Tantangan dan Strategi Transformasi Digital di NTT
Kupang,
3 Oktober 2025 – Setelah sesi pertama membahas arah kebijakan
nasional transformasi digital pemerintahan, Rapat Koordinasi Urusan Komunikasi
dan Informatika, Persandian, dan Statistik Tingkat Provinsi NTT berlanjut
dengan paparan narasumber kedua, Kalvein Rantelobo, pemerhati TIK dari
Universitas Nusa Cendana. Dalam materinya, ia menyoroti tantangan nyata dan
strategi percepatan transformasi digital di NTT sebagai upaya memperkuat tata
kelola sekaligus meningkatkan pelayanan publik.
Provinsi
NTT masih menghadapi persoalan mendasar berupa 900 titik blankspot yang belum
terjangkau jaringan internet hingga Mei 2025. Kondisi ini membuat Indeks
Transformasi Digital NTT berada pada kategori C, sehingga membutuhkan langkah
perbaikan yang konsisten dan berkelanjutan.
Kalvein
menjelaskan bahwa pemerintahan digital yang efektif tidak hanya bergantung pada
teknologi, tetapi juga menuntut perubahan mindset birokrasi. “Transformasi
digital memerlukan perubahan dalam struktur organisasi, proses bisnis, dan
budaya kerja birokrasi. ASN harus menjadi agen perubahan,” ujarnya.
Menurutnya,
ada empat dimensi utama yang menjadi fondasi pemerintahan digital, yakni
teknologi, organisasi, governance, dan partisipasi publik. Karena itu,
percepatan digitalisasi di NTT harus melibatkan multipihak: pemerintah sebagai
regulator dan penyedia infrastruktur, akademisi dalam riset serta peningkatan
kapasitas SDM, dan industri dalam inovasi teknologi serta pembangunan jaringan.
Tantangan
paling besar justru dialami wilayah pedalaman dan pulau-pulau kecil NTT, yang
tertinggal dibandingkan pusat perkotaan seperti Kupang. Kondisi geografis
kepulauan dengan medan sulit memperbesar kompleksitas pembangunan infrastruktur
digital.
Sejumlah
rekomendasi strategis pun disampaikan, mulai dari percepatan penutupan
blankspot, pengembangan backbone network, pemanfaatan teknologi alternatif
seperti satelit internet, hingga penguatan kapasitas ASN dan literasi digital
masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya kemitraan strategis. “Kolaborasi
triple helix antara pemerintah, akademisi, dan industri harus diformalkan agar
program digital dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dan sesuai dengan
kebutuhan lokal,” tegasnya.
Dengan
potensi besar pada sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi digital, pertanian
cerdas, hingga digitalisasi kearifan lokal, NTT diyakini dapat bangkit melalui
transformasi digital. Namun, keberhasilan langkah ini sangat bergantung pada
konsistensi kebijakan, kolaborasi multipihak, dan kesiapan sumber daya manusia
di semua tingkatan.
Penulis
: Evi Cristiana & Mardika Bnani
Foto
: Mardika Bnani
Penyunting
: Ita Kana
