Blog Single
Kegiatan Gubernur - Umum

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena menerima audiensi dengan perwakilan keluarga Lajanti Tuan Ma

Kupang - Bertempat di ruang kerja Gubernur NTT, pada Selasa (10/3) pagi, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena menerima audiensi dengan perwakilan keluarga Lajanti Tuan Ma.

Maksud dari kedatangan perwakilan keluarga Lajanti Tuan Ma tersebut yakni terkait kelancaran Prosesi Semana Santa atau tradisi Pekan Suci Paskah selama 7 hari di Larantuka, Flores Timur, yang akan dilaksanakan pada minggu pertama bulan April 2026 mendatang.

Untuk informasi, Semana Santa di Larantuka, Flores Timur, merupakan tradisi Pekan Suci warisan Portugis yang telah berusia lebih dari lima abad (sejak tahun 1662 / abad ke-17) dan kini menjadi wisata rohani utama di Indonesia. Fokus utamanya adalah penghormatan kepada Yesus Kristus (Tuan Ana) dan Bunda Maria (Tuan Ma), dengan puncak perarakan laut dan darat pada Jumat Agung yang sakral dan sunyi.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur menyebut Semana Santa sebagai ikon pariwisata religi Flores Timur yang banyak menarik ribuan peziarah dari seluruh dunia, sehingga perlu dikemas dan didesain lebih bagus lagi terkait narasi keseluruhan dari peristiwa sejarah tradisi tersebut.

“Dampak dari Semana Santa ini besar sekali. Namun secara umum, bagi sebagian besar orang yang datang ikut prosesi ini, informasi sejarah Semana Santa ini belum dinarasikan dengan baik, hanya berdasar pada omongan orang saja. Saran saya, coba pihak keluarga bisa duduk bersama, diskusikan dan rembuk bersama, kemudian libatkan juga dari keuskupan, sehingga kisah tradisi Semana Santa dapat dikemas dan dinarasikan secara paten sebagai satu kesatuan informasi yang jelas,” ungkap Gubernur Melki.

Lebih lanjut, narasi menurut Gubernur Melki, memiliki kekuatan fundamental terhadap suatu tradisi, dimana bertindak sebagai pengikat emosional, penjaga nilai, dan penyambung warisan budaya antar generasi. Tanpa narasi, tradisi seringkali kehilangan makna dan hanya menjadi ritual rutin belaka.

“Dengan kekuatan narasi yang baik, orang akan datang berbongdong-bondong lebih banyak lagi. Sehingga sekali lagi, peristiwa Semana Santa harus disepakati bersama asal usul ceritanya dari awal secara kronologis. Jadi tidak ada lagi cerita versi lain atau cerita yang berbeda-beda selain yang sudah disepakati bersama melalui narasi yang paten,” jelasnya.

Selain itu, Gubernur juga ingin agar prosesi Semana Santa memiliki dampak ekonomi yang besar terhadap kesejahteraan masyarakat lokal. Semana Santa menurut Gubernur Melki, tidak boleh hanya dianggap sekedar sebagai tradisi rohani tahunan, melainkan harus dimaknai sebagai aset pariwisata dan industri kreatif yang bernilai tinggi. Terlebih jumlah ribuan peziarah domestik dan mancanegara yang setiap tahunnya datang untuk mengikuti prosesi ritual Semana Santa merupakan potensi yang harus dimaksimalkan.

“Kita tahu, tradisi ini sudah berusia 500 tahun lebih. Tanpa mengurangi kesakralan tradisi ini, namun kita juga harus berpikir terhadap dampak ekonominya bagi masyarakat sekitar. Ini yang harus kita perkuat lagi, kita konsepkan dan desain lagi agar lebih bagus. Ini salah satu potensi yang harus kita optimalkan bersama, sehingga berkontribusi besar bagi kesejahteraan masyarakat lokal,” jelasnya.

Penulis : Alexander L. Raditia
Foto : Ady Hau
Anda Suka Berita Ini ?