Harmoni Kolaborasi 5 Lembaga: Bersama Membangun Masyarakat Sejahtera untuk NTT Maju
KUPANG – Gubernur Nusa Tenggara Timur, E.
Melkiades Lakalena, secara resmi membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) 5 Lembaga Tingkat
Provinsi NTT Tahun 2026 di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Senin (2/11/2026).
Rakor yang berlangsung hingga 5 November 2026 secara luring dan daring (hybrid) ini mempertemukan Dekranasda, TP
PKK, Tim Pembina Posyandu, Pokja Bunda PAUD, dan Pokja Bunda Literasi dengan mengusung
tema”Penguatan Sinergi dan Kolaborasi 5 Lembaga dalam Mewujudkan Keluarga
Berdaya, Masyarakat Sejahtera dan NTT
yang Maju.
Acara diawali dengan laporan yang disampaikan oleh Ketua Panitia Pelaksana,
Sandra Benyamin, SE.Beliau melaporkan bahwa rakor ini bagian dari upaya
memperkuat koordinasi, sinkronisasi, dan sinergi program antar lembaga yang berperan
strategis dalam pemberdayaan masyarakat, penguatan keluarga, peningkatan
kesejahteraan, pengembangan kerajinan daerah, pelayanan dasar, serta
peningkatan kualitas PAUD dan budaya literasi. Kegiatan ini juga menjadi wadah
menyelaraskan program masing-masing lembaga dengan prioritas pembangunan NTT
agar lebih terarah, terpadu, dan berkelanjutan.
Tujuannya adalah meningkatkan
koordinasi dan sinergi lima lembaga, menyelaraskan program dengan prioritas
pembangunan daerah, memperkuat tata kelola lembaga (perencanaan, pelaksanaan,
pelaporan, dan evaluasi), mendorong kolaborasi lintas sektor, serta merumuskan
rekomendasi dan rencana tindak lanjut sebagai pedoman di tingkat provinsi
maupun kabupaten/kota.
Dekranasda
berperan mengembangkan kerajinan daerah, meningkatkan kualitas dan daya saing
produk, serta memberdayakan perajin lokal. TP PKK berperan memberdayakan
keluarga melalui 10 Program Pokok PKK. Tim Pembina Posyandu membina dan
memperkuat Posyandu sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam mendukung
pelayanan dasar. Pokja Bunda PAUD mendorong peningkatan akses, mutu, dan
layanan PAUD yang berkualitas, inklusif, dan berkesinambungan. Pokja Bunda
Literasi menumbuhkan budaya baca, meningkatkan kecakapan literasi, dan
memperluas akses bahan bacaan. Kelima lembaga memiliki sasaran dan
karakteristik berbeda, tetapi saling melengkapi.
Ketua TP PKK:
Sinergi, Tata Kelola, dan Tindak Lanjut
Ketua TP PKK Provinsi NTT, Ny.
Mindriyati Astiningsih Laka Lena, dalam arahannya mengajak kelima kelembagaan
menjadikan rakor sebagai ruang membangun sinergi, bukan sekadar menyampaikan
program masing-masing. Ia menekankan lima hal: memperkuat koordinasi dan
kolaborasi nyata, memperkuat tata kelola yang tertib, transparan, dan
akuntabel, menyusun program berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat NTT,
memperkuat komunikasi provinsi dengan kabupaten/kota, serta memastikan setiap
hasil rapat memiliki tindak lanjut berupa pembagian peran, penanggung jawab,
jadwal, serta pemantauan dan evaluasi.
Ia mencontohkan kolaborasi yang bisa
dijalankan, seperti menghubungkan pemberdayaan keluarga dengan penguatan
ekonomi lewat kerajinan lokal, serta mengintegrasikan gerakan literasi ke dalam
kegiatan PKK. Menurutnya, keberhasilan organisasi dinilai dari manfaat dan
perubahan positif yang dirasakan masyarakat, bukan banyaknya kegiatan dan berharap hasil rakor
tidak berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi menjadi pedoman kerja
bersama yang dijalankan konsisten di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.
Tantangan NTT
dan Arahan Gubernur
Gubernur menyebut NTT memiliki
wilayah kepulauan, keragaman sosial budaya, dan potensi lokal besar, namun
masih menghadapi tantangan pemerataan pelayanan dasar, peningkatan kualitas
sumber daya manusia, penguatan ekonomi keluarga, serta perluasan akses pendidikan
dan informasi. Tantangan itu, katanya, tidak bisa diselesaikan pemerintah
semata, sehingga kelima lembaga diharapkan menjadi mitra strategis pemerintah
daerah.
Kepada Dekranasda, Gubernur
meminta pengembangan kerajinan dan tenun dilakukan lebih inovatif, mulai dari
kualitas produk, desain, standardisasi, kemasan, promosi, hingga akses pasar.
Pembinaan perajin tidak boleh berhenti pada pelatihan atau pameran, tetapi
harus menghubungkan keterampilan, produksi, pembiayaan, pemasaran, dan
peningkatan pendapatan.
Kepada TP PKK, ia meminta
pelaksanaan 10 Program Pokok PKK diarahkan pada kebutuhan nyata keluarga,
dengan kader sebagai penggerak partisipasi dan penghubung program pemerintah
dengan warga. Untuk Tim Pembina Posyandu, ia menekankan penguatan
kelembagaan, kapasitas kader, pendataan, serta pemantauan dan evaluasi
berkelanjutan; keberhasilan Posyandu diukur dari kualitas dan manfaat layanan,
bukan sekadar jumlah kegiatan atau kader.
Kepada Pokja Bunda PAUD,
Gubernur menegaskan PAUD sebagai fondasi perkembangan dan karakter anak yang
perlu dilihat terpadu dengan kesehatan, gizi, pengasuhan, dan perlindungan
anak. Sementara Pokja Bunda Literasi diminta membangun gerakan literasi
yang dekat dengan masyarakat, memanfaatkan potensi lokal, dan tidak berhenti
pada kegiatan seremonial.
Gubernur juga meminta kelima lembaga
menyelaraskan program yang sasarannya sama, berbagi data sesuai ketentuan,
merancang kegiatan bersama, dan mengoordinasikan sejak perencanaan program yang
membutuhkan dukungan perangkat daerah, dengan tetap menghormati tugas, fungsi,
dan kewenangan masing-masing. “Ayo Bangun NTT,” tutupnya.Kegiatan ini
kemudian diakhiri dengan foto bersama.
Penulis : Ita Kana (Ketua Bidang Promosi, Humas dan Publikasi Dekranasda Provinsi NTT)
