Blog Single
Berita - Umum

Wagub Johni Asadoma: Bangun Gereja Harus Sejalan dengan Pembangunan SDM, Pendidikan, dan Ekonomi Jemaat

Desa Tamanapui – Alor, 28 Oktober 2026

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menegaskan bahwa pembangunan rumah ibadah harus berjalan seiring dengan pembangunan sumber daya manusia (SDM), penguatan pendidikan, dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan Wagub Johni saat menghadiri Peresmian dan Pentahbisan Gedung Gereja GMIT Polycarpus Tamanapui, Klasis Alor Tengah Selatan, di Desa Tamanapui, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor, Rabu (28/10/2026).

Menurut Wagub Johni, gedung gereja yang telah dibangun bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol pertumbuhan iman, persatuan, dan ketekunan jemaat dalam membangun persekutuan dengan Tuhan.

“Atas nama masyarakat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya menyampaikan selamat dan apresiasi kepada seluruh jemaat GMIT Polycarpus Tamanapui, Majelis Jemaat, panitia pembangunan, panitia pelaksana, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan semua pihak yang telah mengambil bagian dalam pembangunan gedung gereja ini,” ungkapnya.

Ia mengakui, pembangunan rumah ibadah membutuhkan waktu, tenaga, pikiran, materi, serta semangat kebersamaan yang kuat. Namun, melalui kerja sama, pengorbanan, dan persatuan dalam kasih, berbagai tantangan dapat dilalui hingga menghasilkan sesuatu yang membanggakan.

Wagub Johni berharap, gedung gereja yang telah ditahbiskan dapat menjadi pusat pertumbuhan iman sekaligus ruang pembinaan karakter, penguatan persaudaraan, dan peningkatan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Gereja dan Pemerintah Perkuat Kolaborasi Bangun NTT

Wagub Johni menegaskan, gereja memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah, terutama dalam membentuk manusia yang beriman, berkarakter, berintegritas, berpendidikan, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, kemegahan gedung gereja hendaknya berjalan beriringan dengan kemajuan kehidupan jemaat, baik dalam aspek spiritual, pendidikan, karakter, maupun ekonomi keluarga.

“Jangan hanya gedung gereja yang kita bangun, tetapi manusia di dalamnya juga harus kita bangun. Jemaat harus semakin kuat imannya, anak-anak harus mendapatkan pendidikan yang baik, keluarga harus semakin sejahtera, dan generasi muda harus dipersiapkan untuk meraih masa depan yang lebih baik,” tegasnya.

Ia menjelaskan, semangat tersebut sejalan dengan Dasa Cita ke-10 Pemerintah Provinsi NTT, yakni ‘Ayo Bangun NTT dalam Bingkai Kolaborasi Bersama’.

Menurutnya, pembangunan NTT membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk gereja, keluarga, dan komunitas lokal.

Wagub mengajak gereja dan pemerintah untuk terus memperkuat kolaborasi dalam membina generasi muda, meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat ketahanan keluarga, serta menumbuhkan masyarakat yang saling mengasihi dan peduli terhadap sesama.

Orang Tua Diminta Perkuat Pendidikan Anak

Peresmian dan pentahbisan Gedung Gereja GMIT Polycarpus Tamanapui tahun 2026 memiliki makna khusus karena berlangsung bertepatan dengan Peringatan Bulan Keluarga GMIT.

Wagub Johni mengatakan, keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun iman, karakter, dan masa depan generasi muda. Oleh karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk mendampingi, mendidik, dan memberikan teladan yang baik bagi anak-anak.

Ia mengingatkan para orang tua agar mengajarkan anak-anak untuk takut akan Tuhan, rajin mengikuti Sekolah Minggu, berdoa, membaca Alkitab, dan menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Wagub juga membagikan pengalaman pribadinya tentang pentingnya pendidikan iman sejak usia dini.

“Saya dahulu diajarkan untuk mengikuti Sekolah Minggu, membaca Alkitab, dan rajin berdoa. Nilai-nilai yang saya pelajari dari Alkitab itu harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita,” tuturnya.

Ia menegaskan, anak-anak tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa pendampingan. Orang tua harus membimbing mereka agar terhindar dari pergaulan buruk dan kegiatan yang tidak bermanfaat.

Selain mengajarkan nilai-nilai agama, orang tua juga harus menjadi teladan melalui perilaku sehari-hari, menanamkan kedisiplinan, serta mengajarkan anak-anak untuk menyayangi dan menjaga lingkungan.

Gerakan Jam Belajar Masyarakat Jadi Investasi Masa Depan Anak NTT

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Johni turut menekankan pentingnya Gerakan Jam Belajar Masyarakat yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi NTT melalui Peraturan Gubernur NTT Nomor 24 Tahun 2026.

Gerakan ini mengajak setiap keluarga menyediakan waktu khusus bagi anak-anak untuk belajar di rumah pada pukul 18.00–19.30 WITA.

Ia meminta orang tua, gereja, dan masyarakat mendukung pelaksanaan gerakan tersebut dengan mengurangi aktivitas menonton televisi dan penggunaan gawai yang tidak perlu selama jam belajar.

Sebaliknya, keluarga diharapkan menciptakan suasana yang kondusif agar anak-anak dapat membaca, mengerjakan tugas sekolah, dan memperdalam pengetahuan.

“Kalau kita ingin membangun NTT yang lebih maju, kita harus mempersiapkan anak-anak kita sejak sekarang. Berikan mereka waktu untuk belajar, dampingi mereka, dan bangun kebiasaan disiplin dalam keluarga. Kita ingin generasi NTT tidak hanya kuat dalam iman, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.

Menurut Wagub, pendidikan merupakan salah satu investasi terpenting bagi masa depan keluarga dan daerah. Karena itu, dukungan terhadap pendidikan anak harus menjadi prioritas bersama.

Wagub Johni Ingatkan Penghasilan Keluarga Diprioritaskan untuk Pendidikan dan Gizi Anak

Wagub Johni juga menyoroti pentingnya pengelolaan ekonomi keluarga untuk mendukung pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan gizi anak.

Ia mengingatkan masyarakat agar menggunakan penghasilan secara bijak dan menghindari pengeluaran yang tidak produktif, termasuk belanja rokok dan konsumsi alkohol secara berlebihan, sehingga kebutuhan dasar keluarga dan masa depan anak-anak tetap menjadi prioritas.

Menurutnya, di tengah tantangan pembangunan NTT, termasuk persoalan stunting, keluarga perlu memberikan perhatian serius terhadap pemenuhan gizi, kesehatan, dan pendidikan anak.

Penghasilan keluarga, lanjutnya, harus dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi, mendukung pendidikan, serta mempersiapkan anak-anak agar dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi sesuai kemampuan keluarga.

“Jangan sampai kita mengabaikan kebutuhan gizi dan pendidikan anak karena penghasilan habis untuk hal-hal yang tidak produktif. Anak-anak harus mendapatkan perhatian yang baik, makanan bergizi, dan kesempatan untuk bersekolah setinggi mungkin,” tegasnya.

Ia kembali mengajak jemaat GMIT Polycarpus Tamanapui untuk menjadikan momentum pentahbisan gereja sebagai titik awal memperkuat komitmen membangun manusia.

Menurutnya, kemajuan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang beriman, sehat, berpendidikan, disiplin, dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Dibangun Selama 23 Tahun, Berdiri di Atas Pengorbanan Jemaat Kecil

Sementara itu, Ketua Pembangunan Gedung Gereja GMIT Polycarpus Tamanapui, Yahya Loumani, dalam laporannya menyampaikan pertanggungjawaban keuangan pembangunan gereja sebagai bentuk transparansi kepada jemaat dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan.

Ia menjelaskan, pembangunan gedung gereja berlangsung selama kurang lebih 23 tahun dengan mengandalkan swadaya jemaat serta bantuan dari para donatur, pemerintah, warga perantauan, dan gereja-gereja.

Pembangunan yang meliputi fondasi, penembokan, rangka bangunan, atap, pintu dan jendela, rumah pastori, serta kantor administrasi tersebut menelan biaya sekitar Rp2,2 miliar.

Yahya menuturkan, keberhasilan pembangunan gereja merupakan buah dari pengorbanan dan ketekunan seluruh jemaat, terutama masyarakat kecil yang dengan penuh kerelaan menyisihkan hasil kerja mereka untuk mendukung pembangunan rumah ibadah.

“Gedung ini berdiri bukan semata-mata di atas semen dan pasir, tetapi juga di atas pengorbanan harta, tenaga, waktu, dan air mata jemaat. Sekitar 80 persen dana pembangunan gedung gereja dan pastori berasal dari jemaat kecil di wilayah terpencil, bukan dari orang-orang kaya,” ungkapnya.

Ia menceritakan, ada para ibu yang menjual sirih pinang, para bapak yang menjual kemiri, para pemuda yang menjual buah, serta warga yang mengusahakan kunyit dan kopi demi memberikan sumbangan bagi pembangunan gereja.

Dukungan juga datang dari anak-anak rantau yang berada di Kupang, Malaysia, dan Kalimantan, serta para janda lanjut usia yang tetap memberikan persembahan sesuai kemampuan mereka.

Selain pengorbanan materi, jemaat juga memberikan tenaga selama puluhan tahun melalui kerja bakti, mengangkut pasir dari kali, menarik balok dari gunung, menyiapkan makanan bagi para pekerja, hingga terlibat langsung dalam pekerjaan konstruksi.

Para tukang pun turut mengambil bagian bukan semata-mata sebagai pekerja, tetapi sebagai bentuk pelayanan bagi gereja.

Yahya menyampaikan, seluruh proses panjang tersebut menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan iman mampu menyatukan jemaat untuk menyelesaikan pembangunan rumah Tuhan.

Hingga tahun 2026, Jemaat GMIT Polycarpus Tamanapui telah berkembang menjadi 351 jiwa, dengan 86 kepala keluarga dan 34 anggota Majelis Jemaat yang tersebar di enam rayon.

Setelah melewati 23 tahun proses pembangunan yang diwarnai perjuangan, pengorbanan, sukacita, dan air mata, peresmian serta pentahbisan gedung gereja menjadi momentum penuh syukur bagi seluruh jemaat.

Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo, Wakil Ketua Sinode GMIT Pdt. Saneb Ena Blegur, Anggota DPRD Provinsi NTT Boli Gorang Mau, Ketua Panitia Peresmian dan Pentahbisan Gereja Dominggus Asadama, Ketua Pembangunan Gedung Gereja Yahya Loumani, para pendeta, vikaris, calon vikaris, serta jemaat GMIT Polycarpus Tamanapui, Klasis Alor Tengah Selatan.

Demikian siaran pers ini dibuat untuk dipublikasikan.

#IndonesiaTerang
#AyoBangunIndonesia
#AyoBangunNTT

Penulis: Alexander L. Raditia
Foto/Video: Beni Triyono - Ringling
Anda Suka Berita Ini ?