Fenomena Digital Amnesia di Era Teknologi: Tantangan Baru bagi Daya Ingat dan Pembelajaran
Perkembangan teknologi digital
yang semakin pesat telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat,
khususnya metode atau proses seseorang memperoleh dan menyimpan informasi.
Kemudahan akses internet, penggunaan smartphone,
serta hadirnya berbagai aplikasi digital
telah membantu aktivitas belajar, bekerja, dan berkomunikasi. Namun, di balik
manfaat tersebut, muncul sebuah fenomena yang perlu mendapat perhatian serius,
yaitu digital amnesia.
Digital amnesia merupakan kondisi ketika seseorang
cenderung melupakan informasi karena terlalu bergantung pada perangkat digital sebagai “memori kedua”. Fenomena
ini terjadi ketika individu lebih memilih menyimpan informasi di perangkat digital dibandingkan mengingat atau
memprosesnya secara mendalam. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut
dikhawatirkan dapat berdampak pada kemampuan kognitif, khususnya daya ingat dan
kemampuan berpikir kritis.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Maliki
Interdisciplinary Journal mengungkapkan bahwa mayoritas mahasiswa
menjadikan smartphone sebagai sarana
utama dalam mencari dan menyimpan informasi pembelajaran. Mahasiswa cenderung
memotret materi perkuliahan, mengandalkan file
digital, serta mencari jawaban secara instan melalui internet, tanpa
melalui proses memahami dan mengingat secara aktif (Zahra, 2023).
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan
terhadap media digital dapat
memengaruhi proses belajar. Mahasiswa menjadi kurang fokus dalam pembelajaran
di kelas, menurunnya kemampuan mengingat materi, serta berkurangnya interaksi
akademik yang mendorong diskusi dan pertukaran gagasan. Kondisi ini berpotensi
menghambat pembentukan struktur kognitif yang optimal, seperti kemampuan
menganalisis, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah.
Lebih lanjut, penelitian tersebut menegaskan bahwa digital
amnesia tidak hanya berdampak pada aspek akademik, tetapi juga dapat
memengaruhi sikap dan perilaku sosial. Ketergantungan berlebihan pada perangkat
digital berpotensi menumbuhkan sikap individualistis serta menurunnya kemampuan
berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitar.
Sebagai upaya pencegahan, penerapan teori pembelajaran
kognitif dinilai efektif dalam mengurangi risiko digital amnesia.
Pembelajaran secara konvensional seperti menulis, membaca, dan melakukan
diskusi dalam pemahaman konsep, serta keterlibatan aktif peserta didik dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan daya ingat. Dengan demikian,
teknologi tetap dimanfaatkan sebagai alat pendukung, bukan sebagai pengganti
proses berpikir manusia.
Pemerintah mendorong seluruh pemangku kepentingan di bidang
pendidikan dan literasi digital untuk
bersama-sama membangun kesadaran akan pentingnya penggunaan teknologi secara
bijak. Pemanfaatan teknologi digital
yang seimbang, disertai penguatan kemampuan kognitif dan interaksi sosial,
diharapkan dapat menciptakan sumber daya manusia yang cerdas, kritis, dan
berdaya saing di era digital.
Penulis : Evi Cristiana, S.I.Kom.
Penyunting : Ita Kana, SH., MM.
