Gubernur VBL : Kehilangan Arsip Sama Dengan Kehilangan Budaya dan Sejarah
Siaran Pers Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT
Kupang , 19 Juli 2022
“Jika seorang pemimpin mau berhasil, maka sebenarnya dia harus banyak belajar dan paham tentang sejarah, dan sejarah itu bersumber dokumen arsip yang otentik, jelas dan tertata kronologis. Sebagai pemimpin yang bijak, sebenarnya arsip sangat penting untuk menjadi pedoman untuk belajar dari sejarah masa lalu dan arah pembangunan masa depan. Sejarah masa lalu sangat penting, sebagai referensi dalam mengambil kebijakan pembangunan serta langkah-langkah strategis melalui arsip. Jadi seorang pemimpin itu sebenarnya dia harus paham arsip. Arsip tidak ada, maka sejarah menjadi kabur, dan bisa jadi untuk menentukan masa depan, langkah-langkah yang diambilpun akan penuh keragu-raguan. Orang yang maju dia, perlu belajar dari masa lalu yaitu menguasai dengan benar tentang arsip”.
Hal tersebut diungkapkan oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), saat menerima Sekretaris Utama Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) : Rini Agustiani, SH, M. AP bersama Dr. Andi Abubakar, S. IP, M. Si selaku Direktur SDM Kearsipan dan Sertifikasi, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Deputi Bidang Infromasi dan Pengembangan Sistem Kearsipan : Anna Imelda Noviandri, didampingi Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTT : Stefanus Ratoe Oedjoe dan Kabid Pengelolaan Arsip Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTT : Stefania Fah, pada Hari Selasa, 19 Juli 2022, di ruang kerja Gubernur NTT.
“Arsip tidak ada, berarti sejarahpun tidak ada. Saya dulu di Komisi II DPR RI, jadi mitra kerja kami adalah dengan ANRI. Saya tahu betul. Dan ini soal membangun mindset yang benar. Sejarah identik dengan arsip. Kehilangan arsip, berarti kita kehilangan budaya, memori dan sejarahnya sendiri. Kan banyak sekali kita punya arsip-arsip yang hilang, oleh karena pemahaman kita belum sampai pada level itu. Masih banyak orang yang mengabaikan betapa penting adanya arsip. Salah satu pemahaman yang salah juga, bahwa kalau orang yang ditempatkan bekerja di arsip, maka pikiran dari orang itu menjadi terbuang. Itu cara berpikir yang salah. Harus dirubah cara berpikir itu”, ungkap Mantan Anggota DPR RI ini.
Orang Nomor Satu NTT ini mengatakan bahwa pada tahun 1939, NTT pernah diserang dengan badai seroja seperti yang terjadi pada April tahun lalu. Saat badai seroja terjadi tahun lalu, beliau meminta dokumen sejarah tentang peritiwa yang sama di tahun 1939, namun sayangnya arsip tentang kejadian tersebut tidak ditemukan.
“Oleh sebab itu, Badai Siklon Tropis Seroja tahun lalu, saya minta didokumnetasikan dengan baik. Ini penting agar kalau kita mengalami kejadian yang sama lagi, kita tidak kelabakan, namun kita sudah bisa belajar dari pengalaman masa lalu dalam menangani badai siklon seroja atauoun sejenisnya., melalui ketersediaan bukti – bukti dokumnetasi arsip yang tertata dan tersimpan dengan baik”, ujar Gubernur Viktor.
Politisi Partai Nasdem ini juga mengatakan bahwa jaman sekarang manusia paling sulit untuk menghargai sebuah karya, untuk dibuat menjadi dokumen penting, agar bisa diikuti dan dipelajari oleh generasi yang akan datang.
“Begitupun pada saat saya terkena Covid lalu , saya belajar saat virus yang sama terjadi di Spanyol tahun 1918, saya belajar mencari semua dokumen tentang covid waktu itu. Bagaimana dampak sosial dari Covid, negara mana saja yang survive pada saat itu, dan apa yang harus dilakukan. Nah, kita perlu belajar dari sejarah masa lampau, sehingga kalau terjadi lagi kita sudah tahu bagaimana menanganinya, dan mengatasinya, tentu melalui adanya arsip”, jelas Putera dari Nusa Bungtilu ini.
Selanjutnya Gubernur VBL mengatakan bahwa, kalau arsip ditata dengan baik, apalagi melalui sistem digitalisasi, maka akan sangat berguna sekali untuk generasi akan datang, generasi pada 100 tahun, 200 tahun dan seterusnya.
“Jadi begitu ada masalah, kita bisa belajar memecahkan masalah yang dihadapi dari arsip. Kalau bisa mengarsipkan sebuah peristiwa dengan baik, kita pahami dan kuasai arsip tersebut dengan benar, maka kita pasti akan tahu sejarah, sejarah berguna sebagai pedoman untuk mengambil solusi menghadapi suatu masalah”, kata Doktor Pariwisata Jebolan UKSW Salatiga ini.
Sementara itu, Sekretaris Utama Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) : Rini Agustiani, mengatakan bahwa Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) memiliki tangggung jawab untuk membangun Sistem Informasi Kearsipan Nasional (SIKN) dan membentuk Jaringan Informasi Kearsipan Nasional (JIKN).
Menurut Alumni Fakultas Hukum UGM ini, penyelenggaraan SIKN dan JIKN dalam Simpul Jaringan Nasional untuk Informasi Kearsipan Wilayah Perbatasan Negara dengan pendekatan Model Partisipatif untuk mengakomodasi pengetahuan dan kearifan budaya lokal masyarakat sebagai proses Pembangunan Integritas Kebangsaan Komunitas Masyarakat Wilayah Perbatasan Negara, perlu dilaksanakan Pendampingan Simpul Jaringan Komunitas Wilayah Perbatasan Negara.
“Dalam rangka menjalankan fungsi tersebut, ANRI sebagai Pusat Jaringan dan Lembaga Kearsipan Provinsi, Lembaga Kearsipan Kabupaten/Kota dan Lembaga Kearsipan Perguruan Tinggi Negeri sebagai Simpul Jaringan, bertanggung jawab dalam pelaksanaan koordinasi pengelolaan SIKN dan JIKN. Kabupaten Belu yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai wilayah yang memiliki perbatasan dengan negara lain memiliki informasi kearsipan strategis, yang dapat dikelola melalui penyelenggaraan SIKN dan JIKN di Lembaga Kearsipan Daerah, sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat”, ungkap Rini, yang adalah perempuan berdarah Solo ini.
Selanjutnya, Rini, yang pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Kajian dan Pengembangan Sistem Kearsipan ANRI, mengatakan bahwa untuk mendorong Pengelolaan arsip Perbatasan Negara, baik dalam rangka identifikasi, perlindungan dan penyelamatan arsip, maupun penyediaan akses terhadap informasi kearsipan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, maka diperlukan upaya Pemberdayaan Pemerintah Daerah melalui Lembaga Kearsipan Daerah untuk menjadi Simpul Jaringan.
“Keterlibatan pemerintah daerah yang berbatasan dengan negara lain dalam Penyelenggaraan SIKN dan JIKN, juga mempertegas peran Arsip Negara sebagai Simpul pemersatu bangsa. ANRI melaksanakan kegiatan ini, berpijak pada sisi penyelamatan dan input data serta informasi arsip yang dimiliki oleh Dinas Kearsipan, khususnya arsip-arsip perbatasan sehingga bisa diakses publik, melalui digitalisasi arsip”, ujar Rini yang menjabat sebagai Sestama ANRI sejak tahun 2021 lalu.
Mendengar penjelasan, Sestama ANRI, Gubernur Viktor mengatakan bahwa kita sementara mendesain kawasan perbatasan menjadi Free Trade Resort di Beranda Terdepan NKRI.
“Kita sementara mempersiapkan Jalur Perdagangan antar negara dari Timor Leste (melalui Enclave Oekusi) ke Indonesia di Labuan Bajo, juga ke Kabupaten TTU dan Kabupaten Kupang. Kita akan rancang menjadi Free Trade Resort disitu. Kita juga sementara menata Kawasan Perbatasan RI – RDTL yang ada di Pulau Timor ini, agar bisa memiliki daya tarik wisata yang luar biasa. Kami juga sangat berterima kasih kepada Pemerintah Pusat melalui perhatian besar dari Presiden Jokowi, sehingga kawasan perbatasan di Motaain, Motamasin dan Wini telah selesai, sehingga menjadi destinasi yang sangat menarik kunjungan wisatawan. PLBN di NTT mempercantik tampilan wajah Indonesia, di kawasan Perbatasan RI (NTT) - RDTL. Dan sekarang sementera diselesaikan PLBN Napan di Kabupaten TTU”, ujar Gubernur Viktor penuh antusias.
Selanjutnya, Rini Agustiani yang adalah Alumni Magister Program Magister Manajemen STIA LAN RI ini juga mengatakan bahwa ANRI akan bekerja sama dengan instansi terkait, dalam upaya membangun galeri arsip di wilayah perbatasan dan bisa dijadikan destinasi wisata oleh Pemda setempat.
“Pada kesempatan ini juga kami sampaikan bahwa dalam waktu dekat kepala ANRI akan melakukan kenjungan kerja ke NTT, dan jika berkempatan akan mengunjungi juga Pulau Terselatan NKRI, ujar Rini Agustiani.
“Saya juga dengan senang hati jika Kepala ANRI bisa berkunjung ke NTT, ke Rote, jika tidak sibuk saya pasti akan mendampingi langsung beliau dalam kunjungan tersebut”, pungkas Gubernur VBL menutup pertemuan tersebut.
Penulis : France A. Tiran;
Juru Foto : Amanda Kepa.
Demikian siaran pers ini dibuat dan dipublikasikan.
Anda Suka Berita Ini ?
