(SIARAN PERS) SIAP SIAGA dan Mitra di NTT Siapkan Keberlanjutan Layanan Kebencanaan pada 2027
SIARAN PERS
Dapat Segera Disiarkan
KUPANG, 23 Oktober 2026 — Pemerintah daerah dan mitra Program SIAP SIAGA di Nusa Tenggara Timur mendorong penguatan tata kelola data, kesinambungan kapasitas aparatur, serta kemandirian pendanaan agar layanan kebencanaan dapat terus berjalan setelah Fase II program berakhir pada 2027.
Kebutuhan tersebut mengemuka dalam Diskusi
Terbatas Pra Penyusunan Rencana Kerja Tahunan Program SIAP SIAGA di NTT Tahun
2027, di Hotel Harper, Kupang, Jumat (23/10). Forum ini menghimpun
pembelajaran pelaksanaan program dan usulan dukungan untuk tahun terakhir Fase
II program kemitraan Pemerintah Australia dan Indonesia dalam pengelolaan
risiko bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kupang,
Ernest Ludji, S.STP, MSi., menyampaikan bahwa
penanggulangan bencana masih menghadapi tantangan dalam memperoleh perhatian di
tengah berbagai prioritas pembangunan. Padahal, kesiapsiagaan dan kemampuan
merespons bencana membutuhkan komitmen pemerintah sekaligus keterlibatan
berbagai pihak.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri
tanpa bantuan komponen pentahelix lainnya. Kalau kita tidak melakukan itu
secara bersama-sama, kita hanya bermimpi saja dan tidak pernah mencapai
apa-apa,” ujarnya.
Ia menilai pendampingan SIAP SIAGA telah
memberikan manfaat nyata, antara lain melalui pembaruan Kajian Risiko Bencana
dan pengembangan relawan pengemudi transportasi daring di Kota Kupang. Manfaat
tersebut menjadi alasan pemerintah kota berharap kemitraan dapat dilanjutkan.
“Waktu Duta Besar Australia datang ke
Kupang di depan Pak Gubernur, saya sampaikan bahwa jika berkenan pada saat
evaluasi, dari Kota Kupang memohon supaya program ini diperpanjang lagi.
Kenapa? Karena kami sudah merasakan dampak dan manfaatnya secara nyata bagi
warga masyarakat,” katanya.
Meski terdapat harapan perpanjangan,
fasilitator SIAP SIAGA, Silvia Fanggidae, menjelaskan bahwa rencana kerja 2027
tetap disusun dengan pendekatan tahun penutupan Fase II. Pemilihan kegiatan
mempertimbangkan peluang keberlanjutan secara mandiri, potensi perluasan
manfaat, dan nilai pembelajaran bagi tata kelola kebencanaan.
Dengan demikian, dukungan diarahkan untuk
memastikan hasil pendampingan memiliki pijakan kelembagaan, kapasitas
pelaksana, dan sumber daya yang memungkinkan pemerintah serta mitra setempat
melanjutkannya.
Persoalan data menjadi salah satu perhatian
utama dalam diskusi. Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida
Provinsi NTT, Yohanes Paut, menyampaikan bahwa ketidakselarasan data korban
dan kerusakan dapat memperlambat pemanfaatan bantuan, bahkan ketika dana sudah
tersedia.
“Kenapa hari ini di tingkat provinsi ada 40
miliar rupiah bantuan dari pemerintah pusat yang belum terserap? Karena kita
masih ribut dengan data yang belum cocok satu sama lain,” ungkap Yohanes.
Menurutnya, pengerahan bantuan logistik
saat darurat perlu berjalan bersamaan dengan pendataan yang terkoordinasi.
Pembagian peran klaster, prosedur kerja, serta mandat bagi petugas dan relawan
harus disiapkan agar data dapat segera digunakan untuk mendukung penanganan dan
pemulihan.
“Padahal, kalau data sudah terkumpul dengan
baik di awal melalui koordinasi kluster dan SOP yang jelas, koordinasi
penyerapan dana bantuan dari pusat maupun luar pasti bisa berjalan cepat,”
lanjutnya.
Sejalan dengan kebutuhan itu, BPBD Kota
Kupang mengusulkan pengembangan portal data kebencanaan yang mutakhir,
peningkatan kapasitas Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana, serta
penguatan pengkajian kebutuhan pascabencana. Forum Pengurangan Risiko Bencana
NTT juga mendorong mekanisme pertukaran data antarperangkat daerah agar
informasi sektoral lebih mudah dimanfaatkan dalam kajian risiko dan
perencanaan.
Tantangan lain adalah menjaga kapasitas
kelembagaan di tengah tingginya pergantian aparatur. Kepala Bidang
Perencanaan dan Kesiapsiagaan pada BPBD Provinsi NTT, Syafruddin Herman, menggambarkan
bagaimana perpindahan personel yang sudah terlatih dapat membuat lembaga harus kembali
membangun kemampuan teknis dari awal.
“Bicara tata kelola bencana untuk kami di
BPBD selalu berulang tahun dari nol kilometer. Pergeseran personel di BPBD itu
sangat tinggi. Yang kemarin kapasitasnya sudah 100 kilometer, ketika bergeser
ke instansi lain, akhirnya personel baru muncul dari nol kilometer lagi,” ujar
Syafruddin.
Menanggapi persoalan tersebut, anggota Forum
PRB NTT, Deby Moruk, mengingatkan bahwa berbagai dokumen dan prosedur telah
tersedia serta pernah digunakan dalam penanganan bencana.
“Padahal dokumen, SOP, dan rencana
kontinjensi semuanya sudah ada dan pernah berhasil diterapkan saat penanganan
Seroja. Sistem ini mestinya tinggal dilanjutkan dan diperkuat, bukan diulang
dari awal,” kata Deby.
Sejumlah usulan yang muncul mencakup
pendataan aparatur yang telah dilatih atau memiliki sertifikasi, pembekalan
bagi personel baru, serta penguatan prosedur kerja agar pengetahuan tetap
melekat pada lembaga. BPBD Provinsi NTT juga menyampaikan kebutuhan pembaruan
Kajian Risiko Bencana provinsi dan peningkatan kemampuan teknis untuk
mendampingi kajian risiko kabupaten/kota.
Dalam aspek inklusi, Ketua Unit Layanan
Disabilitas Penanggulangan Bencana Provinsi NTT, Desderdea Kanni, menyoroti
belum tersedianya data ragam disabilitas dalam pengalaman penanganan darurat di
lapangan.
“Belajar dari pengalaman saat turun ke
lapangan kemarin, kami pergi ke BPBD dan data disabilitas itu tidak ada. Kalau
data lansia, anak, dan ibu hamil ada, tetapi data ragam disabilitas tidak
pernah ada,” tuturnya.
Keterbatasan data tersebut beriringan
dengan pemahaman masyarakat yang belum memadai mengenai penyandang disabilitas
dan peran mereka dalam penanggulangan bencana.
“Ketika kami datang menggunakan tongkat dan
kursi roda untuk asesmen, masyarakat malah heran. Kami tidak hanya mendata,
tetapi akhirnya harus menyosialisasikan kembali tentang siapa itu penyandang
disabilitas,” lanjutnya.
Perwakilan perangkat daerah yang menangani
pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak turut menekankan pentingnya data terpilah
untuk memastikan bantuan sesuai dengan kebutuhan perempuan, bayi, dan anak.
Penguatan pendataan diusulkan berjalan bersama pelibatan organisasi penyandang
disabilitas, penguatan ULD-PB, serta integrasi perlindungan perempuan dan anak
dalam mekanisme kedaruratan.
Diskusi juga mengangkat kebutuhan
pembiayaan yang memungkinkan respons awal berlangsung cepat. Kepala
Pelaksana BPBD Kota Kupang, Ernest Ludji, S.STP, MSi., mengakui
bahwa prosedur administrasi pemerintah dapat membatasi kecepatan penanganan di
lapangan.
“Kalau hanya menunggu birokrasi pemerintah
yang terstruktur dan kaku, bantuannya bisa terlambat sampai. Oleh sebab itu,
ruang pembiayaan mandiri dan respon cepat masyarakat sipil sangat kita
butuhkan,” ujar Ernest.
Direktur CIS Timor, Haris Oematan, mengusulkan pengembangan dana bersama kebencanaan atau pooling
fund yang ditopang sumber daya lokal dan kegiatan produktif.
“Penting bagi kita untuk punya pooling fund
mandiri agar saat bencana datang kita tidak bergantung penuh pada anggaran
negara yang pencairannya butuh proses. Kita perlu mulai melangkah ke arah
social business dan pertanian terpadu tahan iklim agar memiliki sumber
pendanaan berkelanjutan untuk respon darurat,” katanya.
Ia juga menekankan agar pemulihan
penghidupan menjadi bagian dari penanganan sejak awal, terutama ketika bencana
mengancam aset produktif dan sumber pangan masyarakat.
“Jangan sampai bencana fisik sudah
ditangani, tetapi ekonomi dan sumber pangan lokal warga mati,” tegas Haris.
Di tingkat masyarakat, usulan dukungan
mencakup penguatan kerja sama antardesa melalui Gerakan Kecamatan Tangguh
Bencana atau KENCANA, kelanjutan kegiatan desa dan kelurahan tangguh bencana,
serta perluasan pelatihan TOP Rangers. Jejaring relawan pengemudi tersebut
dinilai berpotensi mendukung evakuasi dan distribusi logistik, termasuk dengan
melibatkan pengemudi mobil.
Peserta turut mendorong pemanfaatan dokumen
risiko dan pemulihan dalam perencanaan serta penganggaran daerah. Bapperida
mengusulkan penandaan program dan anggaran pemulihan pascabencana dalam rencana
kerja pemerintah daerah 2027–2029, sementara penguatan adaptasi perubahan iklim
di tingkat kabupaten/kota diharapkan dapat memperluas pembelajaran yang sudah
dikembangkan.
Pada akhir pertemuan, Area Program Manager SIAP
SIAGA, Silvia Fanggidae, yang menjadi fasilitator kegiatan menyampaikan bahwa
seluruh masukan akan dirangkum sebagai bahan rencana tindak lanjut untuk dibawa
ke pembahasan Rencana Kerja Tahunan SIAP SIAGA di Jakarta. Usulan tersebut akan
melalui pembahasan dan penentuan prioritas untuk memastikan dukungan pada 2027
memperkuat kemampuan pemerintah dan masyarakat melanjutkan pengelolaan risiko
bencana di NTT.
--- SELESAI---
Foto-foto dapat diakses di sini:
https://drive.google.com/drive/folders/1ld3Sqthlk_JqpEJP09LShT-F2Agxf3EX
