Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kerja Nyata Menuju Kedaulatan, Kesejahteraan, dan Kemandirian Bangsa
KUPANG, 20 Oktober 2026 – Memasuki tahun
kedua masa bakti, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka secara konsisten
membuktikan komitmen nyata dalam membangun fondasi bangsa yang kuat, berdikari,
dan berkeadilan sosial. Bertajuk momentum "Gerak Nyata", seluruh langkah strategis kementerian dan
lembaga kini diarahkan secara terintegrasi untuk memberikan kemakmuran serta
perlindungan menyeluruh bagi rakyat Indonesia, mulai dari pusat perkotaan
hingga ke wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Pemerintah menegaskan bahwa esensi dari
dua tahun perjalanan kabinet ini adalah transformasi berkelanjutan yang
menuntut konsistensi kebijakan, tata kelola yang bersih, serta pemerataan
manfaat ekonomi yang nyata di masyarakat.
“Pemerintah menyadari bahwa setiap capaian
pembangunan harus dapat dirasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat. Di tengah berbagai tantangan global maupun domestik, respons cepat
kebijakan terus dioptimalkan agar program kerja pemerintah semakin adaptif dan
tepat sasaran," ujar Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan
Komunikasi Pemerintah, Kurnia Ramadhana, dalam keterangan persnya di Jakarta.
Penyelamatan Aset dan Resiliensi Nasional menjadi topik awal pembahasan dalam aspek penegakan hukum dan ketahanan nasional, kabinet menunjukkan gerak cepat dalam mitigasi bencana serta langkah berani melakukan penyelamatan terhadap aset-aset strategis negara. Penegakan hukum yang tegas terhadap kebocoran anggaran dilakukan demi memastikan kekayaan domestik sepenuhnya dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat. Di sisi lain, komitmen hilirisasi komoditas utama nasional, seperti peluncuran ekspor baterai kendaraan listrik komersial, terus digenjot untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah global.
Tanggap Cepat Pemulihan Pasca bencana &
Mitigasi
Pemerintah bergerak cepat merespons bencana banjir dan tanah longsor
di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh untuk memulihkan akses jalan,
jembatan, serta aliran listrik.
- Capaian
Pemulihan (Satgas PRR per 9 Oktober 2026):
- Normalisasi
Wilayah: Sebanyak 39 dari 53 kabupaten/kota
terdampak (74%) telah kembali normal.
- Hunian
Sementara (Huntara): Sebanyak 20.770 unit
rampung dibangun dan 20.728 unit di antaranya telah ditempati.
- Hunian
Tetap (Huntap): Sebanyak 2.085 unit selesai
dibangun dan 1.862 unit dalam tahap pembangunan.
- Dampak
Sektor Terkait: Kegiatan belajar-mengajar
kembali berjalan didukung fasilitas memadai dan program trauma healing.
Sektor pertanian bangkit kembali berkat bantuan benih, pupuk subsidi,
mesin bajak, dan perbaikan irigasi.
- Bencana
Lain: Peningkatan kesiapsiagaan karhutla
(darat dan udara) serta penanganan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara
Timur (NTT).
- Apresiasi
Pakar: Guru Besar Mitigasi Bencana Geologi
UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Eko Teguh Paripurno, mengapresiasi
komitmen pemerintah yang sangat krusial dalam memperkuat mitigasi dan
meminimalkan dampak sosial-ekonomi.
Prinsip "Gerak
Nyata" juga ditunjukkan lewat kepemimpinan yang adaptif dan mendengar
langsung keluhan masyarakat bawah. Melalui kunjungan kerja spesifik, Wakil
Presiden Gibran Rakabuming Raka merespons langsung aspirasi mahasiswa di Kabupaten
Kupang terkait ketertinggalan infrastruktur. Langkah ini ditindaklanjuti dengan
komitmen percepatan perbaikan fasilitas dasar dan jembatan rusak di daerah
pedalaman seperti Amfoang, Kabupaten Kupang, guna membuka isolasi wilayah dan
memperlancar konektivitas warga daerah terpencil.
Pemerintah Pusat juga membuktikan bahwa jaminan keselamatan warga berada di prioritas tertinggi. Ketika NTT menghadapi dampak bencana alam, pusat langsung berkoordinasi melakukan penanganan pascabencana secara taktis dan kolaboratif. Pengerahan armada logistik udara, helikopter, bantuan pangan, hingga pemulihan layanan dasar dilakukan demi memastikan denyut nadi ekonomi warga lokal tidak terputus lama. Pembangunan kembali infrastruktur pascabencana diarahkan untuk mengembalikan ruang hidup yang aman dan layak bagi para penyintas.
Penyelamatan Aset & Penegakan Hukum
Tata Kelola Negara
Menghentikan kebocoran kekayaan negara akibat under-invoicing
(manipulasi nilai ekspor), aliran devisa ke luar negeri, dan pemanfaatan
kawasan hutan ilegal. Estimasi kebocoran akibat under-invoicing selama
34 tahun (1991–2024) mencapai USD 908 miliar (±Rp15.400 triliun).
- Hasil Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH):
- Sektor Perkebunan: 6.206.212,14 hektare.
- Sektor Pertambangan: 14.633,79 hektare.
- Total Dikuasai Kembali:
6.220.845,93 hektare.
- Pemulihan Uang dan Aset Negara (Total Rp379,2 Triliun)
- Rp336,2 triliun: Nilai aset
kawasan hutan yang dikuasai kembali.
- Rp13,2 triliun: Uang pengganti
perkara korupsi CPO (minyak kelapa sawit mentah).
- Rp11,4 triliun: Penyerahan uang ke
kas negara.
- Rp10,2 triliun: Hasil penertiban
kawasan hutan melalui Kemenkeu.
- Rp6,6 triliun: Denda administratif
dan penyelamatan keuangan negara.
- Rp1,4 triliun: Barang rampasan
perkara korupsi timah.
- Sistem
Pengawasan & Pengalokasian: Melalui
Danantara Indonesia, pengawasan ekspor diperketat lewat sistem satu pintu.
Hasil penyelamatan dialokasikan langsung untuk kebutuhan dasar rakyat:
revitalisasi sekolah, fasilitas kesehatan, perumahan, irigasi, serta
bantuan pangan.
- Apresiasi
Pakar: Guru Besar FEB Universitas Airlangga,
Prof. Dr. Rudi Purwono, S.E., M.SE., menilai tindakan tegas ini memperkuat
penegakan hukum dan efisiensi belanja negara yang transparan sesuai Pasal
33 Ayat (3) UUD 1945.
Salah satu
keberhasilan tata kelola yang paling dirasakan adalah perang total melawan
mafia tanah. Melalui sinergi Kementerian ATR/BPN bersama aparat penegak hukum,
sertifikasi aset-aset milik Pemerintah Daerah di NTT dipercepat untuk
menghindari klaim sepihak dari korporasi ilegal maupun mafia tanah. Langkah
nyata ini berhasil mengamankan aset-aset publik berharga, mulai dari lahan
pariwisata strategis di Labuan Bajo hingga aset tanah milik Pemprov NTT di
daratan Timor.
Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Desa dan
Pesisir
Membangun perekonomian yang bertumpu pada petani, nelayan, UMKM,
serta generasi muda desa:
- Koperasi
Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) - Data Oktober 2026:
- 36.309
lahan terverifikasi.
- 28.209
gerai/bangunan rampung 100% dan siap beroperasi.
- 7.418
gerai dalam pembangunan fisik dan 682 lokasi siap dimulai.
Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan pada sektor ekonomi
kerakyatan diposisikan sebagai arus utama pilar pertumbuhan makro. Melalui
modernisasi Koperasi Desa Merah Putih yang kini telah meluas untuk distribusi
bahan pangan, penguatan UMKM, dan perluasan jaminan sosial, pemerintah berhasil
menggerakkan roda ekonomi dari tingkat akar rumput secara inklusif. Program Koperasi Merah Putih mentrasformasikan petani tradisional menjadi
pelaku agroindustri yang modern melalui skema corporate farming. Perubahan paradigma penyaluran dana desa di NTT
agar lebih produktif melalui penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan
Koperasi. Pendanaan difokuskan untuk membiayai usaha bersama masyarakat,
seperti pengolahan hasil pertanian kelor, tenun ikat, dan komoditas kopi unggulan
(seperti Kopi Flores Manggarai dan Kopi Bajawa). Dengan adanya koperasi desa
yang sehat, tengkulak dapat dipangkas sehingga pendapatan asli desa meningkat
dan petani mendapatkan harga jual yang adil.
- Data
Usulan Lahan Untuk Pembangunan Fisik Gerai,Pergudangan Dan Kelengkapan
KDKMP Di Provinsi NTT : 2.385 terverifikasi
- Data
KDKMP Yang Sudah Beroperasi Dalam Melayani Anggota Dan Progres
Pembangunan Fisik Gerai,Pergudangan Dan Kelengkapan KDKMP Di Provinsi NTT sebanyak 3.442 KDKMP, 188 telah beroperasi (5,46%), 1.569 sedang dibangun (45,58%) dan 297 selesai dibangun (8,63%)
- Kampung
Nelayan Merah Putih (KNMP) - Data Oktober 2026:
- 1.269
KNMP dibangun pada 2026 (65 KNMP telah aktif beroperasi).
- Menghasilkan
636 ton hasil perikanan senilai Rp17,41 miliar dan menyerap 17.550 tenaga
kerja.
- Dilengkapi
fasilitas cold storage dan tempat pengepakan (seperti di Pantai
Baru, Yogyakarta) yang diapresiasi oleh pelaku usaha lokal.
Sebagai provinsi
kepulauan, potensi maritim NTT digarap lewat program hilirisasi sektor
perikanan. Pemerintah menyalurkan bantuan sarana prasarana modern secara
langsung, mulai dari kapal motor berteknologi pelacakan ikan (fish finder), alat tangkap ramah
lingkungan, hingga pembangunan Cold
Storage (gudang pendingin) bertenaga surya di sentra pesisir. Langkah ini
membuat nelayan di kawasan Alor, Rote Ndao, hingga Sumba mampu menjaga kualitas
tangkapan mereka dan menembus pasar ekspor.
- 68 KNMP dibangun
pada 2026 (4 KNMP telah aktif beroperasi) yaitu beradadi DesaSulamu Kabupaten Kupang,
Desa Adang Kabupaten Alor, Desa Mudakeutu Kabupaten Flores Timur, Desa
Warloka Kabupaten Manggarai Barat .
- Usulan baru TA.
2027 sebanyak 58 KNMP.
- Sinergi
Program MBG: KDKMP menjadi penampung produk
lokal untuk mendukung Makan Bergizi Gratis (MBG), yang hingga Mei 2026
telah melibatkan lebih dari 140.000 pemasok lokal (seperti KKMP
Karangsari, Blitar yang menampung 256 anggota UMKM).
Program MBG di NTT hingga saat ini telah berhasil menjangkau 698.298
orang penerima manfaat yang didukung oleh operasional 242 unit SPPG aktif di
berbagai wilayah kabupaten/kota. 114 unit SPPG sudah memiliki Sertifikat
Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan 128
unit SPPG lainnya sedang dalam proses pemenuhan sertifikasinya.
- Apresiasi
Pakar: Guru Besar Ekonomi Pembangunan FEB
Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Nazamuddin, SE, MA, menegaskan program
ini sejalan dengan Pasal 33 Ayat (1) UUD 1945 dan terbukti meningkatkan
Nilai Tukar Petani (NTP) serta daya beli masyarakat desa.
Akselerasi pembangunan
juga difokuskan secara masif pada empat sektor krusial:
1. Ketahanan Pangan &
Energi: Implementasi teknologi pertanian modern (smart farming) guna memutus
ketergantungan impor, berdampingan dengan transisi menuju energi baru
terbarukan (EBT) dan swasembada domestik.
2. Pendidikan Nasional:
Penyelarasan kurikulum agar adaptif dengan kebutuhan industri masa depan serta
peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik demi melahirkan generasi unggul.
3. Pemerataan Akses
Kesehatan: Peningkatan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan primer dan
integrasi digital jaminan pengobatan publik agar adil bagi semua kalangan.
4. Keadilan Sosial bagi Wilayah 3T
Mengusung semangat leave no one behind, pembangunan
infrastruktur logistik dan konektivitas digital dialirkan ke wilayah-wilayah
perbatasan dan daerah 3T. Pendekatan ini memastikan sekat-sekat pembatas sosial
dapat dipangkas agar pemerataan manfaat dapat menyentuh setiap lapisan warga
negara tanpa terkecuali.
Swasembada Pangan dan Kesejahteraan Petani
Mewujudkan kedaulatan pangan nasional dengan membenahi rantai
produksi pertanian dari akarnya:
- Aturan
& Subsidi: Memangkas 145 aturan pupuk
subsidi, menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk sebesar 20%,
mencabut 2.232 izin pengecer/distributor nakal, serta menetapkan Harga
Pembelian Pemerintah (HPP) untuk mencegah jatuhnya harga saat panen raya.
Data
Bulan Januari-Oktober 2026
Realisasi
penyaluran bantuan Pupuk Urea bersubsidi untuk Provinsi NTT 26.355,22 ton
Realisasi
penyaluran bantuan Pupuk NPK bersubsidi untuk Provinsi NTT 39.874,25 ton
Realisasi
penyaluran bantuan Pupuk NPK Formula
Khusus bersubsidi untuk Provinsi NTT 28,04 ton
Realisasi
penyaluran bantuan Pupuk Organik
bersubsidi untuk Provinsi NTT 174,96 ton
Realokasi pupuk
bersubsidi mendapat tambahan kuota bagi 22 Kabupaten/Kota.
- Infrastruktur
& Modernisasi: Distribusi 11.000 unit
pompa air (2026) untuk program pompanisasi serta perluasan mekanisasi dan
alat pertanian modern.
Alokasi
Bantuan Alsitan bagi Provinsi NTT dari pembiayaan APBN tidak hanya pada pompa
air tetapi beberapa jenis lainnya yaitu :
Hand Spsyer :
293 unit
Pompa Aair :
600 unit
Traktor Roda 2
: 229
unit
Traktor Roda
4 : 102
unit
Rice Tranplanter
: 33 unit
Crawler : 16 unit
Combine Harvester Besar : 64
unit
Power Thresher :
74 unit
- Cadangan
Beras & Surplus 8 Komoditas Utama (Proyeksi 2026):
- Cadangan
Beras Pemerintah: Mencapai rekor 5,34 juta ton (Juni 2026) dan terjaga di
angka 4,69 juta ton (September 2026).
- Surplus
8 Komoditas: Beras (3.498.145 ton), Jagung
(1.797.096 ton), Bawang Merah (75.392 ton), Cabai Besar (581.020 ton),
Cabai Rawit (583.865 ton), Daging Ayam Ras (862.881 ton), Telur Ayam
(710.987 ton), dan Gula Konsumsi (191.047 ton).
- Indikator
Kesejahteraan: Nilai Tukar Petani (NTP)
September 2026 mencapai rekor tertinggi 131,11 (kumulatif Jan–Sep 2026
sebesar 127,03 atau naik 3,44% YoY). Harga yang diterima petani naik
1,93%.
- Apresiasi
Pakar: Guru Besar IPB University, Prof. Dr.
Ir. Hermanto Siregar, M.Ec., mengapresiasi pencapaian swasembada 8
komoditas pangan sebagai langkah mandiri memenuhi kebutuhan rakyat.
Kemandirian dan Transisi Energi Nasional
Memaksimalkan sumber daya lokal demi melepaskan ketergantungan dari
energi luar negeri:
- Implementasi
Biodiesel B50 (Mulai 1 Juli 2026):
- Indonesia
menghentikan impor solar.
- Potensi
penghematan devisa mencapai Rp170 triliun pada 2026.
- Menghasilkan
nilai tambah sawit Rp23,49 triliun, menyerap 2,1 juta tenaga kerja, dan
mengurangi emisi GRK hingga 44,46 juta ton CO2.
- Program
PLTS 100 GWp (Target hingga 2029):
- Memanfaatkan
potensi energi surya nasional (3.294 GW).
- Membuka
peluang investasi Rp1.140 triliun, menghemat APBN Rp73,9 triliun/tahun,
menghemat BBM 6 juta KL/tahun dan gas alam 35,66 MMSCF/tahun.
- Menciptakan
5,52 juta lapangan kerja serta menekan emisi 140,16 juta ton CO2/tahun.
- Pengolahan
Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL 2029):
- Mengolah
bagian dari 140 ribu ton sampah harian dengan target pengurangan 40.000
ton/hari.
- Menghasilkan
listrik ±25 MW per lokasi di 31 wilayah aglomerasi (86 kabupaten/kota).
- Apresiasi
Pakar: Guru Besar ITB, Prof. Ir. Tutuka
Ariadji, M.Sc., Ph.D., menilai program B50, PLTS, dan hilirisasi merupakan
fondasi penting bagi ketahanan energi nasional.
Transformasi Pendidikan yang Inklusif dan Unggul
Menjamin hak setiap anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan layak
dan berkualitas:
- Anggaran
Rekor (2026): Alokasi anggaran pendidikan
sebesar Rp757,8 triliun (terbesar dalam sejarah NKRI).
- Revitalisasi
& Digitalisasi: 16.167 sekolah
direvitalisasi pada 2025 dan ditargetkan 71.744 sekolah pada 2026.
Pembagian 288.180 papan interaktif digital (Interactive Flat Panel/IFP).
- Sekolah
Rakyat & SNT:
- Sekolah
Rakyat: Menjangkau 182 sekolah di 34 provinsi (44.234 siswa, 4.645 guru,
10.909 tenaga pendidik) dilengkapi fasilitas internet dan MBG gratis.
- Sekolah
Nasional Terintegrasi (SNT): 17 SNT beroperasi di 17 Kabupaten/Kota
dengan 204 TPP dan 1.360 murid baru.
Program
Strategis Nasional di NTT merupakan wujud nyata keberpihakan negara dalam
memutus mata rantai kemiskinan ekstrem melalui sektor pendidikan. Pemerintah
menargetkan perluasan akses pendidikan berkualitas secara gratis kepada
anak-anak dari keluarga miskin ekstrem dan kelompok rentan. Hal ini dibuktikan
dengan hadirnya Sekolah Rakyat Terintegrasi I di Desa Oelnasi Kabupaten Kupang,
dan telah beroperasi sejak tanggal 13 Juli 2026 dengan rincian siswa 365 orang
terdiri dari SD : 26 orang, SMP : 220 orang dan SMA : 119 orang.Jumlah Tenaga
Pendidik dan kependidikan sebanyak 156 orang.
Sebagai langkah
perluasan melalui Kementerian PU dan
Kementerian Sosial menargetkan NTT
mendapatkan tambahan kuota pembangunan Sekolah Rakyat guna mempercepat infrastruktur pendidikan yang telah
disetujui di Kota Kupang, Kabupaten TTS, Belu,
Sabu Raijua, Sumba Barat,
Nagekeo, Manggarai Timur, Sikka dan Ngada. Dalam proses kajian administrasi dan
ketersedian lahan yaitu Provinsi NTT, Kabupaten TTU, Malaka, Rote
Ndao, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, Sumba Timur, Alor, Manggarai, Manggarai
Barat, Lembata, Flores Timur, dan Ende.
- SMA
Unggul Garuda: Meliputi 4 sekolah baru dan 42
sekolah transformasi. Menyediakan beasiswa full coverage bagi 415
penerima (2025) dan 536 penerima (2026) menuju 57 perguruan tinggi terbaik
dunia di 12 negara.
Kehadiran salah satu SMA Unggul Garuda dengan fasilitas pendidikan
berkelas dunia di wilayah 3T terletak di Kelurahan Karangsirih Kabupaten
TTS memproyeksikan episentrum baru
pencetak talenta sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM) dari wilayah Indonesia Timur. Hal ini
menunjukkan komitmen pemerintah bahwa anak-anak dari pelosok NTT memiliki hak
yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas global, merajut mimpi setinggi
langit dan pulang untuk membangun
daerahnya.
- Apresiasi
Pakar: Guru Besar Pendidikan Teknik
Vokasional, Prof. Drs. Ir. Ganefri, M.Pd., Ph.D., mengapresiasi pemerataan
fasilitas dan digitalisasi hingga wilayah 3T.
Pemerataan dan Modernisasi Layanan Kesehatan
Mendekatkan layanan kesehatan ke permukiman warga dengan paradigma
pencegahan dini:
- Peningkatan
RSUD & Fasilitas: Peningkatan kelas RSUD
dari Tipe D/D Pratama ke Tipe C (22 RSUD pada 2025 dan 20 RSUD pada 2026,
target 66 RSUD hingga 2027). Pengiriman dokter spesialis ke wilayah
terpencil, operasional ambulans udara, serta modernisasi alkes (Cathlab,
CT Scan, Mammografi, MRI 1,5 Tesla).
Transformasi
kesehatan di NTT disinergikan langsung secara lintas sektor dengan program
penanganan stunting dan gizi buruk. Kehadiran intervensi gizi di posyandu dan
puskesmas yang mendampingi program nasional menjadi pendorong utama bagi tumbuh
kembang anak-anak NTT. Layanan kesehatan primer dirancang siaga memantau
kesehatan ibu hamil dan balita demi mencetak generasi masa depan NTT yang
tangguh dan bebas dari tengkes.
- Program
CKG & MBG:
- Cek
Kesehatan Gratis (CKG): Diikuti lebih dari 105,07 juta penerima
manfaat per Oktober 2026 untuk deteksi dini penyakit kronis dan TB.
- Makan
Bergizi Gratis (MBG): Menjangkau 57,49 juta penerima manfaat (per
9 Oktober 2026) guna memenuhi gizi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
- Apresiasi
Pakar: Guru Besar Patologi Klinik UNS, Prof.
Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK., Ph.D., mengapresiasi percepatan pemenuhan
dokter spesialis dan pemerataan layanan kesehatan berkeadilan.
Pemerintah berkomitmen untuk menjadikan
capaian dua tahun ini sebagai batu loncatan yang kokoh demi mewujudkan visi
besar Indonesia Emas yang berdaulat
secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Seluruh rangkaian program strategis dalam dua tahun masa
pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini menjadi bukti nyata bahwa negara
hadir secara menyeluruh. Dengan mengintegrasikan keselamatan, pemulihan aset,
kemandirian ekonomi, kedaulatan pangan dan energi, serta peningkatan kualitas
SDM melalui pendidikan dan kesehatan, Indonesia melangkah mantap menuju masa
depan yang lebih setara, maju, dan berdikari.
Penulis : Ita Kana
Penyunting : Petrix Nomleni
Sumber : Kemendagri, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Bapperida dan Dinas Sosial Prov.NTT
