil gubernur NTT yang dikenal dengan
sebutan Victory-Joss : Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Adrianus Nae Soi.
Putera NTT yang kembali ke NTT dengan sejuta komimtmen dan mimpi besar
menjadikan NTT sebagai Provinsi yang mampu keluar dari stigma daerah tertinggal
dalam berbagai aspek (daerah 3 T).
Keduanya menetapkan pariwisata sebagai penggerak
ekonomi masyarakat NTT, dan selama 3 tahun ini bukanlah hal mudah
mewujudkannya, terutama dalam tahun kedua pemerintahan mereka, saat dunia
diterpa Pandemi Covid dan Seroja.
Namun upaya pemerintah provinsi NTT walau tidak pesat
mulai menampakkan dampak dan kemajuan dari komitmen gubernur yang ingin
menjadikan pariwisata sebagai prime mover (pengerak) perekononian masyarakat
dan sistem tata kelola pariwisata berbasis masyarakat.
Dalam sambutan gubernur pada moment perayaan HUT NTT
ke 63 tahun 20 Desember 2021, Viktor Laiskodat mengatakan akibat melandainya
kasus penularan covid-19, maka ekonomi NTT berangsur pulih sebagaimana
tercermin pada kinerja perekonomian triwulan III 2021 dengan pertumbuhan
ekonomi 2,37 persen, lebih baik dibanding triwulan I sebesar 0,12 persen, meski
lebih rendah dari triwulan II, 4,33 persen.
Dan pertumbuhan ekonomi NTT salah satunya akibat geliat ekonomi sektor pariwisata yang
mulai tumbuh perlahan setelah pemberlakuan new normal sejak Juni 2020 dan pada
2021 dilakukan pencabutan PPKM Level 3 di hampir semua wilayah kabupaten kota
yang memiliki destinasi wisata.
Sebagai provinsi dengan wilayah kepulauan, NTT memiliki potensi pariwisata yang luar
biasa kaya, walau juga menjadi sektor yang paling terdampak pandemi covid-19
ini.
Namun sejak pertengahan Juni tahun 2020, Pemerintah
Provinsi NTT dengan didukung para pelaku industri pariwisata telah melakukan
suatu loncatan yang berarti dengan memanfaatkan gerakan new normal untuk
mengaktifkan kembali pariwisata NTT sebagai langkah awal untuk pemulihan.
Selain pembangunan infrastruktur pendukung di wilayah
destinasi wisata dan di obyek pariwisatanya, pemerintah provinsi NTT melalui
Dinas Pariwisata NTT membuka website
promosi pariwisata lengkap dengan informasi destinasi dan potensi pariwisata
andalan NTT, menggelar pameran dengan
melibatkan UMKM pelaku
pariwisata, melibatkan masyarakat dalam pengelolaan destinasi wisata antara
lain membangun homestay atau kamar di
rumah warga untuk di tempati wisatawan dengan dibiayai pemerintah, melatih
warga memiliki jiwa, atitude dan
managemen pariwisata, memberi pelatihan managemen usaha pariwisata dan akses
modal usaha pariwisata
Lewat platform digital promosi pariwisata, pemerintah
NTT berharap dapat mendatangkan wisatawan dari selutuh penjuru dunia. Bahwa
pariwisata NTT sudah siap untuk menerima kunjungan, dengan berbagai upaya
memberi jaminan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan melalui penerapan
protokol kesehatan yang ketat, namun tidak mengurangi unsur pleasure atau
kesenangan.
Komitmen pemerintah NTT di tahun 2021 dan berharap
pada tahun 2022 pariwisata NTT sudah benar-benar pulih dan
normal sebagaimana mestinya bahkan mengalami lonjakan.
Pemerintah Kabupaten/Kota bersama Pemerintah Provinsi NTT, melalui intervensi program dan kegiatan yang ada juga diharapkan ikut mendukung pelaku industri pariwisata agar dapat bertahan dan produktif dalam kondisi ini.
Upaya lain Pemda NTT adalah menjamin ketersediaan
rantai pasok atau supply chain demi menunjang pariwisata secara mandiri dengan
mengurangi pasokan dari luar NTT.
Mempersiapkan ketersediaan bahan baku, khususnya dari
sektor pertanian, peternakan, perikanan dan kelautan yang berbasis industri dan
perdagangan.
Menyediakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
penciptaan keamanan dan kenyamanan, termasuk ketersediaan sarana dan prasarana
pendukung dari segi higyenis, seperti ketersediaan dan kelayakan toilet, air
bersih dan manajemen persampahan yang baik.
Untuk mengembangkan pariwisata estate berbasis
komunitas, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur sementara melakukan penataan
destinasi wisata unggulan NTT, meliputi pembangunan infrastruktur penunjang
berupa home stay, cottage dan restaurant pada tujuh lokasi pariwisata estate,
yaitu Pantai Liman, Kabupaten Kupang; Desa Wolwal, Kabupaten Alor; Mulut
Seribu, Kabupaten Rote Ndao; Lamalera di Kabupaten Lembata; Koanara di
Kabupaten Ende; Fatumnasi di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Pramaidita di
Kabupaten Sumba Timur.
Ketujuh destinasi pariwisata estate tersebut semuanya
telah diresmikan pada pertengahan tahun 2021.
Pemerintah Daerah di ketujuh destinasi pariwisata
estate tersebut diharapkan berupaya meningkatkan kolaborasi dengan Pemerintah
Provinsi NTT serta mempersiapkan masyarakat dalam rangka kesinambungan
pengelolaannya.
Menuju
pariwisata estate maka harus ada perubahan pada pola pikir masyarakat
NTT bahwa pengelolaan destinasi wisata tidak semata-mata untuk meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi lebih mengedepankan peningkatan ekonomi
masyarakat.
Dengan telah tersedianya sarana prasarana penunjang di
7 (tujuh) lokasi destinasi wisata tersebut, maka tugas Pemerintah Kabupaten
setempat adalah menyediakan infrastruktur penunjang lain, seperti jalan, air
bersih, listrik dan komunikasi, serta memfasilitasi dan memberikan pendampingan
kepada masyarakat untuk menjadi pemilik atas obyek wisata tersebut.
Upaya lain adalah dengan memperbanyak atraksi atau
festival yang disertai dengan narasi-narasi yang memikat wisatawan, serta
hasilkan produk lokal setempat dengan kualitas terbaik, menarik dan memiliki
cita rasa serta nilai ekonomi yang tinggi.
Walau masih belum sempurna, namun dalam 3 tahun
kepemimpinan Victory-Joss upaya-upaya tersebut sudah dilakukan dengan
penyediaan jalan, listrik dan air.
Dalam sambutan peringatan HUT ke 63 tahun NTT, wagub
Nae Soi memaparkan hingga akhir tahun 2021, ruas jalan yang sudah dibangun
dibeberapa wilayah di NTT adalah sepanjang 365,03 km pada tahun 2020 dan 518,62
km di tahun 2021, dari 906 kilometer jalan provinsi yang rusak berat dan
ringan.
Pembangunan jalan tersebut dengan memanfaatkan sumber pembiayaan dari
Pinjaman Bank NTT dan PT SMI, serta Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, dan
Program Hibah Jalan Daerah.
Dan tersisa 22,35
km jalan yang belum dikerjakan dan
akan dituntaskan pada tahun 2022.
Dengan penyediaan sarana utama jalan, diharapkan pengelolaan obyek wisata berbasis
masyarakat dapat dilaksanakan, sehingga mampu menarik minat para wisatawan
datang ke berbagai destinasi wisata di seluruh penjuru NTT, dan ekonomi
masyarakat NTT pulih.
Pengelolaan potensi pariwisata berbasis mssyarakat
diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan ekonomi
provinsi NTT.
Karena terbukti selama pandemi, sektor yang mampu bertahan dan memberi kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi NTT adalah UMKM. Sehingga konsep pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat menjadi daya dorong bagi pertumbuhan ekonomi NTT ke depan, karena pandemi masih belum bisa diprediksi kapan berakhir dan normal.
