Blog Single
Artikel - Umum

Jumpa Pers dan Media Gathering Penjabat Gubernur NTT bersama dengan para Jurnalis

Bertempat di Aula Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi NTT pada hari ini Senin 22 januari 2024 dilaksanakan Kegiatan Jumpa Pers dan Media Gathering Penjabat Gubernur NTT Ayodhia G.L. Kalake, SH., MDC bersama dengan para wartawan/jurnasli media massa. dalam kegiatan ini mengangkat tema : Penanganan Stunting, Kemiskinan dan Kemiskinan Esktrem, serta Pemilu 2024.  Berikut penyampaian Penjabat Gubernur terkait dengan beberapa hal tersebut :

Syalom, Salve, Assalamu’alaikum Warohmatullohi  Wabarokatuh, Om Swastyastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan dan Salam sejahtera bagi kita sekalian.

Hadirin yang Saya Hormati, Pada kesempatan yang bermartabat ini, saya akan  sampaikan kondisi terkini terkait isu yang menjadi prioritas pembangunan NTT, yaitu :

Pertama ;

Persentase penduduk  miskin di Provinsi NTT Tahun 2023 (Maret) sebesar 19,96 %,  turun 0,27 persen terhadap kondisi September 2022 dan turun 0,09 persen terhadap Maret 2022. Kabupaten dengan tingkat kemiskinan tertinggi yakni Sumba Tengah (31,78%), Sumba Timur (28,08%) dan Sabu Raijua (28,37%). Sementara Kabupaten dengan tingkat kemiskinan terendah  yakni Kota Kupang (8,61%), Flores Timur (11,77%) dan Ngada (12,06%).

Jumlah  penduduk  miskin  Provinsi  NTT  Tahun  2023 (Maret)  sebesar  1,14 juta orang,  TURUN  8,06 ribu orang terhadap September  2022 namun  naik sebanyak  9,49 ribu orang terhadap Maret 2022. Kabupaten dengan jumlah penduduk  miskin tinggi yakni TTS (119,51 ribu), Sumba Barat Daya (101,40 ribu) dan Kabupaten Kupang (90,23 ribu). Sementara Kabupaten dengan jumlah penduduk miskin rendah yakni Nagekeo (18,57 ribu), Ngada (20,57 ribu) dan Sumba Tengah (24,24 ribu).

Angka Kemiskinan ini diukur melalui perhitungan pengeluaran penduduk di bawah Garis      Kemiskinan (GK) sebesar Rp.  507.203/kapita/bulan  (Maret 2023) dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan (GKM) sebesar Rp. 389.518 (76,80 persen) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) sebesar Rp. 117.685 (23,20 persen).

Tingkat kemiskinan ekstrem Provinsi NTT  Tahun 2023 sebesar 3,93%, mengalami penurunan sebesar 2,63 persen terhadap kondisi tahun 2022. Pada tahun 2022, Kabupaten dengan persentase penduduk miskin ekstrem tertinggi yakni Sumba Tengah (19.11%), TTS (13.01%) dan Sumba Timur (10.40%). Sementara itu,  3 kabupaten  dengan persentase   terendah   yakni Nagekeo  (1.47%), Flores Timur (2.10%) dan Alor (2.38). Data kemiskinan ekstrem per kab/kota 2023 TIDAK dapat didiseminasikan BPS karena tingkat error/ Relative Standard Error (RSE) yang tinggi.

Kemiskinan Ekstrem ini  diukur melalui perhitungan penduduk dengan pendapatan kurang dari US $ 1,9 PPP (purchasing power parities), setara dengan Rp. 10.739 per kapita per hari atau sebesar Rp. 322.170 per kapita per bulan. Pada tahun 2022 Bank Dunia telah menaikkan  standar pengukuran  kemiskinan ekstrem menjadi $  2,15 PPP, namun Pemerintah Indonesia masih tetap menggunakan standar lama yakni $1,9PPP.

Standar kemiskinan ekstrem yang digunakan adalah paritas daya  beli  atau  Purchasing Power Parities dan  secara teoritis mengikuti  “Hukum Satu Harga” dimana angkanya  tidak langsung mengacu pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. PPP sudah disesuaikan dengan standar biaya hidup antar negara sehingga nilai US $1,9 di Indonesia akan sama dengan US $1,9 di negara lain.

Strategi    yang    dilakukan    untuk    menurunkan    angka kemiskinan dan kemiskinan ekstrem 2024 yaitu :

A.   Menurunkan Beban Pengeluaran :

   1. Dinkes: (Iuran  Jaminan Kesehatan bagi  masyarakat miskin PBI-JK, PBPU dan BP)

   2. Dinsos:

      • Rehabilitasi  Sosial   (7   panti   pemerintah), Bantuan modal usaha Kelompok Usaha Bersama / KUBE kepada masyarakat/keluarga dalam desil 1 dan desil 2;

      • PKH   (Program   Keluarga   Harapan)   yang terdaftar sebagai Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) di NTT sejumlah 1.040.000 KK / sekitar 3.000.000 jiwa. Kemensos yang berwenang                           memvalidasi  data. Data DTKS ini yang menjadi data dasar untuk berbagai jenis bantuan, seperti bantuan untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak, sekolah, lansia, stunting.

      • Ada    pula    bantuan   langsung   tunai    (Rp 600.000/triwulan)  yang disalurkan langsung dari Kemensos ke masyarakat melalui PT Pos dan Bank Himbara.

      • Bantuan beras 20 kg per KK dari Dinas Sosial Pemprov dialokasikan  Rp 1,9 miliar (sekitar 173  ton  untuk  sekitar 8.676  KK),  bantuan KUBE Pekososbud dianggarkan Rp 2,8 M

  3.  Penanggulangan bencana

       • Penanggulangan  bencana dengan alokasi Rp 196 juta. Peruntukan yang langsung diberikan kepada masyarakat  dalam bentuk pengadaan beras 4.000 kg per kasus bencana.

       •  Pemprov NTT telah menghibahkan  5  ha  di Manulai (Kota Kupang) untuk penyimpanan logistik regional, pusdiklat regional, dan pusdalops bencana regional Bali Nusra yang dikelola langsung oleh                Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

•    Dinas PMD:

     • Sesuai petunjuk Permendes, Dana Desa tahun 2024 dialokasikan BLT Maks 25%, Ketahanan pangan hewani minimal 20%, serta stunting dan bencana.

B.   Meningkatkan Pendapatan :

      1.  Dinas  KP:   Bantuan  prasarana  perikanan  tangkap (kapal,  coolbox,  alat  tangkap), Bantuan  prasarana budidaya ikan,

           • Kapal nelayan 3 GT untuk nelayan

           • Bibit    dan    prasarana    diberikan    kepada pembudidaya rumput laut

           • Coolbox     diberikan     kepada     kelompok- kelompok penjual ikan

           • Kerja sama dengan K. ATR BPN dan KKP di 22 kabupaten/kota, sertifikasi lahan bagi nelayan dan pembudidaya jika memiliki lahan.

           • Kerja  sama  dengan KKP  kegiatan bantuan bibit dan sarana prasarana untuk pembudidaya rumput laut  (Lautra) di Kabupaten Alor dan Kabupaten Rote Ndao

            Kegiatan pengembangan  usaha garam rakyat untuk 4 kabupaten, yaitu Kabupaten Nagekeo, Kabupaten TTS, Kabupaten Kupang, Kabupaten Sumba Timur masing-masing  Rp 10 miliar, ditambah                 dukungan APBN langsung ke  Kabupaten untuk  perbaikan saluran air garam dan  jalan melalui mekanisme Tugas Perbantuan.

           • Bantuan untuk erupsi Lewotobi 250 kg ikan dari Cabang Dinas Dinas Kelautan Perikanan Provinsi NTT Kab Flores Timur, Sikka dan Lembata.

     2.   Dinas Kopnakertrans:

            • Program    Pekososbud   bantuan    langsung kepada kelompok untuk 2024 dianggarkan Rp 8 M, realisasinya  masih menunggu proposal. Sebagai perbandingan, anggaran 2024 ini kami naikkan                     dari realisasi 2023: Rp 3,1 M kepada 155 kelompok.

            • Pelatihan UMKM terkait kurasi produk, forum kemitraan untuk pemasaran,  dan pemasaran digital,  layanan bantuan hukum  dan  akses pembiayaan. Tahun 2024  dianggarkan 7 pelatihan masing-                   masing 30 UMKM peserta.

            • Peningkatan    kompetensi    pencari    kerja dalam bentuk pelatihan sesuai kompetensi dan kejuruan standar kerja nasional RI (SKKRI) dengan     memanfaatkan     Balai Latihan Kerja (BLK),                         khususnya Balai Besar Vokasional dan Produktivitas Provinsi NTT di Kota   Kupang   di   bawah   pengawasan langsung Kementerian Ketenagakerjaan, serta Balai Latihan Kerja Komunitas                           (BLKK) dengan jumlah 56 BLKK di seluruh Provinsi NTT. Target untuk 2024, BLK Provinsi 25 paket @ 16 orang (400 orang), BLKK 56x16 orang (896 orang pencari kerja)

      3.    Dinas PMD:

             • Meningkatkan kinerja Balai Teknologi Tepat Guna  Pemprov NTT  yang  dapat memproduksi berbagai jenis peralatan sederhana namun bermanfaat tinggi, seperti mesin perontok padi, pengering                      kelor, pemipil jagung, pencacah rumput untuk menjadi pakan ternak, biogas dari kotoran hewan, pemarut kelapa, pemeras santan, dll.


C.  Meminimalkan Kantong Kemiskinan :

       1.    Dinas ESDM:

             • Per Desember 2023, rasio elektrifikasi desa 94,6% (3.256 kelurahan dan desa sudah teraliri  Listrik,  dari  3.442  kelurahan  dan desa di NTT (305 kelurahan dan 3.137 desa). Program tahun 2024:                 PLTS tersebar 56 unit di Kabupaten  Kupang (20 unit), Rote Ndao (36 unit), Meteran Listrik gratis 40 unit Kupang, 40 TTS, Sabu 53 unit.

             • Program Pekososbud: PLTS tersebar 90 unit Manggarai, Matim, Alor, Rote, Ngada, TTU

             • Bantuan meteran Listrik gratis 735 unit di SBD, Ngada, Belu, Matim, dan TTS

             • DAK, Pembangunan  PLTS komunal  21 lokasi  di Sumba dengan kapasitas terpasang 650  kW untuk 1.200 rumah tangga miskin.

        2.    Dinas P & K

              • Dana   DAK   untuk   Pembangunan/rehab   unit sekolah baru, tambahan ruang  kelas dan layanan lainnya SMA/SMK Rp 250 miliar kepada SMA/SMK yang di-swakelola oleh kelompok                                     masyarakat    setempat    di    22 Kabupaten/Kota, berdasarkan data Dapodik (Data Pokok Pendidikan).

              • Dana PIP (Program Indonesia Pintar) Kemendikbud dalam bentuk beasiswa disalurkan dari Dinas PK Provinsi dari SMA/SMK/SLB seluruh Provinsi

               Beasiswa Tugas Perbantuan (TP) untuk sekitar 143.000 siswa SMA/SMK/SLB

         3    Dinas PUPR

               • Pinjaman Daerah yang lalu digunakan untuk 17 paket SPAM masing-masing 1 unit (17 unit), 2 paket  Reverse  Osmosis  di Timor  dan Flores masing-masing 8 unit (16 unit), 77    paket                                      jalan   Provinsi  (di 22 Kabupaten/Kota), dan 22 unit embung  (di 22 Kabupaten/Kota)

 

Kedua :

Prevelensi balita Stunting di  NTT  berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e- PPGBM) tahun 2021 sebesar 20,9%, tahun 2022 sebesar 17,7%, tahun 2023 sebesar 15,2%. Dari data ini dapat dilihat bahwa tren balita stunting mengalami penurunan sebesar 5,7 persen. Untuk pencapaian penurunan Stunting tahun 2024, akan dilakukan pengukuran dan penimbangan pada bulan Pebruari. Hasilnya akan dipublikasikan  setelah  dikompilasi dari Kabupaten/Kota se-NTT.

Sementara itu, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Prevelensi Balita Stunting di NTT tahun 2021 sebesar 35,5% dan sampai dengan akhir tahun 2023, belum ada publikasi data Stunting yang diukur berdasarkan metode pengukuran SSGI. Perbedaan kedua data publikasi ini karena metode  pengukurannya berbeda.  Metode  pengukuran  SSGI menggunakan indikator  spesifik  (Kesehatan  misalnya : asupan  gizi, protein, vitamin, kunjungan  ke Posyandu) dan  sensitif (sektor non Kesehatan ; misalnya ketersediaan  air minum, Kursus Pra Nikah, Larangan Pernikahan Di  Bawah Usia/Pernikahan  Dini), metode pengukuran SSGI juga menggunakan Aksi Sensitif (penimbangan berat badan, pengukuran berat badan, lingkar kepala dll).  Jadi  pengukuran dengan metode pengukuran SSGI  lebih komplit,  lebih  banyak  variabelnya atau  lebih  banyak  faktor pengaruhnya daripada metode pengukuran E-PPGBM yang menggunakan Aksi Spesifik.

Untuk tahun 2024, kami berfokus dalam mengintervensi balita-T (berat badan tidak naik ataupun turun) agar tidak turun kelas ke kategori Gizi Buruk.

Jumlah stunting tertinggi berdasarkan data Sasaran Riil tahun 2023 (hasil penimbangan Agustus 2023) Kabupaten Sumba Barat Daya (31,9%; 9.762 bayi), Kabupaten Timor Tengah Selatan (22,3%; 8.924 bayi), Kabupaten Timor Tengah Utara (22,6%; 4.555 bayi), Kota Kupang (17,2%; 4.019 bayi), Kabupaten Kupang (13,0%; 3.872 bayi), Kabupaten Manggarai (13,1%; 3.841 bayi)

Kota dan lima Kabupaten dengan jumlah balita T terbanyak adalah Kota Kupang 9.656 balita, Kabupaten Flores Timur 7.896 balita (kemungkinan akan naik setelah ada erupsi Gunung Lewotobi), Kabupaten Timor Tengah Selatan 7.474 balita, Kabupaten Kupang 7.452 balita, Kabupaten Timor Tengah Utara 7.442 balita, dan Sumba Timur 6.020 balita.

Setelah itu, Kota dan lima Kabupaten dengan jumlah baduta (bawah dua tahun) T terbanyak adalah Kota Kupang 3.846  baduta,  Kabupaten  Kupang  3.639  baduta,  KabupatenTimor Tengah Selatan 3.320 baduta, Kabupaten Flores Timur 3.309 baduta, Kabupaten Alor 2.758 baduta, Kabupaten Timor Tengah Utara 2.465 baduta.

Metode  pengukuran  e-PPGBM  yang menggunakan  indikator spesifik; pada tahun 2021 Jumlah balita sasaran masih menggunakan Sasaran Proyeksi (SP) mengikuti data jumlah sasaran proyeksi yang  dikeluarkan oleh  Kementrian Kesehatan RI sedangkan  pada tahun  2022 dan 2023 menggunakan jumlah  balita dengan sasaran Riil (SR) mengikuti  jumlah total seluruh balita, kondisi ini terjadi karena karena pada tahun 2022 para Kepala Daerah  sudah mengeluarkan  Surat Keputusan  menyangkut  jumlah sasaran riil yang ada di lapangan. Jadi perbedaan data publikasi ini disebabkan oleh cara  pengukuran yang berbeda dan jumlah variable dari masing-masing aksi intervensi yang berbeda.

Pemerintah Provinsi NTT berkomitmen untuk terus berupaya dalam penanganan  stunting melalui pembentukan  Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dengan SK  Gubernur sehingga pelaksanaan intervensi spesifik dan sensitif dapat berjalan dengan baik, yang juga akan berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia NTT menuju generasi emas NTT. Pemprov NTT akan memberikan perhatian khusus kepada Kabupaten/Kota yang prevalensi stuntingnya masih tinggi. Penanganan stunting ini akan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan seluruh OPD terkait untuk intervensi sensitif dan intervensi spesifik.

Intervensi  penanggulangan stunting  berpedoman  pada Perpres No : 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting yang terdiri dari 12 indikator  dengan kontribusi penurunan sebesar 30% dengan kelompok sasaran : Remaja Putri (pemberian tablet tambah darah, skrining anemia), Ibu Hamil (pemberian  makanan tambahan, pemeriksaan ibu  hamil), Ibu menyusui (pemberian vitamin A), dan anak Berusia  0-59 Bulan (timbang  setiap  bulan  di posyandu, pemberian Vitamin A sesuai peruntukkan dan kebutuhan,  pemberian  makanan tambahan, pemberian  imunisasi dasar lengkap).

Intervensi  spesifik  fokus  kepada  1.000  Hari  Pertama Kehidupan. Jenis kegiatan berdasarkan 12 indikator sasaran:

1.  Ibu hamil minimal mendapat 90 tablet tambah darah selama masa kehamilan

2.  Ibu hamil kekurangan energi kronis (KEK) mendapat pemberian tambahan makanan (PMT) pemulihan dalam bentuk pangan lokal seperti protein hewani ditambah   serbuk   marungga   (kelor)   NTT   sesuai dengan peraturan yang berlaku (Permenkes 14/2019, Perpres  72/2021, Juknis  Dinkes  NTT  terkait Pemberian  Makanan  Tambahan  berbasis  tinggi protein hewani ditambah kelor/marungga NTT).

3.  Optimalisasi 10.810 posyandu di seluruh NTT dengan 9.357 posyandu aktif. Yang belum aktif adalah karena kader  tidak  tersedia,  sehingga  akan  diberikan pelatihan kader di desa setempat, untuk kemudian dilakukan   penimbangan   bayi   secara   rutin   setiap bulan.

4.  Dinas   Kesehatan   Provinsi   melakukan   koordinasi setiap minggu dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk memonitor program tersebut di atas berjalan baik.

5.  Sebagai  contoh,  Sabtu  lalu  kami  mengunjungi  Desa Raknamo di Kabupaten Kupang dan melibatkan dinas terkait, seperti  Dinas  Sosial,  PUPR,  Kelautan Perikanan, Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kami membawa bantuan telur, ikan, ayam petelur, kambing peranakan Etawa, benih ikan nila ditebar di bendungan Raknamo. PUPR menyiapkan sumur bor untuk  kebutuhan air  bersih  dan  fasilitas  MCK  yang sesuai standar kesehatan.

6. Melibatkan lembaga non-pemerintah seperti USAid (Indonesia Urban Resilient Water Sanitation and Hygiene  “IUWASH”  Tangguh), UNICEF,  DFAT Australia, dan CSR dari sektor swasta.

7.  Intervensi sensitif dalam rangka penanganan stunting:

      a. Dinas Kominfo: pelayanan informasi publik terkait stunting di  website Pemprov replikasi meneruskan informasi dari Kemenkominfo

      b.  Dinas   Sosial   melalui   Perlindungan   Jaminan Sosial

       c. Dinas      Pertanian      Ketahanan      Pangan: pekarangan pangan lestari untuk penanaman pangan hortikultura memberdayakan rumah tangga   petani   di   176   rumah   tangga   di                                       22 Kabupaten/Kota,  penanaman  5.000   ha   padi biofortifikasi di  13 Kabupaten seperti Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Sumba Barat Daya, pengembangan Desa Beragam Bergizi Seimbang                Aman (B2SA) di 8 Kabupaten di TTS, Kabupaten Kupang, dan SBD, dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).

      d. Dinas Kelautan dan Perikanan    memiliki    program    (i) budidaya ikan air tawar (nila dan carper) di pekarangan   diutamakan   ke    keluarga   yang sudah memiliki kolam, Pemprov membantu                         bibitnya     untuk peningkatan gizi sekaligus peningkatan ekonomi, (ii) sosialisasi Gerakan makan ikan ssasaran ibu hamil menyusui, balita baduta, di daerah-daerah stunting di Kota Kupang dan                        Kabupaten Kupang, (iii) CSR dari Unit Pengolahan Ikan (UPI) digunakan untuk membagikan ikan tangkap (air laut) kepada masyarakat.

      e.   Dinas    Peternakan:    mendorong    peternakan skala rumah tangga untuk jenis ternak babi ras, ayam  Kampung  Unggul  Balitbang  (KUB) petelur, kambing, dan sapi.

       f.  Dinas PUPR: mendukung pembangunan sumur bor tersebar di 19 lokasi di beberapa Kabupaten/Kota se-NTT sebagai program pemberdayaan ekonomi sosial budaya (pekososbud) dan sanitasi                     MCK  di  Kabupaten TTS.

       g.   Dinas      Pemberdayaan      Masyarakat      Desa: Bersama  PKK  meningkatkan kapasitas  tenaga posyandu    52.250    kader    posyandu    di    22 Kabupaten/Kota dengan target minimal setiap                   posyandu minimal 5  orang kader yang setiap bulannya melakukan pelayanan posyandu. Sesuai petunjuk Permendes, Dana Desa tahun 2024 dialokasikan BLT Maks 20%, Ketahanan pangan                          hewani  minimal  25%,  serta  stunting dan bencana.

        h.  Dinas       Pemberdayaan       Perempuan       dan Perlindungan Anak: pendataan keluarga risiko stunting berkolaborasi dengan lima universitas (Undana, Poltekes Kemenkes, Unwira,   UKSW, Univ               Muhammadiya), 385.068 keluarga risiko stunting di 22 Kab/Kota (ii) pendampingan kel berisiko stunting dengan 3 orang tenaga yang dibiayai oleh BKKBN (PLKB, Kader PKK, dan bidan/nakes di                     desa), (iii) pendampingan calon pengantin melibatkan lembaga keagamaan, (iv) pemenuhan hak sipil (dokumentasi kependudukan).

         i. CSR dari berbagai Lembaga dan sektor swasta, seperti perusahaan farmasi Dexa Medica akan memberikan CSR dalam bentuk pelatihan bagi 1.000   bidan   NTT   dan   intervensi  dengan                              3 kabupaten tertinggi dan 3 kabupaten terendah selama satu tahun dalam bentuk pemberian suplemen bagi ibu hamil dan bayi.


Ketiga ;

Berikut akan saya sampaikan tentang Inflasi. Salah satu variabel makro ekonomi adalah Inflasi yang perlu kita perhatikan dengan baik karena sangat menyentuh sektor ekonomi di daerah. Kita patut berbangga karena capaian pengendalian inflasi NTT juga ditandai dengan raihan Provinsi Nusa Tenggara Timur  memperoleh penghargaan  TPID Provinsi  Terbaik  untuk kategori  TPID Provinsi Terbaik wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua pada Penganugerahaan TPID AWARD pada tahun 2022 lalu. Bahkan Kota Kupang meraih kategori TPID Kota Terbaik dan Kabupaten Sabu Rajua meraih kategori TPID Kabupaten/Kota Berprestasi.

Untuk kondisi inflasi Provinsi Nusa tenggara Timur pada bulan Desember 2023 (YoY) adalah sebesar 2,42% (di bawah inflasi nasional 2,61%), berada dalam target rentang sasaran (3±1%). Capaian ini  sangat baik  jika  dibandingkan   dengan inflasi NTT Desember 2022 yang mencapai 6,6% (di atas inflasi nasional yang sebesar 5,4%).

Capaian   ini   berkat   terjaganya   kestabilan   harga   dan ketersediaan bahan pokok, dan sistem distribusinya terjaga, serta didukung dengan terbayarnya Tambahan Penghasilan Pegawai yang dibayar penuh selama tahun 2023 serta digunakannya dukungan dana Belanja Tak Terduga untuk membantu mengurangi beban pengeluaran masyarakat. Untuk diketahui, berdasarkan data  tahun  2022, sektor  Administrasi Pemerintahan,  Pertahanan,  dan  Jaminan  Sosial  berkontribusi 12,82% terhadap Produk Domestik Regional Bruto NTT.

Di tahun 2024, Pemprov NTT tetap berkomitmen untuk memprioritaskan pembayaran TPP dan mendorong penggunaan dana BTT secara optimal untuk pengadaan bahan pangan, gerakan pangan murah, subsidi transportasi untuk mendukung distribusi dari daerah surplus ke defisit, apabila sewaktu- waktu dibutuhkan.

Selain itu, tingkat inflasi di 3 Kota NTT (Kupang, Waingapu, dan Maumere) sesuai standar pengukuran IHK (Indeks Harga Konsumen) mengalami inflasi YoY diantaranya  Kota Kupang sebesar 2,21%, Kota Maumere sebesar  3,33% dan Kota Waingapu sebesar 3,27%. Kondisi inflasi ini  disebut ‘INFLASI  MODERAT” masih dalam batas kewajaran.

Secara bulanan, 5  komoditas penyumbang utama andil inflasi di Provinsi NTT pada Bulan Desember 2023 adalah Cabe Rawit, tarif Angkutan Udara, Sawi Hijau, Sawi Putih dan Nasi dengan lauk. Sedangkan 5 komoditas penyumbang  utama andil deflasi adalah Beras,  Ikan Tembang, Daun Singkong, Daging Babi dan Daun kelor.

Permasalahan  dan kendala utama komoditas  andil inflasi Provinsi NTT Tahun 2023 di antaranya adalah

1) Beras. Diakibatkan sebagian besar pasokan beras di Provinsi NTT masih harus didatangkan dari luar daerah seperti Sulsel, NTB, dan Jatim sehingga kondisi harga sangat tergantung pada kondisi                  pasokan di daerah asal, serta kondisi kemarau yang lebih panjang di tahun 2023 juga turut mempengaruhi  produksi beras lokal maupun luardaerah.

2) Tarif Angkutan Udara. Kondisi geografis NTT yang terdiri dari kepulauan membuat penerbangan menjadi moda transportasi utama intra provinsi dan juga maskapai  yang beroperasi  masih terbatas dan           cenderung didominasi oleh satu maskapai. Terkait hal ini, Pemprov sedang menjajaki pembukaan beberapa jalur internasional yang diharapkan dapat menggerakkan perekonomian NTT, khususnya di             sektor pariwisata. Kami sudah berkoordinasi  dengan Dubes Indonesia Canberra Australia dan Konsul RI di Darwin terkait rencana pembukaan penerbangan Kupang-Darwin, yang diharapkan dapat               meningkatkan kunjungan wisatawan Australia ke NTT. Selain itu, pihak Air Asia sudah membuka penerbangan Denpasar-Kupang. Hal ini akan menambah konektivitas baik intra maupun antar daerah ke         provinsi NTT yang selama ini sudah dilayani oleh beberapa maskapai penerbangan.

3) Daging dan Telur Ayam Ras. Sebagian besar pasokan daging dan telur ayam ras di Provinsi NTT masih harus didatangkan  dari luar daerah seperti  Jawa Timur sehingga  kondisi harga sangat tergantung      pada kondisi pasokan di daerah asal dan penyesuaian harga BBM juga menyebabkan kenaikan biaya logistik.

4) Ikan-ikanan. Komoditas ikan juga menjadi penyumbang inflasi akibat pasokan nelayan yang terbatas di tengah kondisi cuaca di laut yang tidak menentu, juga konsumsi ikan di NTT cukup tinggi sehingga        memberikan  andil yang cukup besar terhadap inflasi secara keseluruhan.

5) Hortikultura. Inflasi komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit secara historis  cenderung meningkat di  akhir  tahun  seiring dengan masuknya   musim penghujan.                  Sementara itu, komoditas   hortikultura sayuran seperti kangkung, bayam, dan sawi sebagian besar  diproduksi oleh petani lokal NTT.

Sesuai dengan Rekomendasi High Level Meeting TPID NTT pada 29 Desember 2023 lalu maka Upaya dan Tindak Lanjut Pengendalian  Inflasi Provinsi  NTT adalah 1) Fokus Lokasi utama pengendalian  inflasi di NTT adalah Kota Kupang sebagai kota pengukuran IHKK dengan bobot IHK terbesar (80,7%), selanjutnya Maumere (10,2%) dan Waingapu (9,3%) sebagai Kota pengukuran IHK. Dan tambahan Kota pengukuran IHK (terhitung mulai Januari 2024) yakni Bajawa (Kabupaten Ngada) dan Soe (Kabupaten TTS). 2) Fokus Komoditas  utama pengendalian inflasi di NTT adalah Bawang Merah, Bawang Putih, Cabai Rawit, Cabai Merah, Daging ayam Ras, Telur Ayam Ras, sayuran (Kangkung, Bayam, Sawi Hijau, Sawu Putih)  dan ikan ikanan (Kembung,  Tongkol,  Tembang dan Layang).

Upaya pengendalian  inflasi Provinsi  NTT disesuaikan  dengan arahan   Mendagri   pada   Rakornas   3   Januari   2024,   yaitu 1) Lakukan  Gerakan Tanam, 2) Pendistribusian  Bantuan Kepada Keluarga  Penerima  Manfaat  Agar Tepat Sasaran,  3) Kampanyekan Tidak Boros Pangan, 4) Lakukan Rekonsiliasi Data, 5) Melakukan Gerakan Stabilisasi Pasokan Dan Harga Pangan, dan 6) Gerakan Pangan Lokal.

Dapat kami sampaikan juga bahwa jumlah stok beras masih mencukupi kebutuhan  masyarakat sebanyak 315.796,11 Ton untuk 3,5 bulan ke depan per Januari 2024.

 

Keempat : Pemilu

Kurang  lebih  1  bulan  lagi  atau  tepatnya  ditanggal  14 Februari  2024  kita  akan  melaksanakan     pesta     demokrasi yang dilaksanakan 5 tahun sekali yaitu Pemilu. Jumlah pemilih di 22  Kabupaten/Kota  se-NTT sebanyak 4.008.475 jiwa,  Laki-laki sebanyak 1.971.831 jiwa, perempuan sebanyak 2.036.644 jiwa, pemilih disabilitas sebanyak 46.251 jiwa, yang tersebar di 314 kecamatan, 3.442 Desa/kelurahan  dengan jumlah TPS sebanyak 16.746. Sedangkan persebaran DPT  sebanyak 4.008.475 jiwa, jumlah Pemilih Non-KTP 281.972 jiwa.

Untuk meningkatkan  partisipasi  politik  Pemilu  di Tahun  2024 upaya yang dilakukan  Pemerintah  Provinsi NTT terhadap  potensi pemilih adalah melakukan kerja  sama dengan sekolah-sekolah melakukan perekaman terhadap potensi pemilih yang akan berusia 17 tahun. Pemerintah Provinsi NTT juga bekerja sama dengan Lembaga Permasyarakatan (Lapas) melakukan perekaman di Lapas.

Logistik    persiapan    Pemilu     sudah     terdistribusi     di KPU 22 Kabupaten/Kota dalam bentuk jenis surat suara masing- masing  sebanyak  4.096.030  baik untuk Pemilu  Presiden  dan Wakil Presiden, Anggota DPR- RI, Anggota DPD, Angota DPRD Provinsi, Anggota DPRD Kabupaten dan Kota.

Dalam rangka memastikan  tahapan pemilu berjalan dengan lancar, sukses, berkualitas,  aman dan damai, maka Pemerintah Provinsi NTT telah membentuk Posko Pemilu.

Pada kesempatan ini, saya menghimbau kepada semua ASN baik ASN Lingkup Pemerintah Provinsi NTT, Kabupaten/Kota se- NTT, Instansi Vertikal dan semua kita yang bekerja atas nama Pemerintah dan  Negara RI,  HARUS NETRAL dalam Pemilihan Legislatif dan Pemilihan  Presiden/Wakil  Presiden. Gunakan Hak Suara Saudara-saudara secara LUBER dan JURDIL. Kita tingkatkan Partisipasi  Politik kita dengan mendatangi  TPS-TPS dan berikan suara saudara pada hari Rabu, tanggal 14 Februari tahun 2024.

Mari, Bersama kita sukseskan PILEG DAN PILPRES 2024 DENGAN  DAMAI, KESEJUKAN  HATI, PIKIRAN  untuk KITA ABDIKAN BAGI BANGSA, NEGARA REPUBLIK INDONESIA YANG KITA CINTAI.

Demikianlah beberapa hal yang dapat saya sampaikan kepada saudara-saudara,  kiranya Tuhan Yang  Maha  Kuasa senantiasa bersama kita dalam keseharian kerja kita. Terima kasih.

Syalom, Salve,   Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,  Om Swastyastu,  Namo Budaya,  Salam Kebajikan Salam Sejahtera dan sehat selalu bagi kita sekalian.

Anda Suka Berita Ini ?