Perkuat Cakupan Imunisasi dan Keberlanjutan Anggaran, Dinas Kesehatan Provinsi NTT Gelar Workshop Strategis Bersama UNICEF
KUPANG –
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggandeng UNICEF menggelar
lokakarya strategis untuk menggenjot cakupan imunisasi dasar yang masih rendah.
Kegiatan bertajuk Workshop Penguatan Program Imunisasi Terintegrasi dan
Komitmen Keberlanjutan Pembiayaan ini digelar di Hotel Harper, Kota Kupang,
selama dua hari pada Selasa hingga Rabu, 5-6 Mei 2026.
Langkah ini diambil
sebagai tanggapan terhadap capaian Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di NTT yang
baru menyentuh angka 17,8 persen per April 2026. Angka tersebut masih jauh di
bawah target bulanan sebesar 28,3 persen untuk mengejar sasaran tahunan sebesar
85 persen. Melalui dukungan penuh pembiayaan dari UNICEF, pemerintah daerah
berupaya menyinkronkan perencanaan guna memastikan keberlanjutan program di
lapangan.
Fokus utama
pertemuan ini adalah optimalisasi anggaran dengan mengintegrasikan berbagai
sumber dana, mulai dari APBN, APBD, Dana Alokasi Khusus (DAK) Kesehatan, hingga
dukungan mitra pembangunan. Sinkronisasi ini dianggap krusial untuk menutup
celah pembiayaan operasional yang selama ini menghambat perluasan cakupan
imunisasi di berbagai kabupaten dan kota.
Lokakarya ini
melibatkan jajaran lintas sektor yang memegang peran kunci, di antaranya
pimpinan UNICEF Perwakilan NTT, Staf Ahli PKK, serta pejabat dari Badan
Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida). Hadir pula
perwakilan dari Badan Keuangan Daerah, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kota
Kupang, hingga Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) wilayah NTT.
Sinergi ini juga
melibatkan instansi di luar sektor kesehatan, seperti Kantor Wilayah
Kementerian Agama, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Komunikasi dan
Informatika, serta Biro Hukum. Keterlibatan Yayasan RISE dan Tim Penggerak PKK
Provinsi NTT semakin memperkuat kolaborasi dalam upaya mobilisasi massa dan
sosialisasi di tingkat akar rumput.
Selain urusan
anggaran, pertemuan ini membedah tantangan teknis yang menghambat imunisasi di
NTT. Beberapa isu krusial yang mencuat antara lain tingginya angka anak yang
belum pernah mendapatkan imunisasi sama sekali (zero dose), penolakan
orang tua terhadap pemberian imunisasi ganda, hingga hambatan distribusi
logistik ke wilayah terpencil.
Melalui forum ini,
seluruh pemangku kepentingan berkomitmen untuk meningkatkan kualitas data
melalui aplikasi ASIK dan memperkuat regulasi daerah. Sinergi lintas sektor ini
diharapkan mampu mengakselerasi target IDL hingga 85 persen pada akhir 2026
demi melindungi generasi masa depan NTT dari Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan
Imunisasi (PD3I).
Penulis:
Fachri Irgiana Nurhakim
Editor: Maria Yosephina Wonga Tuda
