(SIARAN PERS) Kajian Pascagempa Flores Targetkan Prototipe Rumah Rakyat dan Sekolah Tahan Gempa
[Dapat Segera Disiarkan]
KUPANG, 6 Oktober 2026 – Gempa bumi tidak hanya
meruntuhkan bangunan, tetapi juga meninggalkan pelajaran berharga tentang
bagaimana rumah dan sekolah seharusnya dibangun. Berangkat dari pengalaman
gempa Flores 15 Agustus 2026, tim akademisi dan mahasiswa Teknik Sipil Universitas
Katolik Widya Mandira (UNWIRA) bersama Program SIAP SIAGA (Kemitraan
Australia-Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana), memulai kajian lapangan
yang ditargetkan menghasilkan tiga prototipe rumah rakyat dan satu prototipe
sekolah tahan gempa untuk mendukung pemulihan yang lebih aman dan
berkelanjutan.
Kajian ini berangkat dari
keyakinan bahwa proses pemulihan pascabencana tidak cukup hanya membangun
kembali bangunan yang rusak. Yang lebih penting adalah memastikan rumah dan
sekolah yang dibangun kembali mampu memberikan perlindungan yang lebih baik ketika
gempa terjadi di masa depan.
Gagasan tersebut
disampaikan oleh Ir. Rani Hendrikus, MS dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas
Teknik UNWIRA, dalam pembekalan mahasiswa dan dosen pendamping lapangan yang
akan melakukan survei di tujuh kabupaten terdampak gempa Flores. Kajian ini
akan menghasilkan tiga prototipe rumah rakyat berukuran kecil, sedang, dan
besar, serta satu prototipe sekolah yang dirancang dengan perhatian khusus pada
aspek keselamatan struktur bangunan.
“Misi kita adalah menemukan
alternatif rekayasa sederhana berbasis kondisi lokal agar masyarakat bisa
bertahan (survive) saat gempa berikutnya terjadi,” kata Rani Hendrikus.
Untuk merumuskan
rekomendasi tersebut, tim akan menggunakan dua pendekatan kajian. Pertama,
mengidentifikasi tipologi bangunan, mulai dari bahan dinding, bentuk bangunan,
sistem rangka atap, hingga elemen struktur seperti kolom, balok, dan sambungan
konstruksi. Kedua, mendokumentasikan pola retak dan tingkat kerusakan pada
bangunan yang terdampak gempa. Kedua jenis data tersebut kemudian akan
dianalisis untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membuat suatu bangunan
lebih rentan terhadap guncangan.
Melalui pendekatan
tersebut, tim berharap dapat mengidentifikasi karakteristik bangunan yang
paling berisiko mengalami kerusakan parah serta merumuskan solusi konstruksi
yang lebih aman dan dapat diterapkan secara luas oleh masyarakat.
“Dari penggabungan data
tipologi dan pola kerusakan tersebut, kita dapat menyimpulkan tipe rumah mana
yang paling rentan roboh. Data ini menjadi dasar statistik untuk merancang tiga
prototipe rumah rakyat dan satu prototipe sekolah tahan gempa,” ujar Rani
Hendrikus.
Keamanan sekolah menjadi
perhatian khusus dalam kajian ini. Berdasarkan pengalamannya mengamati dampak
berbagai gempa di Indonesia selama lebih dari tiga dekade, Rani menilai
kerusakan bangunan sekolah masih menjadi persoalan yang berulang dan perlu mendapat
perhatian lebih serius.
“Sekolah adalah tempat kita
mendidik masa depan anak-anak kita. Melalui kajian ini, kami ingin melahirkan
satu desain prototipe sekolah tahan gempa terstandar yang wajib diterapkan
pemerintah dalam setiap pembangunan sekolah,” katanya.
Selain desain bangunan,
kajian juga akan memperhatikan kualitas material dan praktik konstruksi yang
digunakan masyarakat. Tim akan mengkaji berbagai faktor teknis, termasuk mutu
pasir, kualitas air, penggunaan tulangan baja, serta praktik pembangunan yang
umum diterapkan di lapangan. Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar
edukasi bagi masyarakat dan para tukang bangunan mengenai prinsip-prinsip
konstruksi tahan gempa yang sederhana dan mudah diterapkan.
Survei lapangan akan
dilaksanakan di Kabupaten Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur,
Manggarai, dan Manggarai Barat. Hasil kajian nantinya akan digunakan untuk
mendukung penyusunan panduan teknis rumah dan sekolah aman bencana serta
rekomendasi kebijakan pembangunan pascabencana.
Lebih dari sekadar
menghasilkan gambar desain atau prototipe bangunan, kajian ini bertujuan
memastikan bahwa pengalaman pahit akibat gempa Flores dapat diterjemahkan
menjadi perubahan nyata dalam cara masyarakat membangun. Setiap temuan tentang
bangunan yang roboh diharapkan menjadi pelajaran untuk membangun yang lebih
aman, sementara setiap rumah dan sekolah yang berhasil berdiri lebih kuat akan
menjadi investasi untuk keselamatan generasi berikutnya.
Karena pada akhirnya,
keberhasilan pemulihan pascabencana tidak hanya diukur dari seberapa cepat
bangunan dibangun kembali, tetapi dari seberapa baik bangunan tersebut
melindungi kehidupan ketika gempa datang kembali.
— SELESAI —
Foto-foto dapat diakses di sini:
https://drive.google.com/drive/folders/1bSPzuXH264_UWhtyFcTGsjkyMsbl5Y0t
