PHDI NTT Harus Terlibat Atif dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Siaran Pers Biro Administrasi Setda Provinsi NTT
Kupang, 08 September 2022
Demikian harapan yang disampaikan oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Lasikodat (VBL), saat menerima Ketua PHDI NTT : Wayan Darmawa bersama Ketua Paruman Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi NTT : Ida Rsi Agung Nanda Wijaya Kusuma Manuaba, didampingi Pengurus PHDI Provinsi NTT, masing-masing : Wakil Ketua PHDI NTT sekaligus Ketua Panitia Bazar Hari Raya (BRAYA) : Dr. Sahadewa, SpOG, Dr. I GB Adwita Arsa, MP yang juga adalah Dosen Politeknik Pertanian, Pembimbing Masyarakat (PEMBIMAS) Hindu Provonsi NTT : Ni Wayan Sunarsih, pada hari ini, Kamis, 8 September 2022, bertempat di Ruang Kerja Gubernur NTT Gedung Sasando Kantor Gubernur NTT.
Ikut serta dalam pertemuan tersebut : Ketua Pengempon Pura Agung Giri Kertha Bhuana : Nengah Pustaka, Ketua Renovasi Pura Agung Giri Kertha Bhuana : Ida Bagus Astawa, Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia Provinsi NTT : Dr. Ayu Susewati, Ketua Bidang Ekonomi dan Hindu Peduli : Ni Nyoman Yuliana, Sekretasris WHDI : Dayu Putu Nuryati, Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (PERADAH) : Putu Dharma dan Agus Natha selaku Ketua Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI).
Maksud kunjungan dari Pengurus PHDI Provinsi NTT tersebut adalah untuk melaporkan pelaksanaan BRAYA-2 (Bazar Hari Raya), yang bertujuan sebagai media penggalangan dana untuk renovasi Bangunan Pura Agung Giri Kertha Bhuana, di BTN Kolhua Kupang, yang telah rusak akibat terpaan Badai Seroja tahun lalu. Sekaligus melaporkan hasil pembangunan Sekolah Hindu yang telah didukung oleh Gubernur VBL, dan juga memperkenalkan Pandita Agama Hindu Tertinggi di NTT, yaitu Ida Rsi Agung Nanda Wijaya Kusuma Manuaba.
Gubernur Laiskodat sangat gembira dan mengajak seluruh jajaran Pengurus PHDI Provinsi NTT, dan seluruh umat Hindu Dharma di NTT, ikut terlibat bersama pemerintah bekerja keras mewujudkan NTT Bangkit NTT Sejahtera.
“Saya membuka ruang seluas-luasnya bagi siapa saja, yang ingin berkontribusi nyata meminimalisir kemiskinan di NTT. Salah satunya adalah saudara-saudara Umat Hindu di NTT ini. Kemiskinan adalah adalah penjumlahan bodoh dan malas. Oleh sebab itu, kita harus bersepakat menghilangkan stigma miskin ini, dimulai dari diri kita sendiri, bekerja sungguh-sungguh dan konsisten dalam upaya untuk bangkit dan maju. Kita perlu kerja-kerja inovatif dan dengan cara luar biasa, sampai kita benar-benar bisa mandiri untuk menghasilkan uang. Nah, disinilah kita semua tertantangan untuk bisa sukses. PHDI harus punya peran besar dalam memberdayakan ekonomi masyarakat, dan pemberdayaan itu harus berhasil, dengan memberi dampak perubahan besar dalam kehidupan perekonomian kita. Kita mandiri oleh karena kita terus berpacu dengan modal semangat, pengetahuan, keterampilan dan harus punya keberanian. Kita ubah mindset kita dalam bekerja, pasti kita bisa maju”, tegas Putera Semau ini.
Lebih jauh Gubernur Laiskodat meminta kepada seluruh Jajaran Pengurus PHDI NTT, untuk jangan sekedar menjadi penonton saja, karena setiap orang yang tinggal dan menikmati kehidupan di NTT, harus punya tanggung jawab moril dan komitmen besar untuk memajukan NTT.
“PHDI NTT harus memiliki militansi yang kuat sebagai bentuk tanggung jawab dalam menyiapkan generasi yang cerdas dan punya kepedulian tinggi. Generasi ini kemudian dapat diberdayakan melalui kerja sama dengan pemerintah, dengan tujuan untuk mempersiapkan generasi yang punya wawasan dan mental berwirausaha. PHDI harus bisa menjadi organisasi kemasyarakatan yang kuat, dan merasa bertabnggung jawab untuk bersama pemerintah menghapus stigma miskin, yang masih menghambat masyarakat NTT dapat maju. Kita tidak bisa hanya bertadah tangan saja pada pemerintah, tetapi setiap orang harus bisa menciptakan kreatifitas untuk memajukan dirinya agar bisa mandiri dan berguna bagi orang lain. PHDI harus bisa menjadi pelopor kemajuan masyarakat dan daerah ini. Pemerintah saat ini tidak tertarik lagi dengan memberikan sejumlah anggaran tunai kepada masyarakat, tetapi pemerintah punya tanggung jawab dalam memandirikan masyarakatnya, dengan mendorong masyarakat ikut terlibat aktif dalam mengerjakan berbagai program pemerintah, seperti budidaya jagung, kelor, sorghum, sumber-sumber daya kelautan, karena NTT punya semua ini, namun sayangnya masyarakat kita belum sadar untuk mau mengelola semua ini dengan optimal”, ungkap Gubernur Viktor.
Orang Nomor Satu di NTT ini menjelaskan bahwa jika semua orang NTT punya pemikiran seperti itu, maka dipastikan provinsi ini akan cepat keluar dari lilitan kemiskinan yang berkepanjangan. Setiap orang siapa pun itu dan dari latar belakang manapun harus benar-benar sadar dan terpanggil untuk mengerjakan semua itu dengan penuh tanggung jawab.
“Saya mau semua komponen masyarakat NTT, termasuk pengurus PHDI NTT, harus bisa memahami dengan jelas, apa maksud pemerintah mencanangkan program-program kerja kepada masyarakat yaitu agar dapat meminimalisir rendahnya SDM di Provinsi NTT, dimana masalah ketersediaan SDM berkualitas masih menjadi salah satu faktor utama terhambatnya proses pembangunan. Masyarakat perlu belajar, yang dimaksud disini tidak hanya menyerap ilmu secara teoritis melainkan juga bisa menerapkannya di lapangan. Contohnya, sebagai seorang pendidik, pekerjaan yang digelutinya berdasarkan keterpanggilannya untuk mendidik. Jadi pada dasarnya, ia sudah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk hal tersebut. Target saya untuk provinsi ini, yaitu saya ingin menciptakan Dunia Pendidikan yang diisi oleh mereka yang sungguh-sungguh mau berbagi ilmu, sehingga hal ini dipandang sebagai sebuah panggilan, bukan cuma sekedar ladang mencari nafkah untuk dapat bertahan hidup. Setiap individu yang memenuhi panggilan ini, selayaknya tidak cuma pintar membaca, menghafal dan bicara saja, namun pastinya mereka juga lihai dalam mengaplikasikan bidang keilmuan yang sudah dikuasainya. Nah, hasil dari target tersebut juga menjadi sebuah potensi yang harus kita kembangkan sekaligus kita salurkan ke berbagai sektor pembangunan yang sedang kita jalani bersama”, ungkap Putera dari Nusa Bungtilu ini
Sementara itu, Ketua PDHI NTT, Wayan Darmawa bersama Wakil Ketua sekaligus Ketua Panitia Panitia Bazar Hari Raya (BRAYA) : Dr. Sahadewa, SpOG, mengatakan bahwa dalam acara BAZAR-2 yang akan dilaksanakan akan menampilkan karya kesenian kolaborasi masyarakat Bali dan NTT.
“Bazaar Hari Raya atau Braya, merupakan ajang silaturahmi antar umat beragama di Kota Kupang, sembari menikmati kuliner dan kesenian kolaborasi Bali dan NTT. Selain itu juga, akan ada pelelangan sekitar 100 hasil karya lukis oleh salah satu seniman asal Bali, dan seutuhnya hasil dana dari pelelangan lukisan tersebut, dialokasikan untuk untuk pengerjaan renovasi Tempat Ibadah Pura Agung Giri Kertha Bhuana, BTN Kolhua. Kegiatan ini untuk kedua kalinya, dan sudah siap digelar pada hari Minggu malam tanggal 11 September 2022 di Area Parkir Pura Agung Giri Kertha Bhuwana Kolhua. Tak kurang dari 300 tamu bakal hadir. Tujuan utama dari kegiatan tersebut adalah untuk penggalangan dana dalam rangka memberi dukungan untuk renovasi pura, juga menjadi waktu yang sangat baik untuk memupuk rasa toleransi antar umat beragama, menjadi kesempatan yang baik untuk melatih kolaborasi antar generasi di kalangan aktivis organisasi Hindu, ajang unjuk kreatifitas seni, dan juga menghidupkan UMKM khususnya di kalangan umat Hindu”, jelas Wayan Darmawa yang adalah mantan Kadis Parekraf Provinsi NTT bersama Sahadewa yang juga adalah Pemilik Rumah Sakit Dedari Kupang.
“Saya selaku gubernur mendukung penuh kegiatan tersebut karena itu adalah wujud kolaborasi saudara-saudara orang NTT asal Pulau Dewata, dan saya yakin kegiatan tersebut punya dampak yang luar biasa bagi perkembangan pariwisata di Provinsi NTT. Tentu saja kolaborasi tersebut harus dieksekusi dengan akurat, sehingga bisa menjadi salah satu kekuatan yang besar untuk mendorong pembangunan Nusa Tenggara Timur”, pungkas Gubernur Laiskodat menutup pertemuan tersebut.
Turut hadir dalam pertemuan Analis Kebijakan Ahli Muda/Sub Koordinator Substansi Bina Mental Spiritual, Biro Pemerintahan Setda Provinsi NTT : Maria Rosalinda Naiktas.
Penulis : Tibertius V. Siung dan Fajrin M. T. Bano
Editor : France A. Tiran
Juru Foto : Dwiputra Mone Mangngi
Demikian siaran pers ini dibuat untuk dipublikasikan.
Anda Suka Berita Ini ?
