Menagih Janji Literasi: Inovasi Menulis ala Gubernur NTT
Pengantar
Literasi NTT kembali unjuk kebolehan dengan terbitnya dua buku karya Sam Babys, seorang anak daerah NTT dan ASN Pemerintah Provinsi NTT. Buku pertama “Belis dan Indonesia Emas 2045” membahas budaya Belis di NTT yang dikenal masih memberikan beban ekonomis kepada pasangan muda. Buku kedua “NTT Mart: Jalan Baru Ekonomi Rakyat (Kolaborasi Melki - Johni Dalam Membangun NTT)” mengulas mimpi besar Gubernur dan Wakil Gubernur NTT membangun NTT Mart untuk mendukung ekonomi rakyat. Usai menerima dua buku tersebut seperti dilansir Victory News (10/3/2026), Gubernur NTT mengungkapkan bahwa mayoritas ASN lingkup pemerintah provinsi memiliki sumber daya manusia yang mumpuni untuk menulis buku. Ia meminta semua ASN di NTT menulis buku, dan memberikan ide maupun masukan terhadap pembangunan NTT dalam bentuk tulisan. Ia terbuka terhadap kritikan yang membangun dan memberikan solusi untuk perbaikan pelayanan pembangunan NTT, tanpa kepentingan politik pihak tertentu.
Himbauan sekaligus dorongan Gubernur ini adalah upaya agar ide-ide pembangunan tidak sekadar menguap dalam rapat-rapat koordinasi atau diskursus internal pemerintah (verba volant), melainkan terpatri dalam naskah atau tulisan yang bisa diuji oleh zaman (scripta manent). Bung Hatta pernah berujar "Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki." Apakah ASN NTT benar-benar siap menulis kritik yang jujur, apa adanya tanpa rasa takut agar NTT lebih berdaya dan penuh optimisme dalam pembangunan daerah dan bergerak lebih cepat untuk segera meninggalkan stigma sebagai daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
Tradisi Menulis membangun kontribusi pemikiran bagi pembangunan daerah
Sam Babys adalah salah seorang ASN yang telah menerbitkan buku dengan mengambil konteks NTT. Ia berani keluar dari zona nyaman “ongkang-ongkang kaki” saat waktu luang dan menghasilkan dua buku bernas. Kedua buku itu diharapkan dapat memantik ide-ide dari masyarakat pada umumnya dan ASN sebagai abdi negara pada khususnya untuk membangun NTT ke arah yang lebih baik. Gubernur sebagai pemimpin nomor satu di NTT menyambut baik terbitnya buku tersebut dan mendorong aparatur sipil negara (ASN) untuk aktif menulis sebagai bentuk kontribusi pemikiran bagi pembangunan daerah.
Tradisi
menulis di kalangan ASN penting untuk membangun budaya intelektual dalam
birokrasi, sekaligus menjadi ruang bagi lahirnya gagasan-gagasan konstruktif
bagi pembangunan daerah. Kritik saran dari ASN maupun masyarakat umum dalam
bentuk buku dan tulisan sangat dibutuhkan pemerintah untuk perbaikan pelayanan
di NTT.
Verba Volant, Scripta Manent: Menagih Perubahan NTT Lewat Aksara
Verba volant, scripta manent "Kata-kata terucap akan terbang (hilang), tulisan akan tetap tinggal (abadi)" merupakan seruan untuk tetap membaca peristiwa yang terjadi dalam konteks yang lebih kompleks dan menuangkannya dalam tulisan yang berproses dan berimbas pada budaya konstruktif peradaban. Dorongan menulis dari Melki menekankan pentingnya mendokumentasikan ide karena tulisan bersifat permanen, sementara lisan mudah dilupakan.
Negara
ini perlu literasi bahkan untuk menghina pun kalian tidak terdidik, begitulah
kata Rocky Gerung. Menulis sebagai Nalar Publik. Hal ini bukan sekadar membaca lalu
selanjutnya menulis, melainkan kemampuan berpikir kritis dalam memahami situasi
dan kondisi. Dalam menulis terdapat aktivitas berpikir yang didahului
sebelumnya dengan tindakan membaca. Pentingnya berpikir sebelum bertindak dan
menguraikannya dalam bentuk tulisan untuk dikenang orang. Menulis berarti
memaknai dan memahami secara benar berdasarkan data faktual agar tulisan yang
ingin dinikmati oleh khalayak ramai tersebut bukan berimbas dan bermuara pada
hoaks. Oleh karena itu, perlu adanya literasi yang mumpuni sebelum mulai
bergerak untuk menulis.
Menembus
Tembok Birokrasi: Dari ABS Menuju Kritik Konstruktif
ASN merupakan orang dalam atau orang yang berkutat langsung dalam birokrasi pemerintahan. Spirit Gubernur NTT membuka ruang bagi ASN untuk menulis ide-ide secara konstruktif untuk perbaikan pembangunan daerah yang dapat berdampak langsung bagi masyarakat. Sebenarnya hal ini tidak boleh ditanggapi secara sinis oleh para ASN, melainkan merupakan kabar baik bahwa pemerintah mau dikritik secara internal dari dalam. Pemerintah ingin membuka diri untuk dikritik guna perbaikan birokrasi yang bersih dan tertib. Jangan takut untuk dikritik, tetapi justru takutlah jika tidak ada lagi kritik. Menurut Gus Dur jika tidak ada lagi kritik, suasana menjadi terlalu mencekam dan menakutkan. Kritik merupakan vitamin bagi nutrisi pertumbuhan tubuh pemerintahan yang baik.
Lebih dari itu, tulisan seorang ASN akan berdaya guna dan berdampak masif bagi masyarakat bila tidak berpatok pada budaya “ABS” atau asal bapak senang. Opini publik yang sehat di dalam birokrasi tidak boleh dipermanis dengan majas dan diksi atau pilihan kata yang mengaburkan fakta. Kritik adalah "pil kina" bagi malaria pembangunan. Keberanian mengungkapkan pandangan dan persepsi walaupun berseberangan tetapi sarat akan makna yang konstruktif demi suatu kebaikan bersama (bonum commune) adalah niscaya.
Sebagai kelompok intelektual dengan status sosial yang terpandang, ASN memikul tanggung jawab moral untuk menjadi pelopor budaya literasi. Label tersebut menjadi alarm bagi ASN itu sendiri untuk selalu menjadi garda terdepan dalam melaksanakan pelayanan publik yang sehat dan tentunya pelayanan publik yang sehat tersebut terlahir dalam budaya literasi dalam kalangan ASN itu sendiri.
Namun
tantangan terbesarnya adalah mentalitas. ASN selalu dibayang-bayangi jikalau
secara jujur mengutarakan kebenaran, maka akan ada konsekuensi nantinya. Apakah ada ketakutan hierarkis? Apakah beban administratif membuat ASN
tidak punya waktu berpikir kontemplatif? Perintah menulis telah dikoarkan oleh
orang nomor satu di NTT. ASN perlu memanfaatkannya dan menjadi atensi untuk
menolak budaya bungkam di birokrasi. Kendati demikian, perlu digarisbawahi
yaitu kritik yang konstruktif dan berdasarkan data riil, bukan berdasarkan
sentimen subjektif terhadap pemerintah apalagi dibarengi dengan kepentingan
politik lainnya.
Instruksi Gubernur seharusnya menjadi 'surat jalan' bagi ASN untuk
merdeka berpikir. Namun, agar ajakan ini tidak terjebak dalam ruang seremonial,
diperlukan langkah konkret. Pemerintah perlu mempertimbangkan penulisan opini
atau buku sebagai bagian dari indikator kinerja atau syarat kenaikan pangkat bagi
jabatan fungsional tertentu atau sebagai nilai tambah (reward) prestasi kerja.
Selain itu, jaminan perlindungan terhadap kritik konstruktif sangat krusial,
agar retorika 'merdeka berpikir' tidak berakhir menjadi utopia di bawah tekanan
hierarki birokrasi.
Penutup
Pemerintahan Melki Johni telah memberikan ruangan kondusif untuk ASN NTT mengelaborasi pemikirannya dan menuangkan ide atau gagasannya ke dalam bentuk tulisan guna membangun NTT ke arah yang lebih berdaya dan berdampak bagi masyarakat. Mari jadikan momentum ini sebagai tekad bersama untuk terus berkarya dalam budaya literasi NTT, menjaga warisan kearifan lokal masa lalu dan menuliskan sejarah literasi yang lebih gemilang di masa depan.
Gubernur
NTT Minta ASN Menulis Buku, kiranya merupakan inovasi dan bukan hanya sekadar
seremonial semata. Arahan Gubernur merupakan alarm bagi para ASN untuk berpacu
dalam waktu, memberikan diri dalam tulisan-tulisan yang konstruktif untuk membangun
peradaban literasi di NTT dan birokrasi pemerintahan yang sehat. Jika mercusuar
telah menyala, kini bola panas ada di tangan para ASN: apakah akan menulis
sejarah, atau sekadar memenuhi seremoni?
Penulis : Florianus Apolonius Koten (Pranata Hubungan Masyarakat Ahli Pertama pada Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prov. NTT)
