(SIARAN PERS) NTT Dorong Integrasi Data Spasial dan Teknologi Udara untuk Percepat Pemulihan Pascabencana Gempa Flores M7,7
SIARAN PERS
KUPANG, 3 September 2026 – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengambil langkah
cepat untuk mempercepat proses pemulihan pascabencana gempa bumi Magnitudo 7,7
yang melanda Pulau Flores pada 15 Agustus 2026 lalu.
Guna menghindari keterlambatan penanganan
akibat distorsi data di lapangan, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan
Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Provinsi NTT berkolaborasi dengan BPBD Provinsi NTT
dan Program Kemitraan Australia-Indonesia SIAP SIAGA menggelar Rapat Awal
Koordinasi Pengumpulan dan Konsolidasi Data Sektoral dan Kewilayahan di Hotel
Harper, Kupang pada Kamis (3/9).
Pertemuan strategis ini difokuskan pada
pengumpulan, pembersihan, dan penggabungan data kerusakan sektoral serta
kewilayahan ke dalam basis data geospasial berbasis koordinat (GIS). Langkah
ini diambil untuk mengantisipasi hilangnya bukti kerusakan fisik akibat
pembersihan puing secara mandiri oleh warga sebelum penilaian resmi selesai
dilakukan.
Area Manager SIAP SIAGA NTT, Silvia
Fanggidae, menekankan pentingnya kecepatan pendataan dalam batas waktu
birokrasi yang sangat ketat. Berdasarkan aturan nasional BNPB, dokumen
perencanaan pemulihan harus rampung dalam waktu 90 hari setelah penetapan
status darurat.
"Melakukan penilaian, verifikasi,
dan validasi kerusakan untuk skala dampak seperti di Flores dalam waktu 90 hari
itu tidak mudah. Jika penilaian dilakukan terlalu lama setelah bencana, akan
terjadi distorsi data karena kerusakan fisik asli sudah berubah atau
dibersihkan. Melalui kolaborasi teknologi spasial darat dan udara (drone) ini,
kita ingin membantu para pelaku Jitupasna dan penyusun R3P agar memiliki
database yang akurat dan tepat sasaran," ujar
Silvia Fanggidae dalam sambutannya.
Bencana gempa bumi Flores telah berdampak
masif di 7 kabupaten, merenggut 129 korban jiwa, melukai lebih dari 1.210
orang, dan memaksa 87 ribu jiwa mengungsi. Kerusakan fisik sangat masif,
mencakup 99.398 unit rumah warga serta 3.886 prasarana strategis (653 sarana
kesehatan, 2.633 sarana pendidikan, dan 600 sarana ibadah) dengan total
estimasi kebutuhan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi mencapai Rp2,59
triliun.
Plt. Kepala BAPPERIDA Provinsi NTT, Teresia
M. Florensia, menyatakan bahwa data kerusakan sangat dinamis karena gempa
susulan masih terus terjadi, sehingga rumah yang awalnya dikategorikan rusak
ringan bisa berubah menjadi rusak berat. Ia menekankan bahwa momentum
pembangunan kembali ini harus diselaraskan dengan arah pengembangan wilayah
jangka panjang.
"Kita harus mengawal agar pemulihan
berjalan baik, dan di sinilah data menjadi sangat penting. Namun mumpung ada
sumber daya untuk membangun kembali, pertanyaannya adalah apakah kita sekedar
memperbaiki yang rusak, atau kita bangun kembali dengan perencanaan spesifik
berdasarkan potensi dan masterplan arah pengembangan kewilayahan masing-masing
kabupaten ke depan? Perencanaan pascabencana kita harus jauh lebih baik dan
terintegrasi," tegas Teresia.
Sementara itu, Kepala Bidang Infrastruktur
dan Kewilayahan BAPPERIDA NTT, Yohanes Paut, menjelaskan bahwa keandalan
data ini merupakan prasyarat mutlak (readiness criteria) untuk mengakses
pendanaan dari pemerintah pusat (APBN) maupun mitra pembangunan internasional,
mengingat keterbatasan kapasitas fiskal APBD NTT.
"Dengan estimasi kebutuhan yang
mencapai hampir Rp2,6 triliun, kita pasti menyerah jika menanggungnya sendiri
menggunakan APBD. Oleh karena itu, kita harus mampu menangkap peluang anggaran
pusat seperti Inpres Jalan Daerah, Inpres Irigasi, Air Bersih, hingga program
pembangunan 3 juta rumah. Semua bantuan itu hanya bisa masuk jika kita memiliki
database kerusakan yang kredibel, akuntabel, dan lengkap," jelas John Paut.
John Paut menambahkan bahwa pemulihan
konektivitas jalan nasional Trans-Flores telah fungsional 100% sejak H+2
pasca-gempa dengan pengerahan puluhan alat berat. Namun, tantangan berat masih
dihadapi pada konektivitas sekunder, termasuk kerusakan berat pada Pelabuhan
Marapokot di Nagekeo yang menghentikan sementara operasional penyeberangan
perintis, serta penanganan darurat kontaminasi air payau di Pulau Palue.
Dari sisi teknis penilaian, Kepala Bidang
Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Provinsi NTT, Johanes Marianus,
menjelaskan bahwa penilaian kerusakan fisik akan dipadukan dengan prinsip B3S2
(Build Back Better, Safer and Sustainable). Sesuai dengan pedoman BNPB,
klasifikasi kerusakan rumah tinggal akan dibagi secara ketat berdasarkan
persentase kerusakan struktur utama bangunan.
"Dalam menyusun dokumen Jitupasna
dan R3P, setiap komponen kerusakan harus dihitung dengan cermat. Sebagai
contoh, jika struktur kolom utama bangunan masih aman, bangunan tersebut tidak
bisa langsung diklasifikasikan sebagai Rusak Berat meskipun atapnya hilang
total akibat bencana. Ketepatan klasifikasi ini penting untuk menentukan nilai
bantuan stimulan dari pusat, yaitu sebesar Rp15 juta untuk Rusak Ringan, Rp30
juta untuk Rusak Sedang, dan Rp70 juta untuk Rusak Berat," papar John Marianus.
Guna menghasilkan peta geospasial yang
komprehensif, tim teknis pemerintah akan dibantu oleh tenaga ahli GIS serta
berkolaborasi dengan berbagai jejaring kemanusiaan dan akademik, termasuk Humanitarian
OpenStreetMap Team (HOT), Perkumpulan OpenStreetMap Indonesia (POI),
Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI), dan Pusat Studi Bencana UGM.
[SELESAI]
Foto-foto dapat dilihat pada link berikut
ini:
https://drive.google.com/drive/folders/1mLchq9uVcRbab1AaNkwfXZK1OXOTD6UT
