(SIARAN PERS) Kemendagri dan BNPB Tinjau KENCANA Pratama di NTT, Sepuluh Camat Terima Penghargaan atas Penguatan Kesiapsiagaan Bencana
Kupang, 18 Juni 2026 —
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dan Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB), didukung oleh Program SIAP SIAGA melaksanakan
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Terpadu Gerakan Kecamatan Tangguh Bencana
(KENCANA) di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Kamis (18/6).
Kegiatan
ini menjadi momentum penting untuk menilai perkembangan pelaksanaan KENCANA
sekaligus memberikan apresiasi kepada sepuluh kecamatan percontohan yang telah berhasil
meningkatkan statusnya menjadi Kecamatan Tangguh Bencana Pratama pada Mei
lalu.
Gubernur
NTT, Melkiades Laka Lena yang hadir dalam pembukaan kegiatan mengapresiasi
komitmen para pihak yang telah menunjukkan hasil baik dengan pencapaian status
Kencana Pratama oleh 6 Kecamatan di Kota Kupang dan 4 kecamatan di Kabupaten
Kupang.
“Tangguh
itu itu gotong royong. Upaya membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi
multi-ancaman bencana hanya bisa diwujudkan melalui kerja bersama, kerja
kolaboratif. Saya berharap, pelaksanaan Kencana harus mencerminkan semangat
pentahelix. Camat dalam kedudukan sebagai Ketua SATGAS Kencana harus mendorong
keterlibatan semua stake holder di tingkat kecamatan,” kata Gubernur.
Ia
juga mengharapkan agar kecamatan yang sudah berstatus Kencana Pratama bisa menjadi
mentor untuk Kecamatan lain di 22 Kabupaten/Kota se-NTT. Lebih lanjut ia
menegaskan bahwa pemberian penghargaan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah
Provinsi NTT, Pemerintah Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, serta Penyematan PIN
Kencana Pratama hari ini tidak boleh dimaknai sekedar seremonial.
“Ini
harus menjadi tonggak sejarah baru dalam pergeseran paradigma penanggulangan
bencana dari yang semula responsif menjadi preventif dan partisipatif. Saya
berharap, sinerji kolaboratif multi pihak ini bisa membawa kita menuju status
Kencana Madya, bahkan Kencana Utama,” kata Gubernur.
KENCANA
merupakan sebuah terobosan dalam penguatan kesiapsiagaan bencana di tingkat
kecamatan yang mengedepankan kolaborasi lintas sektor. Melalui pendekatan ini,
pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, komunitas, dan berbagai
pemangku kepentingan lainnya didorong untuk berbagi sumber daya, pengetahuan,
dan kapasitas dalam mengurangi risiko bencana di tingkat lokal.
Sejak
diimplementasikan di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang sejak Agustus 2025, model
KENCANA telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sebanyak sepuluh kecamatan
yang menjadi lokasi uji coba berhasil memenuhi indikator awal yang ditetapkan
dan memperoleh status Kecamatan Pratama. Capaian tersebut menunjukkan bahwa
sistem koordinasi, regulasi kesiapsiagaan, serta mobilisasi sumber daya lokal
mulai terbangun dan berjalan secara efektif.
Monitoring
dan evaluasi terpadu ini dihadiri langsung oleh perwakilan Kemendagri sebagai
pembina nasional program, BNPB, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kota
Kupang, Pemerintah Kabupaten Kupang, serta berbagai mitra pembangunan yang
selama ini terlibat dalam pengembangan KENCANA.
Rangkaian
kegiatan diawali dengan pertemuan koordinasi pusat dan daerah yang membahas
perkembangan implementasi KENCANA sejak deklarasi hingga pencapaian status pratama.
Dalam kesempatan kehadiran langsung Kemendagri dan BNPB di Kupang juga
dilakukan penyematan Pin KENCANA Pratama dan pemberian rompi kepada sepuluh
camat sebagai bentuk penghargaan atas kepemimpinan dan komitmen mereka dalam
memperkuat kesiapsiagaan bencana di wilayah masing-masing. Camat-camat yang
hadir dalam kegiatan ini adalah Camat Kelapa Lima, Oebobo,
Maulafa, Kota Raja dan Kota Lama dari Kota Kupang. Sedangkan dari Kabupaten
Kupang hadir Camat Takari, Kupang Barat, Kupang Timur dan Fatuleu Barat
Selain
itu, pemakaian rompi dan pin sebagai Pembina juga diberikan kepada Gubernur
NTT, kepada Bupati Kupang, -yang diwakili Asisten Bidang Perekonomian dan
Pembangunan, Drs. Charles A.J. Banamtuan dan kepada Walikota Kupang, yang
diwakili Sekda Kota Kupang, Jeffry Edward Pelt, SH. Kemendagri juga menyerahkan
plakat apresiasi kepada Gubernur NTT, Walikota Kupang, dan Bupati Kupang atas
dukungan dan komitmen mereka dalam mengembangkan model kolaboratif pengurangan
risiko bencana di tingkat kecamatan.
Direktur
Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kebakaran pada Kemendagri, Drs. Edy
Suharmanto, M.Si, mengingatkan bahwa NTT menghadapi berbagai ancaman bencana,
mulai dari gempa bumi, tsunami, cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, tanah
longsor hingga dampak perubahan iklim yang semakin meningkat.
Menurutnya,
penanggulangan bencana tidak cukup dilakukan saat bencana terjadi, tetapi harus
diperkuat melalui upaya pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, dan penguatan
kapasitas masyarakat.
Ia
juga menjelaskan bahwa KENCANA merupakan inisiatif Kemendagri untuk mempercepat
pemenuhan SPM Sub Urusan Bencana dengan memperkuat peran camat sebagai
penghubung antara pemerintah daerah, desa, dan masyarakat.
Namun
ia mengingatkan akan tujuan sebenarnya dari KENCANA. "Keberhasilan Gerakan
KENCANA tidak diukur dari banyaknya dokumen yang disusun, tetapi dari
meningkatnya kapasitas kecamatan dalam melindungi masyarakat dari risiko
bencana."
"Status
KENCANA Pratama bukanlah tujuan akhir."
"Status
tersebut merupakan pijakan awal menuju KENCANA Madya dan KENCANA Utama yang
menuntut penguatan kapasitas, tata kelola, serta kolaborasi yang lebih
berkelanjutan."
Ia
juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kota
Kupang, Pemerintah Kabupaten Kupang, BPBD, para camat, dan berbagai pemangku
kepentingan atas dukungan terhadap pelaksanaan Gerakan KENCANA.
"Capaian
ini membuktikan bahwa sinergi antarpemangku kepentingan, kepemimpinan yang
efektif di tingkat kecamatan, serta semangat gotong royong dalam penanggulangan
bencana mampu menghasilkan kemajuan yang nyata dan terukur."
Suharmanto
berharap hasil monitoring dan evaluasi dapat menjadi rujukan bagi pengembangan
KENCANA di wilayah lain di NTT maupun daerah lain di Indonesia yang memiliki
karakteristik risiko bencana serupa.
Pelaksana
Tugas Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Drs. Pangarso Suryotomo, M.M.B Dalam
sambutannya, ia mengingatkan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan dengan
kondisi geografis dan geologis yang kompleks menghadapi risiko bencana dan
dampak perubahan iklim yang tinggi sehingga membutuhkan upaya pengurangan
risiko yang berkelanjutan.
"Kita
tidak pernah tahu kapan bencana akan datang. Namun di sisi lain kita menyadari
bahwa masyarakat adalah first responder ketika bencana itu datang. Sehingga
penguatan masyarakat terkait pengelolaan risiko bencana harus menjadi hal yang
bersifat fundamental yang harus dilakukan," kata Suryotomo.
Karena
itu, menurutnya, penguatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan risiko
bencana harus menjadi fondasi utama pembangunan ketangguhan di tingkat lokal.
Ia
juga menegaskan bahwa pembangunan ketangguhan harus dilakukan secara holistik
dan berkelanjutan, dengan kecamatan berperan sebagai simpul koordinasi yang
menghubungkan berbagai upaya penguatan ketangguhan masyarakat. Menurutnya,
implementasi Desa/Kelurahan Tangguh Bencana juga sejalan dengan percepatan
penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Sub Urusan Bencana di daerah.
"Kecamatan
memiliki peran strategis dalam penanggulangan bencana. Dan Gerakan Kencana menjadi
simpul garda terdepan membangun ketangguhan masyarakat."
"Capaian
ini merupakan indikator objektif bahwa sistem koordinasi, regulasi
kesiapsiagaan, serta mobilisasi sumber daya lokal di 10 kecamatan tersebut
telah berjalan dengan baik."
Ia juga mendorong seluruh kecamatan memastikan desa-desa melakukan penginputan data dalam Indeks Desa sebagai dasar perencanaan pembangunan yang lebih sistematis dan berkelanjutan.
Usai
kegiatan seremonial, tim monitoring dan evaluasi terbagi ke dalam dua kelompok
untuk melakukan kunjungan lapangan ke dua kecamatan yang mewakili karakteristik
wilayah berbeda, yakni Kecamatan Kota Lama di Kota Kupang dan Kecamatan Kupang
Barat di Kabupaten Kupang.
Kunjungan
lapangan tersebut bertujuan melihat secara langsung implementasi KENCANA di
tingkat tapak, termasuk keberadaan sekretariat, mekanisme koordinasi,
pelaksanaan program kerja, serta kemitraan yang telah dibangun antara
pemerintah kecamatan, satuan tugas, dan berbagai mitra kolaboratif.
Di
Kecamatan Kota Lama, Tim Kemendagri dan BNPB berdialog langsung dengan Camat
Kota Lama Mohamad Adriyanto Abdul Jalil, para anggota satuan tugas, dan
masyarakat guna memperoleh gambaran faktual mengenai keberhasilan, tantangan,
dan peluang pengembangan program ke depan.
Terungkap
dalam monev bahwa Kecamatan Kota Lama telah bekerja sama dengan 37 Pos Yandu di
10 Kelurahan untuk melakukan komunikasi, informasi dan edukasi kepada
Masyarakat menyangkut bencana. Sebanyak empat Kelurahan juga telah diambil
sebagai sampel untuk melakukan evaluasi dan pengambilan data. Selain itu di
Kecamatan yang berada di pusat Kota Kupang ini telah ada dua sekolah yang
merupakan Sekolah Tangguh Bencana yaitu SD Negeri 1 Bonipoi dan SMA Katholik
Giovanni.
“Saya
sangat berterima kasih atas terselenggaranya kegiatan Monev yang kita
laksanakan sejak pagi tadi, apalagi monev ini langsung dibuka oleh bapak
Gubernur. Itu menandakan bahwa ada dukungan dan perhatian lebih dari pemerintah
provinsi terhadap KENCANA,” kata Drs. Edy Suharmanto.
“Mudah-mudahan
dengan perhatian ini akan memacu semangat dari para walikota dan bupati yang
lain di seluruh NTT untuk segera mengikuti jejak Kota Kupang dan Kabupaten
Kupang untuk mencanangkan Gerakan KENCANA,” katanya di sela-sela monev di
kantor Kecamatan Kota Lama di Kelurahan Oeba.
Monitoring
dan evaluasi ini juga menjadi forum strategis untuk mendiskusikan kemungkinan
integrasi antara KENCANA dan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) dalam mendukung
peningkatan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus pemenuhan Standar Pelayanan
Minimal (SPM) Sub-Urusan Bencana.
“Keberadaan
KENCANA ini bukan gagah-gagahan atau ikut-ikutan terhadap kementrian lain
membentuk ini itu. Ini memang amanat dari Permendagri….bahwa salah satu fungsi
camat itu adalah pencegahan atau penanganan bencana dan membantu peningkatan
Standar Pelayanan Minimum. Jadi memang camat diamanatkan [untuk berpartisipasi
dalam penanganan bencana],” kata Edy Suharmanto.
“Siapa
yang akan mengkoordinir desa-desa atau kelurahan-kelurahan yang sudah dibentuk
ini? Harus camat. Itulah salah dua yang menjadi alasan terbentuklah KENCANA.
Bencana tidak mengenal batasan teritori, jadi penanganan bencana lintas wilayah
ini menjadi penting. Di situlah peran camat. Jadi harapan kami karena KENCANA
sudah dibentuk di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, tolonglah jangan hanya
dideklarasikan saja”.
Melalui
kegiatan monev ini diharapkan diperoleh
gambaran komprehensif mengenai faktor-faktor yang mendukung keberhasilan
implementasi KENCANA, berbagai kendala yang masih dihadapi di lapangan, serta
rekomendasi strategis untuk pengembangan program pada tahap berikutnya. Hasil
monitoring dan evaluasi juga akan menjadi dasar penyusunan rencana tindak
lanjut guna memperkuat ketangguhan wilayah terhadap risiko bencana di Nusa
Tenggara Timur.
Kegiatan
Monitoring dan Evaluasi Terpadu KENCANA merupakan kolaborasi antara Biro
Pemerintahan Sekretariat Daerah Provinsi NTT dan Program SIAP SIAGA, serta
melibatkan sekitar 90 peserta dari unsur pemerintah pusat, pemerintah daerah,
lembaga penanggulangan bencana, organisasi masyarakat sipil, dan mitra
pembangunan.
Foto-foto dapat diakses pada link:
https://drive.google.com/drive/folders/13VFXywlcYDsvwuuI4w_w-DDmN_6dK657
Video-video dapat diakses pada:
https://drive.google.com/drive/folders/16D010I0rBZ2VYdji7S4WrROV97rbfBi7
|
Tentang
SIAP SIAGA Program SIAP SIAGA adalah
Program Kemitraan Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia untuk
Manajemen Risiko Bencana. Tujuan Program SIAP SIAGA adalah memperkuat
manajemen risiko bencana di Indonesia, mendukung keterlibatan antara
Australia dan Indonesia dalam penanggulangan bencana di Kawasan Indo-Pasifik.
Program ini dilaksanakan di tingkat nasional dan sub-nasional (4 provinsi)
dimana Provinsi NTT merupakan salah satu lokasi kerja program SIAP SIAGA. Untuk
Informasi lebih lanjut, hubungi: Silvia Fanggidae,
SIAP SIAGA NTT Area Manager Telp:
+62 811-3827-878 Matheos
Messakh, SIAP SIAGA NTT Communication Officer Telp:
+62 813-3927-2155
|
