Berita - Umum

(SIARAN PERS) Dari Puing Gempa Flores, Mahasiswa Teknik Sipil UNWIRA Menjajaki Pengembangan Rumah dan Sekolah Tahan Gempa

[Dapat Segera Disiarkan]


KUPANG, 6 Oktober 2026 – Gempa bumi Flores pada Agustus 2026 meninggalkan kerusakan besar di Nusa Tenggara Timur. Data sementara BPBD Provinsi NTT per 27 September 2026 mencatat lebih dari 98.000 rumah dan 2.600 satuan pendidikan mengalami kerusakan di tujuh kabupaten terdampak. Di tengah upaya pemulihan yang terus berjalan, muncul satu pertanyaan penting: bagaimana memastikan rumah dan sekolah yang dibangun kembali dapat lebih aman ketika gempa berikutnya terjadi?

Pertanyaan tersebut menjadi fokus Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik hasil kolaborasi Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) dan Program SIAP SIAGA, Kemitraan Australia-Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana. Sebanyak 21 mahasiswa Teknik Sipil akan turun langsung ke wilayah terdampak gempa untuk mengkaji pola kerusakan bangunan, mengidentifikasi faktor kerentanan, serta merumuskan rekomendasi teknis bagi pembangunan rumah dan sekolah yang lebih tahan gempa.

Survei lapangan akan dilakukan di dua hingga tiga desa pada masing-masing kabupaten terdampak, meliputi Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat. Temuan yang diperoleh akan menjadi dasar penyusunan panduan teknis dan prototipe bangunan yang relevan dengan kondisi lokal serta kebutuhan masyarakat setempat.

Selain mengkaji bangunan yang rusak, tim juga akan mempelajari rumah-rumah tradisional yang mampu bertahan saat gempa. Pengetahuan lokal tersebut akan ditelaah untuk melihat apakah prinsip-prinsip konstruksi tertentu dapat diadaptasi ke dalam desain rumah aman bencana yang lebih sesuai dengan kondisi masa kini.

Area Manager SIAP SIAGA NTT, Silvia Fanggidae, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya membangun kembali apa yang rusak.

“Jika rumah rubuh karena tidak tahan gempa lalu dibangun ulang dengan cara yang sama tidak tahan gempa, maka saat gempa berikutnya datang, rumah akan rubuh kembali,” kata Silvia Fanggidae.

Ia menekankan pentingnya prinsip build back better and safer atau membangun kembali dengan lebih baik dan lebih aman agar kerugian yang sama tidak terulang di masa mendatang.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari KKN Tematik tahun 2025 yang berfokus pada verifikasi ketangguhan desa di Kabupaten Kupang. Tahun ini, fokus diarahkan pada kebutuhan yang lebih mendesak, yaitu mendukung proses pemulihan pascagempa Flores melalui pendekatan teknis yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat.

Menurut Dr. Yulius Suni, dosen Teknik Sipil UNWIRA yang terlibat dalam kegiatan ini, tim akan mendalami pola kerusakan berbagai tipe rumah dan bangunan sekolah untuk merumuskan rekomendasi konstruksi yang lebih aman.

“Kita mau mengidentifikasi pola kerusakannya, kemudian merekomendasikan prototipe rumah tahan gempa, baik untuk rumah tembok maupun rumah papan,” jelas Yulius Suni.

Sementara itu, Ir. Rani Hendrikus, MS menjelaskan bahwa kajian akan menghasilkan tiga prototipe rumah rakyat dengan ukuran berbeda serta satu prototipe sekolah tahan gempa yang disusun berdasarkan hasil analisis lapangan.

“Misi kita adalah menemukan alternatif rekayasa sederhana berbasis kondisi lokal agar masyarakat bisa bertahan saat gempa berikutnya terjadi,” ujarnya.

Mahasiswa juga dibekali keterampilan observasi dan klasifikasi kerusakan bangunan, termasuk prinsip keselamatan kerja, etika pengumpulan data, dan koordinasi dengan pemerintah daerah serta BPBD. Langkah ini dilakukan untuk memastikan data yang dikumpulkan akurat, dapat dipertanggungjawabkan, dan relevan bagi proses pembelajaran maupun penyusunan rekomendasi teknis.

Kajian turut menggali potensi arsitektur vernakular yang berkembang di masyarakat selama turun-temurun. Berbagai elemen konstruksi tradisional yang terbukti mampu bertahan terhadap guncangan, seperti sistem ikatan dan sambungan struktur, akan didokumentasikan dan dianalisis sebagai bagian dari upaya membangun rumah yang lebih aman dan sesuai dengan konteks lokal.

Hasil kajian lapangan nantinya akan menjadi dasar penyusunan Panduan Teknis Rumah Tinggal Tahan Gempa, Panduan Teknis Sekolah Aman Bencana, ringkasan kebijakan, serta artikel ilmiah yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam mendukung proses pemulihan pascabencana.

Lebih dari sekadar kegiatan akademik, KKN Tematik ini merupakan upaya untuk memastikan bahwa pengalaman pahit akibat gempa tidak berlalu tanpa pembelajaran. Di tengah ribuan rumah dan sekolah yang harus dibangun kembali, kajian ini diharapkan membantu mengubah kerusakan menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi solusi. Sehingga dapat lebih melindungi masyarakat ketika bencana datang lagi di masa depan.

— SELESAI —

Foto-foto dapat diakses di sini:

https://drive.google.com/drive/folders/1bSPzuXH264_UWhtyFcTGsjkyMsbl5Y0t

Anda Suka Berita Ini ?