Jagung dan Sorgum Prioritas Utama Pemprov NTT Pada Sektor Pertanian
Gubernur Nusa Tenggara Timur,
Viktor Bungtilu Laiskodat ketika menggelontorkan program Panen Jagung Tanam
Sapi (PJPS) pada pembangunan sektor pertanian dan ketahanan pangan. Sejak tahun
2019 membawa perubahan yang sangat membantu bagi masyarakat petani yang ada di
NTT.
Program TJPS ini sangat cocok
untuk memanfaatkan lahan kering yang ada di NTT dengan targetnya ketahanan
pangan menguat, pakan sapi tersedia dan rakyat lebih sejahtera dan program ini
juga mendukung agar sektor pertanian dapat menunjang produktivitas dibidang
peternakan. Dari tanam jagung maka ketersediaan pakan sapi yang berkualitas
bisa terjamin.
Seperti yang dilaporkan Gubernur
pada Peringatan Hari Ulang Tahun NTT ke-63 mengatakan bahwa pada musim tanam Oktober-Maret
2019/2020 program ini dilaksanakan pada
7 (tujuh) kabupaten, yaitu Kabupaten Kupang, TTS, TTU, Belu, Malaka, Sumba
Timur dan Sumba Barat Daya dengan target 2.400 hektar dan realisasi tanamnya
seluas 2.310,53 hektar dengan produksinya mencapai 9.538,90 ton.
Sedangkan pada musim tanam April
– September 2020 dilaksanakan pada 16 kabupaten, antara lain, Kabupaten Kupang,
TTU, TTS, Belu, Malaka, Sumba Timur, Sumba Barat Daya, Rote Ndao, Flores Timur,
Ende, Ngada, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sumba Tengah dan
Sumba Barat dengan luasan lahan terverifikasi 5.210 hektar.
Keberhasilan ini mengingatkan
kepada kita akan mimpi Gubernur NTT untuk meningkatkan sektor pertanian yang
harus menjadi supply chain.
Pemerintah Provinsi NTT telah melakukan
senergitas dengan berbagai lembaga dan masyarakat sehingga pada tahun 2021 ini
kebangkitan pertanian NTT mendukung kedaulatan pangan sebagai martabat bangsa.
Sejak awal Gubernur Viktor
Laiskodat juga meminta kepada para petani agar bisa bersama-sama menggerakan
sektor pertanian di NTT sehingga pada musim tanam membawa hasil yang
signifikan,
Selain jagung, Pemerintah
Provinsi NTT juga gencar meningkatkan tanaman sorgum dengan mengembangkan
inovasi dari Balitbangtan giaatkan usaha sorgum dibumi flobamora ini.
Tantangan hulu-hilir pengembangan
sorgum di NTT antara lain ketersediaan benih unggul, teknologi budidaya, panen
dan pascapanen tepat guna, kelembagaan dan permodalan petani, serta jejaring
pemasaran.
Proses pascapanen masih
terkendala dengan terbatasnya ketersediaan mesin perontok dan penyosoh serta
pangsa pasar yang masih terbatas karena belum banyak dikenalnya olahan sorgum
oleh masyarakat.
Oleh karena itu, Balitbangtan
melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB
Pascapanen) dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT bekerja sama
dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT telah menggelar rangkaian program
RPIK, berupa kegiatan demonstrasi dan bimbingan teknologi inovatif (bimtek),
panen perdana, intervensi konsumsi, dan penandatanganan naskah kerja sama, yang
dilaksanakan di Kabupaten Flores Timur dan Kupang pada tanggal 3-6 September 2021.
Panen perdana pada model
percontohan budidaya inovatif sorgum unggul Balitbangtan telah dilaksanakan di
lahan milik Kelompok Tani Nimun Hena, Desa Nimun Danibao, Kecamatan Adonara
Barat, Kabupaten Flores Timur.
Kepala Dinas Pertanian dan
Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur Lecky Koli mengatakan bahwa luas
tanam tanaman sorgum yang tengah dikembangkan di provinsi setempat pada 2021
menuju 3.200 hektare.
Luas tanam sorgum di NTT terus bertambah dari 2020 lalu kita
tanam seluas 2.800 hektare, tahun 2021 ini kita sudah 2.000-an hektare menuju
3.200 hektare, dilansir dari laman bisnis.com.
Pemerintah provinsi tengah
melakukan proses pembibitan yang selanjutnya akan disalurkan untuk ditaman pada
lahan-lahan yang disiapkan bersama pemerintah kabupaten/kota.
Guna mendorong sorgum memberikan
kontribusi besar bagi ekonomi NTT terutama mengatasi masalah kemiskinan dan
stunting maka Pemerintah Provinsi NTT
bersama Dinas Peternakan dan Disperindag bertekat untuk menjadikan NTT sebagai
penghasil sorgum.(MI)
Sumber Berita: mwartapedianews.online
