Artikel - Pariwisata

WISATA TEMATIK DAN DAYA SAING DTW (Tugas Besar dan Bersama Kita)

     Paul J. Andjelicus

Perencana Madya Spasial Dinas Parekraf Provinsi NTT



       Industri pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah mulai bangkit dengan adanya peningkatan kunjungan wisatawan pasca pandemi Covid-19  berakhir. Tahun 2020 dan 2021 kunjungan wisatawan ke NTT anjlok ke angka  650.000   dibanding tahun 2019 yang mencapai 1,4 juta wisatawan. Tahun 2022 kunjungan wisatawan mulai naik menjadi 1.1 juta wisatawan dan  tahun 2023 menjadi  sekitar 1.6 juta  wisatawan yang sebagian besar adalah wisatawan nusantara.

 

      Momentum kebangkitan ini yang perlu dijaga dengan upaya kolaborasi dalam skema pentaheliks (pemerintah, masyarakat, swasta, akademisi dan media) untuk memastikan adanya kunjungan wisatawan ke NTT yang menggerakkan industri pariwisata. Selanjutnya memastikan meningkatnya  lama tinggal dan  pengeluaran  wisatawan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah.

 

       Dalam Grand Desain Pembangunan Pariwisata NTT 2022-2028, fokus pada upaya Membangun Pariwisata NTT yang Berkualitas dan Berkelanjutan. Sementara dalam rancangan awal RPJN 2025-2045, NTT didorong  untuk menjadi superhub pariwisata bersama Bali dan NTB. Point pentingnya adalah pembangunan pariwisata NTT diarahkan untuk meningkatkan jumlah kunjungan, lama tinggal dan pengeluaran wisatawan yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah baik secara ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan.

 

         NTT  memiliki 1637 Daya Tarik Wisata (DTW) yang tersebar 22 kabupaten / kota (Dinas Parekraf NTT,2023). Banyak pihak menilai potensi DTW memiliki keunikan tersendiri. Namun daya tarik wisata yang ada di NTT juga terdapat di daerah lain baik wisata alam, budaya  dan buatan. Semuanya memiliki keunikan masing – masing dan menjadi pesaing DTW di NTT.  Perlu kerja keras dan upaya terarah untuk memenangkan persaingan. DTW yang berkualitas akan meningkatkan daya saing dengan DTW di daerah lain  yang dapat dilakukan melalui beberapa langkah seperti penataan  daya tarik wisata,  peningkatan konektivitas wilayah, promosi  yang efektif dan  peningkatan sumber daya manusia.

 

Potensi Wisata Tematik

       Peningkatan kualitas daya tarik wisata dapat dilakukan melalui pengembangan wisata tematik. Potensi tersebut sangat   besar dari sejumlah daya tarik wisata (alam, budaya, buatan) dan berbagai aktivitas masyarakat yang ada.

 

       Sebagai provinsi kepulauan, wisata tematik bahari memiliki potensi yang sangat besar yang perlu dieksplorasi dengan prinsip berkelanjutan untuk melestarikan potensi  keunikan yang sudah ada.  Wisata bahari dapat dilakukan di  beberapa pantai wisata yang sudah terkenal baik di Flores, Sumba dan Timor. Untuk menyelam (diving) ada sejumlah spot menyelam indah  yang sudah terkenal antara lain di TN Komodo, Teluk Maumere dan perairan Pulau Pantar,  Alor. Untuk selancar (surfing) dapat dilakukan di Pantai Nembrala Rote Ndao.

 

       Wisata tematik kain tenun NTT menjadi potensi  wisata yang cukup besar, karena NTT memiliki sekitar 737 ragam motif kain tenun adat (Dekranasda NTT,2022). Contohnya  wisata kain tenun adat  melalui  pembangunan  Jalur Kain Tenun Adat di Pulau Sumba. Terdapat 10 rumah tenun adat Sumba yang dibangun dengan 9 rumah diantaranya dibangun di Sumba Timur. Ditambah kehadiran daya tarik wisata lainnya di Pulau Sumba, baik wisata pantai, keindahan alam dan budaya akan menghadirkan pengalaman eksplorasi yang menarik. 

 

       Desa wisata tematik menjadi salah satu model pengembangan  kualitas daya tarik wisata yang saat ini digagas pengelola KSPN Labuan Bajo (BPOLBF)  di Pulau Flores. Terdapat sekitar   30 Desa Wisata tematik di Flores yang dikembangkan dan  membentuk pola perjalanan wisata untuk meningkatkan pengalaman berwisata.  Konsep ini merupakan pengembangan selanjutnya dari desa wisata, dengan memperhatikan potensi unggulan dan keunikan yang dimiliki setiap desa.

 

        Wisata tematik lainnya adalah   wisata perbatasan negara  dengan sejumlah daya tarik wisata yang ada di TTU, Belu dan Malaka. Kawasan perbatasan memang direncanakan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan, baik  sebagai gerbang masuk maupun  menjadi pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang baru. Kegiatan pariwisata di kawasan perbatasan, selain menarik kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara, juga dapat mendukung pengembangan kabupaten yang berada di daerah perbatasan. Kedatangan wisatawan akan membuka potensi ekonomi bagi masyarakat setempat. Masyarakat dapat mengembangkan berbagai sektor ekonomi kreatif sebagai penyokong pariwisata, mulai dari bisnis kuliner, kerajinan tangan, hingga akomodasi seperti  penyediaan homestay.

 

         Untuk wisata rohani di NTT, banyak terdapat daya tarik wisata rohani dan sekaligus informasi sejarah berkembangnya agama Katolik dan Protestan di Bumi Flobamora. Ada wisata rohani yang sudah mendunia seperti Perayaan Semana Santa di Flores Timur  yang juga dilengkapi sejumlah DTW rohani di kota Larantuka dan sekitarnya. Beberapa DTW rohani di Pulau Flores seperti Gereja Tua, Gua dan Patung Bunda Maria seperti Patung Bunda Maria Segala Bangsa di Bukit Nilo, Maumere Kabupaten Sikka,  sampai beberapa Gua Maria di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat. Sementara itu di Pulau Timor sendiri ada Taman Wisata Rohani Oebelo Kupang dan Patung Bunda Maria di Kawasan Wista Rohani Teluk Gurita Kabupaten Belu.

 

         Kemudian  sport tourism perlu dikembangkan kembali, mengingat NTT akan menjadi tuan rumah  PON ke-22 tahun 2028 bersama NTB. Beberapa kegiatan olahraga skala nasional dan internasional pernah diadakan seperti Lomba Perahu Layar, lari marathon sampai  balap sepeda Tour de Flores. Selanjutnya ada konsep Geowisata dan Geopark (Taman Bumi) yang mulai diperkenalkan di NTT yang merupakan wisata tematik berbasis keragaman geologi (geodiversity).  Kawasan TN Kelimutu Ende sudah berproses untuk ditetapkan sebagai Geopark Nasional.

 

         Wisata tematik terbaru adalah Astronomi di Kawasan Lelogama Kabupaten Kupang dengan kehadiran Observatorium Nasional (ObNas) Timau pengganti Observatorium Boscha di Lembang Bandung. Kemampuan pengamatan obyek alam semesta yang baik dimiliki ObNas Timau karena letak, kondisi lingkungan yang masih minim polusi cahaya dan debu serta  teknologi teleskop  yang dipakai. Ini  diprediksi akan manarik minat ilmuwan astronomi dan peminat wisata astronomi untuk datang ke Kawasan Lelogama.

 

Catatan Singkat

        Tentu masih banyak lagi potensi wisata tematik yang belum tertulis disini yang dapat digali, ditata dan diperkenalkan untuk menambah variasi daya tarik wisata dan memberikan pengalaman baru bagi wisatawan. Daya saing DTW  sendiri dipengaruhi banyak faktor antara lain citra image DTW, aksesibilitas, kelengkapan sarana prasarana dan keamanan. Tugas Besar dan Bersama Kita adalah melakukan pembenahan setiap faktor tersebut secara bertahap dan terarah, untuk  meningkatkan daya saing DTW NTT dengan daerah lain.

 

Selamat Tahun Baru 2024, Pariwisata NTT Bangkit dan Terus  Melaju

Anda Suka Berita Ini ?