(SIARAN PERS) Pengemudi Ojol Kupang Uji Evakuasi Inklusif, Usulkan Buku Saku dan Pelatihan Bahasa Isyarat
SIARAN PERS
DAPAT SEGERA
DISIARKAN
KUPANG, 27 Oktober 2026 — Bagi Elvyliana Y. Daton dan Andrew Rihi Iye, membantu warga saat bencana membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang terus dilatih. Salah satu tantangan yang mereka temukan adalah berkomunikasi dengan penyandang disabilitas, khususnya warga Tuli yang menggunakan bahasa isyarat.
Kebutuhan tersebut mengemuka dalam uji coba
Modul Pelatihan TOP Rangers di Kota Kupang, yang ditutup pada Selasa (27/10).
Kedua pengemudi ojek online itu mengusulkan panduan ringkas dan latihan bahasa
isyarat dasar agar relawan lebih siap berkomunikasi dengan warga saat terjadi
bencana.
“Disabilitas ini kan butuh pengetahuan
khusus tentang mereka, mengenal mereka dengan baik dan benar baru bisa
terapkan. Katong butuh praktik langsungnya di lapangan,” kata Elvyliana, yang
akrab disapa Evelin.
Mereka mengatakan pengemudi masih perlu
belajar berinteraksi dengan penyandang disabilitas secara tepat. Untuk
berkomunikasi dengan warga Tuli, misalnya, relawan membutuhkan pengetahuan
bahasa isyarat yang selama ini belum mereka kuasai.
Sebagai salah satu solusi, keduanya
mengusulkan agar materi pembelajaran dilengkapi panduan sederhana seperti kamus
bahasa isyarat dasar dan diikuti dengan latihan langsung.
Uji coba selama dua hari, 26–27 Oktober
2026, diselenggarakan BPBD Kota Kupang bersama Program SIAP SIAGA dan Forum
Pengurangan Risiko Bencana Kota Kupang. Pada hari pertama, peserta menguji
materi peringatan dini inklusif dan pelaporan cepat melalui SIRONDA. Hari kedua
difokuskan pada pembelajaran dan praktik evakuasi taktis serta inklusif.
TOP Rangers, singkatan dari Transportasi
Online Peduli Relawan Penanggulangan Bencana, merupakan inisiatif BPBD Kota
Kupang yang melibatkan pengemudi transportasi online sebagai relawan bencana.
Melalui kerja sama dengan Grab dan dukungan SIAP SIAGA, para pengemudi dibekali
pengetahuan untuk menyampaikan peringatan dini, melaporkan kejadian, dan
membantu penanganan awal sesuai kapasitas mereka.
Sejumlah pengemudi perempuan turut
mengikuti praktik hari kedua. Dalam evaluasi, peserta menyampaikan bahwa
membantu evakuasi fisik, termasuk mengangkat atau memindahkan korban, merupakan
salah satu bagian yang menantang. Mereka menilai perlunya latihan berulang
serta kejelasan tentang tindakan yang dapat dilakukan pengemudi dan situasi
yang harus segera dilaporkan kepada petugas yang lebih kompeten.
Fasilitator SIAP SIAGA, Sintus Carolus
da Costa, mengatakan modul tersebut diupayakan menjadi panduan praktis yang
dapat digunakan relawan untuk memahami tiga bidang utama: peringatan dini,
pelaporan cepat, dan evakuasi.
“Modul ini kita usahakan supaya menjadi
petunjuk praktis, seperti buku pintar, untuk hal-hal yang bisa kita lakukan
dalam tiga fokus kita: informasi peringatan, pelaporan cepat, dan evakuasi
praktis,” katanya.
Menurut Sintus, uji coba menunjukkan bahwa
materi tentang interaksi dengan penyandang disabilitas masih perlu diperkaya.
Peserta membutuhkan kesempatan untuk berlatih berkomunikasi dan memahami cara
memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan orang yang ditolong.
“Perlu ada peningkatan kapasitas
teman-teman supaya lebih familiar dengan bagaimana berhadapan dan berkomunikasi
dengan teman-teman disabilitas,” ujarnya.
Sintus juga menekankan pentingnya batas
peran relawan. Ketika menemukan kejadian, pengemudi dapat menyampaikan laporan
awal kepada BPBD dan membantu sesuai pelatihan serta arahan petugas. Penanganan
teknis yang berada di luar kemampuan mereka perlu diserahkan kepada pihak yang
memiliki kewenangan dan keahlian.
Usulan buku saku dan gambar
Selain materi, peserta memberikan masukan
tentang bentuk modul. Dokumen berukuran kertas legal dinilai kurang praktis
untuk dibawa pengemudi yang sehari-hari bekerja di jalan. Mereka mengusulkan
panduan berbentuk buku saku dan versi digital yang dapat dibuka melalui telepon
seluler.
Anggota Tim Reaksi Cepat BPBD Kota Kupang, Popi
Matau, mengatakan ukuran yang lebih ringkas akan memudahkan relawan
menyimpan dan membuka kembali panduan ketika diperlukan.
“Kalau kita lihat kondisi modulnya yang
kertasnya legal panjang itu, kalau ditaruh di jok motor kurang efektif. Tetapi
ketika kita membuat dalam bentuk seperti buku saku, itu mungkin lebih efektif
untuk mereka yang berada di jalan. Jadi kalau ada hal-hal yang terlupakan bisa
lihat, buka,” katanya.
Peserta juga mengusulkan lebih banyak
ilustrasi, infografis, dan alur visual. Salah seorang pengemudi menyarankan
penyajian seperti cerita bergambar agar langkah-langkah yang harus dilakukan
dapat dipahami lebih cepat. Dalam evaluasi, peserta juga mencatat perlunya
memperbaiki urutan halaman dan penjilidan pada contoh modul yang digunakan saat
uji coba.
Finalisasi modul dan penguatan SIRONDA
Masukan peserta menjadi bagian dari
rekomendasi perbaikan modul yang mencakup bahasa dan instruksi, metode serta
durasi pembelajaran, dan penguatan materi evakuasi inklusif. Tim penyusun
menargetkan dokumen final Modul Pelatihan TOP Rangers selesai pada 10 November
2026.
Untuk materi evakuasi, BPBD Kota Kupang
menargetkan pelengkapan ilustrasi, infografis, dan alur visual pada modul
ketiga pada 4 November 2026. Rencana tindak lanjut juga memuat pelatihan
berkala tentang teknik berkomunikasi, menyapa, dan membantu penyandang
disabilitas dalam penanganan bencana.
Sementara itu, pengembangan SIRONDA
diarahkan pada perbaikan fitur, ketepatan titik koordinat, dan kompresi
otomatis foto agar laporan visual lebih mudah dikirim ketika sinyal lemah.
Pembaruan aplikasi ditargetkan pada 2 November 2026. Peserta juga
merekomendasikan penggunaan grup WhatsApp sebagai saluran pendukung pelaporan
cepat.
Pada minggu kedua November, BPBD dan tim
teknologi informasi SIRONDA menargetkan penyiapan dasbor penyaringan serta
prosedur validasi laporan di Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana
Kota Kupang. Langkah ini diharapkan membantu petugas memeriksa informasi yang
masuk dan menentukan tindak lanjut.
Uji coba juga menghasilkan usulan agar BPBD
menerbitkan ketentuan mengenai standardisasi dan sertifikasi TOP Rangers
sebagai relawan awam terlatih. Sintus mengatakan pengakuan tersebut penting
untuk memperjelas kedudukan para pengemudi sebagai bagian dari jaringan relawan
yang didukung BPBD.
Penyediaan identitas khusus pada kendaraan,
perlengkapan pertolongan pertama, dukungan pendanaan, serta simulasi gabungan
berkala juga masuk dalam rekomendasi untuk menjaga keberlanjutan program.
Pada penutupan kegiatan, Kabid Pencegahan
dan Kesiapsiagaan pada BPBD Kota Kupang, Elsye Sjioen, menekankan
pentingnya tindak lanjut bersama agar kerja sama yang telah dibangun memberi
manfaat bagi masyarakat. Ia juga berharap pelatihan serupa dapat diulang dan
menjangkau pengemudi lain yang telah direkrut.
"Kita bukan sekedar berkolaborasi
tetapi sedang membangun ekosistem. Kalau hanya sekedar kolaborasi kita bisa
berhenti sampai di sini kita selesai di ranah kita masing-masing. Tetapi kita
mainkan peran kita masing-masing, disinergikan sehingga itu bisa memberikan
manfaat atau dampak yang lebih besar bagi diri kita sendiri, keluarga dan
masyarakat Kota Kupang pada umumnya,” kata Elsye.
“Berharap juga ke depan teman-teman yang
sudah pernah direkrut 65 orang—yang kita pernah ada bersama di Aula Remaja—kita
bisa bertemu di satu event untuk kita melaksanakan lagi pelatihan. Mungkin kali
ini teman-teman sudah dapat dan nanti dengan yang lain juga akan mengulang itu.
Tapi ada baiknya kita mengulang terus karena ada peribahasa bilang 'Alah bisa
karena biasa'. Ketika kita terbiasa untuk melakukan sesuatu, kita akan mahir di
sesuatu itu,” imbuhnya.
Program SIAP SIAGA merupakan kemitraan
Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia untuk memperkuat pengelolaan
risiko bencana. Dukungan terhadap TOP Rangers menjadi bagian dari upaya
memperkuat kesiapsiagaan melalui kerja sama pemerintah, dunia usaha, dan
komunitas di Kota Kupang.
--- SELESAI ---
Foto-foto dapat diakses di link ini:
https://drive.google.com/drive/folders/1BMyAGrFasE_PIO1_DSFTlg7HPxoYHqIz
