Gereja diminta tidak hanya berperan dalam kehidupan rohani, tetapi juga menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat.
So'E - Gereja diminta tidak hanya berperan dalam kehidupan rohani, tetapi juga menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat.
Pesan ini disampaikan Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, di hadapan 427 gembala Gereja Bethel Indonesia (GBI) di Soe, Rabu (6/5/2026) malam.
Ratusan gembala yang menghadiri Sidang Majelis Daerah Khusus Gembala Badan Pengurus Daerah (BPD) NTT tersebut, datang dari berbagai wilayah di NTT, yakni Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Belu, Malaka, Rote Ndao, Sabu Raijua, Alor, Flores Timur, dan Flores Barat.
Dalam sambutannya, Wagub NTT Johni Asadoma mengapresiasi peran GBI yang dinilai konsisten berkontribusi dalam pembangunan rohani sekaligus sosial kemasyarakatan di daerah.
“Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, saya menyampaikan selamat atas terselenggaranya kegiatan ini, serta apresiasi kepada GBI yang terus mengambil bagian dalam membangun kehidupan rohani dan sosial masyarakat,” ujarnya.
Wagub juga mengaku secara pribadi merasakan kekuatan doa dari para hamba Tuhan dalam perjalanan hidupnya, termasuk dalam menghadapi berbagai tahapan penting, seperti kontestasi politik 2025.
Lebih lanjut, Wagub menekankan pentingnya gereja sebagai agen pembawa damai sejahtera. Menurutnya, damai tidak hanya berarti ketiadaan konflik, tetapi juga terciptanya kehidupan yang rukun dan harmonis, sementara sejahtera mencakup kondisi hidup yang layak dan terbebas dari kesulitan.
“Kalau gereja hadir tetapi masih ada konflik, kekerasan, dan persoalan sosial di sekitarnya, maka peran gereja perlu diperkuat,” tegasnya.
Terkait kondisi sosial ekonomi NTT yang masih menghadapi berbagai tantangan. Angka kemiskinan masih berada di kisaran 17,5 persen dari total sekitar 5,7 juta penduduk pada 2025.
Selain itu, masih banyak pekerja yang menerima upah di bawah standar, bahkan hanya sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta per bulan. Kondisi tersebut dinilai sangat memprihatinkan.
Persoalan lain yang disorot adalah tingginya angka stunting. Menurutnya, selain faktor ekonomi, persoalan ini juga dipengaruhi oleh rendahnya pendidikan dan pola pengelolaan keuangan keluarga.
Ia mencontohkan, pengeluaran untuk rokok dan minuman keras di masyarakat bisa mencapai Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per hari. Jika dialihkan untuk kebutuhan gizi anak, seperti telur, ikan, dan sayur, maka kebutuhan nutrisi keluarga dapat lebih terpenuhi.
Karena itu, ia mengajak gereja untuk turut berperan aktif dalam mengedukasi jemaat agar mengubah pola hidup dan lebih memprioritaskan kesehatan keluarga, terutama ibu hamil dan anak-anak.
Dalam kesempatan tersebut, Wagub NTT Johni juga menyinggung kondisi global yang tidak stabil akibat konflik di berbagai negara yang berdampak pada kenaikan harga energi dan kebutuhan pokok. Ia mengajak gereja untuk turut mendoakan perdamaian dunia.
Menutup sambutannya, Wagub kembali menegaskan pentingnya peran gereja dalam mendorong pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Ia juga mengingatkan berbagai program pemerintah, seperti pembangunan SMA Unggul Garuda dan Sekolah Rakyat, yang perlu dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Anak-anak tidak boleh putus sekolah. Masa depan daerah dan bangsa ada di tangan mereka,” tandasnya.
Penulis : Palce Amalo
Foto : Ben Jusuf
Editor : Adolf Naikofi
Anda Suka Berita Ini ?
