Potret Komponen Pariwisata Kota Atambua Untuk Mengembangkan Wisata Kota Perbatasan
Paul
J. Andjelicus*
Pengembangan pariwisata kota merupakan salah satu sektor pembangunan yang potensial dan jika dikembangkan dengan baik akan memberikan nilai tambah termasuk pendapatan ekonomi bagi kota itu sendiri dan negara. Kota – kota di NTT khususnya ibukota kabupaten dan Kota Kupang selama ini telah memainkan peran penting dalam industri pariwisata di NTT sebagai tempat transit bagi wisatawan dalam mengunjungi berbagai daya tarik wisata yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten. Dalam perkembanganya, kota tidak hanya sebagai tempat transit namun juga sebagai destinasi wisata dan menjadi salah satu upaya untuk pengembangan kota yang berkelanjutan. Kota sebagai destinasi wisata dibangun dan dikembangkan agar warga kota juga mempunyai tempat rekreasi dan berwisata dan tidak hanya untuk wisatawan atau pengunjung.
Kota Atambua merupakan Ibukota Kabupaten Belu dan merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste. Atambua merupakan salah satu akses menuju Timor Leste melalui perbatasan Motaain (sekitar 30 KM atau setengah jam berkendaraan dari Atambua). Waktu perjalaman dari Atambua menuju Kota Dilli, Ibukota negara Timor Leste, sekitar 7-9 jam dengan menggunakan transportasi umum seperti bis.
Posisi strategis ini memberikan peluang dan potensi yang sangat besar untuk pengembangan dan pertumbuhan Kabupaten Belu dan Kota Atambua sendiri. Sebagai kota perbatasan dengan negara lain, maka dukungan pemerintah pusat sangat besar dalam mendukung Kabupaten Belu dan Kota Atambua sebagai Jendela Negara.
Dalam RTRW NTT 2011-2030, Kota Atambua bersama Kota Kefamenanu dan Kota Kalabahi ditetapkan menjadi Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN). Atambua menjadi pendorong pusat pelayanan penyangga dan pintu gerbang di Provinsi NTT. Sebagai pusat perkotaan dan juga menjadi simpul utama ekspor impor ke negara tetangga Timor Leste. Atambua merupakan salah satu pusat pelayanan utama dalam konsepsi sistem pusat pelayanan di Kawasan Perbatasan Negara Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Pososi yang strategis ini juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan sektor pariwisata di Kabupaten Belu dengan Kota Atambua sebagai destinasi wisata kota dan tempat transit pengunjung dan wisatawan. Selain wisatawan nusantara juga wisatawan mancanegara dari Timor Leste. Beberapa daya tarik wisata di Kabupaten Belu sangat beragam seperti daya tarik wisata alam dan bahari (Kolam Susuk, pantai Oefuik, pantai Pasir Putih, Fulan Fehan), wisata budaya (tempat upacara, makam, benteng, gua alam, tari tradisional dan lain-lain), wisata religius (Gua Maria Lourdes, Gereja tua Nualain), wisata kuliner (aneka makanan tradisional) dan wisata belanja (aneka kerajinan).
Keindahan alam dan posisi strategis ini telah menarik minat untuk dieksplorasi. Atambua dan daerah sekitarnya di Kabupaten Belu perrnah menjadi lokasi syuting beberapa film nasional dari sineas handal Indonesia yaitu : Tanah Air Beta tahun 20210 (Ari Sihasale); Atambua 390 Celcius tahun 2012 (Riri Reza) dan Aisyah : Biarkan Kami Bersaudara tahun 2016 ( Herwin Novianto).
Nama Atambua berasal dari kata Ata yang
artinya Hamba dan Buan yang artinya Suangggi (orang yang
memiliki ilmu hitam).
Atambua artinya tempat hamba -
hamba suanggi. Tempat
ini dipergunakan para raja sebagai
tempat pembuangan para
suanggi yang
mengganggu masyarakat. Dalam perkembangannya nama Atabuan menjadi Atambua sampai
sekarang. Kota Atambua saat ini memiliki luas 56.18 km² atau 56.180 Ha
yang membentang sejauh
kurang lebih 8,5 km dari Utara (Haliwen) ke Selatan (Motabuik) dan sekitar
5 km dari Timur (Fatubenao) ke Barat (Umanen). Terdiri dari 3 kecamatan dan 12 kelurahan serta dihuni sekitar 82.125 penduduk (BPS Belu,2022).
Rencana Kepariwisataan Kabupaten Belu
Perda Kabupaten Belu Nomor 3 tahun 2022 tentang
Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Tahun 2023-2026 telah menarasikan rencana pembangunan pariwisata
melalui pemanfaatan daya
tarik wisata
(DTW) di
Kabupaten Belu yang berjumlah 134 DTW yang terdiri
dari 44 DTW alam, 76 DTW budaya dan 24 DTW Buatan.
Arahan struktur perwilayahan pembangunan pariwisata di Kabupaten Belu terdiri dari 4 Kawasan Pembangunan Pariwisata (KPP) yaitu KPP Motaain dan Sekitarnya, KPP Kota Atambua dan Sekitarnya , KPP Fulan Fehan dan sekitarnya dan KPP Mandeu dan sekitarnya.
Kota Atambua menjadi salah satu kawasan pengembangan pariwisata yang artinya Kota Atambua dipersiapkan untuk menjadi
destinasi wisata kota dan pada akhirnya jika pengembangan berjalan baik dapat
menjadi kota wisata.
Lebih lanjut, pengembangan pariwisata di Kota Atambua dan sekitarnya terdiri dari 4 Kawasan Strategis Pariwisata (KSP) yaitu KSP Bendungan Haekrit dan sekitarnya dengan daya tarik wisata unggulan adalah Embung Haekrit, Embung Sirani dan Kampung Adat Takirin. KSP Perkampungan Adat Matabesi dan sekitarnya dengan Kampung Adat Matabesi sebagai daya tarik wisata unggulan, KSP Haliwen dan sekitarnya dengan daya tarik wisata unggulan antara lain Stadion Haliwen dan Kampung Adat Fatuketi dan KSP Tasifeto dan sekitarnya dengan daya tarik wisata unggulan adalah Kuburan Raja Bauho.
Komponen Pariwisata Kota Atambua
Terdapat 4 (empat) komponen yang harus
dimiliki oleh sebuah daya tarik wisata wisata, yaitu: attraction,
accessibility, amenity dan ancilliary (Cooper,dkk.1993). Sementara
untuk pembangunan kepariwisataan
di NTT, komponen
pariwisata dikembangkan menjadi 5 komponen yaitu Atraksi, Aksesibilitas,
Amenitas, Akomodasi dan Awarness. Tulisan ini akan memotret 3 komponen yaitu Atraksi, Amenitas dan
Akomodasi.
· Atraksi
Atambua
memiliki daya tarik wisata baik yang sudah ada maupun potensi yang perlu
dikembangkan baik budaya maupun buatan. Fasilitas taman
kota merupakan
salah satu daya tarik wisata yang
ada seperti Taman Kota atau Alun-Alun Kota seluas 4 ha yang berada di Kawasan Simpang Lima
sekaligus menjadi ikon Kota Atambua. Di dalamnya ada berbagai fasilitas pendukung meliputi lapangan
olahraga, tempat pedagang kaki lima dan pusat jajan sehingga
mampu melayani beragam
fungsi dari rekrasi, olahraga, upacara, pameran
sampai pertunjukan
musik dan seni.
Taman lainnya adalah Fornteira garden serta beberapa fasilitas olahraga seperti Stadion Haliwen, Stadion Atambua dan Kolam Renang Tirta di Atambua Selatan yang selalu
dimanfaatkan warga kota.
Fasilitas lainnya adalah Museum Foho Rai di Matabesi, Galeri Tenun Atambua. Kemudian untuk
kategori bangunan
bersejarah dan budaya ada
Gereja Katedral St. Maria Imaculata dan Kampung Adat Matabesi di Kelurahan
Umanen. Ada Gua Maria Toro yang berada di Kecamatan Atambua Barat, untuk
wisata religi umat Katolik khususnya pada masa Paskah dan Bulan Maria (Mei dan
Oktober).
Untuk fasilitas
wisata belanja dapat mengunjungi Pasar Tradisional Lolowa dan Atambua Plaza.
Beberapa festival / event juga pernah dilakukan seperti Festival Budaya
Timoresia yang selalu dilakukan di Lapangan Simpang Lima sekitar bulan Oktober.
Atambua
mempunyai berbagai makanan tradisional, seperti jagung bose, akan
bilan, fehuk kuhus dan jagung bakar yang
selalu hadir di
Alun-Alun Kota Atambua. Event baik budaya yang pernah digelar dan event kuliner perlu rutin digelar lagi untuk menambah daya tarik wisata Kota Atambua.
Beberapa potensi daya tarik di Atambua yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata antara lain penataan kawasan hijau Kali / Sungai Talau dan Sungai Motabuik yang membelah Atambua di Kecamatan Kota Atambua dan Kecamatan Atambua Selatan, agar menjadi salah satu ruang terbuka hijau sekaligus menjadi ruang terbuka publik bagi warga kota. Penataan arsitektur kota melalui kehadiran arsitektur bangunan yang bernuansa lokal setempat, konservasi bangunan bersejarah yang menjadi saksi sejarah pertumbuhan kota Atambua dan juga kampung-kampung etnik / suku di Atambua dapat dikembangkan untuk menambah variasi daya tarik wisata kota.
· Amenitas
Sebagai ibukota kabupaten, Atambua telah dibangun
sejumlah infrastruktur dasar untuk melayani kebutuhan
utama warga kota seperti sarana air bersih, jaringan jalan, listrik dan
telekomunikasi, fasilitas pendidikan,
kesehatan
dan perdagangan. Kaitannya dengan pengembangan wisata kota, maka terdapat beberapa
fasilitas amenitas yang sudah ada seperti restoran / cafe seperti
Expresso Resto, Circuit Resto, Matahari Resto dan beberapa warung makan Jawa
dan Padang dan lokal. Fasilitas perbankan juga telah
tersedia dengan kehadiran bank pemerintah dan swasta serta tempat penukaran uang atau money
changer.
Untuk kebutuhan transportasi tersedia beberapa Stasion Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) seperti SPBU Wekatimun, SPBU Motabuik dan SPBU Sesekoe. Pelayanan Kesehatan dapat ditangani di Rumah Sakit Umum Mgr. Gabriel Manek, RS Tentara dan RS Tito Husada. Fasilitas penunjang lainnya adalah ketersediaan agen perjalanan wisata seperti Timor Travel, Lintas Arung, Paradiso Travel dan Billy Travel. Untuk kebutuhan belanja dapat mengunjungi berbagai pasar dan swalayan yang cukup tersedia tersebar di semua bagian wilayah kota.
Untuk souvenir terdapat pada beberapa toko seperti Toko Manmean yang menjual oleh-oleh khas Belu dan juga Galeri Tenun Atambua yang sekaligus menjadi pusat informasi wisata. Pengembangan usaha kecil masyarakat sektor ekonomi kreatif untuk menghasilkan souvenir perlu didorong dan difasilitasi pemerintah kabupaten.
Kebutuhan listrik dan telekomukasi termasuk jaringan internet sudah tersedia dan yang diperlukan saat ini adalah peningkatan kualitasnya. Seperti kebutuhan listrik, disamping menambah kapasitas daya listrik dalam kota, PLN juga membangun PLTS komunal seperti PLTS Fotovoltaik 1 MWp di Atambua. Sesuai rencana, PLN akan terus memperkuat sistem kelistrikan Timor di wilayah perbatasan dengan membangun beberapa pembangkit listrik di Kupang, Timor dan Atambua yang kemudian dihubungkan melalui Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) berdaya 150 kV.
· Akomodasi
Ketersediaan
fasilitas akomodasi berupa hotel, losmen dan bentuk
penginapan lainnya
sangat penting untuk
menunjang aktivitas wisatawan yang berkunjung ke Kota Atambua. Untuk hotel
tercatat beberapa hotel yang cukup baik sekitar 10 hotel seperti Hotel Matahari, Hotel Kingstar, Hotel
Nusantara II, Hotel Timor dan Hotel
Paradio. Juga terdapat beberapa home stay modern yang mulai tumbuh seperti
Nadira Homestay & Premium Village di Atambua Barat.
Untuk pengembangan ke depan, perlu ada hotel yang dapat melaksanakan kegiatan pertemuan untuk skala yang besar atau membangun sebuah fasilitas pertemuan yang multi fungsi seperti convention hall yang dapat dipakai untuk pertemuan, pameran, pertunjukan dan kegiatan olahraga.
Dengan berbagai fasilitas, lokasi yang strategis dan potensi yang ada maka Kota Atambua dapat dikembangkan menjadi Wisata Kota Perbatasan untuk melayani kegiatan wisata dan rekreasi warga kotanya dan wisatawan / pengunjung. Kota Atambua memainkan dua fungsi dalam industri pariwisata yaitu sebagai tempat transit wisatawan / pengunjung yang akan menikmati daya tarik wisata dan destinasi wisata yang ada di kabupaten Belu. Dukungan akses yang dimiliki adalah Bandara Udara A.A. Bere Tallo dan terminal kota untuk transportasi darat. Sementara untuk transportasi laut, Atambua dapat dicapai melalui 2 pelabuhan yaitu pelabuhan untuk penumpang di Teluk Gurita dan pelabuhan khusus barang di Atapupu.
Fungsi kedua adalah sebagai destinasi wisata kota dengan kehadiran 3 komponen pariwisata yaitu atraksi dengan berbagai daya yarik wisata yang sudah disebutkan diatas dan didukung dengan Amenitas dan Akomodasi. Masalah utama yang perlu dibenahi adalah cakupan layanan ketersediaan air bersih untuk warga kota dan persampahan yang menyangkut kebersihan kota. Ini akan mempengaruhi image kota Atambua khususnya dari wisatawan/pengunjung yang datang.
*fungsional perencana madya bidang spasial Dinas
Parekraf NTT dan anggota IAI Provinsi NTT
Referensi
:
1. Amazing Atambua Kabupaten Belu. Dinas Pariwisata Belu , Jl. Soekarno
Hatta 28 Atambua
2. Laporan Akhir RTBL Kota Atambua. Kecamatan Kota Atambua TA 2014. Ditjen
Cipta Karya
